Sweet Memories dari Jemaat GKI Klaten
S ebelum aku melayani di GKI Klaten, aku tak pernah punya kesan apa-apa setiap kali akan melewati kota ini. Kota Klaten yang hanya berjarak 32 km dari Yogyakarta dan di masa kecilku aku sering diajak almarhum ayahku ke Klaten. Yang kuingat adalah toko “Florida” yang menjual ayam panggang.
Ketika aku kuliah di Salatiga, aku sering lewat Klaten tanpa kesan yang berarti. Begitu pula ketika aku melayani di GKI Masaran, setiap hari Jum’at aku bolak-balik lewat kota ini. Ditambah lagi kalau ada rapat komisi Klasis atau pertemuan lain. Tak ada kesan.
Baru setelah aku bekerja di GKI Klaten, kota Klaten menjadi bagian dari diriku. Jalan-jalan yang kulewati menjadi berarti bagiku karena di jalan-jalan itu aku mengalami saat-saat yang menyenangkan: mengunjungi orang-orang tertentu, memimpin persekutuan wilayah, makan bubur lethok…..aduh, nikmatnya!
Di GKI Klaten, aku lebih banyak berkhotbah di Bakal Jemaat dan Pos Jemaat. Di Jemaat aku lebih banyak melayani jemaat lanjut usia dalam persekutuan Kowulan, paduan suara Kowulan, jalan-jalan pagi setiap Sabtu, bidston pagi dan kursus ketrampilan di Pastori.
Para jemaat yang lanjut usia menyambutku dengan hangat dan akrab sehngga aku kerasan, merasa at home di Klaten. Seolah-olah sudah puluhan tahun aku di sini.
Dua tahun berjalan sangat cepat dan meninggalkan kesan yang sangat mendalam bagiku. Aku tak akan melupakan orang-orang yang pernah memanjakan aku, antara lain sdri. Lan Hyang, tante toko Muncul (bu Sigit), bu Padmo, Mak Oedip, bu Dalyo, mbak Nur dan Sioe Ing. Sebagian dari mereka sudah dipanggil Tuhan.
Sekarang, setiap kali aku melewati “gereja Jago”, aku merasa ada sesuatu yang menyentuh kalbuku. Happy Birthday GKI Klaten.
Debora K. Tioso
You must be logged in to post a comment.