Cita-cita
Bacaan:
Lukas 2: 22-35
SETIAP orang tua tentu mempunyai cita-cita. Orang tua merasa akan puas hidupnya apabila bisa melihat anaknya di wisuda Sarjana, syukur-syukur Doktor. Ada orang yang merasa puas apabila telah menikahkan anaknya yang bungsu. Kalau yang bungsu sudah menikah, nah rasanya hidup sudah penuh, Syukur-syukur orang tua itu masih boleh menimang cucu yang lucu-lucu.
Pada Injil hari ini, kita memperoleh teladan orang tua yang hebat, yaitu Simeon. Simeon itu orang suci, orang benar, dan saleh. Hidupnya hanya dibaktikan bagi satu cita-cita, yaitu boleh melihat sang Penebus, sang Penyelamat umat manusia. Ia memohon kepada Tuhan agar sebelum matanya tertutup selama-lamanya ia diperkenankan melihat Mesias.
Dan, Allah mengabulkan doa Simeon. Setelah ia melihat Yesus, bahkan menatang-Nya, ia berani berkata: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera!”
Dengan kata lain, Simeon sudah puas, cita-citanya telah terpenuhi karena telah menyaksikan kehadiran sang Penebus umat manusia.
Apa yang paling membuat Anda merasa puas dalam hidup? Apa sebenarnya kerinduan Anda? Apa cita-cita Anda? Kalau cita-cita dan kerinduan itu hanya seputar keberhasilan dan prestasi keluarga atau anak, jabatan, posisi dalam masyarakat, maka kita ini belum sungguh sesuai dengan sabda Tuhan. Marilah kita meneladani Simeon yang meletakkan kepuasan, kerinduan, dan kepenuhan hidup kepada kedatangan Kristus sendiri dalam hidup kita, baik hari ini, besok, maupun saat kematian kita nanti.
MANAKAH KERINDUAN HIDUP KITA YANG SESUNGGUHNYA?












