Lokasi: Villa Eden II, Kaliurang

Foto Bersama

Pdt. Nico Lomboan

Serius mendengarkan ceramah

Acara santai. Bakar jagung, sosis dan roti tawat.
Lokasi: Villa Eden II, Kaliurang

Foto Bersama

Pdt. Nico Lomboan

Serius mendengarkan ceramah

Acara santai. Bakar jagung, sosis dan roti tawat.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)
Agus Permadi, sehari-harinya adalah seorang botanis. Ketika terjadi bencana alam di kabupaten kami, Bapak dua anak ini segera memutuskan menjadi relawan kemanusiaan. Dia bekerja secara total dari pagi hingga malam, dengan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani bunga. Selama aktif di posko bencana, Agus tidak sempat menjual bunga sehingga tidak punya uang untuk biaya hidup keluarganya. Karenanya, Agus Permadi terpaksa harus menggandaikan cincin kawinnya.
Allah memang Maha Pemurah. Ketika praktisi botani ini telah menyelesaikan tugas kemanusiaannya dan kembali menekuni bisnisnya kembali, Tuhan memberkati usahanya. “Omzet saya meningkat tiga kali lipat,” akunya dengan wajah bersyukur. “Padahal ketika saya memutuskan terlibat dalam tugas kemanusiaan, saya tidak punya pamrih sedikit pun supaya mendapat berkat seperti ini,” lanjutnya dengan mata berbinar-binar.
Allah menghendaki kita lebih dulu mencari kerajaan Allah. Itu bukan berarti kita harus bersikap “asketis” (menolak semua hal yang berbau keduniawian). Kita harus menetapkan prioritas, yaitu kehendak Allah di atas segalanya. Jika ini dilakukan maka semua hal akan ditambahkan kepada kita.
Dalam praktiknya, harus diakui hal ini sulit dilakukan. Contohnya, dalam kegiatan pelayanan, seringkali ide-ide cemerlang tidak dapat diwujudkan hanya karena terhambat satu faktor saja: ketiadaan dana. Semestinya, kita lebih dulu memastikan apakah ide itu sesuai dengan kehendak Tuhan. Jika ya, maka sesuai janji-Nya maka semua aspek lain akan ditambahkan oleh Tuhan.
Prioritas utama adalah mencari kerajaan Allah, maka yang lain akan mengikuti.
Allah menghendaki kita lebih dulu mencari kerajaan Allah. Itu bukan berarti kita harus bersikap “asketis” (menolak semua hal yang berbau keduniawian). Kita harus menetapkan prioritas, yaitu kehendak Allah di atas segalanya. Jika ini dilakukan maka semua hal akan ditambahkan kepada kita.
“Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.”
Roma 13:4
Pak Djoko, jika naik sepeda motor, enggan mengenakan helm standard. Dia lebih senang memakai helm cidhuk (yang hanya ditempelkan di atas kepala, seperti topi). Suatu malam, dia bertamu ke rumah temannya. Ketika hendak pamitan pulang, tuan rumah menyodorkan helm standard miliknya. “Kamu tidak boleh mati terlalu cepat karena kecelakaan. Nih, pakai ini,” kata temannya dengan bercanda.
Sore berikutnya, dia melayani di sebuah pos jemaat yang jaraknya sekitar 5 km. Lain dari biasanyam pak Djoko memutuskan untuk memakai helm standard itu. Usai melewati palang kereta api, pak Djoko ingin menyalib truk. Ketika sejajar dengan truk itu, tiba-tiba sepeda motornya terpelanting. Dia terlempar dari kendaraan, tubuhnya menghantam aspal kemudian tercebur ke dalam selokan. Sementara itu, sepeda motornya juga berguling-guling selama beberapa kali dan masuk selokan juga.
Pertolongan Tuhan sungguh nyata. Sepeda motor itu tidak menimpa tubuh pak Djoko. Berkat helm standard yang dikenakannya, kepala pak Djoko terlindung benturan dengan aspal. Setelah diperiksa, pelipis kiri helm itu mengalami keretakan. Pak Djoko sendiri tidak mengalami luka-luka yang berarti. “Seandainya saya tidak memakai helm standard, saya tidak tahu apakah saya masih bisa berdiri di sini atau tidak” desis pak Djoko dengan suara bergetar.
“Aturan dibuat untuk dilanggar.” Pepatah ini tidak sepenuhnya tepat. Peraturan dan hukum dibuat untuk ketertiban dan kebaikan kita. Alangkah indahnya jika orang Kristen menjadi teladan di dalam ketaatan terhadap hukum.
Setiap kali telah berbuat salah, maka hati menjadi gundah, perbuatan serba salah dan raut wajah tak indah.
Saat menyertai kunjungan Presiden ke luar negeri, wartawan Indonesia mendapat sindiran dari koleganya di sana. Diceritakan bahwa wartawan Indonesia memakai jas yang lengkap, sementara wartawan di negara yang dikunjungi hanya memakai baju biasa yang rapi. “Katanya negeri kalian s
edang dilanda krisis, tapi mengapa memakai baju yang mahal-mahal?” tanya wartawan dari negara yang lebih kaya. Petugas protokoler dari istana Kepresidenan langsung menyahut dengan diplomatis, “Kami berpakaian begini untuk menghormati tuan rumah, kok.”
Sementara itu, pada rubrik ekonomi diberitakan bahwa produsen handphone merek terkenal sedang mengincar pasar Indonesia. Setiap kali mengeluarkan seri terbaru, mereka lebih dulu meluncurkan di Indonesia. Baru kemudian menyusul di negara-negara tetangga yang lebih “kaya.”
Dari kedua cerita di atas, kita melihat satu persamaan, yaitu kita senang bergaya. Contohnya, kebutuhan kita terhadap penggunaan HP kebanyakan baru sebatas untuk berbicara dan mengirim SMS. Semua itu sudah dicukupi oleh HP seharga Rp. 500 ribu. Meski begitu, lihatlah, banyak orang yang mengejar HP yang dilengkapi dengan fasilitas layar berwarna, dering polyphonic, kamera, bluetooth, infrared, 3G dll. Saya yakin, bahwa semua feature yang mahal itu sebenarnya tidak banyak kita butuhkan. Itu karena kita lebih mementingkan penampilan daripada fungsi.
Salomo menyatakan ketamakan tidak pernah terpuaskan. “Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.”Pengkhotbah 1:8
Kalau kita tidak berhati-hati, kita bisa terjebak di dalamnya. Kita melakukan apa saja untuk memuaskan nafsu ketamakan itu. Itu seperti minum air laut, yang malah membuat kita semakin haus. Cara menghindari perangkap ini adalah mensyukuri dan menikmati apa yang sudah dicukupi oleh Tuhan kepada kita.
Tuhan mencukupi kebutuhan kita, supaya kita mendekat kepada-Nya. Jika ketamakan menguasai kita, maka Tuhan bisa saja mengambil kembali anugerah-Nya.
GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!
0