Keluarga
Bacaan:
Lukas 2: 22.39-40
DI ZAMAN modern ini, di kota-kota besar, muncul kelompok-kelompok yang menggunakan istilah “keluarga”. Misalnya, Ikatan Keluarga Trah Ponco Wiryodinoto (berdasarkan keturunan); Ikatan Keluarga Sumatera Utara (berdasar etnis dan asal usul); Ikatan Keluarga alumni SMA Negeri 109 (berdasar tempat pendidikan); Ikatan Keluarga Bank “X”(berdasar bidang dan tempat kerja). Di tengah gejala hidup individualisme, masyarakat perkotaan ternyata membutuhkan suasana pemersatu yang memberi tempat untuk berkomunitas. Kata “keluarga” diperluas dari ikatan darah/keturunan menjadi ikatan yang membentuk persaudaraan layaknya satu keluarga.
Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan dan merupakan satu keluarga. Dari segi iman kita percaya bahwa Allah adalah Pencipta segala bangsa. Allah menjadi Bapa semua orang. Secara lebih jelas tegas Yesus mengajarkan doa yang dimulai dengan kata-kata: “Bapa kami yang ada di surga”. Melalui penjelmaan-Nya, Yesus hadir di tengah-tengah keluarga bangsa manusia.
Maria dan Yusuf menjadi ibu dan bapa Yesus. Keluarga kudus Nazaret ini menunjukkan hubungan kekeluargaan yang tidak hanya berdimensi kemanusiaan, tetapi juga berdimensi ilahi. Yesus menegaskan siapa saja yang menjadi anggota keluarga-Nya, “ Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, adalah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”(Matius 12:50). Inilah makna keluarga dari sudut pandang iman.
SEMOGA PESTA KELUARGA KUDUS SEMAKIN MEMPERERAT
KEKELUARGAAN KITA












