Keluarga yang Saleh
Renungan Bulan Keluarga GKI Klaten
“Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.” (Ayub 1:5)
Hidup saleh berarti ada ketaatan dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah agamanya. Dalam kamus bahasa Indonesia menurut Purwodarminto, kata “saleh” berarti “hidup suci.” Hidup suci seringkali hanya dikaitkan dengan kegiatan yang menyangkut gerejawi. Misalnya, giat atau rajin datang kebaktian, mengikuti kegiatan gereja, dll. Itu memang benar dan harus. Namun kesalehan juga harus dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Saleh bisa diartikan hidup suci sehingga pikiran, perkataan maupun perbuatan yang selalu memandang Tuhan.
Roma 12:2 mengingatkan kita untuk mempraktikkan hidup suci dengan sukarela, tanpa paksaan, tanpa beban dan dengan senang hati. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ayub:
1. Ayub tekun beribadah
2. Ayub rela dan mau berbuat baik demi orang lain walaupun orang itu tidak tahu. Misalnya dengan mendoakan orang tersebut dalam doa syafaat.
3. Ayub itu takut akan Tuhan. Dengan kata lain segala pikiran dan tindakannya selalu dihubungkan dengan Tuhan. Dia menyadari bahwa semua miliknya adalah milik Tuhan (Ayub 1:21-22). Dalam setiap hal, Ayub selalu berpikir: “Apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan kehendak Tuhan?” Dalam istilah keren, Ayub sedang berimajinasi “What Would Jesus Do?” (WWJD).
4. Ayub mengenal Tuhan secara pribadi (Ayub 42:5)
Dengan belajar melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ayub, maka kita telah mendorong keluarga kita menjadi keluarga yang saleh.
You must be logged in to post a comment.