Berkat

0

Posted on : 31-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan: Yohanes 1: 1-18

DAVID adalah anak seorang pengusaha yang terkenal. Ayahnya bijak dan penuh kasih. Pada suatu hari ia ingin menghitung berapa banyak yang telah diberikan Ayahnya kepadanya: “Sejak lahir aku dipelihara dan diberi perhatian,” kata David kepada dirinya sendiri, “Saat aku sakit Ayah selalu menjaga dan merawat aku dengan sabar. Ketika aku disakiti temanku, Ayah menghiburku. Ketika dalam kesulitan, Ayah memberikan bimbingan. Saat aku menginjak dewasa, Ayah mulai memikirkan masa depanku. Dia mencarikan pendidikan yang terbaik dan menyiapkan rumah. Tapi aku sering tidak puas dengan apa yang sudah dia berikan. Aku sering kecewa ketika ia tidak sama pendapatnya denganku.” Akhirnya David tidak dapat menghitung lagi berapa banyak yang telah diberikan oleh ayahnya. Akhirnya David berjanji akan menceritakan kebaikan ayahnya, menaati ayahnya dan berusaha memberikan yang terbaik kepadanya. Apakah kita pernah menghitung berapa banyak berkat yang telah kita peroleh dari Bapa kita di Sorga? Kita tidak mungkin dapat menghitungnya lagi? Atau mungkin kita tidak sempat menghitungnya karena sudah melupakannya. Apakah kita sudah menceritakan kebaikan Bapa kita dalam kehidupan kita sehari-hari? Atau kita masih belum puas dengan apa yang telah diberikan-Nya pada kita? Marilah kita melangkah pada tahun baru dengan keyakinan, “Sampai di sini Allah sudah menyertai saya, Eben Ezer. Maka Allah pasti akan menyertai saya di tahun depan.” BERAPA BANYAK KELIMPAHAN RAHMAT TUHAN YANG TELAH KITA TERIMA SELAMA TAHUN INI?

Pertumbuhan

0

Posted on : 30-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan: Lukas 2: 36-40 dan I Yohanes 2: 12-17 SETIAP orangtua akan berbangga hati jika anaknya bertumbuh dewa sa dan makin terampil dalam berbagai hal. Bangga karena anaknya makin pandai memainkan piano; bangga karena tahu mengucapkan salam; bangga karena anaknya makin pandai menggambar. Dalam bacaan hari ini, kita melihat sukacita Maria dan Yusuf yang melihat pertumbuhan yang dialami Yesus. Untuk mengalami pertumbuhan kita memerlukan makanan, kesehatan dan kemauan untuk bertumbuh. Untuk mengalami pertumbuhan rohani, kita membutuhkan makanan rohani yaitu firman Tuhan. Kita juga membutuhkan kuasa Tuhan untuk menghilangkan penyakit-penyakit yang ada dalam kerohanian kita. Di samping itu, kita harus punya kemauan meninggalkan kehidupan yang lama dan meneladani Yesus. Dalam bacaan hari ini disebutkan bahwa anak-anak, bapa-bapa, orang muda, dan semua umat tebusannya harus meninggalkan keduniawian. Itu artinya. bukan hanya anak-anak saja yang dapat bertumbuh melainkan kita semua perlu mengalami pertumbuhan dalam iman. Bagaimana dengan pertumbuhan iman Anda? Apakah Anda telah menjadi kebanggaan dan sukacita Bapa kita? Marilah mulai memperhatikan kehidupan rohani. Kita harus memberikan makanan kepada rohani kita dengan setiap hari merenungkan firman Tuhan. Sudahkah Anda menjaga kesehatan rohani dengan menghilangkan sakit hati dendam iri hari dan kepahitan? Apakah Anda punya kemauan bertumbuh dewasa dalam iman? ANAK ITU BERTAMBAH BESAR DAN KUAT, PENUH HIKMAT DAN KASIH KARUNIA ALLAH ADA PADANYA

Cita-cita

0

Posted on : 29-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan:
Lukas 2: 22-35

SETIAP orang tua tentu mempunyai cita-cita. Orang tua merasa akan puas hidupnya apabila bisa melihat anaknya di wisuda Sarjana, syukur-syukur Doktor. Ada orang yang merasa puas apabila telah menikahkan anaknya yang bungsu. Kalau yang bungsu sudah menikah, nah rasanya hidup sudah penuh, Syukur-syukur orang tua itu masih boleh menimang cucu yang lucu-lucu.

Pada Injil hari ini, kita memperoleh teladan orang tua yang hebat, yaitu Simeon. Simeon itu orang suci, orang benar, dan saleh. Hidupnya hanya dibaktikan bagi satu cita-cita, yaitu boleh melihat sang Penebus, sang Penyelamat umat manusia. Ia memohon kepada Tuhan agar sebelum matanya tertutup selama-lamanya ia diperkenankan melihat Mesias.
Dan, Allah mengabulkan doa Simeon. Setelah ia melihat Yesus, bahkan menatang-Nya, ia berani berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera!”
Dengan kata lain, Simeon sudah puas, cita-citanya telah terpenuhi karena telah menyaksikan kehadiran sang Penebus umat manusia.

Apa yang paling membuat Anda merasa puas dalam hidup? Apa sebenarnya kerinduan Anda? Apa cita-cita Anda? Kalau cita-cita dan kerinduan itu hanya seputar keberhasilan dan prestasi keluarga atau anak, jabatan, posisi dalam masyarakat, maka kita ini belum sungguh sesuai dengan sabda Tuhan. Marilah kita meneladani Simeon yang meletakkan kepuasan, kerinduan, dan kepenuhan hidup kepada kedatangan Kristus sendiri dalam hidup kita, baik hari ini, besok, maupun saat kematian kita nanti.

MANAKAH KERINDUAN HIDUP KITA YANG SESUNGGUHNYA?

ANUGERAH BAGI YANG MENCARI- NYA

0

Posted on : 29-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya.

Renungan Minggu, 4 Januari 2009

Yesaya 60:1-6 Mazmur 72:1-7 Efesus 3:1-12 Matius 2:1-12

Apakah Saudara mempunyai perasaan seperti saya, bahwa pengalaman rohani dari umat Tuhan zaman dulu , dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah merupakan pengalaman kita juga? Setidaknya, ada kemiripannya. Saya kira hal ini sangat penting, sebab sekiranya kita tidak berada di dalam pengalaman dan kehidupan mereka, sekiranya kita tidak bisa menyatu dengan mereka sebagai keluarga besar umat Tuhan, maka pemberitaan firman Tuhan dalam Alkitab hanyalah merupakan pemaparan sejarah semata, dan maksud serta harapan Tuhan dengan demikian tidak tercapai! Sekarang mari kita cermati Firman Tuhan yang sudah kita baca tadi, yang menyangkut anugerah Tuhan.

Pertama: Anugerah Tuhan Untuk Menjadi Terang. Yesaya 60 yang kita baca tadi melukiskan keadaan umat Tuhan sesudah pulang dari Pembuangan Babil. Ke depan mereka pasti mengharapkan banyak hal, tapi harapan mereka sebagai umat Tuhan haruslah bisa selaras dengan harapan Tuhan atas mereka.Yang seperti ini penting untuk kita Saudara, sebab memasuki Tahun Baru biasanya kita mempunyai sekeranjang harapan, dan semua itu langsung saja kita pohonkan perwujudannya kepada Tuhan. Seolah kita tidak mau menyediakan ruang dan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan harapanNya atas kita. Karena Tuhan adalah sumber terang dan Ia adalah Terang yang kekal, maka di sini kita melihat betapa Tuhan menghendaki agar umatNya juga menjadi terang. Dan untuk itu harus ada kebangkitan, kesadaran dan upaya. Maka firman Tuhan: Bangkitlah! Saudara, ini memang perintah, namun mengandung anugerah.UmatNya, termasuk kita semua disuruh bangkit, disuruh menjadi terang, berarti diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi kepanjangan tangan bagi berkat yang akan dipancarkan Tuhan ke seluruh dunia. Ingatlah sabda Tuhan Yesus di Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia”.Bukankah ini merupakan anugerah yang sangat berarti dari Tuhan, jika kita di jadikan terang dan dapat menerangi kehidupan banyak orang serta mendatangkan kehangatan, penyuluhan dan suksacita. Kalau begitu anugerah Tuhan telah memunculkan kebahagiaan.Tapi apakah itu “kebahagiaan”? Aristoteles Filsuf Yunani yang hidup 300M berujar:”Kebahagiaan adakah penggunaan semua kemungkinan dalam diri seseorang untuk kebahagiaan orang lain.” Saudara, sesungguhnya kita mempunyai banyak kemampuan dan kesempatan yang belum kita kembangkan bagi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.Biasanya hal itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Ada cerita tentang orang kaya yang menerima telpun dari Pak Camat, mengharap bantuannya karena di wilayah itu ada kebakaran. Si kaya tidak mau turun tangan sebab ia sibuk mengawasi tukang-tukang yang sedang memugar gedungnya. Sesudah pekerjaan di rumahnya rampung, barulah ia keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut sebab melihat kenyataan bahwa semua penduduk desanya sudah pergi mengungsi ke lain daerah.Dengan demikian tinggal dia seorang yang masih tertinggal dengan gedung megahnya. Tiba-tiba dia merasa seperti sedang dikucilkan dan dihukum oleh masyarakat!

Ke dua: Anugerah Tuhan Melalui Kehadiran Anak Raja. Apa yang kita jumpai dalam Mazmur 72 tadi Saudara? Harapan umat Tuhan kepada raja dan kepada anak raja, atau raja yang baru sebagai penggantinya. Untuk raja yang baru, di harapakan agar memerintah dengan adil.Di sini muncul harapan lahirnya “Raja Adil”.Bicara tentang “Raja Adil” saya lalu ingat sebuah cerita tentang seorang raja Persia pada zaman dulu. Seorang raja yang suka berincognito atau menyamar menjadi rakyat biasa dan bergaul dengan lapisan masyarakat yang paling bawah, agar dapat memerintah dengan adil .Suatu ketika raja Persia yang satu ini tinggal bersama keluarga miskin di sebuah gudang kosong di bawah tanah.Karena sudah terjalin hubungan yang akrab maka ia tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya, ia berterus terang mengenai jati dirinya dan mempersilahkan kepala keluarga miskin itu untuk mengajukan permohonan yang pasti akan dipenuhinya. Yang menarik dari kisah ini adalah ketika kepala keluarga yang miskin itu tidak mau memohon apa pun juga.Ia hanya menyampaikan kekaguman serta keharuan hatinya, demikian:”Baginda telah rela meninggalkan istana untuk tinggal di tempat kumuh ini.Sudi makan seadanya bersama kami sekeluarga.Baginda telah membawa kegembiraan besar bagi kami.Baginda telah memberikan diri Anda dan semua ini sudah lebih dari cukup, bahkan merupakan anugerah bagi kami semua!” Saudara, di sini kita bisa belajar tentang anugerah, yaitu tatkala harkat kita sebagai manusia dihargai oleh sesama dan penguasa hidup kita! Raja adil yang didambakam dalam Mazmur 72 tadi jika benar-benar muncul maka merupakan anugerah besar bagi seluruh rakyat.Jika raja memerintah dengan adil, memberantas penindasan, orang miskin diperhatikan nasibnya, tentu dengan sendirinya muncul kemakmuran . Juga dikatakan damai sejahtera akan berlimpah!Apa yang diungkap di sini, termasuk cerita tentang raja Persia tadi sepertinya mengajak kita untuk memperhatikan Yesus Kristus, raja di atas segala raja itu. Semua hal yang baik dan yang terbaik yang dimiliki oleh seorang raja, ada pada Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita merupakan anugerah yang sangat besar yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu di sepanjang hayat!

Ke tiga: Anugerah Tuhan Berupa Jalan Masuk Bagi Siapa Saja. Dalam Efesus 3 yang kita baca tadi ditekankan sebagai kejutan besar bahwa Tuhan sudah membuka lebar- lebar jalan untuk memasuki keselamatanNya, tanpa memandang yang hina maupun yang non Yahudi. Dalam Alkitab kita dapat melihat keberpihakan Tuhan kepada mereka yang diremehkan oleh sesamanya. Dimulai dengan Habil, Yusuf, Daud, para nelayan, janda miskin, anak-anak kecil, orang-orang kusta , Bartimeus dan seterusnya. Tapi jika Tuhan kemudian juga berpihak kepada Saulus atau Paulus, maka itu adalah suatu anugerah yang luar biasa. Paulus yang sepantasnya ditolak, malah diberi jalan masuk. Paulus yang seharusnya dihukum berat karena menjadi “penganiaya Kristus” malah dijadikan teman sekerja Allah yang dipercayai untuk menyebarkan injil Kerajaan Allah. Akal sehat kita tak mampu memahami rencana dan cara kerja Tuhan. Emosi kita cepat membutakan mata untuk melihat betapa konsekuen Tuhan terhadap pelajaranNya, bahwa kita harus bisa mendoakan dan mengasihi musuh. Tahulah kita sekarang mengapa Tuhan merangkul Paulus yang merasa paling hina itu, karena mempunyai rencana besar melalui hambaNya ini untuk dapat merangkul sebanyak mungkin orang yang merasa tidak layak, termasuk mereka yang non Yahudi.Hidup dekat dengan Tuhan membuat kita sadar bahwa kita semua sedang tinggal bersama di dalam sebuah rumah besar yang bernama dunia. Dalam Rumah Dunia yang dianugerahkan Tuhan ini semua bangsa dipanggil untuk hidup damai sejahtera dalam Yesus Kristus.Itulah tujuan akhir Tuhan di dunia ini, supaya dapat dilanjutkan di Rumah Tuhan yang mulia di surga! Jadi pada dasarnya kerinduan hati Tuhan adalah agar semua manusia di dunia beroleh selamat dan hidup kekal (Yohanes 3:l6}.

Ke empat: Anugerah Bagi Yang Mencari. Pencarian orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, sungguh sangat menarik. Kisah itu sudah kita kenal semenjak kita masih kecil. Sekarang kita mau memahaminya sebagai sebuah kisah yang menyentuh hati dan menggugah semangat. Pencarian mereka bertolak dari keyakinan hati yang sangat mendalam dan mantap. Pencarian mereka disertai kesedian besar untuk menghadapi segala bentuk tantangan dan resiko.Tapi pencarian mereka juga merupakan anugerah dari Tuhan sebab ada pendampingan dan pengarahan Tuhan, terutama sekali juga ada hasil besar yang mereka raih, yaitu perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus yang kelahiranNya dihiasi dengan bintang-bintang di agkasa! Pelajaran apa yang dapat kita tangkap dari pencarian orang-orang majus ini? Pertama: Niat baik harus ditopang dengan usaha dan cara yang baik pula. Ke dua: Selalu akan ada campurtangan Tuhan untuk setiap kegiatan manusia jika dapat menunjang rencanaNya. Ke tiga: Yesus hadir bagi yang miskin atau kaya, yang buta huruf maupun yang cendekiawan, yang dekat atau jauh, yang menarik diri maupun lebih-lebih yang sedang mencari Dia.

Apakah Saudara pernah mendengar bahwa dalam perjalanan orang-orang majus itu, mereka sempat bertemu seseorang yang sangat tertarik untuk bergabung dengan mereka. Rombongan orang majus juga tidak berkeberatan bahkan dengan tulus mengajak orang itu untuk bersama-sama mencari dan menyembah anak raja yang baru lahir itu., namun pada saat terakhir ia membatalkan niatnya! Cerita tambahan seperti ini tentu saja tidak tertulis dalam Alkitab, tapi rasanya cocok juga untuk mengingatkan banyak orang yang masih ragu-ragu menemui dan menyembah Yesus.Bahkan cocok juga untuk mendorong kita yang sudah beriman kepada Yesus Kristus, namun sangat minim dalam kiprah pelayanan sampai akhirnya kontribusi kita dalam pengembangan Kerajaan Allah juga tidak seberapa.

Keluarga

0

Posted on : 28-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan:
Lukas 2: 22.39-40

DI ZAMAN modern ini, di kota-kota besar, muncul kelompok-kelompok yang menggunakan istilah “keluarga”. Misalnya, Ikatan Keluarga Trah Ponco Wiryodinoto (berdasarkan keturunan); Ikatan Keluarga Sumatera Utara (berdasar etnis dan asal usul); Ikatan Keluarga alumni SMA Negeri 109 (berdasar tempat pendidikan); Ikatan Keluarga Bank “X”(berdasar bidang dan tempat kerja). Di tengah gejala hidup individualisme, masyarakat perkotaan ternyata membutuhkan suasana pemersatu yang memberi tempat untuk berkomunitas. Kata “keluarga” diperluas dari ikatan darah/keturunan menjadi ikatan yang membentuk persaudaraan layaknya satu keluarga.

Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan dan merupakan satu keluarga. Dari segi iman kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta segala bangsa. Allah menjadi Bapa semua orang. Secara lebih jelas tegas Yesus mengajarkan doa yang dimulai dengan kata-kata: “Bapa kami yang ada di surga”. Melalui penjelmaan-Nya, Yesus hadir di tengah-tengah keluarga bangsa manusia.

Maria dan Yusuf menjadi ibu dan bapa Yesus. Keluarga kudus Nazaret ini menunjukkan hubungan kekeluargaan yang tidak hanya berdimensi kemanusiaan, tetapi juga berdimensi ilahi. Yesus menegaskan siapa saja yang menjadi anggota keluarga-Nya, “ Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, adalah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”(Matius 12:50). Inilah makna keluarga dari sudut pandang iman.

SEMOGA PESTA KELUARGA KUDUS SEMAKIN MEMPERERAT
KEKELUARGAAN KITA

Refleksi

0

Posted on : 27-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan:
I Yohanes 1:1-4

SEORANG guru meminta para murid kelas 3 SMU untuk menulis 5 kelebihan dan 5 kekurangan dari teman sebangkunya. Keesokan harinya sang guru membacakan daftar kelebihan dan kekurangan itu. Para murid menanggapinya dengan beragam.
Ada yang tersenyum; ada yang berbisik-bisik: ”Aku tidak tahu bahwa ternyata aku berarti bagi orang lain.” Para murid merasa sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lain. Mereka belajar memahami kelebihan dan kekurang di dalam diri mereka.

Beberapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di Vietnam. Sang guru menghadiri pemakaman bekas murid itu. Seorang tentara menghampiri guru itu dan bertanya,”Apakah Anda guru matematika Mark?” Sang guru menggangguk. Tentara itu lalu berkata,“Mark banyak membicarakan tentang Anda”

Selesai pemakaman, bekas teman-teman sekelas Mark dan sang guru menemui orangtua Mark. “Kami akan memperlihatkan sesuatu pada Anda,” kata ayah Mark sambil mengambil dompet dari sakunya.
Dompet itu dibawa Mark ketika ia tewas. Sang guru langsung mengenali itu adalah kertas daftar kelebihan dan kekurangan yang pernah dibuatnya. Sang guru menangis terharu.

Lima hari lagi kita akan memasuki tahun baru 2009. Saatnya bagi kita melihat dan kekurangan kita. Kita perlu berhenti sejenak, merenungkan dan berdoa meminta penyertaan Tuhan.

INILAH SAAT ANDA UNTUK BERHENTI DAN MELIHAT DIRI

Waspada

0

Posted on : 26-12-2008 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Bacaan:
Matius 10:17-22

TANGGAL 20 Oktober 2008 dalam perjalanan pulang dari Surabaya ke Klaten dengan KA Sancaka pagi saya mengobrol-ngobrol dengan Bapak sebelah tempat duduk saya. Kami mengobrolkan berita di koran. Sekarang pembunuhan, kejahatan ada dimana-mana. Bila kita rajin membaca koran, mendengar radio, TV, kita akan mendapat banyak informasi mengenai banyak hal yang terjadi dalam jagat raya ini.

Genaplah firman Tuhan supaya waspada terhadap segala sesuatu. Kata “waspada” dalam bahasa Yunani adalah “blepete” yang artinya “lihatlah, perhatikanlah, perdulikanlah.”

Firman Tuhan mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak selalu nyaman, indah, dan tenteram, tetapi juga terdapat penderitaan, penganiayaan, penghambatan, dan penyiksaan. Dunia akan mengalami pelbagai pergolakan yang membawa manusia ke dalam kesukaran hidup.
Kegentingan dunia hari-hari ini terjadi karena manusia lebih mementingkan persoalan pribadi daripada menemukan kehendak Bapa. Tanda bahaya sudah ditiup tetapi banyak orang tidak mendengar isyarat ini.

Waspadalah, jika penganiayaan itu terjadi kita tidak perlu khawatir karena Allah akan mengaruniakan Roh-Nya untuk menguatkan kita. Siapa yang waspada dan berjaga-jaga dan yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.

ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!