|
|

Ada orang yang aktif dalam pelayanan, tetapi keluarganya tak terurus. Ada orang yang sukses dalam kariernya, tetapi tidak punya waktu untuk pelayanan. Ada orang yang hidup harmonis, tetapi hidup pas-pasan. Inilah realitas yang ada dalam kehidupan.
Lalu, bagaimana cara menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga? Pertanyaan ini yang menjadi tema dalam Persekutuan Komisi Dewasa, GKI Klaten pada 30 Juni 2009. Untuk menjawab pertanyaan ini, Komisi Dewasa mengundang Bpk. Samuel Gunawan, seorang pengusaha sukses dari Solo yang tetap giat dalam pelayanannya.
Totalitas kehidupan kita adalah rohani. Demikian pernyataan awal yang disampaikan oleh Bpk. Samuel Gunawan. “Kita tidak dapat membuat pemisahan bagian mana yang disebut rohani dan bagian mana yang disebut sekuler,” kata Samuel. Mantan majelis GKI Coyudan ini mengutip pengkhotbah 9:10: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Setelah itu, dia mengutip surat Paulus: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas kita, entak itu dalam pekerjaan, pelayanan atau keluarga adalah ibadah untuk Tuhan. Di dalam melaksanakan semua itu, kita harus melakukan dengan tulus dan merupakan dorongan dari buah pertobatan kita. “Jika kita melakukan sesuatu tidak didasari karena buah perobatan, maka bisa jadi justru akan ditolak oleh Tuhan Yesus,” kata Samuel Gunawan sambil mengutip ayat berikut: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”" (Mat 7:22-23)
Setiap orang Kristen mendapat mandat dari Tuhan. Mandat adalah tugas yang tidak dapat ditolak dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Kita mendapat tiga mandat. Yaitu: Mandat Penginjilan, Mandat Pengajaran dan Mandat Mandat Budaya,” papar Samuel Gunawan. Semua itu harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari, entah itu dalam pelayanan, pekerjaan atau keluarga. “Itu sebabnya kita tidak bingung menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga. Karena semuanya adalah ibadah untuk Tuhan,” simpul Samuel mengakhiri uraiannya.
Untuk download sebagian rekaman audio acara ini, silakan klik di sini.

Persekutuan Komisi Dewasa, 30 Juni 2009

Peserta mendengarkan dengan tekun

Bpk. Samuel Gunawan

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 19 Juli 2009
Minggu Biasa XI
2 Samuel 7:1-14a Mazmur 89:20-37 Efesus 2:11-22 Markus 6:30-34, 53-56
Baru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang pendeta, berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua, rame-rame makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu, Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan. Tiba-tiba salah seorang pengunjung baru restoran itu dengan nada memerintah berkata kepada Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!” Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.” Tetapi Joas tidak segera pergi sebab harus menjawab panggilan telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan Jemaat GKI Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT Jakarta supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera minta maaf dan mau berkenalan, serta ngobrol dengan Joas, maka dengan begitu yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!
Dalam 2 Samuel 7 kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5). Keberadaan Daud sebagai raja hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim. Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat. Bagaimana dengan iman Daud? Tiba-tiba saja dia merasa bersalah bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.
Continue reading DAHULU JAUH, SEKARANG MENJADI DEKAT
leh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu,12 Juli 2009
Minggu Biasa X
II Samuel 6:1-5, 12b-19 Mazmur 24 Efesus 1:3-14 Markus 6:14-29
Seorang isteri mengeluh kepada suaminya:”Waduh Pak, pembantu kita baru saja menggondol dua handuk baru kita.” Dengan suara marah sang suami berkata, “Memang dasar pembantu zaman sekarang, sikapnya selalu tidak terpuji …. Ngomong-ngomong handuk mana yang digondolnya?” Sang isteri menjawab, “Handuk-handuk yang kita ambil di Hard Stone Hotel, Pak.” Orang-orang dalam cerita ini tangan dan hatinya tidak ada yang bersih. Dari sang pembantu sampai para majikannya sama saja! Kisah di bawah ini lebih keterlaluan lagi, sampai mungkin kita tidak bisa mempercayainya, tapi itulah yang saya baca di Buku Mutiara-Mutiara Kasih, diberi judul: Kesempatan Terakhir.
Pendeta Henry White tengah malam diundang untuk mendoakan seseorang yang sudah di ambang kematian, yang mau bertobat. Sambil membungkuk di dekat wajah pria usia empat puluhan itu, pak pendeta menginjili dengan penuh semangat dan harap. Pendeta Henry merasa bersyukur sebab merasa mendapat respon yang positip, hal itu tampak dari matanya yang bercahaya selama mendengarkan firman Tuhan. Setelah selesai didoakan, pria itu sudah meninggal dunia. Tapi yang sangat mengherankan adalah ketika diamati ternyata tangan orang itu sedang menggenggam erat-erat rantai jam milik Pak Pendeta! Rupanya rantai emas di kantung pendeta itulah yang membuat matanya bercahya tadi! Sungguh sangat sayang, tangan dan hatinya tetap kotor pada detik-detik terakhir Tuhan membukai pintu pertobatan baginya!
Dalam Markus 6 tadi kita bisa melihat keluarga Herodes yang sangat memperihatinkan. Mental yang bobrok, dengan mudah akan menghasilkan pekerjaan tangan yang kotor bahkan menjijikkan. Kita lihat seorang kepala keluarga yang lemah dan tidak bijaksana, yaitu Herodes. Sebagai kepala keluarga dan sekali gus seorang raja, Herodes telah melakukan kesalahan besar. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan olehnya, yaitu pertama: Mengapa ia menangkap, membelenggu dan menjebloskan Yohanes Pembapis dalam penjara (Markus 6:17). Tidak pada tempatnya bila Yohanes dipersalahkan dan dipenjarakan, Herodes seharusnya berterimakasih kepada Yohanes yang sudah mau menegur kesalahannya. Di antara rakyatnya yang banyak itu, siapa yang berani dan mau menegur dia? Tak seorangpun kecuali Yohanes yang murni hatinya. Kiprah Yohanes yang beda dan istimewa itu sekiranya ditanggapi secara positip maka akan membawa berkat yang besar dalam hidup Herodes, setidaknya bisa menjadi awal yang menuju ke jalan keselamatan baginya! Tapi sayang sikap Herodes mengambang, maka sudah hampir masuk ke dalam anugerah Allah, tetapi keluar lagi! Dapat kita baca itu di Markus 6:20 “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.” Di sini kita melihat banyak hal yang indah dan mengembirakan dalam diri Herodes tetapi semuanya diganjal oleh sikapnya yang mengambang, yaitu hatinya yang selalu terombang-ambing! Hati yang selalu terombang-ambing adalah hati yang tidak murni, sebab dipengaruhi oleh banyak faktor yang negatip. Kesalahan Herodes yang kedua jauh lebih berat sebab dia telah mengabulkan permintaan Salome, hanya karena telah terlanjur bersumpah akan memberikan apa saja yang dimintanya. Kesalahan ini diawali dengan keteledorannya yang gegabah bersumpah, dilanjutkan rasa malu untuk menarik kembali janji yang sudah diucapan di hadapan para tamunya .Sekiranya Herodes mempunyai keberanian untuk berkata “tidak” dan dengan tegas menolak permintaan Salome yang keterlaluan itu, maka Tuhan tentu akan memberkati dia! Dengan demikian dia akan bisa memecahkan rekor sebagai satu-satunya Herodes yang berada di pihak Tuhan, maka tak mustahil dia akan diselamatkan! Selanjutnya kita ketemu Herodias yang semula menjadi isteri Herodes- Filipus, tetapi sudah digaet menjadi permaisuri Herodes Antipas tadi. Jikalau Herodes yang ditegur merasa segan terhadap Yohanes, maka sebaliknya Herodias diam-diam menaruh dendam yang mendalam, dan ingin bisa menyingkirkan dia untuk selamanya! Itu sebabnya begitu memperoleh peluang maka langsung saja digunakan sebaik mungkin olehnya. Salome yang telah menggirangkan hati Herodes, Salome yang telah menerima janji pakai sumpah dari Herodes, telah dibisiki oleh ibunya supaya meminta kepala Yohanes! Dalam Buku William Barclay dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sebaik perempuan yang baik, tetapi juga tidak ada yang sejahat perempuan yang jahat. Lebih jauh para Rabi Yahudi mengungkapkan:”Seorang wanita yang baik jika menikah dengan pria jahat, akan dapat mengubah suaminya menjadi baik. Tetapi seorang pria yang baik, jika menikah dengan wanita jahat, maka akan dapat berubah menjadi sejahat isterinya!” Walau hanya berada di belakang layar, tetapi dapat dikatakan bahwa Herodias adalah pelaku pembunuhan sang pelopor Juru Selamat dunia itu! Tindakan Herodias sangat sembrono, sebab secara terang-terangan berani melawan Tuhan. Hatinya penuh kedengkian kepada Yohanes, berarti dia berani membenci Tuhan yang sangat mencintai hambaNya itu. Membunuh Yohanes berarti berani membungkam mulut Tuhan yang menyuarakan kebenaran sabdaNya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Herodias itu busuk hatinya, berbisa mulutnya, kotor tangannya dan bobrok moralnya. Herodias sangat berbeda dengan isteri Pilatus yang justeru memperingatkan suaminya agar jangan mencampuri urusan Tuhan Yesus dengan orang Yahudi yang menyeretNya ke hadapan Pilatus.Dengan sangat simpatik ia menyebut Yesus sebagai orang benar, juga mengaku telah diperingatkan (Tuhan) dalam mimpinya, Matius 27:19. Sekarang kita menengok Salome sang penari yang telah memukau perhatian segenap tamu dalam pesta ulang tahun Herodes. Ada dugaan kuat bahwa Salome waktu itu mempersembahkan sebuah tarian erotik, yang tidak pantas dilakukan oleh seorang keluarga istana.Sungguh sangat menyedihkan nasib Salome, sebagai seorang remaja puteri pada zaman itu agaknya ia sudah terbiasa tampil di depan umum dengan tarian yang aduhai, serta mendapat dukungan dari pihak orang tuanya. Sebagai seorang remaja yang polos hatinya, sudah diracuni dan diperalat untuk mewujudkan suatu pembunuhan yang begitu sadis dan mengerikan, atas seorang hamba Tuhan yang tak berdosa. Dengan menuruti bisikan ibunya Salome telah menjadi seorang remaja yang terlibat secara langsung dalam dosa pembunuhan itu. Demi mendengar ide sang ibu semestinya Salome menunjukkan sikap tidak setuju dan berani menolak dengan tegas, tetapi apa yang kita baca dalam Alkitab? “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: Aku mau, supaya sekarang juga engkau memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembabtis di sebuah talam!” Markus 6:25. Perhatikanlah kata-kata: Cepat-cepat, dan sekarang juga. Yang sangat menarik, atau lebih tepat sangat menjijikkan, adalah apa yang terungkap dalam ayat 28. Diterangkan di situ bahwa sesudah leher Yohanes dipenggal maka oleh seseorang kepalanya diserahkan kepada Salome. Bayangkan bahwa seorang remaja puteri memiliki hati yang tega untuk menerima satu kepala manusia yang berdarah di atas nampan! Kemudian membawa dan menyerahkan kepada ibunya! Tak mustahil mereka itu juga memiliki kekejaman untuk melakukan pemenggalan dengan tangannya sendiri!
Sedari tadi pembicaraan kita cuma di seputar orang-orang yang hidupnya di luar Kristus, sehingga akrab dengan kejahatan yang ditandai dengan tangan dan hati yang kotor. Sekarang, di Efesus 1:3-14 kita disuguhi satu tema yang menarik tentang kekayaan orang-orang yang terpilih. Firman Tuhan menegaskan bahwa sudah sejak semula Allah menghendaki kita menjadi anak-anakNya yang hidup kudus di hadapanNya. Ketika dosa sempat menerobos ke dalam hidup kita, Allah tidak mau menyerah kalah. Persoalan besar kita diatasiNya melalui pengorbanan Kristus, sehingga tersedia pemulihan hubungan dengan Allah serta pengembalian status kita sebagai anak-anak yang dilimpahi kekayaan kasih karunia dan hikmat. Satu kali kita dihubungkan dengan Kristus, maka untuk selamanya tidak akan pernah terpisahkan lagi baik di bumi maupun di sorga. Selama ada di dunia ini kita akan dikuatkan melalui Firman Tuhan dan pendampingan Roh Kudus, dan hal itu merupakan jaminan bahwa kita sudah menjadi milik Allah. Semua berasal dari kemurahan Allah, maka hidup kita berisi puja dan puji bagi kemuliaan Tuhan.
Kiprah Daud selaku raja yang telah menggerakkan ribuan rakyatnya dalam II Samuel 6 tadi sesungguhnya merupakan nubuat dan gambar, dari sukacita umat Tuhan di segala abad, seperti yang dipaparkan dalam Efesus 1:3-14. Yang dirasakan Daud saat itu adanya kehadiran Tuhan kembali, setelah tabut Allah dapat direbut dari tangan Filistin. Hal itu sama seperti kehadiran Kristus ke tengah-tengah umat manusia sebagai bukti perkenan Allah, untuk mengakhiri kemenangan iblis dan dosa. Mikhal anak perempuan Saul memandang rendah sikap Daud yang dinilainya berlebihan, padahal semua itu dilakukan oleh Daud dengan segala ketulusannya, sehingga ia tidak mempedulikan jabatannya sebagai seorang raja yang mau berbaur dengan rakyak jelata. Intisari dari kisah ini mau mengajarkan kita demikian: Jika sukacita sorgawi telah merasuki hidup kita maka yang pertama-tama muncul adalah ketulusan hati menanggapi kemurahan Tuhan. Ketulusan hati yang ditandai tangan yang bersih, serta hati yang murni akan menjauhi segala kejahatan dan hidup kotor, dan sebagai gantinya adalah hidup penuh pujian kepada Tuhan di dunia ini dan berlanjut sampai di sorga kelak. Kita melihat perbedaan besar diantara dua raja tadi: Herodes dan Daud. Meskipun sikap Herodes lumayan baik, tetapi karena dia masih selalu terombang-ambing dan tidak berani tegas menerima firman Tuhan, berarti masih hidup di luar Tuhan, maka tidak ada sukacita dan hidup sejahtera. Berbeda dengan Daud, sejak muda ia sudah selalu berpautan dengan Tuhan, sehingga walau hidupnya tidak sempurna namun tak pernah terlepas dari genggaman Tangan Nya, maka keselamatan dan sukacita sejati dari Tuhan diwarisinya.
Mazmur 24 mengingatkan bahwa kita mempunyai Raja Kemuliaan, yaitu Tuhan semesta alam. Jika kita mau berserah dan bergaul dengan Dia, maka dikatakan bahwa kita boleh naik ke atas gunung Tuhan. Kemuliaan kita itu harus ditandai dengan tangan yang bersih dan hati yang murni!
Tanggal 21 Juni 2009, bertempat di wisma Narwastu, Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan Pelatihan untuk Guru-guru Sekolah Minggu. Bertindak sebagai pembicara adalah kak Agustina Wijayani, seorang penulis buku tentang Sekolah Minggu dan editor di penerbit Gloria. Acara yang dihadiri lebih dari 35 orang ini diisi dengan ceramah dan icebreaker.

Agustina Wijayani

Kak Kiki, Kak Yuda, Kak Nita

Kaos bikinan Komisi Anak

Suasana Pelatihan

GSM GKI Klaten

Tanggal 21 Juni 2009, bertempat di wisma Narwastu, Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan Pelatihan untuk Guru-guru Sekolah Minggu. Bertindak sebagai pembicara adalah kak Agustina Wijayani, seorang penulis buku tentang Sekolah Minggu dan editor di penerbit Gloria. Acara yang dihadiri lebih dari 35 orang ini diisi dengan ceramah dan icebreaker.
Berikut Video Klipnya:

|
|
Komentar Pengunjung