"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

Murid-murid Bersembunyi

“Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”” (Yohanes 20:19)

Ketika hari sudah malam, pada hari pertama Minggu itu, berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah- tengah mereka dan berkata : “ Damai sejahtera bagi kamu “

Kisah ini bagian dari kejadian atau peristiwa yang sedang dialami para murid ketika Tuhan Yesus disalib. Para murid ketakutan dikejar dan ditangkap para prajurit Romawi dan juga pemimpin agama Yahudi. Mereka dihinggapi perasaan was-was karena takut ditangkap. Oleh karena itu sebisa mungkin mereka menghindarinya dengan cara bersembunyi jauh-jauh.

Sebelum penangkapan terhadap Tuhan Yesus, mereka ikut mendampingi dan menemaniNya ke mana saja Dia pergi. Bahkan ketika Tuhan Yesus di taman Getzemane untuk berdoa, mereka bersama-sama dengan Yesus. Namun amat menyedihkan karena mereka mau mengikut Tuhan Yesus hanya ketika mereka berada dalam keadaan aman tenteram. Namun bila keamanan mereka terusik, maka iman mereka mudah pula berubah. Iman mereka bersifat kondisional.

Mereka meninggalkan Tuhan Yesus setelah peristiwa penangkapanNya. Suatu hal yang sangat ironis. Ketika Tuhan Yesus memerlukan dukungan dari teman-teman terdekat ternyata mereka mencari aman sendiri dan membiarkan Tuhan Yesus sendiri. Baru saja Tuhan Yesus telah memberitahukan segala yang akan terjadi dengan diriNya namun begitu cepatnya kata-kataNya lenyap dari ingatan mereka.

Bahkan komitmen mereka : “ Mau ikut Tuhan Yesus ke mana saja Yesus berada “, hanya sebentar, seketika pudar ketika keamanan mereka terusik.

Apakah sepatutnya demikian sikap seorang murid Tuhan Yesus? Beranikah kita menghadapi segala kenyataan hidup dengan keyakinan iman yang teguh untuk berpegang pada firmanNya? Ataukah kita membiarkan diri kita berada “di pintu-pintu terkunci “ sehingga kita enggan untuk ke luar dari masalah yang kita hadapi ?

Anggapan yang keliru sering muncul di dalam pemahaman kita sebagai pengikut Yesus atau murid Tuhan Yesus. Kita sering beranggapan bahwa kalau kita menjadi muridNya hidup kita selalu dalam keadaan aman, selamat, tanpa masalah. Padahal Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan selalu dalam keadaan aman, tanpa masalah. Yang justru dijanjikanNya adalah Tuhan Yesus menyertai kita sampai selama- lamanya.

Mengapa para murid bersembunyi, ketika Tuhan Yesus menjalani via dolorosa? Para murid bersembunyi karena mereka takut. Mereka takut ditangkap dan disalibkan seperti halnya yang dialami Tuhan Yesus, Guru mereka. Saat Tuhan Yesus tidak mereka rasakan kehadiranNya secara fisik dekat dengan mereka, maka kegundahan hati menguasai mereka membuyarkan iman kepadaNya. Apakah ketika kita menghadapi masalah , Tuhan Yesus ada dekat dengan kita ? Apakah Dia peduli dengan keruwetan hidup yang kita alami ? Ataukah Dia hanya duduk di SinggasanaNya dan membiarkan kita bergulat sendiri ?

Setelah Tuhan Yesus bangkit, Ia segera menjumpai para murid yang tinggal di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci. KedatanganNya saat ini mau meyakinkan agar mereka percaya. Apapun yang sedang dihadapi, Ia selalu peduli. Tuhan Yesus tidak pernah membiarkan kita dengan masalah apapun yang tidak diselesaikanNya. Hanya saja saat kita mengalami masalah sering hati dan pikiran kita terlalu dipenuhi oleh masalah itu sendiri.

Reaksi spontan kita bila tidak merasa aman adalah menghindari masalah yang sedang dihadapi sebisa mungkin. Memang pada saat itu kita tidak merasakan bahwa Tuhan Yesus berada dekat dengan kita. Kita hanya merasakan bahwa kita sendirian tanpa Tuhan, itulah gambaran kenyataan hidup orang yang hidupnya dikuasai oleh masalah. Tuhan setiap saat selalu dekat dengan kita, namun masalah itu yang menggeserkan kedudukan Allah yang siap menolong . Betapa sedihNya hati Tuhan karena manusia tidak memberikan kesempatan bagiNya untuk melakukan sesuatu.

Akibat yang sering ditimbulkan apabila kita dikuasai oleh masalah adalah kita tidak merasakan hadiratNya. Kita kehilangan damai sejahtera, selalu menyalahkan Tuhan dan tidak lagi memuliakan Allah. Betapa sayangnya bila anugerah yang ingin diberikan kepada kita terhalang oleh kekerasan hati kita. Kita ngambek kepada Tuhan karena menganggap Tuhan tidak peduli dengan kehidupannya. Padahal kita sendiri yang tidak mau membiarkan Tuhan bekerja di dalam hidup kita. Hati dan pikiran kita bukan lagi dikuasai oleh Tuhan.

Namun bila kita mau agar Tuhan yang berkarya dalam hidup kita, maka segala masalah yang kita hadapi akan tuntas, tas dan tas !! Maukah kita membiarkan Tuhan Yesus yang mengisi hidup kita? Biarkan kuasaNya merangkul kita sehingga kita percaya pencobaan, ataupun masalah yang kita hadapi. Datang dan percayakanlah Tuhan Yesus yang campur tangan. Sehingga kita tidak hidup dalam ketakutan, lalu bersembunyi mencari jalan pintas yang salah dan menyesatkan. Pelajaran dari para murid Tuhan Yesus seharusnya menjadi contoh perlunya kita berpegang pada Firman Tuhan, mengingat apa yang dikatakanNya, sehingga any way, jalan naik, jalan turun, jalan bergelombang, jalan berbatu, apapun perlintasan yang kita lalui bersama Tuhan Yesus kita enjoy saja deh.


Tagged as: ,

You must be logged in to post a comment.