Masa 1918-1958
Sampai tahun 2008, usia GKI Klaten secara resmi adalah 40 tahun. Namun sesungguhnya, usia jemaat melebihi angka ini. Riwayat GKI Klaten didahului dengan adanya pekabaran lnjil yang sudah dilakukan oleh orang-orang Kristen, baik orang Belanda maupun oleh orang Indonesia.

Ketekunan, kesabaran selama bertahun-tahun dan keyakinan atas pimpinan dari Tuhan, ternyata tidak sia-sia. Benih yang disebarkan itu mulai bertunas, yang ditandai pertobatan satu keluarga Tionghoa pada tahun 1918. Mereka adalah keluarga Lie Boen Hok yang bertempat tinggal di jalan Raya Tengah 34 Klaten (sekarang Jalan Pemuda Tengah 32). Keluarga B.H, Lie ini dibaptis oleh Ds. H. A. van Andel dari Solo (pendeta dari Solo), dan kemudian menjadi anggota Gereja Kristen Jawa (GKJ), Klaseman Klaten.
Tahun 1918 adalah awal berkecamuknya Perang Dunia I dimana semua negara di dunia terlibat dalam perang ini. Termasuk juga Belanda, yang saat itu sedang menjajah Indonesia. Namun Puji Tuhan, kekacauan Perang Dunia I ini ternyata tidak banyak mempengaruhi Pekabaran Injil di kota Klaten. Pertobatan keluarga Lie Boen Hok ini di kemudian hari diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain.

Berselang kira-kira 14 tahun, ada beberapa orang Tionghoa lagi yang mengaku percaya dan dibaptiskan. Pada tanggal 28 Pebruari 1932: saudari Lie Gien Hwa dan Lie Giok Hwa mengaku percaya/Sidi, dan saudari Yoe Soen Nio dibaptis, oleh Ds. H. A. van Andel di Hollands Gereformeerde Kerk (Gereja Djago) di Klaten.
Perkumpulan Perkabaran Injil di Kalangan Orang Tionghoa
Karena kerinduan yang kuat untuk semakin bertumbuh dalam Kristus, maka orang-orang Kristen ini kemudian mendirikan Perkumpulan Pekabaran lnjil pada tahun 1934. Bentuk kegiatannya semacam Katekisasi (persiapan baptis dan sidi), dengan mengambil tempat di rumah keluarga Lie Boen Hok. Mula-mula, pertemuan diadakan sebulan sekali. Namun karena ada kerinduan dan kehausan terhadap firman Tuhan, maka kebaktian dilakukan setiap hari Minggu. Jumlah pengunjung kebaktian pada waktu itu antara 10 sampai 15 orang.
Aktivitas yang dilakukan dalam kebaktian itu di antaranya adalah Paduan Suara yang dipimpin oleh Ds. Kwee Tiang Hoe dan ibu Oh Lian Hong. Untuk melayani kebaktian pada tiap hari Minggu, perkumpulan ini mengundang Pengkhotbah dari Sekolah Theologia Yogyakarta (sekarang Universitas Duta Wacana, Yogyakarta).
Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1936, tempat kebaktian dipindahkan ke rumah saudara Siem Dhiam Poen di jl. Stasiun (sekarang jl. Pramuka,dan rumah tersebut telah menjadi milik keluarga Tjio Boen Kie). Di tempat kebaktian yang baru ini saudara Sie Tjing Kiat (Simeon lman Siaga) ikut memimpin paduan suara. Kegiatan gerejani banyak mengalami kemajuan.
Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Cabang Klaten
Pada tahun 1943, sudah mulai ada kelompok orang Kristen yang anggotanya terdiri dari berbagai suku, yaitu Tiong Hoa, Minahasa, Batak, dan lndo Belanda. Namun mereka masih berupa kelompok,–menurut istilah sekarang disebut persekutuan. Tujuan dari kelompok ini adalah untuk bersekutu dan mengabarkan Injil.
Melihat hal ini, bapak Arnold Geldermans,–yaitu kepala sekolah Christelijke Hollands Chineese School,–mengusulkan supaya persekutuan ini dihimpun menjadi sebuah Gereja. Usulan ini mendapat sambutan baik. Mereka kemudian menghubungi Gereja Kie Tok Kauw Hwee (KTKH) Solo untuk meminta izin bergabung dengan mereka.
Ternyata permintaan ini disambut dengan baik. Gereja KTKH Solo tidak keberatan, namun mereka meminta supaya orang-orang Kristen di Klaten membentuk panitia terlebih dulu. Untuk itu dibentuklah calon panitia KTKH Klaten dengan anggota: saudara Sie Tjing Kiat, saudara M.A. Londa, saudara Yoe King Djiang, dan saudari Yoe Soen Nio. Setelah semua dipersiapkan, maka pada tanggal 9 Mei 1943, KTKH cabang Klaten resmi berdiri. Pada acara ini, sekaligus juga diadakan pelantikan panitianya. Dengan demikian maka KTKH Klaten resmi menjadi cabang KTKH Solo. Semenjak itu, KTKH Solo memberi tugas kepada seorang Guru lnjil untuk menggembalakan KTKH cabang Klaten secara tetap. Meskipun “tetap”, tetapi pelayanan penggembalaan dilakukan secara bergantian antara cabang KTKH Solo dan Klaten. Guru Injil tersebut adalah bapak Tan Poo Djwan, yang sekarang dikenal dengan Pdt. (em) Paulus Tanoewidjaja dari Gereja Gereformeerd Semarang. Seminggu sekali dia bertugas di Klaten dan setiap kedatangannya selalu menginap di Klaten. Kebetulan beliau mempunyai famili di Klaten yaitu saudara Ong Soen Ham (ayah dari saudara Witono/Toko Rapi).
Masa penjajahan Jepang merupakan zaman yang serba sulit. Hampir semua bangsa Indonesia pada waktu itu mengalami kesulitan, baik secara ekonomi, sosial, apalagi di bidang hukum. Namun dalam kegiatan keagamaan, pemerintah pendudukan Jepang boleh dikatakan masih memberikan kelonggaran. Kendati tidak berjalan terlalu lancar, tetapi kegiatan jemaat KTKH cabang Klaten masih dapat berlangsung.
Yang tetap setia melayani adalah bapak Tan Poo Djwan dari Solo. Setiap mengadakan pelayanan, beliau harus menempuh perjalanan Solo-Klaten dengan mengayuh sepeda, dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Pada mulanya, masih menggunakan “ban angin” (bagian dalamnya diisi dengan angin). Akan tetapi ketika ban angin mulai sulit didapatkan, maka terpaksa memakai ban mati (pasek). Bayangkan, betapa beratnya mengayuh sepeda menggunakan ban jenis ini. Belum lagi kerepotannya karena jika kepanasan, ban itu akan memuai (nglokor). Jika sudah sudah demikian, maka ban karet itu harus dipotong lebih dulu.
Pada waktu itu katekisasi mulai diadakan secara agak teratur, dipimpin bapak Tan Poo Djwan. Pesertanya mula-mula 8 orang. Kemudian dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi sekitar 15 orang. Juga mulai dirintis adanya Sekolah Minggu yang dipimpin saudari Yoe Soen Nio, saudari Yoe Liok Nio dan saudari Siem Giok Lan.
Satu hal yang paling berkesan dan patut dikemukakan di sini adalah bahwa pada zaman Jepang, kegiatan pemuda sangat bergairah, bahkan berhasil mementaskan sebuah drama dengan judul “Shinano Yoru” di gedung ROXY (sekarang mantan gedung Dana). Pementasan ini adalah hasil kerja sama antara tokoh-tokoh Tionghoa Klaten, dan sebagai koordinatornya adalah saudara Goei Kian Sing. Hasil penjulan tiket drama ini digunakan untuk menyumbang dana bea siswa para pemuda Kristen waktu itu.
Memasuki zaman kemerdekaan, tahun 1941, situasi banyak berubah. Meski begitu, keadaan masih juga serba , sulit. Bahkan karena alasan keamanan maka sering kali kebaktian Minggu dibatalkan, atau terpaksa dilakukan penggantian pengkhotbah karena pengkhotbahnya tidak dapat hadir. Dalam hal ini, saudara M.A. Londa yang paling sering kena sampur (mendapat tugas dadakan) dalam menggantikan khotbah. Pada tahun ini, kelompok Paduan Suara mulai tampil lebih baik, meskipun tahun-tahun sebelumnya sudah ada.
Pelayanan di Klaten mengalami penurunan dan terasa suam. Apalagi situasi keamanan pada saat itu masih tidak menentu. Ada daerah yang sepenuhnya dikuasai Republik, tapi ada juga yang masih dikuasai pendudukan Belanda. Hal ini mengakibatkan perkembangan jemaat Kristen di Klaten tersendat. hanya Gereja KTKH, tetapi juga Gereja Negara (Indische Protestanche Kerk) yang bertempat di Gereja Jago.
Salah seorang pengurus Gereja Jago, yaitu bapak Hutagalung kemudian menyerahkan gedung Gereja Djago tersebut. kepada KTKH cabang Klaten yang diterima oleh saudari Yoe Soen Nio. Proses penyerahan ini disaksikan oleh Ds. Schutze dan seorang opsir Belanda van Den Berg. Hal itu terjadi pada tahun 1948.
Sejak saat itu KTKH cabang Klaten mulai menempati gedung Gereja Djago. Pada masa Clash (tahun 1948 – 1949) pelayanan masih terus dilakukan oleh bapak Tan Poo Djwan. Ada pun alat transportasinya adalah menggunakan kereta api atau menumpang konvoi Belanda yang sedang mengambil bahan logistik. Banyak pengalaman yang menarik ketika “nunut” konvoi Belanda ini. Seperti dicegat pasukan gerilya Republik Indonesia di tengah jalan, terkena jam malam sesampainya di Solo, sehingga harus menginap di pasturan Purbayan, dan lain sebagainya.
Ada satu pengalaman yang sulit dilupakan oleh bapak Tan Poo Djwan. Seusai beliau memimpin kebaktian kedukaan salah seorang anggota keluarga bapak Hutagalung, ia kemudian melanjutkan pelayanan ke kuburan dengan naik mobil yang biasa ditumpangi oleh Wakil Presiden R. I., Drs. Mohammad Hatta. Mobil ini dipinjamkan kepada bapak Hutagalung. Sepanjang perjalanan, orang-orang yang melihatnya, baik itu sipil maupun militer, banyak yang memberi hormat. Mereka mengira penumpang yang di dalam mobil itu adalah Wakil Presiden!
Sampai dengan tahun 1950-an, situasi/keberadaan jemaat boleh dikatakan tidak banyak berubah. Hanya saja transportasi sudah lebih aman, kereta api sudah berjalan normal. Bapak Tan Poo Djwan masih dengan setia melayani kebaktian Minggu maupun katekisasi dengan penuh semangat.
Pelan-pelan tapi pasti jemaat Klaten mulai berkembang. Pada tahun 1954 pelayanan bapak Tan Poo Djwan di Solo berakhir karena beliau dipanggil ke Rembang. Dengan demikian pelayanan beliau di Klaten juga berakhir. Kemudian tahun 1954, bapak Liem Ping Siang yang menggantikan melayani di Klaten. Dia memimpin katekisasi dan juga kebaktian hari Minggu sampai tahun 1955.
Catatan:
Pada masa kolonial Belanda, ada lembaga misi yang secara khusus menjangkau kaum Tionghoa perantauan. Lembaga misi itu disebut badan Zending. Di Jawa Tengah, terdapat dua badan Zending, yaitu,
1. Badan Zending dari gereja-gereja Gereformeerd negeri Belanda. Mereka melayani di Jateng wilayah selatan. Hasilnya, adalah Maleisch Gereformeerd Kerk (MGK) Surakarta, sekarang GKI Sangkrah Solo, yang didewasakan tahun 1933. Juga ada Maleisch Chinese Gereformeerd Kerk (MCGK) Yogyakarta, sekarang GKI Ngupasan, Yogyakarta yang didewasakan tahun 1934.
2. Badan Zending dari Jerman, yaitu Neukirchener Missionhaus yang melayani di Jateng wilayah utara. Hasil pelayanannya adalah GKI Blora dan GKI Salatiga.
Karena jumlah orang Tionghoa yang mengikuti katekisasi dan dibaptiskan terus bertambah, maka badan-badan pekabaran Injil ini kemudian mendirikan gereja untuk mewadahi mereka. Nama-nama gereja itu bermacam-macam, antara lain:
a. Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (T.H.K.T.K.H.)
b. Hoa.Kiauw Kie Tok Kauw Hwee (H.K.T.K.H.)
c. Kie Tok Kauw Hwee (K.T.K.H.).
Pada tanggal 7-8 Agustus 1945, gereja-gereja ini bersidang di gedung Hoa Kiauw Kie Tok Kauw Hwee, Magelang. Mereka sepakat membentuk sinode Tionghoa. Pada tahun 1949, kembali diadakan sidang Sinode II di gedung Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee, Semarang. Pada persidangan ini, dicantumkan nama sinode Tionghoa Jawa Tengah, yang kemudian diperingati sebagai tanggal lahir GKI Jateng.
Masa GKI dimulai pada tahun 1956, yaitu ketika Sidang Sinode ke V di Purwokerto memutuskan untuk memakai nama Gereja Kristen Indonesia. Gereja yang tadinya bernama K.T.K.H., T.H.K.T.K.H.,dan H.K.T.K.H, kemudian berganti nama menjadi Gereja Kristen Indonesia. Sering dengan perubahan ini, maka K.T.K.H cabang Klaten berubah nama menjadi GKI Sangkrah cabang Klaten
You must be logged in to post a comment.