Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
October 2008
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archive for October, 2008

Bila Cobaan Mendera

” Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya “

I Korintus 10 : 13

Korintus merupakan kota pelabuhan yang mempunyai keberagaman budaya, suku dan kepercayaan yang mempengaruhi corak hidup berjemaat. Munculnya pengutamaan karunia tertentu ini menyebabkan perpecahan. Di jemaat itu terbentuk kelompok idola, pandangan yang sempit terhadap perkawinan, dlsb. Jemaat Kristen di sana terpilah-pilah berdasarkan tokoh yang diidolakan; ada yang mengklaim pengikut Paulus, pengikut Yesus, atau pengikut Kefas. Semuanya dapat memicu kehancuran sebuah persekutuan.

Hubungan yang indah yang telah diciptakan Tuhan dalam jemaat bisa dirusak oleh kepentingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu rasul Paulus mengajak agar jemaat dapat menciptakan hubungan yang indah baik terhadap Tuhan maupun dengan sesama jemaat. Kemiskinan, bencana alam, kepahitan, pencobaan bisa saja merusak hubungan manusia dengan Allah. Jika semua kesulitan itu tidak dipandang dalam kerangka iman maka akan semakin jauhlah hubungan manusia dengan Allah.

Semakin dekatnya manusia kepada Allah memang meresahkan kuasa jahat, iblis. Maka dia berusaha memanfaatkan berbagai momen dalam hidup manusia agar mereka tidak lagi menyembah kepada Tuhan. Bila hidup keluarga mengalami pencobaan, maka bisa muncul dua sikap, yaitu menerima, dan menolak. Lautan tenang memang sering membuat kita tertidur dengan hembusan angin. Namun ketika badai datang maka keterkejutan membuat iman hilang harganya. Kita tidak pernah tahu bilamana mengalami hal-hal itu .

Memiliki keluarga yang harmonis menjadi idaman setiap orang yang percaya, namun hal ini bisa dirusak oleh kejadian-kejadian yang luar biasa yang mendera kehidupan kita. Bisa saja iman kita menjadi terjatuh, goyah, kehilangan kemudi, namun syukurlah kemudian bila bangun dan berdiri lagi. Keluarga yang dahulunya setia ketika mulai bangkrut, imannya mulai pudar. Keluarga yang dahulu mengasihi Allah kemudian karena bencana alam berubah setia. Berbagai macam peristiwa bisa mempengaruhi iman kita kepada Tuhan.

Pencobaan bukan dari Tuhan, kata Yakobus, tetapi karena keinginan diri sendiri untuk memenuhi apapun yang menjadi kerinduannya. Pencobaan bukan dosa, namun bila kita telah jatuh ke bawah kuasanya dan dikendalikan olehnya maka di situlah dosa mulai bersemayam. Pencobaan yang berlaku dalam hidup kita ada dalam kuasa Allah. Ketika kita mengalaminya maka Tuhan akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Pencobaan menempa hidup beriman, mengasah kepedulian kita akan kehendak Allah, mengikis egois yang kerap menggoda kehidupan kita. Hanya dengan tunduk di bawah tangan kuasa Allah, maka pencobaan menjadi batu loncatan agar iman kita lebih maju lagi.

Siapa yang ingin mengalami penderitaan? Tentu tak ada seorang pun yang menginginkannya bukan ? Tapi bila kita harus mengalaminya tentu suka atau tidak suka kita harus menjalaninya. Contohnya, pencobaan yang saya alami. Waktu itu, saya membeli telur sekilo. Tanpa disangka, uang kembalian yang diberikan penjualnya kelebihan tiga puluh tujuh ribu rupiah. Kebetulan nih, soalnya saat itu saya memang tak punya uang. Sepanjang jalan saya senang karena mendapat uang kaget. Saking gembiranya, saya tidak memperhatikan kalau saya melanggar rambu lalu lintas. . Karuan saja saya ditilang pak Polisi dan didenda tiga puluh ribu. Ya… inikah teguran Tuhan, karena saya telah mengambil yang bukan milik saya. Akhirnya dengan rasa malu saya kembali ke penjual telur dan mengembalikan uang kelebihannya. Terima kasih, Tuhan atas teguranMu.

Bila cobaan mendera kita, obat satu-satunya yang sangat afdol adalah datang kepada Tuhan Yesus. Tetaplah terus menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa, mohonkan kekuatan agar iman kita tetap teguh. Ingat! Cobaan yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita. Tuhan tahu kekuatan kita terbatas. Maka bila kita mohonkan kepadaNya maka Allah yang berkuasa memberikan bonus kekuatan. Pastilah sesudah melewati cobaan kita akan mengalami damai sejahtera dari Tuhan.

Bila kita menyadari keterbatasan kita dan mengakui “ aku manusia lemah “ saat itu kita akan mengalami “ kekuatan ekstra “ dari Tuhan. Sehingga menjadikan pencobaan itu memacu kita lebih setia lagi mengikut Dia. Lebih mengasihi Dia lagi… lebih… dan lebih setia.

Murid-murid Bersembunyi

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”” (Yohanes 20:19)

Ketika hari sudah malam, pada hari pertama Minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah- tengah mereka dan berkata : “ Damai sejahtera bagi kamu “

Kisah ini bagian dari kejadian atau peristiwa yang sedang dialami para murid ketika Tuhan Yesus disalib. Para murid ketakutan dikejar dan ditangkap para prajurit Romawi dan juga pemimpin agama Yahudi. Mereka dihinggapi perasaan was-was karena takut ditangkap. Oleh karena itu sebisa mungkin mereka menghindarinya dengan cara bersembunyi jauh-jauh.

Sebelum penangkapan terhadap Tuhan Yesus, mereka ikut mendampingi dan menemaniNya ke mana saja Dia pergi. Bahkan ketika Tuhan Yesus di taman Getzemane untuk berdoa, mereka bersama-sama dengan Yesus. Namun amat menyedihkan karena mereka mau mengikut Tuhan Yesus hanya ketika mereka berada dalam keadaan aman tenteram. Namun bila keamanan mereka terusik, maka iman mereka mudah pula berubah. Iman mereka bersifat kondisional.

Mereka meninggalkan Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapanNya. Suatu hal yang sangat ironis. Ketika Tuhan Yesus memerlukan dukungan dari teman-teman terdekat ternyata mereka mencari aman sendiri dan membiarkan Tuhan Yesus sendiri. Baru saja Tuhan Yesus telah memberitahukan segala yang akan terjadi dengan diriNya namun begitu cepatnya kata-kataNya lenyap dari ingatan mereka.

Bahkan komitmen mereka : “ Mau ikut Tuhan Yesus ke mana saja Yesus berada “, hanya sebentar, seketika pudar ketika keamanan mereka terusik.

Apakah sepatutnya demikian sikap seorang murid Tuhan Yesus? Beranikah kita menghadapi segala kenyataan hidup dengan keyakinan iman yang teguh untuk berpegang pada firmanNya? Ataukah kita membiarkan diri kita berada “di pintu-pintu terkunci “ sehingga kita enggan untuk ke luar dari masalah yang kita hadapi ?

Anggapan yang keliru sering muncul di dalam pemahaman kita sebagai pengikut Yesus atau murid Tuhan Yesus. Kita sering beranggapan bahwa kalau kita menjadi muridNya hidup kita selalu dalam keadaan aman, selamat, tanpa masalah. Padahal Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan selalu dalam keadaan aman, tanpa masalah. Yang justru dijanjikanNya adalah Tuhan Yesus menyertai kita sampai selama- lamanya.

Mengapa para murid bersembunyi, ketika Tuhan Yesus menjalani via dolorosa? Para murid bersembunyi karena mereka takut. Mereka takut ditangkap dan disalibkan seperti halnya yang dialami Tuhan Yesus, Guru mereka. Saat Tuhan Yesus tidak mereka rasakan kehadiranNya secara fisik dekat dengan mereka, maka kegundahan hati menguasai mereka membuyarkan iman kepadaNya. Apakah ketika kita menghadapi masalah , Tuhan Yesus ada dekat dengan kita ? Apakah Dia peduli dengan keruwetan hidup yang kita alami ? Ataukah Dia hanya duduk di SinggasanaNya dan membiarkan kita bergulat sendiri ?

Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia segera menjumpai para murid yang tinggal di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci. KedatanganNya saat ini mau meyakinkan agar mereka percaya. Apapun yang sedang dihadapi, Ia selalu peduli. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita dengan masalah apapun yang tidak diselesaikanNya. Hanya saja saat kita mengalami masalah sering hati dan pikiran kita terlalu dipenuhi oleh masalah itu sendiri.

Reaksi spontan kita bila tidak merasa aman adalah menghindari masalah yang sedang dihadapi sebisa mungkin. Memang pada saat itu kita tidak merasakan bahwa Tuhan Yesus berada dekat dengan kita. Kita hanya merasakan bahwa kita sendirian tanpa Tuhan, itulah gambaran kenyataan hidup orang yang hidupnya dikuasai oleh masalah. Tuhan setiap saat selalu dekat dengan kita, namun masalah itu yang menggeserkan kedudukan Allah yang siap menolong . Betapa sedihNya hati Tuhan karena manusia tidak memberikan kesempatan bagiNya untuk melakukan sesuatu.

Akibat yang sering ditimbulkan apabila kita dikuasai oleh masalah adalah kita tidak merasakan hadiratNya. Kita kehilangan damai sejahtera, selalu menyalahkan Tuhan dan tidak lagi memuliakan Allah. Betapa sayangnya bila anugerah yang ingin diberikan kepada kita terhalang oleh kekerasan hati kita. Kita ngambek kepada Tuhan karena menganggap Tuhan tidak peduli dengan kehidupannya. Padahal kita sendiri yang tidak mau membiarkan Tuhan bekerja di dalam hidup kita. Hati dan pikiran kita bukan lagi dikuasai oleh Tuhan.

Namun bila kita mau agar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita, maka segala masalah yang kita hadapi akan tuntas, tas dan tas !! Maukah kita membiarkan Tuhan Yesus yang mengisi hidup kita? Biarkan kuasaNya merangkul kita sehingga kita percaya pencobaan, ataupun masalah yang kita hadapi. Datang dan percayakanlah Tuhan Yesus yang campur tangan. Sehingga kita tidak hidup dalam ketakutan, lalu bersembunyi mencari jalan pintas yang salah dan menyesatkan. Pelajaran dari para murid Tuhan Yesus seharusnya menjadi contoh perlunya kita berpegang pada Firman Tuhan, mengingat apa yang dikatakanNya, sehingga any way, jalan naik, jalan turun, jalan bergelombang, jalan berbatu, apapun perlintasan yang kita lalui bersama Tuhan Yesus kita enjoy saja deh.

Bila Malas Menggoda

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:” (Amsal 6:6)

Allah sering menggunakan hal-hal yang sederhana di alam ini untuk mengajar kita. Kadang kedengaran lucu seperti dalam bacaan kita. Untuk menjadi bijak kita perlu memperhatikan perilaku semut. Mengumpulkan makanan pada musim panas, sehingga pada waktu tidak panen, dia ada persediaan makanan.

Yesus berkata :”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus kita, selama masih siang. Sebab jika malam sudah datang, maka tidak ada seorang pun dapat bekerja lagi (Yohanes 4:34; 9:4)

Keselamatan adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma yang harus kita pelihara. Paulus menasihati jemaat di Filipi (Fil.2:12-16), agar mereka mengerjakan keselamatan terus menerus, dengan tekun, tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Dia juga menasihati agar kehidupan anak-anak Allah itu tidak beraib dan bernoda di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan sesat ini. Agar menjadi terang bagi dunia ini dengan hidup sesuai dengan firman Tuhan.

Di samping memelihara keselamatan, jemaat Tuhan juga terpanggil untuk mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan sesuai dengan karunia masing-masing.

Dalam Matius 25:14-30, karunia itu diumpamakan sebagai talenta (mata uang), yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan tuannya. Yang menerima lima talenta segera bekerja, menjalankan uang itu dan beroleh laba talenta. Demikian juga si penerima dua talenta, bekerja, menghasilkan laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu karena malas, lalu menggali lobang menyembunyikan talentanya. Akibatnya, setelah tuan mereka membuat perhitungan, talenta dan upah yang seharusnya diterima si pemalas, dialihkan kepada hamba yang telah bekerja dengan baik, bahkan si pemalas mendapat ganjaran hukuman.

Sebab itu marilah kita singkirkan segala bentuk godaan kemalasan dalam mengiring Tuhan dan berdiri teguh dalam kebenaran-Nya. Teruslah giat dalam tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita masing-masing dalam pekerjaan Tuhan karena segala jerih payah kita tidak akan sia-sia. Kelak kita akan menghadap Tuhan dan mendapat penghargaan serta masuk dalam kesukaan-Nya yang sempurna.

Jangan Remehkan Teguran

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19)

Terkadang tidak mudah menerima nasihat dari seseorang, apalagi jika hal itu merupakan teguran. Ada banyak faktor yang membuat seseorang menolak untuk dinasihati, apalagi ditegur: kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang besar, kekayaan yang banyak, merasa paling besar, merasa paling baik, dll.

Itulah yang terjadi dengan jemaat di Laodikia. Laodikia adalah kota yang makmur di Asia Kecil yang terletak pada jalur perdagangan yang ramai di Asia pada waktu itu. Mereka merasa kaya, serba kecukupan dan tidak kekurangan apa-apa. Secara lahiriah memang demikian, tapi dari segi rohani ternyata mereka miskin. Tuhan mengatakan bahwa mereka itu melarat, miskin, buta dan telanjang. Keadaan suam-suam kuku memungkinkan mereka tidak akan menikmati kekayaan rohani, kecuali mereka merendahkan diri dan bertobat.

Ada tiga hal yang merupakan teguran Tuhan:

1. Agar membeli emas dari Tuhan, yaitu emas yang telah dimurnikan, suatu kekayaan rohani, pengertian akan berkat-berkat Allah di dalam Kristus (baca Kolose 2:1-3). Iman yang bertumbuh melalui berbagai pencobaan maka nilainya akan melebihi emas (1 Petrus 1:6-7).

2. Agar mengenakan pakaian putih, yaitu pakaian dari Kristus yang membenarkan oleh iman dan menguduskan jemaat. Pakaian kebenaran (karakter manusia baru) menjadi bagian yang penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambaran sang Pencipta (Kolose 3:10).

3. Minyak untuk melumas mata. Karya Roh Kudus merupakan minyak pelumas rohani, agar mata hati dapat melihat kebenaran rohani. Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan memberi kemenangan atas kuasa dosa dan membawa pemulihan.

Jalan Sempit atau Lebar

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”” (Matius 7:13-14)

Untuk apa berdesak-desakan melalui jalan yang sempit kalau ada jalan yang lebar dan mulus? Tentu orang akan memilih jalan yang lebar agar merasa nyaman sampai pada tujuan. Tapi, tidak demikian halnya dengan perjalanan rohani menuju kota sorgawi yang kekal itu. Kita harus melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit. Ajaran Yesus ini adalah bagian dari kesimpulan khotbahNya di bukit.

Perjalanan rohani yang tentu tidak mulus, diperlukan pengorbanan diri dalam setiap langkah. Kebanyakan orang enggan menghadapinya. Banyak orang lebih senang mengikuti jalan yang lebar, gampang, menuruti keinginan sendiri, dan berakhir pada gerbang kebinasaan. Bagaimana dengan jemaat Tuhan? Kita harus siap menghadapinya, berjalan melintasi jalan sempit yang tentu saja banyak konsekuensinya. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu ! sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

Berjuang, berarti sesudah kita menerima keselamatan, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi segala rintangan, menyangkal diri, mau membayar harga berapapun besarnya. Jangan sampai kelak ada penyesalan karena ternyata pintu tertutup dan Tuhan berkata: “Aku tidak tahu darimana kamu datang” (Lukas 13:25).

Ketika Keluarga Berada di “Padang Gurun”

Firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”(Keluaran 15:26)

Padang gurun merupakan satu tempat yang banyak orang pasti ingin menghindarinya. Mengapa? Karena tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Bila siang, matahari begitu terik menyengat. Sedangkan malam hari, udara yang dingin begitu menggigit. Tidak ada banyak oase yang menyegarkan dan menyejukkan. Begitu kering.

Adakalanya kehidupan kita harus masuk ke dalam “padang gurun.” Air yang direguk bukannya kesegaran, malah membuat lidah menjadi pahit. Oase yang disinggahi tidak memberi kesegaran tapi membuat wajah menjadi muram. Padang gurun itu bisa dalam waktu sesaat, namun ada juga yang harus berjalan dalam rentang waktu yang sangat lama. Padang gurun itu sendiri bisa dalam bentuk apa pun – dalam diri siapa pun.

Responnya? Tidak banyak orang yang melihat padang gurun kehidupan sebagai pelajaran hidup. Kebanyakan orang melihat padang gurun sebagai sesuatu yang negatif. Kecenderungan yang kedua ini tampak di dalam perjalanan Israel menuju tanah terjanji dan yang juga muncul dalam kehidupan keluarga Kristen. Padang gurun itu ditanggapi dengan bersungut-sungut, amarah yang meluap dan menilai Musa sebagai pemimpin yang tidak becus. Bahkan mereka menuduh Musa akan menghabisi mereka di padang gurun yang bernama Mara itu. Dengan kata lain mereka sebenarnya menuduh bahwa Tuhan itu jahat, sebab Musa bertindak atas perintah Tuhan. Bukankah kadang-kadang kita juga berbuat demikian? Kita menuduh Allah berbuat jahat karena membiarkan kita menderita?

Sejatinya, melalui padang gurun kehidupan itu Dia tengah membentuk kita. Jadi, jangan pernah menghindar atau lari dari padang gurun kehidupan sebab Tuhan sedang merenda kehidupan. Hasilnya adalah kehidupan yang indah.

Isteri yang Cakap

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” (Amsal 31:30)

Kebanyakan kaum wanita menempuh segala cara supaya selalu tampil cantik, ‘fresh‘, dan kelihatan awet muda. Mulai dari cara yang paling sederhana dan tradisional (senam/atau jalan pagi dan minum jamu), sampai dengan cara yang tidak sederhana dan mengeluarkan biaya yang menguras isi dompet (operasi plastik, sedot lemak, dll). Kalau ditanya “Untuk apa sih semua itu dilakukan?” Jawabannya, selain kalimat pada baris pertama renungan ini ya, agar disayang suami. Agar suami tidak melangkah ke rumput tetangga yang katanya juga”lebih hijau”.

Berdandan untuk jasmani memang tidak ada salahnya, tapi jangan hanya “luar”nya saja yang didandani. Kehidupan rohani, yang tidak tampak dari luar juga perlu didandani. Amsal 31:10-28 menyediakan satu set “kosmetik” untuk mendandani batin supaya menjadi cantik.

Pertama, istri yang cantik adalah orang dapat dipercaya? (ayat.11). Bagaimana orang lain mengenal Anda, apakah mereka mengenal kita sebagai orang yang dapat dipercaya atau orang yang gampang menebar gosip bahkan fitnah.

Kedua, istri yang cantik adalah orang yang mau ikut memikul dan bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup pernikahan dan keluarga kita (ayat.12-23) Bagaimana Anda mengelola keluangan keluarga? Berhemat atau pemboros?

Ketiga, istri yang cantik adalah orang yang hatinya penuh dengan belas kasihan, tegar, percaya pada pemeliharaan Tuhan, pandai mengucap syukur dengan apa yang ada pada diri dan keluarganya, serta takut akan Tuhan? (ayat.24-28) Sudahkah ini tampak dalam kehidupan Anda? Atau Anda masih dikenal sebagai istri yang hatinya penuh dengan kebencian, iri dan dengki terhadap sesama?

Wow…! Banyak nian syarat menjadi istri yang cakap! Mungkin banyak di antara kita yang belum memenuhi kriteria tersebut. Tapi tidak usah cemas, selagi masih ada waktu, kita masih bisa punya kesempatan untuk memperbaikinya. Bagi yang merasa sudah bisa memenuhi kriteria tersebut, jangan jumawa, tetap waspada, karena hanya TUHAN yang memampukannya.

Suami yang Takut Akan Tuhan

“Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.”

(Mazmur 128:4)

Seorang laki-laki bercakap-cakap dengan temannya. “Aku baru saja bertengkar dengan istriku.”

“Oh, ya. Lalu bagaimana akhirnya?” tanya temannya.

“Saat selesai, istriku mendatangiku sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.”

“Wah hebat, dong,” ujar temannya kagum, “lalu dia bilang apa?”

“Dia berkata begini: “Hei keluar dari bawah ranjang, Pengecut!”"

Dalam kenyataan, ternyata tidak sedikit para suami yang bersikap seperti humor di atas, lebih takut sama istri dari pada takut akan Tuhan. Penyebabnya bisa banyak faktor: Mungkin karena tidak ingin ribut, tingkat pendidikan yang tidak sepadan atau bisa juga karena latar belakang sosialnya.

Renungan hari ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam tentang kepada siapakah rasa takut dan gentar itu ditujukan! Tema kita sudah jelas, sikap takut dan gentar ditujukan kepada TUHAN! Caranya bagaimana? “..hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya!”(ayat.1)

Artinya segala sesuatu yang dirasa, dipikirkan,diucapkan dan diperbuat tidak menyimpang dari firman Tuhan. Tidak berprasangka buruk terhadap sesamanya, tidak mudah mengumbar emosi, baik melalui kata-kata maupun perbuatan. Jujur dan tekun di dalam mengusahakan rezekinya. Demikianlah dia akan disebut orang yang berbahagia. Hai para pria! Apakah hidup Anda ingin diberkati? Takutlah pada Tuhan.

Tuhan Menuntun ke Jalan yang Benar

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” (Mazmur 23:3b)

Daud adalah seorang anak Tuhan. Ia sangat dikasihi oleh Tuhan, namun di dalam kehidupan yang dilaluinya tidak berjalan dengan mulus. Dia mengalami banyak perjalanan yang pahit dan getir. Sebagai gembala, ia pernah bertarung melawan singa dan beruang yang akan menerkam domba-dombanya. Ketika ia menjadi menantu raja Saul, ia dibenci oleh Saul, mertuanya, dan d kejar-kejar hendak dibunuh. Akibatnya ia harus hidup mengembara dan menderita. Namun penderitaan itu diterimanya dengan kesabaran, dan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dia. Dia bahkan sangat yakin bahwa hidupnya selalu dituntun oleh Allah sendiri.

Mazmur 23 inilah merupakan kesaksian Daud tentang Allah yang telah menuntunnya di jalan hidupnya. Pertolongan dari Tuhan itu nyata di dalam kehidupannya.

Tuhan Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Tuhan Yesus telah memberikan nyawa-Nya bagi kita semua, umat yang percaya. Ia akan melepaskan kita apabila kita terperosok ke dalam jurang. Dicarinya kita yang sesat, dan dituntunnya kita bersama kawanan domba-domba yang lain. Yohanes 10:2-3 menyatakan, “tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.”

Saat kita berada “di luar”, yaitu di dalam pergumulan dan permasalahan, serta kegiatan kita sehari-hari, ingatlah bahwa Tuhan Yesus, gembala yang baik menuntun kita semua. Ia mengenal nama kita. Dengarkanlah, Ia memanggil kita, meminta kita datang kepadaNya. Pasti dituntunnya kita ke padang rumput yang hijau dan ke air yang tenang, bahkan sekalipun kita menghadapi bahaya tetap saja Ia akan menolong kita. GadaNya dan tongkatNya menghibur kita.

TUHAN Tak Membiarkan UmatNya Kelaparan

“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak.” (Keluaran 16:4 TB)

Allah mendidik umat Israel setelah keluar dari Mesir. Selama 40 tahun lamanya Israel berputar-putar di padang pasir di dalam “sekolah Allah”, agar bangsa Israel tidak lagi tegar tengkuk. Di dalam “sekolah” ini, Allah mengajar bangsa Israel supaya mereka mengenal Allah yang telah membebaskan dari perbudakkan Mesir (lambang dosa). Dengan demikian mereka memiliki kerendahan hati dan mengakui dengan iman bahwa Allah memelihara hidup mereka sehingga tidak kelaparan.

Ulangan 8:13 menyatakan, “Jadi Ia merendahkan dirimu, memberikan engkau lapar, dan memberi engkau makan manna yang tidak kau kenal dan yang juga tidak dikenal nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan”. Di dalam kehidupan kita di dunia, kita pun perlu makan. Dan di dalam pemeliharaan Tuhan, Allah memerintahkan kita, agar kita menyatu dan menyadari bahwa Allah tidak membiarkan umat-Nya kelaparan.

Itu sebabnya kita harus dan mengakui bahwa segala hasil pekerjaan bukan berdasarkan kemampuan manusia sendiri. Allah menghendaki manusia rendah hati dan mengerti pemeliharaan Allah sehingga mereka tidak kelaparan.

Tuhan Yesus pun mengajari kepada kita agar kita tidak kuatir akan hidup kita karena Allah akan memelihara kita. Di dalam Matius 6:31-33 dituliskan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata apa yang akan kamu makan? Apa yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.

Marilah kita menyadari, di dalam pemeliharaan-Nya, Ia menghendaki agar kita tunduk di dalam segala otoritas-Nya, sehingga kita akan menikmati segala berkat-Nya.

“Tuhan Memberkati Keluarga yang MengasihiNya”

“Sesudah itu diberkatinyalah Yusuf, katanya: “Nenekku dan ayahku, Abraham dan Ishak, telah hidup di hadapan Allah; Allah itu, sebagai Allah yang telah menjadi gembalaku selama hidupku sampai sekarang, dan sebagai Malaikat yang telah melepaskan aku dari segala bahaya, Dialah kiranya yang memberkati orang-orang muda ini, sehingga namaku serta nama nenek dan bapaku, Abraham dan Ishak, termasyhur oleh karena mereka dan sehingga mereka bertambah-tambah menjadi jumlah yang besar di bumi.”” (Kejadian 48:15-16 )

Setiap orang/keluarga pasti ingin hidupnya diberkati Tuhan. Memiliki hidup yang harmonis, rukun, damai, penuh kasih dan mapan. Namun tak dapat dipungkiri, dalam kenyataannya, kerap kali terjadi hal-hal yang tidak kita harapkan. Banyak kepentingan pribadi di antara masing-masing yang menonjol dan menimbulkan keributan, pertengkaran dan menjurus pada perpecahan.

Bagaimanakah seharusnya kita membangun keluarga yang diberkati Tuhan? Berkat Yakub kepada Yusuf diterimakan kepada kedua anaknya yang bernama Efraim dan Manasye. Isi berkat Yakub mengaitkan nama Abraham, Ishak yang merupakan kakek dan ayahnya, di samping juga pengakuan bahwa Allah sebagai gembala. Dari sini kita tahu bahwa peran bapak sangat penting sebagai imam dalam keluarga. Bapak yang bijaksana akan mengajarkan kepada istri dan anak-anaknya tentang Allah sebagi gembala yang memberkati (dengan tanpa mengurangi hak istri yang mungkin juga memiliki pekerjaan sendiri, selain sebagai ibu rumah tangga).

Ulangan 6:5-7 dan seterusnya mengatakan:”Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang Kuperintahkan pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkan berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun….”

Demikian pula kita dapat meneladani kehidupan Abaraham, Ishak, dan Yakub. Bagaimana mereka telah hidup di dalam takut kepada Allah? Tuhan Allah telah memberkati mereka. Sekarang, jikalau kita hidup dengan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, Ia akan memberkati kita, seperti janjiNya yang dengan iman kepada Yesus Kristus telah nyata, yaitu di dalam Galatia 3:14 “Yesus Kristus telah membuat ini supaya di dalam Dia berkat Abaraham samapai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman, kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

Foto Tilik nDeso

Photobucket
Koh Yoyok sebagai Pembawa Acara
Photobucket
Photobucket
Pak Iwan dan Ibu Ratna sedang ditanggap
Photobucket
Pengunjung melimpah
Photobucket
Seperti biasa, habis acara terus makan-makan
Photobucket

Membangun Keluarga yang Beriman

“Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” (2 Timotius 3:15)

Di kehidupan ini, kita sering menginginkan keberhasilan dan kalau mungkin keberhasilan itu diraih secara cepat: cepat kaya, cepat laris, cepat sembuh, kedudukan cepat naik dan lain sebagainya. Kalau bisa, ya puji Tuhan! Tetapi yang terjadi tidaklah selalu begitu. Ada proses yang harus dilalui.

Kalau kita menginginkan keluarga kita berbahagia, kalau kita menginginkan keluarga kita beriman, maka semua anggota keluarga harus berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita harus membangun dengan tekun. Tidaklah mungkin iman kita menjadi kuat dalam sekejap.

Dalam ayat nats kita hari ini, Paulus memberi pujian kepada Timotius anak rohaninya.Dalam hal ini, kita dapat belajar bagi keluarga kita:

1. Belajar sejak dini. Timotius mengenal Taurat Tuhan sejak kecil. Alangkah indahnya kalau dalam keluarga diadakan persekutuan untuk merenungkan dan menghayati Alkitab. Dengan demikian setiap pribadi atau keluarga kita bisa menjadi manusia yang berkhidmat, semakin bertumbuh imannya, dan mengenal Tuhan (Ayub 42:5).

2. Tekun, artinya “terus-menerus” atau “berkelanjutan”. Pengenalan akan Tuhan tidak didapatkan sekejap tetapi melalui waktu yang panjang, bahkan harus mengalami proses jatuh bangun (Ibrani 10:36).

3. Berdoa memohon Roh Kudus bekerja menolong kita, supaya dapat membangun keluarga yang beriman.

Paulus sangat menekankan perlunya pembacaan kitab suci. Sebab dari sini, kita dapat mengalami pertumbuhan iman.

Mengasihi Anak yang Hilang

“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,” (Lukas 15:18)

Cerita anak yang hilang sangat populer karena dia mengungkap dan melucuti sisi manusiawi yang sangat umum yaitu bahwa manusia itu (siapapun dia) bisa jatuh dan gampang jatuh ke dalam dosa. Manusia sebagai makhluk tertinggi, paling cerdas, dan berbudi di muka bumi ini dapat dan mungkin mengambil keputusan-keputusan yang bodoh dan melakukan tindakan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Secara umum juga, manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bangun dari kejatuhannya, mampu menyadari kecelakaannnya dan tidak terhanyut dalam bencana yang diakibatkan oleh kebodohannya sendiri. Inilah sebenarnya yang ditampilkan melalui tokoh anak yang hilang itu.

Ia memang melakukan tindakan yang amat bodoh, telah terseret ke dalam kejatuhan, kecelakaan dan kehinaan akibat kesalahan dan kebodohannya sendiri. Namun jangan dikutuki dulu, sebab si anak hilang itu boleh jadi adalah Anda dan saya sendiri yang kerap kali merasa pintar dan merasa benar. Namun tanpa sadar telah melakukan tindakan-tindakan bodoh lalu mendapat celaka berkepanjangan.

Yang penting adalah seperti anak yang hilang itu, ia menyadari kebodohannnya, kecelakaannya dan berupaya bangkit dari kejatuhan, memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pengambilan keputusan ini dan berani menjalankannya itu sangat sulit. Banyak orang yang walaupun menyadari kebodohannya, malu untuk mengakui kebodohannya itu dan mereka tidak seperti si anak hilang yang mampu dan mau berkata, “Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata “Bapa aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak Bapa, jadikanlah aku salah seorang upahan Bapa.”" (ayat 15,18,19,21). Meskipun keputusan dan tindakan untuk kembali itu patut diacungi jempol, tapi keputusan tetap ada tangan sang bapa yang mau menerimanya kembali. Alangkah sia-sianya keputusan yang sulit itu sekiranya setelah pulang yang ia terima adalah penolakan dari bapanya.

Puji Tuhan, cerita si anak hilang berakhir begitu indah karena “ketika ia masih jauh ayahnya telah melihat…ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan menciumnya.”

Adakah orang-orang Kristen, pengusaha-pengusaha Kristen yang bersedia berperan sebagai “Bapa” bagi mereka (si anak yang hilang), yang mau “berlari-lari mendapatkan mereka lalu merangkul dan mencium mereka?” Tidak usah bilang sampai tahapan merangkul dan mencium. Taruh kata, pada tahap awal memberi kesempatan bagi mereka (anak yang hilang) untuk memperoleh latihan kerja dan memberi kesempatan kedua. Apakah kita bersedia melakukannya?

Kenyataannya banyak yang tidak bertindak sebagai Bapa, tapi justru bersikap dan berkomentar seperti si sulung, orang-orang yang cemburu, berpikir negatif dan tidak mengerti mengapa perlu ada usaha seperti ini. Mereka berkata, “Orang baik-baik saja yang membutuhkan pekerjaan masih banyak mengapa cari masalah dan menempuh risiko mengurusi orang-orang seperti itu?”

Bagi kita risiko selalu merupakan bagian dari keputusan. Bila kita yakin bahwa apa yang kita lakukan itu benar dan bermanfaat, maka kita juga mesti ikhlas dan siap menanggung risikonya. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh malaikat di surga akan bersorak sorai bila ada satu orang saja yang bertobat. Bisa saja kita kecewa dan gagal dengan sepuluh orang yang diberi kesempatan atau yang dibina, tetapi keberhasilan atas satu orang akan menjanjikan kesukacitaan dan kepuasan batin yang tak ternilai. Apakah kita berani mencobanya? Siapa yang mau menerima kembali tekad suci si anak yang hilang? Alangkah sayangnya, alangkah dosanya dan di mana kasih Tuhan yang sudah diwariskan kepada kita jika karena sikap kita membuat mereka yang ingin pulang akhirnya kembali hilang. Marilah kita mengasihi anak yang hilang.

Pak Iwan Tilik nDeso

Sudah puluhan tahun pak Iwan menetap di Australia. Setinggi-tingginya bangau terbang, tetap rindu pada bau sarangnya juga. Hari Jumat (17/10), pak Iwan pulang ke Klaten dan menhadiri acara “Tilik nDeso, Berbagi Cerita dari Australia.”

Bisa juga klik di sini:Tilik Ndeso

Dua Tahun Koma

Sudah dua tahun ini Ida Kurniawati mengalami koma. Dia terbaring di atas ranjangnya tanpa reaksi apa-apa. Bulan Nopember 2006, dia mengalami kecelakaan di Semarang. Tidak jelas bagaimana kejadiannya, soalnya kendaraan lain yang terlibar dalam kecelakaan itu melarikan diri.
Sejak kecelakaan itu, Ida tak sadarkan diri hingga sekarang. Matanya terbuka, tetapi tidak memberikan reaksi apa meskipun ada objek di depan matanya. Otaknya mengalami kerusakan permanen.
Bagaimana keluarga menghadapi situasi ini? Tim multi media GKI Klaten melakukan wawancara dengan Bpk. Dadut dan Ibu Yenny. Mereka adalah kakak Ida yang selama ini merawat Ida.

Untuk melihat klip videonya, klik link ini.Dua Tahun Koma

Kesaksian Ibu Sri Hardini

Dokter menyatakan bahwa Ibu Sri Hardini mengalami kegagalan fungsi ginjal. Dia harus menjalani cuci darah selama dua kali dalam seminggu. Padahal, ketika masih sehat, ibu Sri Hardini rajin dalam pelayanan. Dia giat menjadi guru Sekolah Minggu, mengajar katekisasi dan memimpin pujian dalam Persekutuan Kelompok.

Bagaimana sikap Ibu Sri Hardini menghadapi penyakitnya ini? Simak hasil wawancara tim multmedia GKI Klaten dengannnya. Bisa juga dengan klik di sini:Kesaksian Ibu Sri Hardini

Keluarga yang Saleh

Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten

“Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5)

Hidup saleh berarti ada ketaatan dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah agamanya. Dalam kamus bahasa Indonesia menurut Purwodarminto, kata “saleh” berarti “hidup suci.” Hidup suci seringkali hanya dikaitkan dengan kegiatan yang menyangkut gerejawi. Misalnya, giat atau rajin datang kebaktian, mengikuti kegiatan gereja, dll. Itu memang benar dan harus. Namun kesalehan juga harus dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Saleh bisa diartikan hidup suci sehingga pikiran, perkataan maupun perbuatan yang selalu memandang Tuhan.

Roma 12:2 mengingatkan kita untuk mempraktikkan hidup suci dengan sukarela, tanpa paksaan, tanpa beban dan dengan senang hati. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ayub:

1. Ayub tekun beribadah

2. Ayub rela dan mau berbuat baik demi orang lain walaupun orang itu tidak tahu. Misalnya dengan mendoakan orang tersebut dalam doa syafaat.

3. Ayub itu takut akan Tuhan. Dengan kata lain segala pikiran dan tindakannya selalu dihubungkan dengan Tuhan. Dia menyadari bahwa semua miliknya adalah milik Tuhan (Ayub 1:21-22). Dalam setiap hal, Ayub selalu berpikir: “Apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan kehendak Tuhan?” Dalam istilah keren, Ayub sedang berimajinasi “What Would Jesus Do?” (WWJD).

4. Ayub mengenal Tuhan secara pribadi (Ayub 42:5)

Dengan belajar melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ayub, maka kita telah mendorong keluarga kita menjadi keluarga yang saleh.

AJARILAH ANAK-ANAK MERENUNGKAN FIRMAN TUHAN

“Aku hendak merenungkan titah-titahMu dan mengamat-amati jalan-jalanMu” (Mazmur 119: 15)

Di dalam kitab Ulangan 6 diperintahkan agar para orangtua mengajarkan Taurat Tuhan (Firman Tuhan) secara berulang-ulang kepada anak-anak. Untuk melaksanakan perintah Tuhan tersebut pada zaman ini ternyata tidak mudah. Setiap pasangan suami istri mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Para orangtua dituntut untuk bekerja keras. Waktu tersita untuk kesibukan kerja sehingga perhatian untuk anak-anak berkurang.

Firman Tuhan mengingatkan kita sebagai orangtua untuk bertanggung jawab memberikan waktu bagi anak-anak. Membawa anak-anak kepada Tuhan di dalam doa bersama, membaca Firman Tuhan dan membawa mereka ke Sekolah Minggu atau ibadah. Lebih dari itu orang tua dipanggil Tuhan untuk menjadi panutan secara nyata dengan melakukan Firman Tuhan.

Barangkali kita sudah setiap hari membaca Kitab suci. Tetapi kita belum mempraktikkan atau melaksanakan Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari. Marilah kita mengajarkan kepada anak-anak agar dapat melakukan Firman Tuhan dan menjadi panutan bagi mereka.

Foto Lomba Masak

Para pemenang
Para Pemenang

Ibu Yohana sedang menilai

Ibu Yohana sedang menilai

Bu Kamto jadi yuri

Bu Kamto sedang beraksi menilai masakan

Makan-makan

Makan bersama. Maak…nyuuusss!!

Makan Bersama
Bu Denny, Bu Agus Subagio, Bu Amik, Bu Tjondro.

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
KKR Barnabas Ong Retret Pasutri Retret Pasutri Bakar, bakar, bakar! KKR Barnabas Ong
Wise Words
sms inspiratif