Takut,…..tidak Bisa Tidur
Saya merasa senang sekali ketika menerima telepon dari bpk. Sigit Djentoro bahwa saya diminta untuk melakukan pra-perkenalan di GKI Klaten. Pra perkenalan dilaksanakan selama tiga bulan dari Oktober-Desember 1998.
Ketika itu saya baru saja sampai di Klaten. Belum genap sehari di Klaten, saya mendapati tamu pertama saya, yaitu bpk. Djoko Soedibjo. Waktu itu adalah hari Jum’at. Seperti biasanya, setiap hari Jum’at sore diadakan persekutuan kelompok. Hari itu sebenarnya Pak Joko mendapat jatah memimpin di kelompok 7-8, di rumah bpk. Agus Handoyo (Seng Han).
“Bagaimana kalau Anda yang memimpin kelompok 7-8, nanti sore?” kata pak Djoko mengutarakan maksudnya. “Kan, bisa sekalian perkenalan.” Begitu alasannya.
Karena alasannya seperti itu dan sebagai orang baru, saya pun menyanggupinya. Meskipun dalam hati sebenarnya merasa deg-degan juga. Saat persekutuan dimulai, jantung saya mulai berdegup kencang. Ketika giliran menyampaikan firman Tuhan itu tiba, saya berdiri di hadapan jemaat. Anehnya, suara saya tidak terdengar kalau saya gugup, hanya saja … keringat saya keluar segede biji-biji jagung! Itulah kenangan manis pertama, dikerjain oleh pak Djoko.
Kenangan manis kedua adalah ketika saya datang lagi ke Klaten untuk melaksanakan perkenalan, bulan September 1999. Waktu itu saya dijemput oleh ibu Wiem Seimahuira lalu dibawa ke rumah bpk. Budi Hakim untuk tinggal di sana karena Pastori sedang direnovasi.
Dari pagi hingga siang hari tidak ada permintaan untuk melayani, tapi setelah jam makan siang ada permintaan agar saya memimpin upacara tutup peti. Pengalaman ini membuat saya tetap bisa tidur malamnya karena ada banyak anak kos yang menemani he..he…he…
Berbicara mengenai pelayanan upacara kematian, ada beberapa kenangan yang melekat dan berkesan hingga kini. Suatu malam, sekitar pukul 22.00, ada seorang ibu yang dipanggil Tuhan. Bersama dengan pak Darjanto dan ibu Roestanta, saya datang ke rumah almarhumah.
Sesampai di sana, jenazah sedang dibersihkan dan ditutupi dengan kain. Saya tidak berani untuk melihatnya, karena saat itu merasa takut banget. Peristiwa itu masih terbayang-bayang sesampai di Pastori. Akibatnya malam itu saya tidak bisa tidur
Untuk itu mengatasi ini, saya memiliki resep manjur. Setiap kali usai memimpin upacara kematian, selama seminggu kemudian saya ‘mengorbankan” tidur siang. Dengan demikian, malamnya saya bisa langsung tidur lelap karena siangnya sudah capek. Inilah beberapa kenangan saya yang berkesan.
Pdt. Pelangi Kurnia Putri
You must be logged in to post a comment.