Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Archive for November, 2008

Berjaga-jaga

Bacaan: I Korintus 1: 3-9

MULAI hari ini kita memulai masa Adven. Kata adven berarti “kedatangan Tuhan”, baik kedatangan Tuhan yang pertama, yaitu yang kita rayakan pada hari Natal nanti, maupun kedatangan Tuhan yang kedua, yakni pada akhir zaman. Kata kunci untuk menantikan kedatangan Tuhan ialah berjaga-jaga! Itulah sabda Tuhan pada Injil hari ini.
Berjaga-jaga tidak perlu membayangkan seperti sikap pengikut sekte tertentu. Yang mereka lakukan adalah menjual semua harta kekayaan mereka dan kemudian berkumpul di suatu tempat sambil memuji Tuhan dan berdoa menunggu waktu yang sudah diramalkan oleh “orang pintar” tentang kedatangan Kristus.
Berjaga-jaga itu tidak perlu kita lakukan dengan cara tegang dan melotot menantikan Tuhan yang akan datang. Berjaga-jaga itu kita lakukan dengan melanjutkan tugas hidup kita sehari-hari dengan sebaik-baiknya.
Rasul Paulus memberi petunjuk yang jelas :”Kamu tidak kekurangan dalam suatu karunia pun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus”. Artinya, kita telah mempunyai semua sarana, alat, kesempatan yang kita perlukan agar kita menjadi siap menyongsong Tuhan yang akan datang. Kita memiliki kitab suci yang berisi sabda Tuhan, perjamuan kudus, baptis atau sidi, ibadah, persekutuan kelompok, kebaktian kategorial, saat teduh, dan berbagai bacaan rohani. Tinggal bersedia berjaga-jaga dan menunggu dengan setia.

KITA TIDAK KEKURANGAN DALAM SUATU KARUNIA PUN SEMENTARA KITA MENANTIKAN PENYATAAN TUHAN YESUS KRISTUS

MESIAS DAN DUNIA BARU

Pdt.Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 7 Desember 2008

Tahun B: Adven II

Bacaan: Yesaya 40:1-11 Mazmur 85:1-2,8-13 II Petrus 3:8-15 Markus 1:1-8

Ada cerita tentang seorang pendeta yang tertidur dan bermimpi di ruang kerjanya. Pendeta itu bermimpi tentang bagaimana kehidupan ini tanpa kehadiran Tuhan Yesus. Tidak ada kartu natal, tidak ada lonceng gereja yang mengiringi lagu –lagu natal. Dalam mimpinya pendeta itu memasuki ruang kerjanya dan di rak bukunya tidak menemukan satu cuil pun tulisan tentang kelahiran dan kehidupan Kristus. Masih dalam mimpinya, tiba-tiba pintu diketuk lalu tampil seorang anak laki-laki, mohon pak pendeta datang ke rumah untuk mendoakan ibunya yang sedang sakit. Di samping pembaringan ibu yang sakit itu, ketika pak pendeta mau membacakan ayat-ayat dari Injil, dia terkejut sebab Alkitabnya berakhir dengan Kitab Maleakhi! Dia kebingungan, dan berduka karena merasa kehilangan miliknya yang sangat berharga. Akhirnya pendeta itu terjaga dengan air mata yang bercucuran. Saudara, judul cerita di atas adalah “Andai Tuhan Yesus Tidak Datang” Bagi Sang pendeta itu sungguh sangat besar bedanya hidup dalam Dunia Lama tanpa Yesus Kristus, dengan hidup dalam Dunia Baru yang serba indah karena Mesias telah mewarnainya.Saya mengangkat cerita tadi dari Buku Mutiara-mutiara kasih. Kita patut bersyukur sebab Tuhan tidak pernah ingkar janji, tapi telaten dan konsisten mempersiapkan kehadiran Mesias yang telah dijanjikan bagi dunia. Mungkin kita bertanya dalam hati mengapa waktu itu Tuhan tidak segera menolong umatNya ketika berada di tanah pembuangan Babil, juga mengapa melakukan penundaan secara besar-besaran dalam menghadirkan Mesias di dunia ini? Begitu pula , kapan Kristus akan datang kembali nanti? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya sudah terjawab tadi, waktu kita membaca II Petrus 3:8 yang berbunyi demikian:”Akan tetapi , saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun, dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Ketahuilah bahwa segala rencanaNya ada di dalam kekekalan, sehingga kita yang dilibatkan di dalam rencanaNya yang besar itu perlu membiasakan diri dengan “Waktu Surgawi” dari Tuhan. Jika dilanjutkan ke ayat 9, maka kita membaca sebagai berikut:”Tuhan tidak lalai menepati janjiNya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian ….” Dari sini kita diingatkan bahwa sering terjadi waktu- kita berbeda dengan waktu- Tuhan, harapan kita berbeda dengan keinginanNya. Dalam Yesaya 55:8 kita dapat membaca sebagai berikut: “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman Tuhan.”

Saudara mari kita melihat betapa Tuhan menentukan berakhirnya masa pembuangan dan penghambaan umat Tuhan di Babil. “Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni sebab ia telah menerima hukuman dari tangan Tuhan, dua kali lipat karena segala dosanya” (Yesaya 40:2). Wah, Saudara, berita itu pastilah sangat melegakan hati, Ada pengampunan, ada pemutihan dan penghapusan hukuman yang datang dari pihak yang berwenang yaitu dari Tuhan. Maka sungguh sangat tepat apa yang tertulis dalam Yesaya 40:1 “ Hiburkanlah, hiburkanlah umatKu, demikian firman Allahmu.” Begitulah Saudara jika Tuhan mau menghibur umatNya, dengan cara menganugerahkan apa yang paling dibutuhkan. Di sini Tuhan tidak memberi harta benda, kemewahan atau pangkat tinggi, juga bukan segala kemuliaan duniawi.Tetapi Tuhan memberikan pengampunan, berarti pemulihan hubungan antara umat dan Allah, anak dan Bapa, makhluk dan Khalik. Saudara, kita perlu belajar menghargai pemberian Tuhan yang sejenis itu dalam hidup kita, misalnya: Hati penuh sukacita, hidup rukun, semangat kerja, iman , pengharapan, dan seterusnya.Sering dalam praktek hidup, yang kita sebut sebagai berkat Tuhan, hanya terbatas pada hal-hal yang lahiriah semata. Acapkali kita juga jumpai orang-orang yang cuma bisa menghargai uang atau materi, padahal ada banyak hal lain yang lebih penting tapi tidak dihargai. Di hadapan Tuhan kita jangan seperti itu.Mari kita coba menghitung berapa banyak “permata rohaniah” dan “harta surgawi” yang sebenarnya dapat memperkaya diri kita, namun selama ini tidak kita sadari, tidak kita akui dan syukuri.

Lebih jauh dalam Mazmur 85 kita melihat masa atau saat dan cara Tuhan memulihkan keadaan umat Nya, mengampuni kesalahan dan menutupi segala dosa. Selanjutnya Tuhan menghadirkan keselamatan yang mendatangkan kemuliaan, sebab kasih dan kesetiaan bertemu, keadilan dan damai sejahtera bercium-ciuman! Saudara, pada dasarnya Tuhan menggemari yang seperti itu atas hidup umatNya, bahkan atas seluruh umat manusia dan seluruh ciptaan! Tak terasa oleh firman dan Roh Kudus, sesungguhnya dari waktu ke waktu kita sedang digiring memasuki Dunia Baru karya Mesias.

Saudara, di dalam Injil Markus yang kita baca tadi kembali kita melihat masa dan cara yang dilakukan Tuhan. Memang tidak tertulis di situ, tetapi menurut penyelidikan ada rentang waktu empat abad di antara akhir Perjanjian Lama dan awal Perjanjian Baru. Dalam rentang waktu itu Tuhan tidak mengutus nabi-nabiNya, sehingga dapat dikatakan bahwa Tuhan tidak menyapa umatNya dan membiarkan umatNya berada dalam masa sunyi. Jikalau tiba-tiba muncul seorang Yohanes Pembaptis di tengah-tengah umatNya, maka itu berarti Tuhan sudah memecahkan kesunyian yang sangat mengerikan. Di sini kita diingatkan bahwa patut bersyukur sebab ternyata Tuhan mau berinisiatif, Tuhan mau membuka diri, membuka jalur persekutuan dengan kita. Coba bayangkan andai di dalam seluruh sejarah dunia dan sejarah manusia, untuk selamanya Tuhan hanya “bersembunyi” terus di dalam kekudusanNya, hanya bersedia menjadi Allah yang transcendent saja, maka kita akan menjadi kerdil dan hanya seperti hewan di hadapanNya. Hidup kita akan terasa dingin dan beku sebab tak ada kehangatan illahi yang menyapa, menyentuh, memegang, memapah, merangkul serta menggendong kita.

Dalam Markus 1:1 tadi kita membaca:”Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Ditegaskan di sini bahwa awal berita sukacita yang terbesar berasal dari surga dan mengenai Yesus Kristus Anak Allah. Saudara, Mesias yang sejak awal sejarah manusia sudah dijanjikan, kini mulai diungkap dan segera dihadirkan karena masanya sudah tiba! Yesus Kristus, Anak Allah adalah Mesias yang segera hadir untuk membangun Dunia Baru bagi kita.Jika disebut Anak Allah, berarti Dia itu Allah. Tapi kemudian Dia juga akan memperkenalkan diri sebagai Anak Manusia , sebab dilahirkan oleh seorang manusia. Tokoh yang satu ini sungguh luar biasa hebat dan dahsyatnya: Dia itu Allah yang sejati , sebab Allah Putera dan Manusia yang sejati, sebab tidak punya dosa. Peranan, karya serta kehadiranNya sudah ada dalam rencana Allah. Di dalam TanganNya ada Dunia Baru, yaitu kenyataan hidup dimana manusia tidak lagi dikuasai iblis, dosa dan maut. Kasih dan pengorbanan akan menjadi andalanNya yang ampuh. Oleh karena itu pada gilirannya Ia menghendaki setiap pengikutNya menjadi pelaku kasih dan rela berkorban seperti Dia. Dari situlah akan muncul sukacita dan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mesias,Yesus Kristus itu bersedia datang sedekat-dekatnya dalam hidup kita asal kita mau membuka diri bagi kedatanganNya. Dia mau memegang tangan kita, asal kita bersedia mengulurkan tangan bagiNya (Matius 14:31).Dia mau masuk ke dalam rumah kita, dan bersedia makan bersama kita, asal kita mau membukakan pintu yang diketukNya (Wahyu 3:20). Dia mau mengajar, asal kita siap mendengar firmanNya (Matius 5:2). Dia mau menyelamatkan asal kita mau bertobat! (Lukas 5:32).

Tetapi mengapa Yohanes Pembaptis harus muncul lebih dahulu? Mengapa harus ada pembuka jalan segala? Mengapa harus ada suara yang berseru-seru di padang gurun? Dan mengapa Yohanes itu berpenampilan begitu sederhana? Jawabnya: Inilah cara yang ditempuh oleh Tuhan untuk memperkenalkan siapakah Yesus itu (Markus 1:7; Yohanes

1:29), dan mempersiapkan jalan bagi Yesus, agar terjadi perjumpaan diantara Yesus dengan orang-orang berdosa yang merindukan hidup baru dan dunia baru.Itu sebabnya Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan baptisan dengan air, tetapi Yesus Kristus akan membaptis dengan Roh Kudus. Yohanes Pembaptis menyiapkan untuk karya Kristus yang lebih mulia.Yohanes hanya sebagai “suara” dan mengaku bahwa membuka tali kasutNya saja ia merasa tidak layak. Jadi Yesus Kristus adalah yang utama!

Saudara, apa yang kita baca dalam 2 Petrus 3 tadi? Sekali lagi tentang kedatangan Tuhan Yesus, tapi tentu saja tentang kedatanganNya yang ke dua nanti.Kita tidak perlu bingung menduga-duga tanggal berapa kedatanganNya yang ke dua itu.Tidak bakalan kita ketahui, sebab Tuhan sendiri mengatakan seperti kedatangannya seorang pencuri. Jika masih terus ditunda juga, pasti karena rencana kasihNya, yaitu agar kita bertobat dan semakin tambah banyak orang yang bertobat melalui kita. Apakah Tuhan Yesus akan datang kembali di akhir zaman? Tidak perlu diragukan! Mari kita tengok apa yang telah terjadi, lalu kita berkeyakinan demikian: Jika kedatangan pertama saja dapat ditempuh oleh Tuhan Yesus, meskipun ditandai dengan kerendahan dan penderitaan, apalagi kedatangan ke dua yang ditandai dengan kemuliaanNya sebagai Pemenang dan Hakim Tertinggi. Pada saat itu nanti, dunia baruNya pasti akan disempurnakan!

Apa Indahnya Jadi Majelis?

“Apakah menjadi majelis itu sebuah pengalaman yang indah?” Pertanyaan ini dilontarkan oleh Samuel Gunawan dalam Persekutuan Majelis dan pasangannya di GKI Klaten, Selasa 25 Nopember. Kalau mau jujur, sebagian besar majelis mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan selama menjadi pejabat gerejawi ini. “Meskipun dalam lembaga kerohanian, tetapi ada juga intrik dan permainan politik di gereja,” papar pengusaha furniture yang berorientas ekspor ini. “Jika di dalam dunia kerja kita mengenal office politic, maka di gereja ada church politic. Sebagai contoh, ada anggota majelis yang marah-marah karena anaknya harus mengikuti seleksi dalam rekrutmen Guru Sekolah Minggu. Dia menganggap anak majelis tidak harus menjalani proses seleksi untuk menjadi Guru Sekolah Minggu.”

persekutuan_majelis

Selanjutnya mantan ketua majelis ini menceritakan pengalaman pribadinya. Ketika menjadi ketua majelis, dia malah sering mendapat cemooha daripada penghargaan. Dia mencontohkan, begitu terpilih menjadi ketua majelis, dia langsung melakukan banyak perubahan. “Saya membentuk badan pemeriksa keuangan. Setiap laporan keuangan dari badan pelayanan harus diaudit,” papar Samuel Gunawan. Ketika dia menemui selisih di dalam laporan keuangan, maka dia mewajibkan pengurus untuk mengganti kekurangan uang itu dari kantong pribadinya.

samuel_gunawan

Kebijaksanaan ini mendapat tentangan dari anggota majelis lain. Mereka menganggap Samuel telah mengelola gereja seperti mengelola perusahaan. Tentu saja Samuel menolak tuduhan ini.”Kita ini sedang mengelola uang Tuhan. Kalau terhadap perusahaan saja kita harus mengelola dengan sangat berhati-hati, apalagi kita sedang mengelola uang dari Tuhan. Kita harus mempertanggungjawabkan setiap sen. Bagaimana kita bisa memotivasi jemaat untuk memberikan persembahan jika kita tidak beres dalam pertanggungjawaban keuangan?”

Semua pengalaman ini akan menjadi kenangan pahit karena kita tidak memiliki perspektif yang benar dalam pelayanan. Untuk menghindari ini, setiap anggota majelis perlu memahami skenario besar Allah. Apa itu Skenario besar Allah? Samuel Gunawan lalu menyampaikan dalam beberapa pokok pikiran:

  • Manusia itu telah berdosa dan rusak total
  • Oleh sebab itu, manusia harus dihukum
  • Namun Allah memutuskan untuk menyelamatkan umat manusia dan dunia.
  • Allah menghimpun orang yang diselamatkan ke dalam gereja
  • Allah menugaskan dan memakai kita.

“Kita tidak boleh melupakan skenario besar ini sehingga kita tahu indahnya pelayanan karena Allah memakai kita,” tekan Samuel Gunawan,” Sebenarnya dengan memakai kita dalam pekerjaan-Nya, Allah itu malah direpotkan. Bagi Allah, akan lebih mudah merampungkan semua pekerjaan-Nya dengan memakai malaikat.”

“Tetapi mengapa Allah tetap memakai kita? Sebab Allah ingin mendewasakan dan melatih kita supaya semakin serupa dengan Kristus.Pelayanan dan kehidupan keseharian adalah satu-satunya cara yang dipakai Allah untuk memproses kita. Tidak ada cara lain,” kata Samuel Gunawan. Untuk mengakhiri penuturannya, dia mengutipkan sebuah pernyataan yang indah: “Allah MENERIMA kita APA ADANYA, namun Ia TIDAK akan pernah MEMBIARKAN kita TETAP APA ADANYA.”

[purnawan]

Pelayanan Yakkum

Pada remaja yang diasuh oleh Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum (Yakkum) Yogya mengadakan pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu di GKI Klaten.
Berikut kesaksian dua orang yang kehilangan anggota tubuhnya dalam musibah yang tragis. Bagaimana mereka menghadapi kenyataan itu? Simak saja videonya.

Kebaktian Penyegaran Iman

KPI yang diadakan tgl.30-31 Oktober 2008 oleh Majelis GKI Klaten kali ini benar-benar berbeda. “Berbeda” dalam arti KPI ini sangat kemasannya. Baik dari segi kotbah maupun pujiannya. Paket yang tepat!

Sigit Purbandoro

Tema yang diambil, yaitu “Dalam Kelemahanku, kasih-Nya Nyata Di Hidupku” dirasa sangat tepat untuk kondisi saat ini dimana tekanan hidup terasa makin berat. KPI ini dipimpin oleh Pdt. Sigit Purbandoro dari GKI Sulung Surabaya. Beliau menekankan bahwa kebaktian ini tidak langsung menjamin adanya kesembuhan total tapi hendaknya jemaat melihat terlebih dulu latar belakang terjadinya orang bisa jatuh sakit, terpuruk,dsb. Kemudian solusi untuk bangkit menurut beliau adalah dengan beriman (ini yang utama) kuat supaya bisa segera pulih.

Dengan gaya yang menarik, mimik yang lucu, suara yang khas, tata bahasa yang sederhana, jemaat sangat bersemangat dalam mendengarkan paparan Arek Suroboyo ini. Sehingga jemaat tidak merasakan waktu yang lama.

Suasana pujian dan penyembahan juga dirasakan sangat menyentuh. Jemaat bersemangat sekali di dalam bernyanyi. Tidak hanya dengan bersuara yang lantang tapi tetapi juga dinyanyikan sengan sepenuh hati. Bahkan ada yang berlinang air mata karena merasakan kebaikan Tuhan. Ada kuasa dalam pujian terbukti sudah!

Efek KPI ini sampai sekarang masih terasa. Bahkan banyak jemaat yang mengatakan masih belum puas karena masih rindu untuk memuji, menyembah Tuhan dengan atmosfir yang jarang dirasakan. Ternyata

masih banyak orang yang perlu dipulihkan bahkan bisa jadi keluarga, gereja, perusahaan, organisasi perlu sentuhan tangan Tuhan juga untuk dipulihkan! (RB)

Sigit Purbandoro

Pelayanan Pengobatan Gratis

Pelayanan Pengobatan Gratis GKI Klaten

Tempat: SMP Kristen Klaten

Tanggal: 18 Nopember 2008

Pelayanan Pengobatan

Bu Titik Makhrus memeriksa tensi

Pelayanan Pengobatan

Dokter Hendropriyono memeriksa pasien

Pelayanan Pengobatan

Ruang tunggu darurat

Pelayanan Pengobatan

BNS memimpin doa

Barbeku

Barbeku=Barang Bekas Berkualitas.

Tempat: SMP Kristen Klaten

Tanggal: 8 Nopember 2006
Barbeku
Ayo dipilih, dipilih,…dipilih…!!
Barbeku
Barbeku
Barbeku
Barbeku

Empat Kali Operasi dalam Sebulan

Kesaksian Janita Santosa

Setiap memasuki bulan Nopember, saya selalu diingatkan pada kejadian delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000. Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari Tuhan berupa pertolongan-Nya, kuasa-Nya dan kasih setia-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Saya tidak mungkin mampu melewati peristiwa tanpa penyertaan Tuhan.

Peristiwa itu dimulai dengan keluhan sakit perut yang saya alami. Pada tanggal 6 Nopember, saya merasakan sakit yang luar biasa pada perut saya. Saya pergi ke rumah sakit di Solo untuk memeriksakan diri. Setelah diperiksa dengan sinar rontgen, baru diketahui bahwa usus saya terjepit dan saling lengket. Tidak ada pilihan lain, saya harus segera menjalani operasi pada hari berikutnya.

Operasi selama sekitar tiga jam itu berlangsung lancar. Beberapa hari kemudian, kondisi saya mulai membaik. Saya sudah diizinkan makan bubur. Namun pada tanggal 12 Nopember, kondisi saya memburuk kembali. Perut saya terasa sakit lagi.

Dokter berkata, “Itu hanya angin saja. Perut ibu sedang kembung. Sebentar juga sembuh” Akan tetapi kondisi perut saya justru semakin membesar dan saya mengalami kesakitan yang luarbiasa di seluruh tubuh saya. Dokter sampai memberikan pengurang rasa sakit. Namanya petidine sejenis morfin. Tetapi itu hanya bersifat sementara saja.

Di tengah rasa sakit itu, puji Tuhan ada banyak dukungan dan dia dari keluarga dan saudara-saudara seiman yang menguatkan saya. Saya juga berdoa memohon kekuatan dari Tuhan, “Tuhan, aku masih ingin hidup. Tuhan, aku masih ingin hidup. … Aku ingin masih hidup untuk melayani Engkau.”

Karena kondisi tidak kunjung membaik, dokter memutuskan untuk mengoperasi saya lagi, pada 20 Nopember. Sebelum operasi, dokter memanggil suami saya. Dia memberitahuakan bahwa operasi kali ini berisiko tinggi karena kondisi tubuh saya jelek dan baru 13 hari yang lalu menjalani operasi. Saya berkata berkata kepada Tuhan, “Tuhan aku tidak akan mati melalui operasi ini. Kalau aku harus menjalani operasi ini, hamba minta pertolongan dari padaMu.”

Suatu hal terjadi di luar dugaan dokter. Ketika perut saya dibuka, ternyata usus halus saya telah bocor dan saling mengikat membentuk gumpalan seperti bola (‘bundet’-bhs. Jawa). Dokter tidak mau mengambil risiko untuk melepaskan ikatan itu karena dapat menyebabkan usus itu jebol. Dokter hanya membersihkan kotoran-kotoran yang ada di perut.

Selesai operasi saya dimasukkan ruang ICU dengan mengenakan mesin pernapasan (ventilator). Suatu pagi, sesudah perawat mengelap badan saya, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang keras: “Buu..umm!!!!”. Ternyata alat ventilator meledak dan langsung mati. Karena tidak disuplai oksigen, napas saya menjadi sesak, berat dan terengah. Saat itu saya hanya bisa berseru kepada Tuhan: “Tuhan tolong!” Perawat bergegas masuk untuk memasang alat bantu sementara pada saya. Setelah itu dia memanggil teknisi untuk memperbaiki alat itu. Keesokan harinya, alat itu meledak lagi tapi tidak sekeras sebelumnya.

Pengalaman yang mendebarkan ini menyadarkan saya bahwa kita sering tidak mensyukuri udara segar yang kita hirup. Kita menganggap itu sebagai hal yang biasa.Bukankah suatu berkat yang luar biasa kalau kita bisa bernapas dengan bebas tanpa ventilator?

Kesehatan saya tidak membaik, bahkan memburuk. Cairan dari dalam perut merembes keluar karena infeksi. Tubuh saya mengalami demam hebat. Saya merasakan sangat kedinginan. Tubuh saya menggigil dan gigi gemeretuk sangat keras. Ternyata sepertiga paru-paru kanan saya sudah terendam air. Melihat kondisi ini, dokter sudah angkat tangan. “Tinggal menunggu waktunya saja,” kata dokter.

Akan tetapi keluarga saya tidak mau menyerah. Kami punya keyakinan bahwa waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Bagi manusia mungkin mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meski begitu, manusia juga diwajibakan untuk berupaya. Itu sebabnya, keluarga memutuskan untuk membawa saya ke Singapura, pada 24 Nopember. Malamnya saya langsung menjalani operasi yang ketiga. Dokter mengatakan kemungkinan keberhasilan hanya 50 persen. Dalam operasi ini, dokter berhasil menguraikan usus halus saya yang telah menggumpal dan saling lengket seperti bola. Berkat pertolongan Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Namun empat hari kemudian, perut saya mulai bocor lagi. Tanggal 30 Nopember, saya menjalani pemeriksaan dengan rontgen. Hasil rontgen memperlihatkan ada kebocoran lagi di usus. Saya harus menjalani operasi yang keempat hari itu juga. Saya menjalani operasi ini dengan hati yang pasrah kepada Tuham. Saya percaya, Tuhan akan menyelamatkan saya kembali.

Dari operasi itu diketahui bahwa ada dua kebocoran di usus besar. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk mengistirahatkan usus besar saya dengan teknik colostomi selama 3-6 bulan. Sejak saya sakit, saya tidak diizinkan makan nasi. Saya harus berpuasa nasi. Ini sungguh tidak mudah karena kita sudah terbiasa makan nasi. Waktu sehat saja, meski perut sudah kenyang, tapi kalau belum makan nasi, kita masih mengatakan belum makan. Sesudah dua bulan tidak makan nasi, saya sangat rindu pada nasi. Karena begitu inginnya makan nasi, saya sampai menciumi bau nasi. Aroma nasi terasa enak sekali saat itu. Dalam keadaan seperti itu, saya diingatkan bahwa saya sering lupa mensyukuri makanan yang kita santap setiap hari.

Saya juga bersyukur bahwa selama masa sakit tersebut, saya selalu dalam keadaan sadar. Meskipun dalam kondisi yang sangat kritis, tapi saya masih memiliki kesadaran. Ini adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Ketika memasuki masa pemulihan, mula-mula saya belajar untuk berbaring dengan posisi miring. Kemudian duduk, lalu berjalan. Yang cukup mengherankan, meskipun saya cukup lama harus berbaring di tempat tidur, tapi saya tidak mengalami pusing atau gangguan kesehatan yang lain, selain di perut saya.

Tuhan itu sangat baik pada saya. Saya tidak harus menjalani proses colostomi sampai enam bulan. Tiga bulan kemudian, dokter menyatakan bahwa usus kecil saya siap disambung dengan usus besar. Pada tanggal 8 Maret 2001, saya menjalani operasipenyambungan. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik.

Bila saya renungkan semua peristiwa itu, saya menyadari bahwa secara manusia hal ini tidak mungkin saya lalui. Siapa yang kuat menjalani operasi besar sebanyak empat kali hanya dalam waktu satu bulan? Setiap mengingat itu, saya terharu dan menangis karena betapa baikNya Tuhan itu. Kuasa–Nya begitu dahsyat dan tidak terselami oleh pikiran manusia. Kasih-Nya melebihi a papun yang ada di bumi ini. Oleh bilur – bilur Nya, saya sembuh. Jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan. Terpujilah Tuhan karena perbuatanNya ajaib.

Teguhnya Kasih Allah

“Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:38-39)

Lagu ‘Pelangi Sehabis Hujan’ mengingatkan saya akan kisah perjanjian antara Allah dengan Nuh, yaitu bahwa Tuhan tidak akan memusnahkan manusia lagi dengan air bah. Tanda perjanjian itu adalah busur Tuhan yang ditaruh di atas awan.

Dalam kehidupan kadang-kadang kita mengalami situasi ‘banjir’, misal oleh karena sakit penyakit. Dalam penderitaan, kita menengadah ke langit, mencari ‘busur Tuhan’ yang melambangkan kasih setia-Nya, tetapi langit tertutup oleh kabut yang pekat dan awan yang tebal. Kita tidak dapat lagi melihat lambang kasih setia Tuhan itu seolah-olah kita tidak lagi mengalami kasih setia-Nya.

Sebetulnya kabut yang pekat dan awan yang tebal tadi adalah dosa-dosa kita, yaitu ketidakpercayaan kita, kekhawatiran dan ketakutan yang menguasai hidup kita, pelanggaran-pelanggaran kita dan akar kepahitan yang ada di dalam hidup kita.

Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Tuhan, mengakui dosa-dosa kita dihadapan-Nya. Dia adalah Allah yang setia dan akan mengampuni dosa-dosa kita (I Yohanes 1:9). Ketika itulah kabut yang pekat dan awan yang tebal akan tersibak dan lihatlah “Busur Tuhan” di awan. Ketika itulah kita akan merasakan jamahan tangan kasih Tuhan yang memulihkan.

Ingatlah nasihat Paulus kepada jemaat di Roma, seperti yang kita baca tadi bahwa segala sesuatu tidak akan dapat memisahkan kita dengan kasih Allah, dengan janji-Nya yang teguh dalam Kristus Yesus Tuhan kita, selama kita masih setia memegang keyakinan iman kita kepada-Nya. Ingatlah juga akan janji penyertaan Tuhan Yesus kepada kita, “Aku akan menyertai engkau sampai selama-lamanya” (Matius 20:20b).

Dalam kesulitan kita, dalam penderitaan kita, mari kita datang kepada Tuhan Yesus. Dia menunggu kita dengan tangan terulur “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Untuk menghayati kasih Allah yang teguh mari kita resapi dan pujikan lagu ciptaan Yonathan Prawira di bawah ini.

‘Pelangi Sehabis Hujan’

Jalan hidupku tak selalu,

tanpa kabut yang pekat

Namun kasihMu nyata padaku,

pada waktuMu yang tepat

Refrein: Seperti pelangi sehabis hujan

Itulah janji setiaMu Tuhan

Dibalik duka’ku, telah menanti

Harta yang tak ternilai dan abadi

Mungkin langitpun tak terlihat

Tertutup awan tebal

Namun hatiku ‘kan tetap kuat

Oleh janjiMu yang kekal

Kiranya Tuhan memberkati kita.

Apa Kerjamu di Sini?

Oleh: Dyah Widyastuti

Sabtu sore, 9 Nopember 2008, saya mempersiapkan diri untuk persiapan bercerita kepada anak-anak Sekolah Minggu, tanggal 16 Nopember. Saya memulainya dengan renungan pribadi dengan membaca 1 Raja-raja 19:9-18. Pada perikop ini diceritaka tentang Allah yang menyatakan diri kepada nabi Elia di gunung Horeb.

Dyah Widyastuti

Elia bukan nabi biasa. Allah menyertai Elia sepanjang hidupnya. Meski begitu, ketika dia mendengar ancaman pembunuhan dari Izebel, timbul perasaan takut dan gentar dalam diri Elia. Dia menjadi patah semangat dan merasa seolah-olah berjuang sendiri. Elia merasa Tuhan telah meninggalkannya sendirian.

Melihat hal ini, Tuhan mendatangi Elia dan bertanya, “APAKAH KERJAMU DI SINI, hai Elia?” Tuhan bertanya sebanyak 2 kali, seperti diceritakan dalam ayat 9 dan 13.

Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raja-raja 19:10).

Dialog antara Elia dan Tuhan ini membuat saya merenung. Saya merasa seolah-olah menjadi Elia yang berhadap-hadapan Tuhan. ” Apakah kerjamu di sini, hai hamba-Ku Dyah?” tanya Tuhan.

Saya ingin memberikan segudang jawaban. Saya ingin melaporkan bahwa saya sudah bekerja sebagai pendidik, sebagai konselor dan sebagai Koordinator selama sekitar 28 tahun. Saya juga sudah bekerja di dunia pendidikan sebagai anggota Komite Sekolah, sampai sekarang. Saya juga masih aktif melayani di gereja. Tapi apakah jawaban ini yang memang dikehendaki Tuhan?

Saya kira bukan itu. Pertanyaan itu bukan ditujukan pada hasil kerja saya selama 28 tahun, melainkan pada APA yang SEDANG saya kerjakan di SINI, hari ini! Saya merenungkan kembali, apakah saya sudah memberikan yang terbaik dan akan memberikan yang terbaik selama saya hidup kepada Tuhan.

Hari ini, 9 Nopember, tepat enam tahun saya memasuki masa pensiun. Saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan hamba-Nya ini untuk melayani-Nya dengan segala kemampuan, keterbatasan dan kesehatannya. Saya percaya tangan Tuhan memintal dan menenun hamba-Nya supaya memiliki iman yang sungguh-sungguh dan tangguh. “Apakah kerjamu di sini?” Pertanyaan ini diajukan Allah kepada Elia ketika dia merasa patah semangat. Apa yang telah saya lakukan dan akan saya lakukan untuk Tuhan, keluargaku, sesama, sekolah dan gereja yang saya cintai? Izinkan saja menjawab,”Saya ingin bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam.”

Karena Kasih Karunia Kita Selamat

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9 )

Surat Paulus kepada jemaat di Efesus ini mengingatkan kita bahwa keselamatan yang kita terima adalah semata-mata karena kasih karunia Allah oleh iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Segala perbuatan baik tidak dapat menyelamatkan kita, tetapi perbuatan baik dengan memberikan kasih/berkat kepada sesama tetap dituntut dari kita untuk menjawab kasih Allah kepada kita.

Di bawah ini kita akan melihat 2 kisah nyata;

Kisah pertama

“Ada seorang ibu yang selama bertahun-tahun harus menjalani hemodialisa (cuci darah), oleh karena ginjalnya sudah mengalami penurunan fungsi. Di dalam penderitaannya, ibu tadi masih dapat menyatakan kasihnya pada sesama yang mengalami penderitaan yang sama; dengan mobilnya ibu tersebut memberi tumpangan kepada sesamanya untuk berangkat bersama-sama ke rumah sakit”.

Kisah kedua

Lebih dari 25 tahun yang lalu, ketika saya masih kuliah di Yogyakarta, di tempat kos, saya menderita sakit dan nyaris tidak diketahui oleh seorang pun. Karena waktu itu kebetulan semua teman kos sedang pulang liburan. Saat itu ada seorang janda miskin penjual gorengan kebetulan mampir dan mendapati saya sedang tergolek sakit sendirian. Selanjutnya selama beberapa hari sampai saya sembuh janda miskin ini rela mengorbankan dirinya dan waktunya untuk merawat saya dan yang mengherankan janda miskin tersebut ternyata menolak ketika saya beri uang imbalan atas jasanya tersebut. Kasih yang dimiliki oleh kedua ibu tersebut di atas laksana kasih Kristus. Sekalipun ibu yang kedua tadi tidak pernah mengenal-Nya. Sedang ibu pertama tadi ingin menjawab kasih karunia Allah dalam diri Kristus yang menyelamatkan dengan cara menyatakan kasih dan memberi berkat kepada sesamanya.

Saya akan menutup renungan ini dengan mengajak kita semua menghayati syair lagu di bawah ini dan menyanyikan lagu yang diciptakan oleh Julita Manik;

‘Bapa Yang Kekal’

Kasih yang sempurna telah ‘ku t’rima dari Mu

Bukan karena kebaikanku,hanya oleh kasih karuniaMu

Kau pulihkan aku, layakkanku ‘tuk dapat memanggilMu Bapa

Kau b’ri yang ‘ku pinta, saat kumencari ‘ku mendapatkan

Ku ketuk pintuMu dan Kau bukakan

S’bab Kau Bapaku, Bapa yang kekal

Tak’kan Kau biarkan aku melangkah hanya sendirian

Kau selalu ada bagiku

S’bab Kau Bapaku, Bapa kekal

Sesudah kita menerima kasih yang sempurna dari Alah, Bapa yang kekal, yang menyelamatkan kita, mampukah kita juga memberikan kasih dan berkat pada sesama kita?

Hanya Yesus Juruselamat

“Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat.” (Kisah 5:12 )

Pak John tergolek lemah di ranjang, di rumahnya, setelah pulang paksa dari rumah sakit yang merawatnya. Dokter mengatakan bahwa ia menderita Hepatoma (kanker hati). Hidupnya diperkirakan hanya bisa bertahan 2-3 bulan lagi. Ada beberapa temannya yang mengajaknya berobat pada seseorang yang diberitakan sanggup mengobati segala sakit-penyakit, tetapi pasien harus bersedia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan iman Pak John. Pak John selalu menolak ajakan temannya tadi. Tetapi setiap serangan rasa sakit itu datang, dia selalu teringat akan nasehat temannya tadi, seolah-olah dia ingin selalu mengikutinya.

Suatu ketika secara tidak sengaja, dia menemukan slip/pembatas alkitab yang bertuliskan bacaan dari Kisah Para Rasul 4:12 :”Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini, tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”. Hatinya tergetar dan teringatlah ia bahwa Yesuslah satu-satunya Juruselamatnya. Dialah Sang Tabib Agung yang akan menyembuhkannya. Dia ingat bunyi firman yang demikian: “Dan oleh bilur-bilurNya, kamu telah sembuh” (I.Petrus 2:24b). Saat itu hatinya dikuatkan Tuhan; Dia memilih mempertahankan imannya kepada Tuhan Yesus sebagai satu-satunya Juru selamat sampai mengalami kesempurnaan keselamatan kelak. Bersatu dengan Tuhan dalam kemuliaan surgawi, jika benar perkiraan dokter, waktu itu tinggal sebentar lagi.

Pernahkah kita mengalami seperti yang pak John alami ? Mampukah kita mengambil sikap seperti pak John? Sudahkah kita mengimani bahwa baik dalam keadaan susah atau senang, sehat atau sakit hanya Yesus Juruselamat kita ? Hanya Yesuslah kupegang teguh, hanya Yesuslah pengharapanku dalam badai kehidupan dan apapun jua yang menerpaku.

Mari kita hayati dan pujikan lagu dari NKB 123 “Dalam badai Hidupku”

Dalam badai hidupku, Yesus ‘kupegang teguh

Walau imanku lemah ‘kubersandar pada-Nya

Yesuslah harapanku, tiap saat hidupku

Apa juga menerpa, ‘kubersandar pada-Nya.

Kiranya Tuhan menguatkan kita.

Membangun Masa Depan Anak

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)

Orangtua di belahan dunia manapun pastilah menginginkan kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik daripada kehidupan orangtuanya. Maka tidak heran para orangtua berupaya sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan bekerja keras dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menunjang masa depan anak-anaknya. Acungan jempol pantas diberikan kepada setiap orangtua yang menyadari betul tugas dan tanggungjawabnya.

Namun, pada sisi yang lain, ada beberapa orangtua yang ingin masa depan anaknya terjamin dengan cara memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Anak-anak dipaksa mengikuti kemauan orangtuanya: Harus les, harus sekolah di sekolah pilihan orangtuanya; jurusan yang dipilih juga harus sama dan profesi yang harus dijalani juga harus sama. Semuanya itu dengan satu alasan: untuk kebaikan si anak sendiri. Benarkah?

Keinginan memberikan yang terbaik demi masa depan anak, itu baik dan benar. Tapi, jangan lupa juga untuk melibatkan anak-anak sebab yang akan memasuki dan menjalankan masa depannya adalah anak-anak, bukan orangtuanya. Memberikan masukan, memberikan pandangan-pandangan kepada si anak sah-sah saja tapi beri juga kesempatan kepada si anak untuk berpikir, mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Menyediakan segala sesuatu untuk menunjang dan membangun masa depan anak sesuatu yang positif namun jangan hanya segi lahiriahnya saja yang diperhatikan tapi kehidupan spiritualnya juga harus bertumbuh dan berkembang. Maka kelak anak-anak pun akan cakap secara kognitif, sosial dan spiritualnya.

Khalil Gibran memberikan pandangan yang menarik tentang anak seperti berikut:

Anakmu bukanlah anakmu, mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau, dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.

Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pemikiranmu, sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya, sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.

Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu. Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.

Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.

Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaanNya agar anak panahNya dapat melesat cepat dan jauh.

Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah. Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikianlah pula Dia mengasihi busur nan mantap.

GKI Go Green

Salah satu kegiatan dalam Agenda Bulan Keluarga 2008 di GKI Klaten adalah GKI Go Green pada hari Jumat 7 Nopember 2008. Dalam acara ini, GKI Klaten menyumbang 10.000 batang bibit pohon sengon laut dan 400 batang bibit pohon durian tokong kepada masyarakat dusun Manisharjo, Tangkil, Kemalang, Klaten. Tujuannya adalah untuk konservasi sumber air di lereng gunung Merapi dan meningkatkan perekonomian warga setempat.
Setelah berkonvoi selama 20 menit, rombongan kendaraan yang mengusung lebih dari 200 anggota jemaat sampai di desa Tangkil. Tanpa banyak acara yang bersifat formal, bibit pohon yang sudah disiapkan langsung diserahkan kepada bpk. Wartono yang mewakili GKJ Karangnongko dan Ketua RT setempat. Setelah itu, beberapa anggota jemaat menanam pohon di sekitar lokasi pertemuan.
Acara dilanjutkan dengan membakar jagung, sosis, jadah dan roti tawar secara bersama-sama. Suasana yang tercipta snagat meriah, akrab dan hangat. Semua jemaat membaur menjadi satu untuk bersama-sama membakar makanan kesukaan sendiri-sendiri. Di akhir pertemuan, dibagikan sejumlah doorprize.

Go Geen (9)

Deo dan Pak Chandra membakar sosis. Hm… mak nyuuus!!
Go Geen (8)

Orvis menanam pohon dibantu opa Wim Seimahuira dan opa Warih

Go Geen (7)

Marni dan Sigit dengan rukun menanam pohon bersama-sama

Go Geen (5)
Ibu Joko Sudibjo menanam pohon disaksikan jemaat GKI Klaten

Go Geen (4)
Ibu Joko Sudibjo menyiapkan pohon sengon laut.

Go Geen (3)
Ibu Dewi Retno Murni
Go Geen (2)
Sepuluh ribu batang sengon laut diturunkan dari truk koh Yoyok
Go Geen (1)
Bpk. Wartono dari GKJ Karangnongko memeriksa empat ratus batang pohon durian tokong.
Go Geen
Bakar, bakar, bakar

Tuhan Memberkati Anak-anak Melalui Orangtua

Tetapi Israel mengulurkan tangan kanannya dan meletakkannya di atas kepala Efraim, walaupun ia yang bungsu, dan tangan kirinya di atas kepala Manasye—jadi tangannya bersilang, walaupun Manasye yang sulung.” (Kejadian 48:14 )

Luther Burbank (ahli Botani) mengatakan: “Mendidik anak memiliki kesamaan dengan merawat tanaman.  Jika kita rajin menyirami, memberi pupuk, dan merawat tanaman.  Maka tanaman-tanaman itu akan menjadi taman yang indah dan rapi.   Tetapi jika kita menelantarkannya, jarang mengurus tanaman yang sudah tumbuh itu, maka taman tersebut akan penuh dengan semak belukar dan rumput-rumput liar yang akan memenuhi seluruh taman sehingga terlihat tidak indah  dan semrawut.”

Demikian juga dengan mendidik anak dan membina keluarga: Jika sebagai orang tua, kita memperhatikan  dan mendidik anak kita dengan benar, maka anak akan bertumbuh dengan mental, karakter dan kepribadian yang baik. Tetapi jika sebagai orang tua kita menelantarkan tugas mendidik anak, maka  tidak mustahi anak-anak akan menjadi seperti taman yang penuh semak duri dan rumput-rumput  liar.

Orang tua Kristen saat ini mempunyai tugas yang sulit dalam membesarkan anak-anak mereka dalam dunia “kebenaran”. Zaman dulu, anak-anak bertumbuh dalam masyarakat yang dengan jelas menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Orang tua dipandang sebagai figur yang berkuasa atas hidup anak-anak mereka. Sekarang, oleh karena perubahan zaman, segala sesuatunya juga berubah.

Allah memilih setiap orang tua dengan sangat teliti. “Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, ….” (Kejadian 18:19). Namun, tanpa kita sadari anak menganggap bahwa orang tua itu adalah satu paket Tuhan yang diberikan dan mereka bergantung penuh mengenai keselamatan hidupnya. Ketika mereka merasa takut, pasti tidak seperti yang kita ucapkan: “Tuhan tolong!”, tetapi, “Mama! Tolong aku! Aku takut!!” Orangtua dipercayai Tuhan melindungi anak kesayangan-Nya, dan bila lalai maka Tuhan akan merasa sangat kecewa.

Anak adalah titipan dari TUHAN. Karena itu anak perlu diberkati bukan dikutuki atau dimarahi. Rumah bukan hotel tetapi tempat bagi anak-anak untuk mendapatkan kasih sayang. Oleh karena itu lakukanlah seperti apa yang dilakukan oleh Yakub, yaitu memberkati anak-anaknya agar kelak anak-anak juga dapat menjadi berkat. Karena berkat yang diberikan oleh orang tua itu juga akan menjadi jaminan bagi masa depan anak. Ingatlah bahwa Allah memiliki tujuan melalui keturunan kita, dan dalam keturunan kita terdapat keturunan yang illahi. Karena itu  BERKATI ANAK!!  Dan jangan pernah lontarkan kata-kata kutukan pada anak-anak!! Mereka adalah Godly offspring” (Keturunan yang ilahi).

Hidup Sebagai Keluarga Allah

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yohanes 4:20)

Ada seorang ayah dan anak-anaknya yang harus menarik sebuah gerobak yang cukup berat. Akhirnya mereka memutuskan sang ayah menarik dan anak membantu mendorong dari belakang. Benar saja beban gerobak terasa lebih ringan, namun makin lama, sang ayah merasa beban tarikan semakin berat, saat ia berhenti dan menoleh ke belakang, ia tidak mendapati seorang anak pun di belakang gerobak. Ternyata anak-anaknya sedang duduk berisitirahat di dalam grobak sambil sibuk mengomentari dan melihat sang ayah yang bekerja sendiri.

Itu salah satu hal yang biasa terjadi dalam keluarga. Seringkali kita hanya sibuk membicarakan orangtua atau saudara kita, tetapi tidak berbuat apa-apa. Kita hanya bisa komentar dan melihat saja! Ya kalau dalam bahasa kerennya “No Action Talking Only (NATO)”. Idealnya sih di dalam keluarga kita harus saling menopang, membantu dan tentu saja saling mengasihi. Coba deh kita lihat kebaikan-kebaikan Allah yang kita alami setiap hari  yang menunjukkan betapa besar kasih Allah di dalam kehidupan kita. Di dalam setiap kebaikan yang Tuhan kerjakan, selalu ada pesan yang diberikan Tuhan bagi kita agar kita juga saling mengasihi sesama, dimulai dari keluarga.

1 Yohanes 4:20 berkata,”Jikalau seorang berkata:’Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” Apakah kita sungguh-sunguh mengasihi Tuhan? Apakah kita tahu cara bagaimana kita mengasihi Allah? Allah adalah kasih itu sendiri. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus mengasihi sesama bila kita memang mengasihi Tuhan, sebab kasih yang berasal dari Allah adalah kasih yang suci sehingga tidak mungkin kita bisa mengasihi Tuhan sementara kita sedang membenci orang lain.

Hidup sebagai keluarga Allah merupakan kerinduan dan harapan setiap keluarga Kristen. Keluarga Kristen itu sendiri membutuhkan Penopang yang kokoh agar tak jatuh dan runtuh. Tuhan sebagai Penopang memberikan segala berkat-Nya yang kita butuhkan tepat pada waktunya. Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita mengerjakan dan mempraktikkan kasih dengan setia dan dengan komitmen yang sungguh. Dengan demikian kasih Tuhan akan selalu mengalir di dalam kehidupan kita karena kita sedang mengalirkan kasih itu kepada orang lain.

Percayalah bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan ketaatan kepada Tuhan akan membuahkan berkat-berkat yang khusus dalam kehidupan kita. Sehingga melalui kehidupan kita kasih dan kuasa Tuhan dinyatakan bagi banyak orang. Sudahkah kita saling mengasihi dalam keluarga dan hidup sebagai keluarga Allah?

Seluruh Keluarga pun Percaya

“Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” (Kisah 16:33)

Anda tentu masih ingat sepenggal syair lagu sekolah minggu ini: “Bukan kuat, bukan gagah, tetapi karena Roh Allah.” “Di tarik-tarik mengapa tak mau datang. Di dorong-dorong mengapa tak mau pergi, Tuhan Yesus telah lama menunggu, janganlah sampai ketinggalan.” Untuk menjadi percaya kepada Yesus itu tidak mudah, apalagi seluruh keluarga secara serentak. Itu semata-mata hanya karena karya Roh Kudus, bukan usaha manusia. Itu bukan oleh karena kekuatan dan kegagahan kita, melainkan karena pekerjaan Roh Kudus!

Kisah Para Rasul merupakan kisah kegerakan misi/pekabaran injil yang dilakukan oleh para rasul. Mereka mendapat urapan Roh Kudus sehingga terjadilah perkara besar, yaitu ‘pertobatan jiwa-jiwa’ yang percaya kepada Yesus. Buah dari misi pertama ini menjadi cikal bakal lahirnya jemaat/gereja.

Tugas misi ini tidak hanya dibebankan untuk para rasul pada zaman dahulu, tetapi juga menjadi tugas kita sebagai orang percaya pada saat ini. Karena itu kita tidak boleh pasif berpangku tangan sebagai jemaat Tuhan.

Konteks perikop ini adalah ketika Rasul Paulus mengemban tugas pelayanan, misi memberitakan Injil di Filipi. Sebagai akibatnya mereka ditangkap, didera dan dijebloskan ke dalam penjara. Walaupun mereka dibelenggu dalam penjara, tetapi Injil tidak bisa dibelenggu. Hal ini terbukti ketika Rasul Paulus dan Silas berdoa dan memuji Tuhan di tengah malam, terjadilah peristiwa besar yang mengherankan. Sendi-sendi penjara goyah dan semua pintu terbuka. Semua orang hukuman melarikan diri, namun Paulus dan Silas tenang-tenang saja. Mereka bisa saja melarikan diri kalau mau. Tetapi mereka tidak melakukannya. Mengapa? Karena tugas mereka bukan untuk melarikan diri dari masalah, malah justru mencari masalah yaitu memberitakan Injil Tuhan. Ringkas cerita, terjadilah dialog sebagai proses pemberitaan Injil yang sangat efektif.

Kepala Penjara : “Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?”

Rasul Paulus : “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Paulus dan Silas memberitakan Injil kepada kepala penjara dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. Hasilnya: seluruh keluarga pun percaya dan menerima sakramen baptis kudus. Terjadinya keselamatan ini karena mereka percaya kepada Yesus. Oleh sebab itu berita Injil harus disampaikan. Pertanyaan, siapakah yang harus memberitakannya? Jawabannya ada di Roma 10:14-15. Penerima Injil ada di sekitar kita, dan Allah sendiri yang telah mengutus orang percaya. Maukah kita melakukannya?

Mungkin Anda mau, tetapi bagaimana caranya? Begini saudara, dunia misi itu luas dan banyak caranya, yaitu langsung dan tidak langsung. Cara langsung (frontal dan sistematis) biar dilakukan oleh hamba Tuhan yang terlatih. Kita bisa menggunakan cara tidak langsung yaitu dengan mengajak orang lain ke gereja, mempedulikan tetangga kita yang berkekurangan kasih, mendoakan, dll. Kita melakukannya sambil mengingat perkataan Yesus:”Ku di utus BapaKu…Ku utus kau..!” Dengan demikian banyak orang mendengar berita Injil, dan seluruh keluarga pun percaya.

Setia Sampai Mati

“Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

Sesuatu yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan ialah ’setia’ atau ‘kesetiaan’. Sebab kesetiaan merupakan sikap dan tindakan seseorang yang lahir dari hati nurani yang suci, bukan berpura-pura atau lamis.

Pepatah Jawa mengatakan: “Jer Basuki Mawa Beya” Jika kita menginginkan hal yang baik, maka ada harganya yang harus dibayar. Tidak bisa cukup mengucao “sim salabim abrakdabra.” Tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi harus diupayakan, diperjuangkan, dan dibuktikan! Sungguh berat dan sangat sulit, namun demikian bagi kita sebagai orang percaya. “Sulit bukan berarti tidak bisa”, bersama Tuhan pasti bisa!

Konteks dalam perikop ini adalah surat yang ditujukan kepada jemaat di Smirna. Kota yang paling makmur di Asia Kecil dan mendapat nama Metropolis. Tetapi di sini terdapat orang-orang Yahudi dalam jumlah dan kekuatan yang luar biasa,. Mereka memberikan permusuhan yang pahit terhadap jemaat Kristen. Dalam keadaan seperti itu, jemaat di Smirna menghadapi penderitaan dan dukacita. Karena itu pada ayat 10 menjadi penghiburan dan menguatkan. Ayat ini mengatakan, “Jangan engkau takut terhadap apa yang harus engkau derita ! sebab penderitaan ini hanya berlangsung sepuluh hari.” Ini artinya bahwa penderitaan ini hanya berlangsung singkat, semacam penganiayaan lokal.

Perkataan penghiburan yang menguatkan itu ditegaskan kembali dalam ayat 10c, “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan”. Perkataan ini sungguh hebat dan luar biasa. Kata setia dalam bahasa Yunani adalah ‘pistos‘ yang artinya bisa dipercaya, handal (bahasa Jawa: iso diandelake). Jemaat di Smirna pada saat itu menghadapi penderitaan, tantangan serta hambatan dari luar (orang-orang Yahudi). Maka mereka didorong semangatnya agar tidak menjadi lemah atau nglokro, tetapi tetap setia, bisa dipercaya, bisa diandalkan untuk menghadapi semuanya itu dengan gigih. Bukan hanya untuk sementara saja atau angin-anginan tetapi setia sampai mati. Seperti semangat Pandawa Lima dalam pewayangan ketika menghadapi angkara murka “rawe-rawe rantas, malang-malang putung, tak sampar tak sandung“. Seperti itulah perjuangan iman kita.

Aplikasinya bahwa GKI Klaten semakin hari semakin dewasa, semakin bertambah berat tugas dan tanggungjawabnya dalam mengembang amanat agung Yesus Kristus di dunia. Banyak hambatan dan banyak pula tantangan yang dihadapinya seperti halnya jemaat di Smirna. Oleh sebab itu segala tantangan yang ada dari luar kita hadapi bersama dengan penuh kesetiaan. Lalu bagaimana kalau tantangan itu berasal dari dalam diri kita sendiri? Amit-amit, jangan sampai itu terjadi! GKI Klaten harus terus berjuang dalam pengembangan pelayanan di segala bidang untuk memenuhi panggilanNya:

* Terus berjuang untuk mengembangkan pelayanannya di Bajem Pesu yang sedang merindukan tempat ibadah baru. Oleh sebab itu setialah, jangan lesu dan nglokro.

* Di bajem Mireng, agar semakin bertumbuh dan berbuah lebat.

* Di Pos Jemaat Karangri agar semakin mantap dan bersemangat.

Dan pada akhirnya, marilah kita sebagai warga jemaat GKI Klaten, dari kelompok hingga bajem-bajemnya. Hendaklah engkau setia sampai mati dalam melayani Tuhan. Segala bentuk tantangan dari luar itu hal biasa, asalkan jangan membuat persoalan dan masalah dari dalam diri sendiri. Sebab di dalam Tuhan pelayanan kita tidaklah sia-sia:…”dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

Menjadi Teladan Bagi Orang Percaya

“Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.” (1 Timotius 3:12)

Kesaksian hidup seorang benar itu lebih berharga bila dibandingkan dengan 1000 orang pengkhotbah yang hebat sekalipun. Ada pepatah kita mengatakan kita jangan hanya ‘jarkoni belaka artinya ‘bisa mengajar (berkhotbah) tapi tidak bisa nglakoni atau menjalankan.’ Sebab berkhotbah atau mengajar di depan mimbar bisa saja hanya teori, tetapi teladan adalah kualitas hidup seseorang yang dinyatakan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Konteks dalam perikop ini adalah syarat-syarat bagi seorang Diaken. Kalau di GKI Klaten, Diaken merupakan bagian dari Majelis Jemaat, suatu jabatan yang sungguh terhormat. Karena itu seorang Diaken memiliki tanggungjawab yang berat, dalam bahasa jawa ‘abot sanggane, mulane ora baen-baen’. Tanggungjawabnya sangat berat, itu sebabnya tidak boleh main-main.

Seorang Diaken harus memiliki 3 karakter di dalam rumah tangganya: pertama, diaken haruslah suami dari satu istri; kedua, mengurus anak-anaknya; dan ketiga mengurus keluarganya dengan baik (ayat.12). Keteladanan seorang pengurus jemaat Tuhan sebagai diaken dituntut 3 hal utama dalam rumahtangganya: seorang suami yang baik, seorang ayah yang baik dan kepala keluarga yang baik. Istilah “baik” di sini artinya dia mampu mengurus semuanya itu dengan benar. Dia menjadi figur/tokoh panutan dalam keluarganya yang bisa dibanggakan.

Mengapa ditetapkan persyaratan yang demikian ? Ayat 5 memberikan jawaban yang tegas: “Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus jemaat Allah?” Jadi jabatan pelayanan jemaat itu bukan untuk gagah-gagahan tetapi suatu panggilan yang luhur. Dia harus menjadi teladan sebagai kesaksian yang hidup agar menjadi berkat bagi banyak orang serta menjadi kemuliaan nama Tuhan. Dengan demikian kiprahnya dalam pelayanan dan kesaksiannya tidak menjadi sandungan serta diusik jemaat yang dilayani. Seperti ditegaskan dalam ayat.13, “Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa”.

Aplikasinya adalah bahwa soal keteladanan bukan hanya monopoli seorang pejabat gerejawi saja tetapi harus dimiliki oleh setiap orang Kristen. Sebab itu hendaklah kita saling memberi teladan satu dengan yang lain. Sebab dengan keteladanan hidup, kita bisa saling membangun iman seorang terhadap yang lain bahkan bisa memberikan semangat sehingga dalam hidup berjemaat maupun melayani Tuhan mendatangkan damai sejahtera. Hendaklah menjadi teladan bagi orang percaya.

Ku Mau Berjalan dengan Juruselamatku

Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia : “ Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada Mu berjalan di atas air. “

Kata Yesus : “ Datanglah ! “ maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.Matius 14 : 28 – 29

Dialog ini terjadi ketika para murid Tuhan Yesus sedang berlayar. Di tengah jalan mereka diterjang gelombang angin sakal. Para murid menjadi panik dan takut perahu mereka akan tenggelam. Dalam keadaan takut, Tuhan Yesus datang menghampiri mereka. Memang saat itu Tuhan Yesus tidak ikut bersama para murid, tetapi Ia sedang ingin sendirian di atas bukit untuk berdoa.

Tuhan Yesus mengetahui keadaan para muridNya. Mereka sedang menghadapi bahaya angin sakal. Kemudian Tuhan Yesus datang kepada mereka dan menunjukkan kuasaNya dengan berjalan di atas air. Oleh karena hati para murid dipenuhi oleh ketakutan, mereka tidak mengetahui bahwa yang sedang berjalan di atas air itu adalah Tuhan Yesus. Para murid menganggap Tuhan Yesus itu hantu.

Petrus, ketika melihat Tuhan Yesus berjalan di atas air, meminta agar diizinkan agar bisa berjalan di atas air. Keinginan Petrus pun dipenuhi oleh Tuhan Yesus. Kalau kita melihat kelanjutan dari kisah ini menunjukkan perlunya persiapan yang cukup matang bila ingin melakukan seperti yang dilakukan Tuhan Yesus. Petrus memang dapat berjalan di atas air, namun saat ia melihat ke pada gelombang dan angin sakal maka ia tenggelam. Selama Petrus berjalan bersama Tuhan Yesus, hati dan pikirannya tidak terganggu, tetapi hanya memandang kepada Tuhan Yesus, maka ia tidak akan tenggelam.

Ku mau berjalan dengan Juruslamatku

Di lembah berbunga dan berair sejuk

Ya, kemana juga aku mau mengikutNya

Hingga aku tiba di negri baka

Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus

Ku tetap mendengar dan mengikutNya

Ikut, ikut, ikut Tuhan Yesus

Ya, kemana juga ku mengikutNya

Masih ingat syair lagu dari Kidung Jemaat ini , apa artinya bagi kita ? Bila kita mau mengikuti Tuhan Yesus, maka kita juga harus siap menerima ke mana saja kita dibawaNya. Mengikut Yesus itu artinya mengimani Dia dalam setiap langkah hidup kita. Entahkah kita saat ini sedang ikut di jalan senang ataupun ketika kita di jalan susah. Ingatlah apa pun yang kita jumpai dalam hidup ini asal ada Tuhan Yesus, kita tetap akan dipegang-Nya. Dia tetap menyertai kita. Tangan kasih-Nya selalu menopang kita. Siapkah kita mengiring Dia hari ini ? Siapkah kita juga seperti Petrus mau berjalan dengan Tuhan Yesus dan selalu mengarahkan perhatian kita kepada-Nya?

Kalau kita berjalan dengan Yesus, maka konsekuensinya adalah membiarkan Dia yang memegang tangan kita, mengarahkan langkah kita, dengarkan apa yang dikehendakiNya. Jadikanlah Kristus yang memandu hidup kita.

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
Retret Pasutri KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Bakar, bakar, bakar!
Wise Words
sms inspiratif