Mengasihi Anak yang Hilang
“Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,” (Lukas 15:18)
Cerita anak yang hilang
sangat populer karena dia mengungkap dan melucuti sisi manusiawi yang sangat umum yaitu bahwa manusia itu (siapapun dia) bisa jatuh dan gampang jatuh ke dalam dosa. Manusia sebagai makhluk tertinggi, paling cerdas, dan berbudi di muka bumi ini dapat dan mungkin mengambil keputusan-keputusan yang bodoh dan melakukan tindakan yang dapat mencelakakan diri sendiri. Secara umum juga, manusia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk bangun dari kejatuhannya, mampu menyadari kecelakaannnya dan tidak terhanyut dalam bencana yang diakibatkan oleh kebodohannya sendiri. Inilah sebenarnya yang ditampilkan melalui tokoh anak yang hilang itu.
Ia memang melakukan tindakan yang amat bodoh, telah terseret ke dalam kejatuhan, kecelakaan dan kehinaan akibat kesalahan dan kebodohannya sendiri. Namun jangan dikutuki dulu, sebab si anak hilang itu boleh jadi adalah Anda dan saya sendiri yang kerap kali merasa pintar dan merasa benar. Namun tanpa sadar telah melakukan tindakan-tindakan bodoh lalu mendapat celaka berkepanjangan.
Yang penting adalah seperti anak yang hilang itu, ia menyadari kebodohannnya, kecelakaannya dan berupaya bangkit dari kejatuhan, memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pengambilan keputusan ini dan berani menjalankannya itu sangat sulit. Banyak orang yang walaupun menyadari kebodohannya, malu untuk mengakui kebodohannya itu dan mereka tidak seperti si anak hilang yang mampu dan mau berkata, “Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku dan berkata “Bapa aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap Bapa. Aku tidak layak lagi disebut anak Bapa, jadikanlah aku salah seorang upahan Bapa.”" (ayat 15,18,19,21). Meskipun keputusan dan tindakan untuk kembali itu patut diacungi jempol, tapi keputusan tetap ada tangan sang bapa yang mau menerimanya kembali. Alangkah sia-sianya keputusan yang sulit itu sekiranya setelah pulang yang ia terima adalah penolakan dari bapanya.
Puji Tuhan, cerita si anak hilang berakhir begitu indah karena “ketika ia masih jauh ayahnya telah melihat…ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan menciumnya.”
Adakah orang-orang Kristen, pengusaha-pengusaha Kristen yang bersedia berperan sebagai “Bapa” bagi mereka (si anak yang hilang), yang mau “berlari-lari mendapatkan mereka lalu merangkul dan mencium mereka?” Tidak usah bilang sampai tahapan merangkul dan mencium. Taruh kata, pada tahap awal memberi kesempatan bagi mereka (anak yang hilang) untuk memperoleh latihan kerja dan memberi kesempatan kedua. Apakah kita bersedia melakukannya?
Kenyataannya banyak yang tidak bertindak sebagai Bapa, tapi justru bersikap dan berkomentar seperti si sulung, orang-orang yang cemburu, berpikir negatif dan tidak mengerti mengapa perlu ada usaha seperti ini. Mereka berkata, “Orang baik-baik saja yang membutuhkan pekerjaan masih banyak mengapa cari masalah dan menempuh risiko mengurusi orang-orang seperti itu?”
Bagi kita risiko selalu merupakan bagian dari keputusan. Bila kita yakin bahwa apa yang kita lakukan itu benar dan bermanfaat, maka kita juga mesti ikhlas dan siap menanggung risikonya. Di dalam Alkitab dikatakan bahwa seluruh malaikat di surga akan bersorak sorai bila ada satu orang saja yang bertobat. Bisa saja kita kecewa dan gagal dengan sepuluh orang yang diberi kesempatan atau yang dibina, tetapi keberhasilan atas satu orang akan menjanjikan kesukacitaan dan kepuasan batin yang tak ternilai. Apakah kita berani mencobanya? Siapa yang mau menerima kembali tekad suci si anak yang hilang? Alangkah sayangnya, alangkah dosanya dan di mana kasih Tuhan yang sudah diwariskan kepada kita jika karena sikap kita membuat mereka yang ingin pulang akhirnya kembali hilang. Marilah kita mengasihi anak yang hilang.
You must be logged in to post a comment.
hmm, hanya menambahkan, agak kurang gambar. terima kasih