TURUN 10 KG

2

Posted on : 31-07-2008 | By : GKI | In : Kesaksian
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Di tengah-tengah banyaknya kegiatan pelayanan dan pekerjaan pribadi yang luar biasa, teman-teman sering mengatakan, “ Kamu kok sekarang makin kurus?!” Saat itu saya memang merasa bahwa kesehatan saya turun dengan drastis. Badan terasa selalu tidak fit. Karena banyak orang yang menanyakan hal serupa, maka akhirnya saya memutuskan untuk menimbang berat badan saya. Hasilnya membuat saya terkejut. Wowww…berat saya turun drastis 10kg!!! Pantas saja kesehatan saya selalu ada masalah walau tetap bisa beraktivitas. Karena takut terjadi apa-apa, maka saya memeriksakan diri ke dokter. Bahkan bahkan tidak cuma kepada satu dokter tapi sampai banyak dokter, yang menghabiskan dana, waktu, tenaga dan pikiran (dua tahun lho!). Semuanya itu untuk mencari penyebabnya.

Dokter sendiri merasa heran dan mengatakan bahwa saya menderita stress yang tidak disadari. Hal ini, akhirnya berimbas pada pencernaan saya. Saya lalu merenungkan perkataan dokter. Dan saya pikir betul juga! Oke saya mencoba untuk lebih santai dan tidak terlalu tegang. Hasilnya kesehatan lumayan membaik tetapi berat masih tetap saja tidak mau bergerak naik walau sedikit saja.

Nopember 2003 Tuhan memberi berkat yang luar biasa lewat sepupu saya. Berkat ini samasekali tidak pernah saya duga. Bahkan mimpi pun saya tidak berani. Saya diminta untuk mewakili sepupu saya untuk pergi ke Eropa euy selama 17 hari, ke 6 negara. Fuihhh…fantastis sekali! Mama saya sebenarnya merasa keberatan karena kesehatan saya yang sering drop. Akan tetapi kakak-kakak saya menyemangati saya untuk mengambil kesempatan yang langka bin gratis ini. “Ini sekaligus untuk refreshing ‘murni’”, demikian kata mereka. Sebenarnya pada bulan Desember saya ada pekerjaan di panitia natal dan event wedding. Namun saya memutuskan untuk berangkat saja. Dalam hal ini saya berterimakasih pada teman-teman merelakan diri mengambil alih tugas saya di dua event itu.

Awal Desember saya pun berangkat. Pada waktu transit di Singapura, badan saya ‘drop’. Perut terasa mual. Kepala terkena migrain. Badan keluar keringat dingin. Jalan saya sudah limbung. Saat itu saya sudah hampir memutuskan tidak melanjuntkan perjalanan ke Eropa. Namun ketika berada di toilet, saya mendengar suara yang berkata,‘Ayo lanjuntkan…’kan ada Aku. Jangan setengah-setengah!’. Ya sudah, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ternyata Tuhan memberikan teman perjalanan yang baik untuk mendampingi saya.

Namun setelah tiba di Roma, alih-alih menikmati city tour, pikiran saya malah kacau. Saya selalu memikirkan mama di rumah dan pekerjaan. Ada perasaan bersalah kepada teman-teman di panitia dan EO. Hingga pada saat melintasi jalan tol, Tuhan menegur saya. ”Kamu itu sudah Kuberi berkat yang fantastis malah tidak menikmati…kuatirmu kok malah lebih besar. Ayo semangat lihat sekelilingmu!!!” Saya langsung tersadar dan merubah hati-pikiran supaya lebih ‘semeleh…(bersandar pada Tuhan). Mulai saat itu saya menikmati perjalanan yang ada, bahkan tak henti-hentinya bersyukur atas berkat yang luar biasa ini. Termasuk bisa menikmati suasana Natal di sana (dulunya hanya lihat lewat film).

Karena bisa menikmati (semeleh..) saya dapat berkat yang lain, yaitu selama liburan berat badan saya naik 1 kg. Bagi saya itu adalah anugerah yang luar biasa setelah menunggu sekian tahun tidak naik-naik juga. Pulanglah saya dengan badan yang sehat dan sukacita ( cik Hana thanks ya…ternyata dikau diam-diam mengkhawatirkan kesehatan saya bahkan berdoa terus buat saya selama saya pergi..). Sejak belajar arti ‘semeleh” pelan-pelan berat saya naik mendekati ke semula.

Dari pengalaman ini saya belajar tentang arti bersandar pada Allah. Kalau kita percaya pada Tuhan itu tidak boleh setengah-setengah. Suatu proses itu ternyata menjadi indah bila kita beriman pada Tuhan. Thanks God what You have done to me….(Bernike RWB)

Rahasia Hidup Bahagia

0

Posted on : 29-07-2008 | By : Purnawan | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mazmur 1:1-6

Siapa yang tak mau hidup bahagia? Setiap orang pasti ingin hidup berbahagia. Tapi pertanyaannya, seperti apakah hidup yang disebut berbahagia itu? Ada yang berpendapat bahwa hidup bahagia itu jika memiliki kekayaan yang berlimpah. Ada juga yang mengatakan bahwa hidup berbahagia itu hidup selalu sehat dan aman. Yang lainnya menunjukkan keluarga yang harmonis sebagai pertanda hidup bahagia. Orang lain mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang selalu tertawa.

Apakah semua itu menjamin kebahagiaan? Kenyataannya, ada orang kaya yang jika ditanya apakah mereka berbahagia, mereka menggelengkan kepala. Orang sehat pun belum tentu merasa sudah bebhagia. Mengapa begitu? Karena selama ini kita memiliki pandangan yang keliru terhadap arti kebahagian.

Pertama, kita sering keliru dengan menganggap bahwa kebahagiaan itu berarti bersenang-senang. Hatinya selalu bergembira. Itu sebabnya banyak orang kemudian berusaha menciptakan acara pesta-pesta atau lari ke obat penenang untuk menciptakan kegembiraan.

Kedua, kita sering berpikiran keliru dengan menganggap bahwa kita dapat mengejar kebahagiaan. Kita harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Padahal kebahagiaan sebenarnya merupakan akibat atau hasil dari sesuatu yang kita lakukan.

Ketiga, ada anggapan keliru bahwa kebahagiaan itu selalu ditemukan di luar diri kita atau ada pada orang lain. Kita sering berkata pada diri sendiri, “Dengan berganti pekerjaan, mungkin saya akan menjadi bahagia”, “Saya tidak betah hidup di sini. Kalau saya pindah rumah ke kompleks yang lebih elit mungin saya akan lebih bahagia.” Atau berpikir begini, “Kalau saya menikahi orang ini, hidup saya pasti akan berbahagia.”

Ada seorang pria yang selalu memohon segala sesuatu pada Tuhan. Suatu haru, Tuhan berkata kepadanya: “Aku sudah bosan. Ajukanlah tiga permohonan. Aku akan mengabulkannya, tapi setelah itu jangan minta lagi.”

Pria itu tercengan tak percaya. “Tuhan meskipun aku malu mengatakannya, tapi aku ingin Tuhan mengambil istriku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak bisa hidup lagi bersamanya.”

“Baik, tidak masalah” jawab Tuhan, “Terjadilan seperti yang kau minta.” Maka matilah isterinya.

Pria ini sebenarnya merasa bersalah, tapi sesaat kemudian dia merasa bahagia dan lega. Pikirnya, “Aku akan menikahi wanita yang lebih muda dan cantik.”

Pada saat upacara penguburan, tiba pria ini berubah pikiran. Tuhan, dulu istriku ini adalah wanita yang baik. Selama dia hidup, aku tidak pernah menghargainya. Tuhan tolong hidupkan dia lagi.”

Tuhan menjawab, “Baik, permohonanmu yang kedua sudah terkabul.”

Sekarang tinggal satu permohonan lagi. Apa yang dia minta lagi. Dia bingung, lalu minta pertimbangan teman-temannya.

“Minta uang saja. Kalau kamu punya uang, kamu dapat memiliki apa saja.”

“Apa untungnya punya uang alau kamu tidak sehat? Minta kesehatan saja”

“Apa gunanya kesehatan jika suatu saat nanti kamu akan mati? Minta keabadiaan saja?

“Apa gunanya keabadian jika kamu tidak seorang pun untuk dicintai? Mintalah cinta”

Pria ini malah tambah bingung. Lima tahun, sepuluh tahun, limabelas tahun berlalu.

Suatu hari Tuha bertanya, “Kapan kami akan menggunakan permohonan ketigamu?”

Pria ini tertawa kecit, “Tuhan saya ini bingung. Saya tidak tahu apa yang harus kuminta! Dapatkah Engkau katakan apa yang harus kuminta?”

Tuhan tertawa keras mendengar dia mengatakan hal itu, “Baik Aku akan memberitahukan apa yang harus kau minta. Mintalah untuk menjadi bahagia tanpa peduli seperti apa pun keadaanmu. Itulah rahasianya.”

–***—

Kebahagiaan tidak ada kaitannya dengan hal-hal di luar kita. Uang dan kekuasaan memang menjanjikan kebahagiaan. Namun kenyataannya, orang miskin pun bisa bahagia.

Ada seorang mahasiswa yang berjalan-jalan di pantai pada siang hari. Dia mendapati seorang bapak sedang tidur-tiduran santai di bawah pohon kelapa. “Maaf, mengapa Bapak tidak melaut?” tanya mahasiswa.

“Memangnya kenapa, dik?” tanya Bapak itu enggan.

“Kalau Bapak bisa menangkap banyak ikan, Bapak ‘kan punya uang banyak?” jawab Mahasiswa.

“Kalau saya sudah punya uang banyak, memangnya kenapa?” tanya Bapa itu lagi.

Mahasiswa mulai jengkel, “Lho, dengan uang itu Bapak bisa membeli dan memiliki banyak kapal?”

“Kalau saya punya banyak kapal, memangnya kenapa?”

“Bapak ‘kan bisa memperkerjakan banyak orang sebagai anak buah kapal?”

“Kalau saya punya banyak anak buah kapal, memangnya kenapa?”

“Bapak ‘kan tidak perlu kerja lagi. Bapak tinggal terima setoran. Bapak bisa hidup dengan santai,” jawab mahasiswa dengan nada tinggi.

“Lho memangnya apa yang sedang saya lakukan ini? Saya sedang bersantai ‘kan?”

Kekayaan tidak menjamin datangnya kebahagiaan. Kebahagiaan itu tidak terdapat di luar. Hilangkan pemikiran keliru itu. Kalau tidak, Anda tidak pernah mendapatkan kebahagiaan.

Ada seorang tahanan Nazi yang disiksa setiap hari. Suatu hari pemerintah Nazi memindahkannya ke sel baru. Di sel baru itu, ada lobang yang dapat membuatnya melihat langit di siang hari dan bintang-bintang di malam hari. Orang itu gembira sekali. Lalu dia menulis surat kepada keluarganya tentang nasib baiknya itu.

Pada tahun 202, kaisar Septimius Severus khawatir terhadap pertumbuhan gereja. Karena itu, ia melarang agama Kristen. Namun banyak orang Kristen yang yang mengabaikan larangan ini. Termasuk di antaranya seorang wanita muda bernama Perpetua. Akibatnya, ia harus dihukum mati.

Selama menanti ekskusi, wanita ini membawa buku harian dalam penjara. Dengan mengharukan, dia menuliskan kegembiraannya ketika bayinya diizinkan tinggal bersamanya. “Penjara tiba-tiba menjadi istana, sehingga aku sangat ingin tinggal di sana daripada di tempat lain mana pun.”

Ayahnya berusaha membujuk Perpetua. “Anakku, kasihanilah aku yang sudah ubanan ini…jangan tinggalkan aku. Lepaskanlah kebanggaanmu!” Ia menjawab, “Terjadilah seperti yang dikehendaki Allah!” Kemudian Hilarianus, sang Gubernur juga ikut membujuk,”Kasihanilah ayahmu yang sudah tua. Kasihanilah anak laki-lakimu yang masih bayi. Persembahkanlah korban bagi keselamatan para kaisar.” Perpetua dan teman-temannya menolak. Perpetua menulis, “Kami dikutuk seperti binatang buas dan dikembalikan ke penjara.”

Seorang teman Kristen mengakhiri cerita ini, “Hari kemenangan mereka tiba, dan mereka berbaris dari penjara menunju amphiteater, penuh sukacita seakan-akan hendak pergi ke sorga, dengan wajah tenang, gemetar, juga dengan kegembiraan, bukan ketakutan.”

Sikap keliru yang lain adalah kelekatan ita terhadap sesuatu, terutama pada emosi negatif. Jika Anda terikat pada emosi negatif, maka Anda tidak akan pernah merasakan bahagia. Itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh memiliki emosi negatif. Sepanjang kita menjadi manusia normal maka kita pasti memiliki emosi negatif: seperti kesedihan, kekhawatiran, stress, depresi, kemarahan, kebencian. Yang terpenting kita tidak larut dan terikat dalam emosi negatif ini.

–***–

Lalu bagaimana cara mencari kebahagiaan? Pemazmur mengatakan, orang yang berbahagia adalah orang yang “kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” Dengan kata lain, orang itu suka melakukan Perintah TUHAN dan merenungkannya siang malam.”

Ciri-ciri orang yang sudah melakukan perintah Tuhan dan merenungkannya siang malam adalah seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya. Orang itu berhasil dalam segala usahanya.

Pertama, tidak egois. Buah yang dihasilkan oleh sebatang pohon, selalu diberikan pada pihak lain. Pohon tidak pernah memakai buahnya untuk kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain, orang yang berbahagia adalah orang yang tidak egois. Orang yang egois itu seperti anak kecil, “Kalau kamu tidak mau meminjamkan mainanmu, aku pulang lho.”

Coba kita ingat-ingat, apakah kita pernah mengatakan hal seperti itu: “Kalau mereka memberiku ini atau itu, aku akan berbahagia” atau begini, “Kalau aku tidak memperoleh ini atau itu, maka aku tidak akan berbahagia.”

Banyak orang yang tidak merasa berbahagia karena mereka memaksakan kondisi-kondisi kebahagiaan untuk diri mereka sendiri. “Aku akan merasa bahagia jika aku punya mobil”; “Aku tidak akan berbahagia jika gagal membangun usaha ini.”

Banyak orang yang merasa berbahagia ketika dia mau berbagi berkat dengan orang lain.

Kedua, Bersyukur dan menghitung berkat. Coba kataan “Betapa beruntungnya aku. Aku bersyukur sekali!” Sungguh tidak mungkin merasa bersyukur, tetapi tidak berbahagia.

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:11 TB)

Ada seorang pria yang datang pada seorang guru yang bijak. “Guru, bantulah aku. Rumahku seperti nereka. Kami tinggal dalam rumah yang sempit. Istriku, anak-anakku, menantu-menantuku, cucu-cucuku, dan aku sendiri. Tidak ada cukup ruang lagi untuk kami semua.

Guru: “Belilah seekor sapi dan masukkan dalam rumahmu!” meski heran, dia melakukan itu. Esoknya datang lagi. “Waduh guru, semakin parah.”

“Tak apa-apa. Ikuti saran saja. Beli seekor kambing dan masukkan ke dalam rumahmu.”

Datang lagi: “Rasanya aku sudah menjadi gila. Bisa kena serangan stroke. Rumahku sedah tidak karuan lagi.”

“Beli sepuluh ekor ayam, dan masukkan ke dalam rumah.”

“Ampuuun guru. Aku sudah tidak tahan lagi Rumahku sudah menjadi neraka beneran.”

“Sekarang jualah semua binatang peliharaanmu..”

Datang lagi dengan muka cerah.

“Terimakasih guru. Rumahku terasa lega. Sekarang sunggu indah dan bersih. Seperti di sorga rasanya.”

Ada latihan yang dapat dipraktikkan dalam bersyukur. Sederhana saja. Pikirkan kejadian hari kemarin, satu demi satu dari pagi sampai sore. Untuk setiap kejadiannya katakan “Terimakasih. Aku sungguh beruntung dapat mengalaminya.”

Mungkin Anda teringat sesuatu yang tidak menyenangkan. Berhentilahs ejenak dan katakan pada diri sendiri, “Hal yang salami ini terjadi semata-mata demi kebaikanku.”

Ketiga, Melakukan latihan iman. Perhatikan ayat 3:

“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3)

Orang yang sudah merenungkan firman Tuhan dan melakukannya tidak langsung berbuah. Dia harus menunggu waktunya untuk berbuah. Meski begitu dia menantikan dengan sabar. Dia menyedari bahwa ada proses yang harus dilalui hingga tiba waktunya berbuah. Dia harus berakar, bertumbuh dan kadangkala harus dipangkas. Namun dia melaluinya dengan ketekunan.

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:2-4)

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Pikirkanlah hal-hal yang terjadi pada Anda, entah itu menyenangkan atau tidak. Lalu katakanlah: “Semua kejadian itu baik untukku; semua peristiwa itu baik adanya.” Pikirkanlah hal-hal yang terjadi pada Anda dan katakanlah, “Itu baik…itu baik…”

Pikirkan tentang masa depan dan katakanlah,”Semuanya akan menjadi baik, Semuanya akan menjadi baik.” Kemudian lihatlah apa yang akan terjadi. Iman akan menjadi kebahagiaan; yaitu iman bahwa segala sesuatu berada di tangan Tuhan dan bahwa segala sesuatu akan memberi arti yang sangat besar terhadap kebahagiaan kita.

Pernah disampaikan Purnawan Kristanto dalam Persekutuan Kelompok 3-4, GKI Klaten, tgl 26 Jan 2007.

Vega, Vega

0

Posted on : 28-07-2008 | By : GKI | In : Cuma Ada di Klaten
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Beberapa minggu setelah gempa bumi Mei 2006, kami mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani. Tujuan utamanya adalah sebagai pemulihan trauma bagi para korban gempa dashyat ini. Kami mengundang Edo Kondologit, Nindy Ellesse, Albert AFI, dsb. Sebelum mereka tampil, acara akan dibuka dulu oleh band pembuka dari GSJA Filipi. Menurut jadwal, band pembuka seharusnya tampil pukul 18.00.

Hampir seluruh pemain band sudah siap, tapi ada satu pemain yang belum nongol juga. Namanya Vega.

Ditunggu 5 menit, dia belum kelihatan juga. Sepuluh menit berlalu, Vega belum kelihatan hidungnya! Yudha yang menjadi stage manager mulai panik. Sebab tanpa Vega, maka keseluruhan acara belum bisa dimulai.

Yudha mulai hilir mudik keluar masuk pintu utama dengan wajah gelisah. Persis seperti setrika yang panas. Di kepalanya mulaikeluar asapnya. Karena kasihan melihat Yudha, maka saya memutuskan untuk menunggu di luar gedung. Yudha saya minta untuk masuk saja.

Memasuki menit ke-15 kepanikan mulai menjalar ke semua panitia. Mellaui walkie talkie saya umumkan bahwa kalau sampai 18.20 Vega belum juga muncul, acaranya harus dimulai meski tanpa band pembuka. Karena situasinya demikian tegang, maka saya berusaha mencairkan suasana dengan bercanda. Saya berbicara via walkie talkie: “Yudha, bilang sama Vega ya…lain kali jangan pakai Vega tapi suruh ganti Jupiter MX aja biar cepet kayak angin!”

Semua panitia yang memegang walkie talkie langsung tertawa. “Ha…ha…ha….betul Vega diganti aja Jupiter MX” timpal beberapa rekan.

Eh, tak berapa lama kemudian Vega pun muncul. Saya langsung mengarahkan dia untuk berjalan ke panggung sambil berkata “Vega besok kamu ganti Jupiter MX ya…biar tidak terlambat!”

Mendengar hal itu Vega hanya bengong. Dia semakin kebingungan ketika panitia yang lain ikut senyum-senyum mendengar gurauan saya.

Anda yang baca ini pasti sudah mengerti kan antara Vega dan Jupiter MX? Kalau belum mengerti silakan lihat iklan motor Yamaha (Bernike Rwb).

SELAMAT BERPROSES

1

Posted on : 27-07-2008 | By : GKI | In : Kesaksian
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

yin yinBukannya ikut-ikutan dengan Pdt. Andar Ismail yang mengarang buku seri selamat tapi saya memang senang dengan kata PROSES. Buat saya yang penting adalah prosesnya. Tapi kalau hasil akhirnya bagus, maka saya menganggapnya sebagai bonus. Tapi kalau hasilnya kurang bagus ya sudah, nggak apa-apa….yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin.

Saya dilahirkan sebagai anak paling kecil di antara 3 bersaudara. Kakakku pertama laki dan yang kedua perempuan. Di sekolah dasar saya anak yang biasa-biasa saja dan cenderung pendiam. Ikut Sekolah Minggu juga ogah-ogahan karena lebih senang menonton tv- si unyil. Kalau saya hitung, saya ikut Sekolah Minggu kurang dari 3tahun. Akan tetapi saya bersyukur karena kakak saya yang perempuan selalu giat mengajak saya datang ke Sekolah Minggu.

Menginjak masa remaja saya sedikit lebih aktif. Saya tidak begitu ingat apakah saya pernah menjadi pengurus komisi remaja atau tidak. Masih pada masa remaja, sekitar kelas 2 SMP, saya diajak menjadi Guru SM. Yang mengajak adalah cik Gien Gien dan Wimmy (thanks ya buat duet mentor saya …). Saya pun mula-mula hanya sekadar ikut-ikutan saja karena masih belum PD alias percaya diri. Namun lama-kelamaan bisa juga memimpin dan mengajar anak-anak SM.

Dan di sinilah proses awal itu mulai. Saya belajar memimpin, belajar untuk berorganisasi, belajar berpikir ke depan, berkreatif, dsb. Justru di Komisi Sekolah Minggu inilah Tuhan memproses saya dengan luar biasa. Betul sekali! Sampai sekarang, saya sendiri masih heran akan perubahan diri itu. Buat saya pelayanan di ladang Tuhan tidak akan pernah sia-sia asal kita all out asal kita mengerjakannnya dengan sungguh-sungguh. Dan itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi secara luas.

Proses berikutnya terjadi pada Oktober 1998, saya ditawari untuk mengadakan KKR se-Klaten. Kembali saya tidak percaya diri untuk menyelenggarakan kegiatan besar ini. Bagaimana sih Tuhan?! Siapa sih saya ini sampai nekat mau ngadain KKR?! Tapi setelah saya sharring dengan 4 teman saya, akhirnya kami berani mengadakannya. Awal Januari 1999, KKR itu berhasil digelar di GOR bersama GS Ministry, GMB, Pdt. Samiton Panggelah.

Apa yang terjadi? Karya Tuhan luar biasa, kami terheran-heran karena yang datang itu mencapai 4000 orang! Sekali lagi Tuhan memproses saya untuk melihat bahwa kalau bekerja bersama Tuhan, saya tidak perlu ragu-ragu. Kalau Tuhan sudah membuka pintu siapa sih yang bisa menutupnya?!

Efek yang luar biasa di dalam diri saya ini(dan mungkin teman2 seperjuangan…) membuat saya semakin yakin untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Event semakin banyak kami kerjakan tapi buat saya sekali lagi bahwa Tuhan memproses dengan luar biasa. Dari tidak mungkin, jadi mungkin terjadi. Pada setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Ada sukacita tersendiri bagi saya kalau bisa melewati rintangan, dan yang lebih penting adalah Tuhan menyadarkan saya untuk bersyukur akan hal-hal yang justru simple, bukan hal-hal yang besar.

Sharring saya ini bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai ungkapan syukur saya atas karya Tuhan dalam hidup saya. Sampai saat ini saya terkadang masih heran: ‘Kok bisa ya, saya berubah seperti ini, Tuhan?’ Proses dalam hidup saya akan terus berlanjut dan saya lebih menghargai sebuah proses. Hasilnya? Terserah Tuhan saja deh….kalau bagus ya…bonus itu!!! Mari kita nikmati proses yang ada sambil mengucap syukur….selamat berproses yang positif dan GBU. (Ratnawati Bram/noel-trinity)

Persekutuan Keluarga Muda

0

Posted on : 22-07-2008 | By : Purnawan | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Pasangan Muda

Pasangan suami istri yang belum lama menikah biasanya masih enggan untuk bergabung dengan Persekutuan Kelompok karena perbedaan usia dengan pasutri yang sudah puluhan tahun menikah. Untuk mengatasi hambatan ini, maka Persekutuan Kelompok 3/4 GKI Klaten membuat terobosan untuk menyelenggarakan Persekutuan Keluarga Muda. Yang hadir dalam persekutuan ini adalah pasangan suami istri yang baru saja menikah dan yang usia pernikahannya kurang dari sepuluh tahun.
Sedikit berbeda dengan Persekutuan Kelompok senior, persekutuan keluarga muda ini mengurangi formalitas dan mengandalkan acara yang asyik-asyik. Dengan demikian, acara ini dapat dinikmati oleh suami,istri dan anak-anak yang rata-rata masih kecil. Acara yang sudah diselenggarakan antara lain: bikin coklat bersama dan satay day.

Pada hari Selasa (23/7/2008), persekutuan keluarga muda diselenggarakan di Rumah Makan Andalas. Acara utamanya adalah fun game atau permainan asyik, yang dipimpin oleh Purnawan Kristanto.
Penulis buku “77 Permainan Asyik” ini memimpin 3 permainan, meliputi: Kupikir-pikir, Urai Tangan dan Balap Mumi. Suami pendeta Pelangi ini membagi 37 orang yang datang menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok harus mencari nama dan menciptakan yel-yel. Acara permainan ini mencapai puncaknya ketika setiap kelompok harus membungkus salah satu anggotanya dengan gulungan kertas toliet sehingga mirip dengan mumi. Setelah itu, Mumi harus berlari menuju garis finish.

JanjiMu Seperti Fajar

0

Posted on : 18-07-2008 | By : Purnawan | In : Umum
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Lagu “JanjiMu Sperti Fajar”, dinyanyikan oleh Riris dalam acara Parade Pujian, Dwi Pekan Keluarga, GKI Klaten 2006

Klik di sini

PERSEKUTUAN PASUTRI

0

Posted on : 09-07-2008 | By : Purnawan | In : Warta Jemaat
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Komisi Dewasa GKI Klaten menyelenggarakan Persekutuan Pasangan Suami-Isteri (8 Juli) di wisma Narwastu. Temanya yang diangkat adalah “Mengatasi Krisis Keintiman Suami Istri” dengan mengundang pdt. Nico Lomboan dari GPdI Elhadday, Yogyakarta.

Dalam paparannya, pdt. Nico menyatakan bahwa krisis keintiman dapat dihindarkan jika pasutri itu menjalankan fungsinya dengan baik. Dengan mendasarkan pada Efesus 5:22, pria keturunan Manado ini memaparkan bahwa fungsi isteri adalah tunduk pada suami, mengatur rumah tangga dan dapat dipuji, baik di dalam rumah atau di luar rumah. Sementara itu, berdasar ayat 28-29, maka fungsi suami adalah mengasihi isteri, menjadi imam keluarga, serta mempertahankan dan merawat keluarga. Jika fungsi ini dijalankan dengan baik, maka niscaya krisis rumah tangga dapat dicegah.

Pada bagian akhir, pdt Nico memberikan tips-tips praktis dalam membina keintiman. Kuncinya adalah membangun komunikasi yang baik. Komunikasi dalam rumah tangga itu tidak hanya berupa kata-kata saja, tetapi juga berupa tanda-tanda non-verbal seperti isyaratm bahasa tubuh atau kode-kode yang disepakati. Dia menyatakan bahwa sebagian krisis dalam rumahtangga disebabkan karena kegagalan dalam memahami tanda-tanda komunikasi non-verbal.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!