PRIORITAS TERTINGGI
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 25 Januari 2009
Epifani III
Yunus 3:1-5,10 Mazmur 62:6-13 I Korintus 7:29-31 Markus 1:14-20
Dalam hidup ini sudah acapkali kita dibikin kecewa oleh alat yang macet; sepeda motor, mobil, pesawat telpon, komputer, sampai spidol! Semua ada di depan mata, bahkan ada dalam tangan kita, tapi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mereka sedikit pun tidak peduli kepada kita yang sedang kecewa berat dan mendongkol. Maklumlah mereka itu hanya mesin, benda mati, dan rongsokan! Bagaimana kalau yang tidak mau menjalankan tugas itu adalah manusia? Dan secara terang-terangan berani menolak perintah Tuhan?
Firman Tuhan hari ini menyebut-nyebut nama seorang nabi Tuhan yang terkenal, yaitu nabi Yunus. Ada dua hal yang membuat dia menjadi terkenal, yaitu karena melarikan diri dari hadapan Tuhan ketika mendapat perintah ke Niniwe, dan yang kedua karena dia pernah berada dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam. Yunus diperintahkan oleh Tuhan untuk menegur dan menyuruh penduduk Niniwe agar bertobat, berarti perintah yang tidak berlebihan sebab sesuai dengan profesinya sebagai seorang nabi. Melaksanakan perintah Tuhan dan mendukung rencanaNya yang mulia sesungguhnya merupakan prioritas tertinggi bagi manusia, terlebih bagi seorang nabi seperti Yunus itu. Tapi mengapa Yunus sampai menolak perintah Tuhan? Sebab dia tidak rela jika bangsa Asyur itu meninggalkan kejahatannya dan bertobat, sebaiknya dihukum saja oleh Tuhan. Jadi Yunus merasa lebih bijaksana dari pada Tuhan! Saudara, jika seorang hamba sudah berani menolak perintah tuannya, dan merasa melebihi tuannya, apakah ia masih patut dipertahankan? Reaksi Tuhan atas pembangkangan Yunus mungkin membuat Yunus menjadi semakin terkenal, sebab Tuhan tidak membiarkan ikan besar itu memangsanya tapi menyuruh agar memuntahkan Yunus ke darat dalam keadaan selamat, kemudian untuk ke dua kalinya Tuhan memerintahkan Yunus pergi ke Niniwe! Saudara, apa yang dapat kita pelajari di sini? Pertama, Tuhan sangat memahami hambaNya, karena Ia adalah Bapa yang maha pemaham. Ia mengerti sedalam-dalamnya pikiran dan perasaan Yunus yang amat sulit menerima keputusan Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri mengatakan bahwa penduduk Niniwe kejahatannya sudah sampai ke Tuhan?(1:2). Berarti sudah sangat adil jika mereka dibinasakan saja seperti penduduk Sodom dan Gomora.Tapi mengapa Tuhan begitu lunak hati, malah membuka kesempatan bagi keselamatan dan kebahagiaan bangsa yang sudah bejad itu? Setelah mendapat perintah yang ke dua tentunya Yunus semakin mengenal “ keanehan Tuhan”, dan Tuhan sendiri tentunya menyadari bahwa rencanaNya menyelamatkan penduduk Niniwe itu memang sulit diterima oleh siap pun juga. Saudara, jangan kita merasa lebih baik dari penduduk Niniwe, katakanlah bahwa juga tidak masuk akal jika Kristus Yesus sampai dihadirkan bagi keselamatan dan kebahagiaan kita! Kedua, Tuhan sangat menekuni rencanaNya. Maka Ia berfirman untuk kedua kalinya agar Yunus berangkat ke Niniwe. Di fatsal 4 kita juga melihat betapa Tuhan begitu telatennya menyadarkan Yunus mengenai kasihNya kepada semua bangsa, sehingga mereka perlu diselamatkan. Tuhan berdaulat atas segala bangsa di dunia, dan kedaulatanNya bukan untuk menguasai tapi mengasihi. Maka sejak zaman dulu sudah menyuruh hambanya memberitakan firman, dan dalam Yesus Kristus kita akan menerima kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi Tuhan sampai ke ujung bumi.(Kisah Rasul 1:8). Waktu itu Yunus selaku nabi dan hamba Tuhan harus memprioritaskan tugas pewarta dengan pemahaman yang benar, kerelaan dan sukacita.Ketiga, Pemberitaan Firman Tuhan (Injil) selalu penuh tantangan tapi juga pendampingan Tuhan. Gejolak di hati mempertimbangkan perintah Tuhan , merupakan tantangan awal yang kadang paling berat. Menghadapi rasa malas (Yunus yang harus berkeliling di kota Niniwe yang besar,Yunus 1:2), rasa takut sebab resiko yang tidak kecil (Syukur bahwa raja Asyur mau terima peringatan Yunus dan ikut bertobat, bagaimana jika marah dan membantai Yunus), Rasul Paulus dijebloskan dalam penjara,Yunus dalam perut ikan. Tapi selalu akan ada pendampingan Tuhan, yang semakin mengakrabkan hubungan kita dengan Tuhan yang setiawan itu.
Sangat menarik bahwa injil Markus mencatat Tuhan Yesus mengawali pemberitaan Injil Allah segera sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap oleh raja Herodes, karena menyampaikan kebenaran Tuhan dalam bentuk teguran yang keras atas kejahatan yang dilakukan raja itu. Yesus Kristus siap melanjutkan bahkan meningkatkan perjuangan Yohanes Pembaptis. Ia tidak gentar walau juga bakal di hadang segala resiko sebagai pewarta dan utusan BapaNya. Yesus Kristus bahkan dengan semangat yang tinggi menyingsingkan lengan baju mengumpulkan orang-orang sederhana untuk menjadi para rasul, murid-murid yang dipersiapkan sebagai saksi mata dalam kerajaanNya. Sebenarnya Tuhan Yesus bisa mencari dari kalangan atas atau terpelajar, tapi di sini kita membaca perhatianNya justeru kepada para nelayan. Mungkin karena orang-orang ini sudah biasa dengan pekerjaan penangkapan (ikan), maka akan lebih cocok untuk ke depannya, melakukan penangkapan jiwa manusia ke dalam jala kasih Kristus. Kemungkinan lain, justeru kesederhanaan mereka diperlukan oleh Tuhan Yesus untuk mencelikkan mata dunia bahwa dalam Kerajaan Allah kita jangan mengandalkan kemampuan manusia.Di kemudian hari ketika para rasul memiliki berbagai kemampuan, menyembuhkan orang sakit mengusir setan dan berkhotbah, maka orang-orang dunia akan tercengang serta menengok siapa yang berada di belakang mereka itu! Tuhan Yesus memilih orang-orang sederhana sebagai murid-muridNya, karena Tuhan Yesus sendiri juga tampil sebagai sosok orang biasa dan mengetahui bahwa dalam dunia ini sangat banyak orang sederhana yang hidup menderita. Pemikiran Yesus memang berbeda dengan pemikiran orang-orang dunia.Sekarang ada baiknya jika kita sejenak mencermati perbedaan diantara Yesus dan Yunus. Untuk memberitakan firman tiap-tiap kali Yunus perlu diperintahkan lagi oleh Allah, tapi Yesus Kristus satu kali diutus oleh Bapa selanjutnya Ia proaktip melangkah ke segala arah. Yunus ke Niniwe, Yesus ke semua kota dan secara roh ke seluruh dunia sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20). Yunus tiga hari tiga malam dalam perut ikan, Yesus Kristus dalam rahim bumi (Matius 12:40). Yunus dimuntahkan untuk memenuhi perintah yang kedua dari Allah, Yesus Kristus dibangkitkan untuk memberitakan kemenanganNya. Yunus memprioritaskan kepentingan dan pendapatnya sendiri, Yesus Kristus memprioritaskan rencana dan pekerjaan BapaNya di atas segala-galanya.
Lalu apa yang kita baca di I Korintus 7 tadi? Anjuran Rasul Paulus kelihatan sangat aneh: Yang beristeri harus berlaku seolah tidak beristeri, yang menangis seolah tidak menangis, yang bergembira seolah tidak bergembira, yang membeli seolah tidak memiliki apa yang dibeli. Paulus mengatakan bahwa waktu kita singkat, hanya sisa sedikit. Dunia yang kita kenal ini akan berlalu. Inilah teologia bergegas, para gembala segera pergi ke kandang seperti anjuran para malaekat, sampai mereka meninggalkan domba-dombanya. Orang Majus mencari Anak Raja yang lahir itu, sementara bintang besar masih bersinar di angkasa. Simon dan Andreas, Yokobus dan Yohanes dengan segera menyambut panggilan Tuhan Yesus, tanpa memikirkan jala bahkan ayahnya! (Markus 1:20). Harta dan keluarga, pekerjaan , hobi dan apa pun milik kita tidak boleh menjadi perintang atau berhala yang menghalangi ibadah serta pelayanan kita. Sebaliknya dari itu harus dapat menjadi penopang dan pendorong bagi pelayanan kita. Kita berada dalam kurun waktu yang terbatas, segalanya sedapat mungkin diminimalis, kita harus pandai memprioritaskan segala sesuatu, tapi prioritas tertinggi adalah kerajaan Allah. Segala yang berhubungan dengan Kerajaan Allah, termasuk pemberitaan Injil Kerajaan Allah harus didahulukan dan diutamakan, sebab maha penting. Dengarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus di I Korintus 9:16 “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” Mari kita berkata dalam hati kita masing-masing demikian:” Demi mengasihi Allah aku bersedia memberitakan InjilNya. Tetapi juga, demi mengasihi sesama manusia, agar mareka selamat dan bahagia maka aku akan terus memberitakan Injil.”
Akhirnya Saudara, dalam Mazmur 62 kita diingatkan bahwa hanya dekat Allah saja kita merasa tenang. Mengapa demikian? Sebab hanya dalam Allah ada keselamatan, yaitu keselamatan seutuhnya, keselamatan dalam Yesus Kristus. Mari kita pertahankan sampai akhir hayat, dan mari kita beritakan sebagai Injil sukacita kepada sesama yang kita jumpai di sepanjang jalan hidup kita. Ketahuilah, semakin banyak kita wartakan, semakin banyak yang diselamatkan, dan akan semakin bersukacitalah kita!
You must be logged in to post a comment.
Khotbah yang bagus