Apa Kerjamu di Sini?
Oleh: Dyah Widyastuti
Sabtu sore, 9 Nopember 2008, saya mempersiapkan diri untuk persiapan bercerita kepada anak-anak Sekolah Minggu, tanggal 16 Nopember. Saya memulainya dengan renungan pribadi dengan membaca 1 Raja-raja 19:9-18. Pada perikop ini diceritaka tentang Allah yang menyatakan diri kepada nabi Elia di gunung Horeb.
Elia bukan nabi biasa. Allah menyertai Elia sepanjang hidupnya. Meski begitu, ketika dia mendengar ancaman pembunuhan dari Izebel, timbul perasaan takut dan gentar dalam diri Elia. Dia menjadi patah semangat dan merasa seolah-olah berjuang sendiri. Elia merasa Tuhan telah meninggalkannya sendirian.
Melihat hal ini, Tuhan mendatangi Elia dan bertanya, “APAKAH KERJAMU DI SINI, hai Elia?” Tuhan bertanya sebanyak 2 kali, seperti diceritakan dalam ayat 9 dan 13.
Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raja-raja 19:10).
Dialog antara Elia dan Tuhan ini membuat saya merenung. Saya merasa seolah-olah menjadi Elia yang berhadap-hadapan Tuhan. ” Apakah kerjamu di sini, hai hamba-Ku Dyah?” tanya Tuhan.
Saya ingin memberikan segudang jawaban. Saya ingin melaporkan bahwa saya sudah bekerja sebagai pendidik, sebagai konselor dan sebagai Koordinator selama sekitar 28 tahun. Saya juga sudah bekerja di dunia pendidikan sebagai anggota Komite Sekolah, sampai sekarang. Saya juga masih aktif melayani di gereja. Tapi apakah jawaban ini yang memang dikehendaki Tuhan?
Saya kira bukan itu. Pertanyaan itu bukan ditujukan pada hasil kerja saya selama 28 tahun, melainkan pada APA yang SEDANG saya kerjakan di SINI, hari ini! Saya merenungkan kembali, apakah saya sudah
memberikan yang terbaik dan akan memberikan yang terbaik selama saya hidup kepada Tuhan.
Hari ini, 9 Nopember, tepat enam tahun saya memasuki masa pensiun. Saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan hamba-Nya ini untuk melayani-Nya dengan segala kemampuan, keterbatasan dan kesehatannya. Saya percaya tangan Tuhan memintal dan menenun hamba-Nya supaya memiliki iman yang sungguh-sungguh dan tangguh. “Apakah kerjamu di sini?” Pertanyaan ini diajukan Allah kepada Elia ketika dia merasa patah semangat. Apa yang telah saya lakukan dan akan saya lakukan untuk Tuhan, keluargaku, sesama, sekolah dan gereja yang saya cintai? Izinkan saja menjawab,”Saya ingin bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam.”
You must be logged in to post a comment.
