Masa Tahun 1955 – 1968
Pada tahun 1955, GKI Sangkrah, Solo menugaskan guru Injil bapak Oei Djie Kong (sekarang Pdt. Em. N.E. Jeshua), untuk melayani di cabang GKI Sangkrah Solo di Klaten. Di samping kebaktian hari Minggu, beliau juga melayani katekisasi di perumahan dan di gereja yang diikuti oleh pemuda/pemudi antara 10 sampai 15 orang.
Sementara itu, kebaktian hari Minggu dilayani secara bergantian oleh Pdt. The Tjiauw Bian, pdt. N.E. Jeshua, dan Majelis GKI Sangkrah Solo.
Pada tahun 1959, Tuhan berkenan menggerakkan hati bapak R.M.E. Mangunsusanto, yang waktu itu menjadi pengurus sekolah-sekolah Kristen di Klaten. Beliau aktif melayani di GKI Sangkrah Solo cabang Klaten sehingga gereja yang kecil ini tumbuh dengan baik di segala bidang. Tidak sedikit pengorbanan yang beliau berikan untuk kemajuan dan perkembangan GKI Klaten dan ini terus dilakukan hingga akhir hayatnya.
Tuhan juga berkenan menggerakkan hati seorang anggota jemaat yaitu Ny. Liem Kok Sing. Pada tahun 1963, beliau menyerahkan rumahnya sebagai Pastori. Rumah ini terletak di Jl. Bhayangkara II/2 Klaten (sekarang jl. Bhayangkara no. 109)

Pada tahun 1963 Majelis GKI Sangkrah Solo mengutus Pdt. Ton Tjoe Liang (Tjahjaputra) ke Klaten dengan tugas khusus untuk mempersiapkan cabang Klaten di dalam pendewasaannya. Pdt. Tjahjaputra waktu itu bukan sebagai pendeta konsulen karena waktu itu gereja di Klaten masih merupakan cabang dari GKI Sangkrah Solo. Setelah Klaten mempunyai pastori, barulah Pdt. Tjahjaputra dan istri bertugas di Klaten selama 3 hari dalam satu minggu. Banyak kegiatan dilakukan selama beliau bertugas di Klaten
Sekolah Minggu maju pesat. Di bawah bimbingan lbu Tjahjaputra (Ibu Elly Kwik) yang giat bekerja dan penuh suka cita, jumlah murid Sekolah Minggu mencapai kurang lebih 100 anak. Kegiatan Perhimpunan Pemuda juga mengalami perkembangan. Diawali dengan diutusnya 8 orang untuk menghadiri KOPORKES (Konperensi Pekan Olah Raga dan Kesenian) di Bandung, diharapkan aktivitas pelayanan pemuda semakin bergairah. Pada tahun 1964, nama Perhimpunan Pemuda diganti menjadi Komisi Pemuda Gereja Kristen Indonesia (KPGKI). Tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1965, berdirilah Komisi Wanita Gereja Kristen Indonesia yang dipelopori oleh ibu Elly Tjahjaputra.
Pada bulan April 1966, saudara Tjan Poen Ong, STh dan istri ikut terlibat dalam pelayanan di GKI Klaten. Saudara Tjan Poen Ong ditetapkan sebagai pengerja GKI Klaten pada tanggal 1 Mei 1966.
Pada tanggal 30 Maret 1967, GKI Sangkrah cabang Klaten didewasakan menjadi GKI Klaten, setelah sebelumnya diadakan pelawatan klasikal dan semua persyaratan untuk menjadi gereja dewasa dapat terpenuhi. Dengan demikian, GKI Klaten menjadi gereja yang ke-5 di Klasis Yogya.
Tiga bulan kemudian, tepatnya tanggal 30 Juni 1967, saudara Tjan Poen Ong, STh ditahbiskan menjadi pendeta GKI Klaten yang pertama. Penahbisan diselenggarakan di gedung GKJ Klaseman Klaten karena gedung GKI Klaten tidak mampu untuk menampung jemaat dan tamu undangan.
Hadir dalam upacara itu: 24 pendeta, rombongan paduan suara dari Magelang, Yogyakarta, Sangkrah Solo, Coyudan Solo, Wonogiri, dan anggota jemaat gereja-gereja di Klaten, serta pejabat pemerintah.
Di bawah bimbingan pdt. Tjan Poen Ong, STh (J. Widyanto, STh.), semua aktivitas GKI Klaten semakin berkembang dan pengunjung kebaktian bertambah banyak. Gedung gereja terasa semakin sempit, sebagai tempat ibadah maupun kegiatan lainnya. Untuk memperbesar ruangan, maka tembok penyekat di dalam gedung gereja dibongkar dan letak mimbar dimundurkan. Kemudian dibangun juga ruangan di halaman samping selatan gereja yang dapat digunakan untuk berbagai aktivitas. Perubahan dan penambahan ruangan tersebut dilaksanakan dalam tahun 1967.
***
Pada tanggal 15 Mei 1969, KPGKI Klaten ditunjuk sebagai penyelenggara Festival Paduan Suara Gerejani Pertama. Fesparani ini diikuti oleh semua komisi pemuda se-Klasis Yogyakarta.
Tugas pdt. J. Widyanto STh bertambah banyak sehingga perlu tambahan seorang pengerja. Oleh karena itu, pada tangggal 1 Juli 1973, saudari Lily Dwi Aryani, yang telah menamatkan pendidikannya di SPWK Magelang, diangkat sebagai Pengerja GKI Klaten. Tugas utamanya adalah membimbing guru-guru Sekolah Minggu.

Hanya satu tahun GKI Klaten dilayani oleh 2 orang pengerja, sebab pada 10 Juli 1974, pdt. J. Widyanto STh menerima panggilan untuk menjadi gembala jemaat GKI Ngupasan Yogyakarta. Meskipun begitu, beliau masih bersedia menjadi pendeta konsulen dan memberikan/memimpin pelayanan sakramen. Tetapi kemudian karena kesibukannya di Yogyakarta, beliau tidak sanggup melanjutkan tugasnya di Klaten lagi, sehingga kemudian jabatannya sebagai pendeta konsulen digantikan oleh Pdt. Hadinugraha dari GKI Nusukan Solo.
Tahun 1976, majelis GKI Klaten telah dapat mengumpulkan dana untuk membeli rumah di Jl. Bhayangkara 109, Klaten, milik salah seorang anggota jemaat, yaitu Ny. Liem Kok Sing. Kini rumah tersebut digunakan sebagai Pastori I GKI Klaten. Selain itu, majelis juga membuat pagar tembok dan pintu besi yang membatasi gedung gereja, dan juga membuat ruangan di belakang gedung gereja untuk tempat tinggal saudari Lily Dwi Aryani, apabila GKI Klaten memanggil seorang calon pendeta. Namun belum sempat digunakan, pada 1 Juli 1977 saudari Lily Dwi Aryani telah mengakhiri pelayanannya di GKI Klaten karena menerima panggilan dari GKI Pekalongan.
Setelah kekosongan pendeta kurang lebih tiga tahun lamanya, jemaat merindukan kehadiran seorang pendeta, agar dapat menggembalakan jemaat dengan baik. Jemaat terdorong untuk banyak berdoa memohon hal ini. Dengan anugerah Tuhan yang besar, GKI Klaten kembali mendapatkan seorang calon Pendeta. Tanggal 1 Juni 1977, Saudara Iwan Kristanto Kosasih, BTh dan istri datang dari GKI Lasem. Beliau menerima panggilan jemaat GKI Klaten untuk menjadi calon Pendeta. Tanggal 26 Juni 1977 beliau diangkat sebagai Tua-tua Khusus, dan pada 12 September 1979 ditahbiskan menjadi Pendeta GKI Klaten yang kedua. Penahbisan dilaksanakan di gedung GKJ Klaseman Klaten.
Dengan kehadiran beliau, aktivitas di GKI Klaten yang lamban selama kekosongan pendeta, menjadi giat kembali. Beliau banyak memberikan pengarahan dan bimbingan kepada jemaat untuk berani berdoa dan rajin membaca Alkitab. Perkunjungan juga dilakukan untuk menarik jiwa-jiwa baru. Beliau juga mendorong aktivitas pemahaman Alkitab dan bidston. Kelompok katekisasi juga ditambah dengan kelompok baru.
Pada bulan Desember 1977, GKI Klaten mengadakan aksi sosial, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Dati II Klaten, berkenaan dengan bencana alam angin taufan yang melanda daerah Kecamatan Cawas. Aksi sosial itu berupa bantuan beras sebanyak 1,5 ton, yang dikumpulkan dari masyarakat kota Klaten. Beras tersebut dibagikan langsung kepada penduduk 5 desa yang terkena musibah.
Mulai tahun 1978 sampai sekarang, tiap-tiap tahun dibuat Buku Laporan Tahunan kepada jemaat GKI Klaten sebagai pertanggungjawaban majelis.
Perkembangan pelayanan jemaat maju dengan pesat, sehingga dirasakan perlu menambah seorang pengerja. Oleh karena itu, tanggal 12 Desember 1980 majelis memanggil saudara Purboyo Wiryawan Susilaradeya, STh untuk orientasi, yang selanjutnya menjadi Pengerja GKI Klaten. Beliau sangat banyak membantu di bidang pengorganisasian gereja. Dari beliau tercipta suatu struktur organisasi gereja yang baru, yang lebih terperinci, lebih luas jangkauan pelayanannya, lebih efektif dan praktis, yaitu adanya pembidangan majelis:
Bidang I: Bidang Kesaksian Pelayanan
Bidang II: Bidang Persekutuan dan lbadah
Bidang III: Bidang Pembinaan
Bidang IV: Bidang Penatalayan
Saudara Purbaya Wiryawan Susilaradeya, STh mengakhiri tugas pelayanannya di GKI Klaten pada tanggal 28 April 1983.
***
Mulai tahun 1981, tiap tahun diberi tema, untuk lebih mengarahkan tujuan pelayanan jemaat.
· Tahun 1981: Tahun Kemenangan
Pada tanggal 29 Maret 1981 dibuka Pos Pekabaran Injil (Pos PI) di Prambanan. Kebaktian menumpang di rumah dr. Sugiharto Wibowo (dokter yang bertugas di Panti Waluyo, cabang Prambanan). Di Pesu, Wedi, juga dibuka Pos PI pada tangal 26 April 1981. Kebaktian menggunakan rumah yang dikontrak dari salah seorang anggota
· Tahun 1982: Tahun Kelimpahan
Dalam tahun ini GKI Klaten mendapat persembahan dua bidang tanah yang terletak di:
1. Jl. Pemuda Selatan 74, Klaten (SD Kristen III)
2. Jl. Rujak Senthe, Klaten.
· Tahun 1983: Tahun Pengucapan Syukur
Dalam tahun ini GKI Klaten dapat menyelesaikan pembangunan ruangan untuk TK Kristen KRIDAWITA yang terletak di Jl. Pemuda Selatan 74, Klaten (Satu lokasi dengan SD Kristen III).
· Tahun 1984: Tahun Sukacita
Pada tahun ini GKI Klaten mendapat anugerah sebidang tanah di JI.Seruni 10, dan digunakan untuk SD Kristen III & TK Kristen KRIDAWITA.
· Tahun 1985: Tahun Anugerah
Pada tanggal 9 September 1985, GKI Klaten menambah satu Pos PI lagi yaitu di Mireng, Trucuk, Klaten.
· Tahun 1986: Tahun Pengabulan Doa
Pada tanggal 14 Agustus 1986, majelis memanggil saudara Drs. Sugeng Daryadi Adi Saputra untuk orientasi di GKI Klaten.
Pada tanggal 23 Desember 1986 diresmikan penggunaan gedung gereja Bakal Jemaat (Bajem) Prambanan.
· Tahun 1987: Tahun Ketaatan Dan Berkat
Tanggal 14 Maret 1987, saudara Drs. Sugeng Daryadi diangkat sebagai Tua-tua Khusus.
Tanggal 27 Mei 1987 GKI Klaten mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama Yayasan NARWASTU. Tanggal 23 Desember 1987 penggunaan gedung gereja Bajem Mireng diresmikan
· Tahun 1988:Tahun Pengembangan
Dalam tahun ini GKI Klaten mengalami pengembangan. Pelayanan GKI Klaten berkembang lagi dengan dimulainya Pos PI Karangri. Tanggal 24 Oktober 1988 dimulai pemugaran gedung gereja.
· Tahun 1989: Tahun Keakraban
Tanggal 28 Agustus 1989, gedung GKI Klaten telah selesai dipugar dan digunakan lagi sebagai tempat ibadah. Selama dipugar kebaktian dan aktivitas gereja dilaksanakan di SD Kristen III.
· Tahun 1990: Tahun Kesejahteraan
Tahun ini GKI Klaten menerima persembahan sebidang tanah di Jl. Gondosuli, Klaten dari ibu Padmo.
· Tahun 1991: Tahun Filia/Kasih dan Persaudaraan
Tanggal 12 Juni 1991, saudara Drs. Sugeng Daryadi Adi Saputra menyelesaikan ujian peremptoir.
· Tahun 1992: Tahun Panggilan
Tanggal 21 April 1992, sdr. Sugeng Daryadi Adi Saputra ditahbiskan menjadi pendeta GKI Klaten. Beliau mendapat tugas khusus untuk bakal jemaat Prambanan.
You must be logged in to post a comment.