Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya.
Renungan Minggu, 4 Januari 2009
Yesaya 60:1-6 Mazmur 72:1-7 Efesus 3:1-12 Matius 2:1-12
Apakah Saudara mempunyai perasaan seperti saya, bahwa pengalaman rohani dari umat Tuhan zaman dulu , dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah merupakan pengalaman kita juga? Setidaknya, ada kemiripannya. Saya kira hal ini sangat penting, sebab sekiranya kita tidak berada di dalam pengalaman dan kehidupan mereka, sekiranya kita tidak bisa menyatu dengan mereka sebagai keluarga besar umat Tuhan, maka pemberitaan firman Tuhan dalam Alkitab hanyalah merupakan pemaparan sejarah semata, dan maksud serta harapan Tuhan dengan demikian tidak tercapai! Sekarang mari kita cermati Firman Tuhan yang sudah kita baca tadi, yang menyangkut anugerah Tuhan.
Pertama: Anugerah Tuhan Untuk Menjadi Terang. Yesaya 60 yang kita baca tadi melukiskan keadaan umat Tuhan sesudah pulang dari Pembuangan Babil. Ke depan mereka pasti mengharapkan banyak hal, tapi harapan mereka sebagai umat Tuhan haruslah bisa selaras dengan harapan Tuhan atas mereka.Yang seperti ini penting untuk kita Saudara, sebab memasuki Tahun Baru biasanya kita mempunyai sekeranjang harapan, dan semua itu langsung saja kita pohonkan perwujudannya kepada Tuhan. Seolah kita tidak mau menyediakan ruang dan kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan harapanNya atas kita. Karena Tuhan adalah sumber terang dan Ia adalah Terang yang kekal, maka di sini kita melihat betapa Tuhan menghendaki agar umatNya juga menjadi terang. Dan untuk itu harus ada kebangkitan, kesadaran dan upaya. Maka firman Tuhan: Bangkitlah! Saudara, ini memang perintah, namun mengandung anugerah.UmatNya, termasuk kita semua disuruh bangkit, disuruh menjadi terang, berarti diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi kepanjangan tangan bagi berkat yang akan dipancarkan Tuhan ke seluruh dunia. Ingatlah sabda Tuhan Yesus di Matius 5:14 “Kamu adalah terang dunia”.Bukankah ini merupakan anugerah yang sangat berarti dari Tuhan, jika kita di jadikan terang dan dapat menerangi kehidupan banyak orang serta mendatangkan kehangatan, penyuluhan dan suksacita. Kalau begitu anugerah Tuhan telah memunculkan kebahagiaan.Tapi apakah itu “kebahagiaan”? Aristoteles Filsuf Yunani yang hidup 300M berujar:”Kebahagiaan adakah penggunaan semua kemungkinan dalam diri seseorang untuk kebahagiaan orang lain.” Saudara, sesungguhnya kita mempunyai banyak kemampuan dan kesempatan yang belum kita kembangkan bagi kebahagiaan orang-orang di sekitar kita.Biasanya hal itu disebabkan karena kita terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Ada cerita tentang orang kaya yang menerima telpun dari Pak Camat, mengharap bantuannya karena di wilayah itu ada kebakaran. Si kaya tidak mau turun tangan sebab ia sibuk mengawasi tukang-tukang yang sedang memugar gedungnya. Sesudah pekerjaan di rumahnya rampung, barulah ia keluar untuk melihat keadaan. Ia sangat terkejut sebab melihat kenyataan bahwa semua penduduk desanya sudah pergi mengungsi ke lain daerah.Dengan demikian tinggal dia seorang yang masih tertinggal dengan gedung megahnya. Tiba-tiba dia merasa seperti sedang dikucilkan dan dihukum oleh masyarakat!
Ke dua: Anugerah Tuhan Melalui Kehadiran Anak Raja. Apa yang kita jumpai dalam Mazmur 72 tadi Saudara? Harapan umat Tuhan kepada raja dan kepada anak raja, atau raja yang baru sebagai penggantinya. Untuk raja yang baru, di harapakan agar memerintah dengan adil.Di sini muncul harapan lahirnya “Raja Adil”.Bicara tentang “Raja Adil” saya lalu ingat sebuah cerita tentang seorang raja Persia pada zaman dulu. Seorang raja yang suka berincognito atau menyamar menjadi rakyat biasa dan bergaul dengan lapisan masyarakat yang paling bawah, agar dapat memerintah dengan adil .Suatu ketika raja Persia yang satu ini tinggal bersama keluarga miskin di sebuah gudang kosong di bawah tanah.Karena sudah terjalin hubungan yang akrab maka ia tidak bisa menyembunyikan lagi identitasnya, ia berterus terang mengenai jati dirinya dan mempersilahkan kepala keluarga miskin itu untuk mengajukan permohonan yang pasti akan dipenuhinya. Yang menarik dari kisah ini adalah ketika kepala keluarga yang miskin itu tidak mau memohon apa pun juga.Ia hanya menyampaikan kekaguman serta keharuan hatinya, demikian:”Baginda telah rela meninggalkan istana untuk tinggal di tempat kumuh ini.Sudi makan seadanya bersama kami sekeluarga.Baginda telah membawa kegembiraan besar bagi kami.Baginda telah memberikan diri Anda dan semua ini sudah lebih dari cukup, bahkan merupakan anugerah bagi kami semua!” Saudara, di sini kita bisa belajar tentang anugerah, yaitu tatkala harkat kita sebagai manusia dihargai oleh sesama dan penguasa hidup kita! Raja adil yang didambakam dalam Mazmur 72 tadi jika benar-benar muncul maka merupakan anugerah besar bagi seluruh rakyat.Jika raja memerintah dengan adil, memberantas penindasan, orang miskin diperhatikan nasibnya, tentu dengan sendirinya muncul kemakmuran . Juga dikatakan damai sejahtera akan berlimpah!Apa yang diungkap di sini, termasuk cerita tentang raja Persia tadi sepertinya mengajak kita untuk memperhatikan Yesus Kristus, raja di atas segala raja itu. Semua hal yang baik dan yang terbaik yang dimiliki oleh seorang raja, ada pada Yesus Kristus. Kehadiran Yesus Kristus dalam hidup kita merupakan anugerah yang sangat besar yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu di sepanjang hayat!
Ke tiga: Anugerah Tuhan Berupa Jalan Masuk Bagi Siapa Saja. Dalam Efesus 3 yang kita baca tadi ditekankan sebagai kejutan besar bahwa Tuhan sudah membuka lebar- lebar jalan untuk memasuki keselamatanNya, tanpa memandang yang hina maupun yang non Yahudi. Dalam Alkitab kita dapat melihat keberpihakan Tuhan kepada mereka yang diremehkan oleh sesamanya. Dimulai dengan Habil, Yusuf, Daud, para nelayan, janda miskin, anak-anak kecil, orang-orang kusta , Bartimeus dan seterusnya. Tapi jika Tuhan kemudian juga berpihak kepada Saulus atau Paulus, maka itu adalah suatu anugerah yang luar biasa. Paulus yang sepantasnya ditolak, malah diberi jalan masuk. Paulus yang seharusnya dihukum berat karena menjadi “penganiaya Kristus” malah dijadikan teman sekerja Allah yang dipercayai untuk menyebarkan injil Kerajaan Allah. Akal sehat kita tak mampu memahami rencana dan cara kerja Tuhan. Emosi kita cepat membutakan mata untuk melihat betapa konsekuen Tuhan terhadap pelajaranNya, bahwa kita harus bisa mendoakan dan mengasihi musuh. Tahulah kita sekarang mengapa Tuhan merangkul Paulus yang merasa paling hina itu, karena mempunyai rencana besar melalui hambaNya ini untuk dapat merangkul sebanyak mungkin orang yang merasa tidak layak, termasuk mereka yang non Yahudi.Hidup dekat dengan Tuhan membuat kita sadar bahwa kita semua sedang tinggal bersama di dalam sebuah rumah besar yang bernama dunia. Dalam Rumah Dunia yang dianugerahkan Tuhan ini semua bangsa dipanggil untuk hidup damai sejahtera dalam Yesus Kristus.Itulah tujuan akhir Tuhan di dunia ini, supaya dapat dilanjutkan di Rumah Tuhan yang mulia di surga! Jadi pada dasarnya kerinduan hati Tuhan adalah agar semua manusia di dunia beroleh selamat dan hidup kekal (Yohanes 3:l6}.
Ke empat: Anugerah Bagi Yang Mencari. Pencarian orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, sungguh sangat menarik. Kisah itu sudah kita kenal semenjak kita masih kecil. Sekarang kita mau memahaminya sebagai sebuah kisah yang menyentuh hati dan menggugah semangat. Pencarian mereka bertolak dari keyakinan hati yang sangat mendalam dan mantap. Pencarian mereka disertai kesedian besar untuk menghadapi segala bentuk tantangan dan resiko.Tapi pencarian mereka juga merupakan anugerah dari Tuhan sebab ada pendampingan dan pengarahan Tuhan, terutama sekali juga ada hasil besar yang mereka raih, yaitu perjumpaan mereka dengan Bayi Yesus yang kelahiranNya dihiasi dengan bintang-bintang di agkasa! Pelajaran apa yang dapat kita tangkap dari pencarian orang-orang majus ini? Pertama: Niat baik harus ditopang dengan usaha dan cara yang baik pula. Ke dua: Selalu akan ada campurtangan Tuhan untuk setiap kegiatan manusia jika dapat menunjang rencanaNya. Ke tiga: Yesus hadir bagi yang miskin atau kaya, yang buta huruf maupun yang cendekiawan, yang dekat atau jauh, yang menarik diri maupun lebih-lebih yang sedang mencari Dia.
Apakah Saudara pernah mendengar bahwa dalam perjalanan orang-orang majus itu, mereka sempat bertemu seseorang yang sangat tertarik untuk bergabung dengan mereka. Rombongan orang majus juga tidak berkeberatan bahkan dengan tulus mengajak orang itu untuk bersama-sama mencari dan menyembah anak raja yang baru lahir itu., namun pada saat terakhir ia membatalkan niatnya! Cerita tambahan seperti ini tentu saja tidak tertulis dalam Alkitab, tapi rasanya cocok juga untuk mengingatkan banyak orang yang masih ragu-ragu menemui dan menyembah Yesus.Bahkan cocok juga untuk mendorong kita yang sudah beriman kepada Yesus Kristus, namun sangat minim dalam kiprah pelayanan sampai akhirnya kontribusi kita dalam pengembangan Kerajaan Allah juga tidak seberapa.
0