Bila Cobaan Mendera

0

Posted on : 31-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

” Pencobaan- pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan- pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya “

I Korintus 10 : 13

Korintus merupakan kota pelabuhan yang mempunyai keberagaman budaya, suku dan kepercayaan yang mempengaruhi corak hidup berjemaat. Munculnya pengutamaan karunia tertentu ini menyebabkan perpecahan. Di jemaat itu terbentuk kelompok idola, pandangan yang sempit terhadap perkawinan, dlsb. Jemaat Kristen di sana terpilah-pilah berdasarkan tokoh yang diidolakan; ada yang mengklaim pengikut Paulus, pengikut Yesus, atau pengikut Kefas. Semuanya dapat memicu kehancuran sebuah persekutuan.

Hubungan yang indah yang telah diciptakan Tuhan dalam jemaat bisa dirusak oleh kepentingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu rasul Paulus mengajak agar jemaat dapat menciptakan hubungan yang indah baik terhadap Tuhan maupun dengan sesama jemaat. Kemiskinan, bencana alam, kepahitan, pencobaan bisa saja merusak hubungan manusia dengan Allah. Jika semua kesulitan itu tidak dipandang dalam kerangka iman maka akan semakin jauhlah hubungan manusia dengan Allah.

Semakin dekatnya manusia kepada Allah memang meresahkan kuasa jahat, iblis. Maka dia berusaha memanfaatkan berbagai momen dalam hidup manusia agar mereka tidak lagi menyembah kepada Tuhan. Bila hidup keluarga mengalami pencobaan, maka bisa muncul dua sikap, yaitu menerima, dan menolak. Lautan tenang memang sering membuat kita tertidur dengan hembusan angin. Namun ketika badai datang maka keterkejutan membuat iman hilang harganya. Kita tidak pernah tahu bilamana mengalami hal-hal itu .

Memiliki keluarga yang harmonis menjadi idaman setiap orang yang percaya, namun hal ini bisa dirusak oleh kejadian-kejadian yang luar biasa yang mendera kehidupan kita. Bisa saja iman kita menjadi terjatuh, goyah, kehilangan kemudi, namun syukurlah kemudian bila bangun dan berdiri lagi. Keluarga yang dahulunya setia ketika mulai bangkrut, imannya mulai pudar. Keluarga yang dahulu mengasihi Allah kemudian karena bencana alam berubah setia. Berbagai macam peristiwa bisa mempengaruhi iman kita kepada Tuhan.

Pencobaan bukan dari Tuhan, kata Yakobus, tetapi karena keinginan diri sendiri untuk memenuhi apapun yang menjadi kerinduannya. Pencobaan bukan dosa, namun bila kita telah jatuh ke bawah kuasanya dan dikendalikan olehnya maka di situlah dosa mulai bersemayam. Pencobaan yang berlaku dalam hidup kita ada dalam kuasa Allah. Ketika kita mengalaminya maka Tuhan akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Pencobaan menempa hidup beriman, mengasah kepedulian kita akan kehendak Allah, mengikis egois yang kerap menggoda kehidupan kita. Hanya dengan tunduk di bawah tangan kuasa Allah, maka pencobaan menjadi batu loncatan agar iman kita lebih maju lagi.

Siapa yang ingin mengalami penderitaan? Tentu tak ada seorang pun yang menginginkannya bukan ? Tapi bila kita harus mengalaminya tentu suka atau tidak suka kita harus menjalaninya. Contohnya, pencobaan yang saya alami. Waktu itu, saya membeli telur sekilo. Tanpa disangka, uang kembalian yang diberikan penjualnya kelebihan tiga puluh tujuh ribu rupiah. Kebetulan nih, soalnya saat itu saya memang tak punya uang. Sepanjang jalan saya senang karena mendapat uang kaget. Saking gembiranya, saya tidak memperhatikan kalau saya melanggar rambu lalu lintas. . Karuan saja saya ditilang pak Polisi dan didenda tiga puluh ribu. Ya… inikah teguran Tuhan, karena saya telah mengambil yang bukan milik saya. Akhirnya dengan rasa malu saya kembali ke penjual telur dan mengembalikan uang kelebihannya. Terima kasih, Tuhan atas teguranMu.

Bila cobaan mendera kita, obat satu-satunya yang sangat afdol adalah datang kepada Tuhan Yesus. Tetaplah terus menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa, mohonkan kekuatan agar iman kita tetap teguh. Ingat! Cobaan yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita. Tuhan tahu kekuatan kita terbatas. Maka bila kita mohonkan kepadaNya maka Allah yang berkuasa memberikan bonus kekuatan. Pastilah sesudah melewati cobaan kita akan mengalami damai sejahtera dari Tuhan.

Bila kita menyadari keterbatasan kita dan mengakui “ aku manusia lemah “ saat itu kita akan mengalami “ kekuatan ekstra “ dari Tuhan. Sehingga menjadikan pencobaan itu memacu kita lebih setia lagi mengikut Dia. Lebih mengasihi Dia lagi… lebih… dan lebih setia.

Murid-murid Bersembunyi

0

Posted on : 30-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”” (Yohanes 20:19)

Ketika hari sudah malam, pada hari pertama Minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah- tengah mereka dan berkata : “ Damai sejahtera bagi kamu “

Kisah ini bagian dari kejadian atau peristiwa yang sedang dialami para murid ketika Tuhan Yesus disalib. Para murid ketakutan dikejar dan ditangkap para prajurit Romawi dan juga pemimpin agama Yahudi. Mereka dihinggapi perasaan was-was karena takut ditangkap. Oleh karena itu sebisa mungkin mereka menghindarinya dengan cara bersembunyi jauh-jauh.

Sebelum penangkapan terhadap Tuhan Yesus, mereka ikut mendampingi dan menemaniNya ke mana saja Dia pergi. Bahkan ketika Tuhan Yesus di taman Getzemane untuk berdoa, mereka bersama-sama dengan Yesus. Namun amat menyedihkan karena mereka mau mengikut Tuhan Yesus hanya ketika mereka berada dalam keadaan aman tenteram. Namun bila keamanan mereka terusik, maka iman mereka mudah pula berubah. Iman mereka bersifat kondisional.

Mereka meninggalkan Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapanNya. Suatu hal yang sangat ironis. Ketika Tuhan Yesus memerlukan dukungan dari teman-teman terdekat ternyata mereka mencari aman sendiri dan membiarkan Tuhan Yesus sendiri. Baru saja Tuhan Yesus telah memberitahukan segala yang akan terjadi dengan diriNya namun begitu cepatnya kata-kataNya lenyap dari ingatan mereka.

Bahkan komitmen mereka : “ Mau ikut Tuhan Yesus ke mana saja Yesus berada “, hanya sebentar, seketika pudar ketika keamanan mereka terusik.

Apakah sepatutnya demikian sikap seorang murid Tuhan Yesus? Beranikah kita menghadapi segala kenyataan hidup dengan keyakinan iman yang teguh untuk berpegang pada firmanNya? Ataukah kita membiarkan diri kita berada “di pintu-pintu terkunci “ sehingga kita enggan untuk ke luar dari masalah yang kita hadapi ?

Anggapan yang keliru sering muncul di dalam pemahaman kita sebagai pengikut Yesus atau murid Tuhan Yesus. Kita sering beranggapan bahwa kalau kita menjadi muridNya hidup kita selalu dalam keadaan aman, selamat, tanpa masalah. Padahal Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan selalu dalam keadaan aman, tanpa masalah. Yang justru dijanjikanNya adalah Tuhan Yesus menyertai kita sampai selama- lamanya.

Mengapa para murid bersembunyi, ketika Tuhan Yesus menjalani via dolorosa? Para murid bersembunyi karena mereka takut. Mereka takut ditangkap dan disalibkan seperti halnya yang dialami Tuhan Yesus, Guru mereka. Saat Tuhan Yesus tidak mereka rasakan kehadiranNya secara fisik dekat dengan mereka, maka kegundahan hati menguasai mereka membuyarkan iman kepadaNya. Apakah ketika kita menghadapi masalah , Tuhan Yesus ada dekat dengan kita ? Apakah Dia peduli dengan keruwetan hidup yang kita alami ? Ataukah Dia hanya duduk di SinggasanaNya dan membiarkan kita bergulat sendiri ?

Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia segera menjumpai para murid yang tinggal di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci. KedatanganNya saat ini mau meyakinkan agar mereka percaya. Apapun yang sedang dihadapi, Ia selalu peduli. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita dengan masalah apapun yang tidak diselesaikanNya. Hanya saja saat kita mengalami masalah sering hati dan pikiran kita terlalu dipenuhi oleh masalah itu sendiri.

Reaksi spontan kita bila tidak merasa aman adalah menghindari masalah yang sedang dihadapi sebisa mungkin. Memang pada saat itu kita tidak merasakan bahwa Tuhan Yesus berada dekat dengan kita. Kita hanya merasakan bahwa kita sendirian tanpa Tuhan, itulah gambaran kenyataan hidup orang yang hidupnya dikuasai oleh masalah. Tuhan setiap saat selalu dekat dengan kita, namun masalah itu yang menggeserkan kedudukan Allah yang siap menolong . Betapa sedihNya hati Tuhan karena manusia tidak memberikan kesempatan bagiNya untuk melakukan sesuatu.

Akibat yang sering ditimbulkan apabila kita dikuasai oleh masalah adalah kita tidak merasakan hadiratNya. Kita kehilangan damai sejahtera, selalu menyalahkan Tuhan dan tidak lagi memuliakan Allah. Betapa sayangnya bila anugerah yang ingin diberikan kepada kita terhalang oleh kekerasan hati kita. Kita ngambek kepada Tuhan karena menganggap Tuhan tidak peduli dengan kehidupannya. Padahal kita sendiri yang tidak mau membiarkan Tuhan bekerja di dalam hidup kita. Hati dan pikiran kita bukan lagi dikuasai oleh Tuhan.

Namun bila kita mau agar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita, maka segala masalah yang kita hadapi akan tuntas, tas dan tas !! Maukah kita membiarkan Tuhan Yesus yang mengisi hidup kita? Biarkan kuasaNya merangkul kita sehingga kita percaya pencobaan, ataupun masalah yang kita hadapi. Datang dan percayakanlah Tuhan Yesus yang campur tangan. Sehingga kita tidak hidup dalam ketakutan, lalu bersembunyi mencari jalan pintas yang salah dan menyesatkan. Pelajaran dari para murid Tuhan Yesus seharusnya menjadi contoh perlunya kita berpegang pada Firman Tuhan, mengingat apa yang dikatakanNya, sehingga any way, jalan naik, jalan turun, jalan bergelombang, jalan berbatu, apapun perlintasan yang kita lalui bersama Tuhan Yesus kita enjoy saja deh.

Bila Malas Menggoda

0

Posted on : 29-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:” (Amsal 6:6)

Allah sering menggunakan hal-hal yang sederhana di alam ini untuk mengajar kita. Kadang kedengaran lucu seperti dalam bacaan kita. Untuk menjadi bijak kita perlu memperhatikan perilaku semut. Mengumpulkan makanan pada musim panas, sehingga pada waktu tidak panen, dia ada persediaan makanan.

Yesus berkata :”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus kita, selama masih siang. Sebab jika malam sudah datang, maka tidak ada seorang pun dapat bekerja lagi (Yohanes 4:34; 9:4)

Keselamatan adalah pemberian Allah dengan cuma-cuma yang harus kita pelihara. Paulus menasihati jemaat di Filipi (Fil.2:12-16), agar mereka mengerjakan keselamatan terus menerus, dengan tekun, tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan. Dia juga menasihati agar kehidupan anak-anak Allah itu tidak beraib dan bernoda di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan sesat ini. Agar menjadi terang bagi dunia ini dengan hidup sesuai dengan firman Tuhan.

Di samping memelihara keselamatan, jemaat Tuhan juga terpanggil untuk mengambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan sesuai dengan karunia masing-masing.

Dalam Matius 25:14-30, karunia itu diumpamakan sebagai talenta (mata uang), yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan tuannya. Yang menerima lima talenta segera bekerja, menjalankan uang itu dan beroleh laba talenta. Demikian juga si penerima dua talenta, bekerja, menghasilkan laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu karena malas, lalu menggali lobang menyembunyikan talentanya. Akibatnya, setelah tuan mereka membuat perhitungan, talenta dan upah yang seharusnya diterima si pemalas, dialihkan kepada hamba yang telah bekerja dengan baik, bahkan si pemalas mendapat ganjaran hukuman.

Sebab itu marilah kita singkirkan segala bentuk godaan kemalasan dalam mengiring Tuhan dan berdiri teguh dalam kebenaran-Nya. Teruslah giat dalam tugas-tugas yang dipercayakan kepada kita masing-masing dalam pekerjaan Tuhan karena segala jerih payah kita tidak akan sia-sia. Kelak kita akan menghadap Tuhan dan mendapat penghargaan serta masuk dalam kesukaan-Nya yang sempurna.

Jangan Remehkan Teguran

0

Posted on : 28-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” (Wahyu 3:19)

Terkadang tidak mudah menerima nasihat dari seseorang, apalagi jika hal itu merupakan teguran. Ada banyak faktor yang membuat seseorang menolak untuk dinasihati, apalagi ditegur: kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang besar, kekayaan yang banyak, merasa paling besar, merasa paling baik, dll.

Itulah yang terjadi dengan jemaat di Laodikia. Laodikia adalah kota yang makmur di Asia Kecil yang terletak pada jalur perdagangan yang ramai di Asia pada waktu itu. Mereka merasa kaya, serba kecukupan dan tidak kekurangan apa-apa. Secara lahiriah memang demikian, tapi dari segi rohani ternyata mereka miskin. Tuhan mengatakan bahwa mereka itu melarat, miskin, buta dan telanjang. Keadaan suam-suam kuku memungkinkan mereka tidak akan menikmati kekayaan rohani, kecuali mereka merendahkan diri dan bertobat.

Ada tiga hal yang merupakan teguran Tuhan:

1. Agar membeli emas dari Tuhan, yaitu emas yang telah dimurnikan, suatu kekayaan rohani, pengertian akan berkat-berkat Allah di dalam Kristus (baca Kolose 2:1-3). Iman yang bertumbuh melalui berbagai pencobaan maka nilainya akan melebihi emas (1 Petrus 1:6-7).

2. Agar mengenakan pakaian putih, yaitu pakaian dari Kristus yang membenarkan oleh iman dan menguduskan jemaat. Pakaian kebenaran (karakter manusia baru) menjadi bagian yang penting yang tidak terpisahkan dari kehidupan yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambaran sang Pencipta (Kolose 3:10).

3. Minyak untuk melumas mata. Karya Roh Kudus merupakan minyak pelumas rohani, agar mata hati dapat melihat kebenaran rohani. Kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus akan memberi kemenangan atas kuasa dosa dan membawa pemulihan.

Jalan Sempit atau Lebar

0

Posted on : 27-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”” (Matius 7:13-14)

Untuk apa berdesak-desakan melalui jalan yang sempit kalau ada jalan yang lebar dan mulus? Tentu orang akan memilih jalan yang lebar agar merasa nyaman sampai pada tujuan. Tapi, tidak demikian halnya dengan perjalanan rohani menuju kota sorgawi yang kekal itu. Kita harus melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit. Ajaran Yesus ini adalah bagian dari kesimpulan khotbahNya di bukit.

Perjalanan rohani yang tentu tidak mulus, diperlukan pengorbanan diri dalam setiap langkah. Kebanyakan orang enggan menghadapinya. Banyak orang lebih senang mengikuti jalan yang lebar, gampang, menuruti keinginan sendiri, dan berakhir pada gerbang kebinasaan. Bagaimana dengan jemaat Tuhan? Kita harus siap menghadapinya, berjalan melintasi jalan sempit yang tentu saja banyak konsekuensinya. “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu ! sebab Aku berkata kepadamu: banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:24).

Berjuang, berarti sesudah kita menerima keselamatan, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengatasi segala rintangan, menyangkal diri, mau membayar harga berapapun besarnya. Jangan sampai kelak ada penyesalan karena ternyata pintu tertutup dan Tuhan berkata: “Aku tidak tahu darimana kamu datang” (Lukas 13:25).

Ketika Keluarga Berada di “Padang Gurun”

0

Posted on : 26-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.”(Keluaran 15:26)

Padang gurun merupakan satu tempat yang banyak orang pasti ingin menghindarinya. Mengapa? Karena tidak ada sesuatu yang menarik di sana. Bila siang, matahari begitu terik menyengat. Sedangkan malam hari, udara yang dingin begitu menggigit. Tidak ada banyak oase yang menyegarkan dan menyejukkan. Begitu kering.

Adakalanya kehidupan kita harus masuk ke dalam “padang gurun.” Air yang direguk bukannya kesegaran, malah membuat lidah menjadi pahit. Oase yang disinggahi tidak memberi kesegaran tapi membuat wajah menjadi muram. Padang gurun itu bisa dalam waktu sesaat, namun ada juga yang harus berjalan dalam rentang waktu yang sangat lama. Padang gurun itu sendiri bisa dalam bentuk apa pun – dalam diri siapa pun.

Responnya? Tidak banyak orang yang melihat padang gurun kehidupan sebagai pelajaran hidup. Kebanyakan orang melihat padang gurun sebagai sesuatu yang negatif. Kecenderungan yang kedua ini tampak di dalam perjalanan Israel menuju tanah terjanji dan yang juga muncul dalam kehidupan keluarga Kristen. Padang gurun itu ditanggapi dengan bersungut-sungut, amarah yang meluap dan menilai Musa sebagai pemimpin yang tidak becus. Bahkan mereka menuduh Musa akan menghabisi mereka di padang gurun yang bernama Mara itu. Dengan kata lain mereka sebenarnya menuduh bahwa Tuhan itu jahat, sebab Musa bertindak atas perintah Tuhan. Bukankah kadang-kadang kita juga berbuat demikian? Kita menuduh Allah berbuat jahat karena membiarkan kita menderita?

Sejatinya, melalui padang gurun kehidupan itu Dia tengah membentuk kita. Jadi, jangan pernah menghindar atau lari dari padang gurun kehidupan sebab Tuhan sedang merenda kehidupan. Hasilnya adalah kehidupan yang indah.

Isteri yang Cakap

0

Posted on : 25-10-2008 | By : GKI | In : Renungan
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” (Amsal 31:30)

Kebanyakan kaum wanita menempuh segala cara supaya selalu tampil cantik, ‘fresh‘, dan kelihatan awet muda. Mulai dari cara yang paling sederhana dan tradisional (senam/atau jalan pagi dan minum jamu), sampai dengan cara yang tidak sederhana dan mengeluarkan biaya yang menguras isi dompet (operasi plastik, sedot lemak, dll). Kalau ditanya “Untuk apa sih semua itu dilakukan?” Jawabannya, selain kalimat pada baris pertama renungan ini ya, agar disayang suami. Agar suami tidak melangkah ke rumput tetangga yang katanya juga”lebih hijau”.

Berdandan untuk jasmani memang tidak ada salahnya, tapi jangan hanya “luar”nya saja yang didandani. Kehidupan rohani, yang tidak tampak dari luar juga perlu didandani. Amsal 31:10-28 menyediakan satu set “kosmetik” untuk mendandani batin supaya menjadi cantik.

Pertama, istri yang cantik adalah orang dapat dipercaya? (ayat.11). Bagaimana orang lain mengenal Anda, apakah mereka mengenal kita sebagai orang yang dapat dipercaya atau orang yang gampang menebar gosip bahkan fitnah.

Kedua, istri yang cantik adalah orang yang mau ikut memikul dan bertanggungjawab terhadap kelangsungan hidup pernikahan dan keluarga kita (ayat.12-23) Bagaimana Anda mengelola keluangan keluarga? Berhemat atau pemboros?

Ketiga, istri yang cantik adalah orang yang hatinya penuh dengan belas kasihan, tegar, percaya pada pemeliharaan Tuhan, pandai mengucap syukur dengan apa yang ada pada diri dan keluarganya, serta takut akan Tuhan? (ayat.24-28) Sudahkah ini tampak dalam kehidupan Anda? Atau Anda masih dikenal sebagai istri yang hatinya penuh dengan kebencian, iri dan dengki terhadap sesama?

Wow…! Banyak nian syarat menjadi istri yang cakap! Mungkin banyak di antara kita yang belum memenuhi kriteria tersebut. Tapi tidak usah cemas, selagi masih ada waktu, kita masih bisa punya kesempatan untuk memperbaikinya. Bagi yang merasa sudah bisa memenuhi kriteria tersebut, jangan jumawa, tetap waspada, karena hanya TUHAN yang memampukannya.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!