Membangun Masa Depan Anak
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)
Orangtua di belahan dunia manapun pastilah menginginkan kehidupan anak-anaknya jauh lebih baik daripada kehidupan orangtuanya. Maka tidak heran para orangtua berupaya sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya dengan bekerja keras dan menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menunjang masa depan anak-anaknya. Acungan jempol pantas diberikan kepada setiap orangtua yang menyadari betul tugas dan tanggungjawabnya.
Namun, pada sisi yang lain, ada beberapa orangtua yang ingin masa depan anaknya terjamin dengan cara memaksakan kehendaknya kepada anak-anak. Anak-anak dipaksa mengikuti kemauan orangtuanya: Harus les, harus sekolah di sekolah pilihan orangtuanya; jurusan yang dipilih juga harus sama dan profesi yang harus dijalani juga harus sama. Semuanya itu dengan satu alasan: untuk kebaikan si anak sendiri. Benarkah?
Keinginan memberikan yang terbaik demi masa depan anak, itu baik dan benar. Tapi, jangan lupa juga untuk melibatkan anak-anak sebab yang akan memasuki dan menjalankan masa depannya adalah anak-anak, bukan orangtuanya. Memberikan masukan, memberikan pandangan-pandangan kepada si anak sah-sah saja tapi beri juga kesempatan kepada si anak untuk berpikir, mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Menyediakan segala sesuatu untuk menunjang dan membangun masa depan anak sesuatu yang positif namun jangan hanya segi lahiriahnya saja yang diperhatikan tapi kehidupan spiritualnya juga harus bertumbuh dan berkembang. Maka kelak anak-anak pun akan cakap secara kognitif, sosial dan spiritualnya.
Khalil Gibran memberikan pandangan yang menarik tentang anak seperti berikut:
Anakmu bukanlah anakmu, mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau, dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pemikiranmu, sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya, sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu. Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaanNya agar anak panahNya dapat melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah. Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikianlah pula Dia mengasihi busur nan mantap.
You must be logged in to post a comment.