Umat kristiani di Indonesia menandai awal penghayatan masa pra paskah dengan mengadakan ibadah Rabu Abu, 25 Februari. Di GKI Klaten, ibadah dilayani oleh Bono Wiratmo, dosen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) dan dihadiri sekitar 250 jemaat.
Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 1 Maret 2009
Minggu Pra-Paska I
Kejadian 9:8-17 Mazmur 25:1-10 I Petrus 3:18-22 Markus l:9-15
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mengumpulkan semua orang pandai dalam kerajaannya. Setiap orang diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya tentang: “Siapakah yang paling kuat dalam dunia ini?” Kemudian berturut muncul pendapat sebagai berikut: Raja adalah yang paling kuat, sebab semua orang tunduk kepadanya. Pendapat ke dua: Wanita cantik yang paling kuat, sebab banyak raja yang bertekuk lutut kepadanya. Selanjutnya: Anggur yang paling kuat, sebab dapat membikin mabuk siapa saja termasuk raja maupun wanita cantik, dan siapa yang mabuk menjadi bodoh dan lemah.Tapi pendapat keempat adalah yang memuaskan hati baginda Raja, yaitu: Kebenaran yang paling kuat dalam dunia ini, sebab dari waktu ke waktu selalu tegak berdiri, tak ada yang dapat mengalahkan. Walau diserang dengan gencar namun sang kebenaran akan tetap jaya, bahkan semakin berkibar! Saudara, kita sangat mengamini ketika Tuhan Yesus bersabda: ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”.
Saudara, andai waktu itu Nuh tidak mau berjalan di dalam kebenaran Tuhan, maka planet dunia ini akan menjadi kosong sebab semua makhluknya dimusnakan oleh Tuhan. Setidaknya tak akan ada lagi umat manusia yang hidup di muka bumi. Nuh memang tidak berbuat jasa apapun di depan Tuhan yang menyebabkan Tuhan berhutang kepadanya, tapi sekiranya dia juga menjadi sama dengan masyarakat saat itu, berarti semua manusia pasti ditumpas oleh Tuhan dengan air bah sebagai hukumanNya. Moral manusia pada zaman itu sudah bobrok, sampai dikatakan bahwa segala kecenderungan hati mereka hanya mau melakukan kejahatan semata. Itu semua memilukan hati Tuhan, sampai Tuhan menyesal telah menjadikan manusia dan berniat menghapuskan mereka dari muka bumi. Itulah yang dapat kita baca dalam Kejadian pasal 6.
Maka kita boleh merasa lega dan bersyukur jika oleh kemurahan Tuhan yang besar umat manusia masih diberi kesempatan hidup, bahkan beroleh perlindungan dari TanganNya yang kokoh dalam bentuk sebuah perjanjian yang didirikan untuk kita! Jelasnya, dalam Kejadian 9:8 dan seterusnya kita melihat betapa Tuhan telah mengadakan perjanjian dengan Nuh dan dengan keturunannya, termasuk kita semua tentunya, bahkan lebih luas lagi dengan segala makhluk hidup! Perjanjian Tuhan ini sesungguhnya sangat hebat. Mengapa hebat? 1. Jika Tuhan yang berinisiatif dan pro aktif mengadakan perjanjian dengan manusia, berarti Tuhan sedang mengalah dan bersedia merugi sebab hanya pihakNya yang berjanji. Bagi manusia merupakan anugerah semata. 2. Karena perjanjianNya itu mempunyai bobot sebagai sumpah, berarti pasti akan dipenuhi oleh Tuhan yang tidak pernah ingkar janji. Dengan demikian Tuhan telah mempertaruhkan Nama dan kehormatanNya yang besar itu. 3. Di sini Tuhan berjanji kepada semua pihak, termasuk keturunan manusia yang akan datang, dengan konsekuensi bahwa mereka itu bisa saja lebih jahat dari zaman Nuh, sehingga akan lebih memilukan hati Tuhan, tetapi Tuhan sudah terikat dan tidak bisa membatalkan perjanjian yang diadakanNya.(“….. turun-temurun, untuk selama-lamanya”, Kej. 9:12). 4. Untuk meneguhkan janjiNya Tuhan telah menampilkan busur di awan, yaitu pelangi supaya menjadi saksi dan tanda yang tidak dapat dihapus sebab merupakan bagian dari alam . Jika Tuhan sudah menyediakan busur perdamaian, maka dengan kejamnya manusia telah menyalah gunakan kebaikan hati Tuhan untuk meluncurkan “anak panahnya” ke arah Tuhan! Tahukah Saudara, siapa yang suka mencederai Tuhan? Bukan hanya orang-orang dunia saja, tetapi yang paling menyakitkan adalah ketika orang beriman juga memusuhi Tuhan, atau melakukan kejahatan yang bisa melebihi orang dunia. Pasti mereka sedang tidak berjalan di dalam kebenaran Tuhan!
Pertanyaan kita sekarang, mengapa perjanjian Tuhan itu hanya mengenai banjir total ? Kita dapat menjawab demikian: Karena baru saja Tuhan menyaksikan dahsyatnya banjir total yang mampu memusnakan segala kehidupan di bumi ini. Andai bencana yang dihadirkan Tuhan saat itu adalah kebakaran total, tetap saja Tuhan akan mendirikan perjanjianNya, tapi tentu bukan pelangi yang dijadikan peneguhnya. Yang penting di sini adalah kengerian hati Tuhan atas kematian. Sebab Tuhan sang sumber hidup itu, pada dasarnya sangat mencintai kehidupan. Makanya Tuhan Yesus menangisi Lazarus yang mati. Yesus Kristus di taman Getsemani takut dan gentar ketika menghadapi mautNya, sebagai hukuman seluruh umat manusia berdosa. Juga Bapa begitu terdorong mengutus PuteraNya, sebab tidak tahan membayangkan umat manusia yang dikasihiNya itu binasa karena dosa-dosanya.

Saudara, apa yang kita lihat dalam bacaan Markus 1:9-15 tadi? Kita melihat Tuhan Yesus sedang meniti jalan kebenaranNya. Mengawali perjalanan panjangNya dengan segala kerendahan hati, kemuliaan, penuh keberanian serta bersemangat! Ya, Ia sedang merendah minta dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Ia mau menyatu dengan orang-orang berdosa dalam baptisan pertobatan, meskipun Dia tidak punya dosa dan tak perlu bertobat. Dia mempunyai alasan tersendiri, yaitu menggenapkan seluruh kehendak Allah (Matius 3:15). Agaknya baptisan Yesus menjadi semacam perletakan batu pertama untuk memulai sebuah bangunan yang besar, sebab mulai saat itu Ia melangkah ke dalam tugas suciNya sebagai Sang Juru Selamat manusia, inilah jalan kebenaran bagi Yesus. Ketika langit terkoyak dan Roh Kudus turun atasNya, dilanjutkan dengan terdengarnya suara Bapa dari sorga semua itu seolah sapaan “Selamat Berjuang” yang tentu mempunyai makna illahi yang tiada taranya! Sebuah pengalaman yang begitu kontras segera di hadapi, ketika Tuhan Yesus harus berhadapan dengan iblis di padang gurun.Gambaran penderitaan dalam seluruh tugas besarNya terpapar ketika Yesus menanggung kelaparan, kehausan, serangan iblis serta berada di antara binatang-binatang liar selama empat puluh hari di padang gurun. Di luar padang gurun Tuhan Yesus juga bakal berhadapan dengan manusia yang seperti serigala dan keturunan ular beludak (Lukas 10:3: Matius 3:7), mereka itu bisa lebih berbahaya daripada binatang! Namun seperti di padang gurun berakhir dengan hadirnya para malaikat yang melayaniNya, begitu pula di sepanjang pelayananNya maka Tuhan Yesus juga selalu berada dalam bersekutuan yang kuat dengan BapaNya. Adalah sangat menarik bahwa Yesus yang menjadi pusat dari Injil Kerajaan Allah itu, ternyata Ia sendiri juga memberitakan Injil dengan semangat yang tinggi! (Markus 1:15). Mengenai pemberitaan Injil, baiklah kita menarik kesimpulan demikian: Pada zamannya, Nuh pasti sudah menghadapi orang-orang yang mengeraskan hati terhadap firman Tuhan. Begitu pula ketika Tuhan Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, tidak jarang Ia ditentang, ditolak bahkan diusir oleh orang-orang yang tidak mempercayaiNya atau musuh-musuhNya. Meskipun demikian dengan gigih Tuhan Yesus mengutamakan pemberitaan Injil. Ia menyiapkan murid-murid, rasul-rasul dan kita semua untuk tidak pernah absen dalam kegiatan yang satu ini. Agar dengan demikian semakin panjanglah barisan manusia yang berjalan di dalam kebenaran Tuhan dan beroleh hidup yang kekal.
Di dalam I Petrus 3 tadi kita dikuatkan oleh karya dan pengorbanan Kristus sesudah demikan memuncak, yaitu wafat dan dibangkitkan. Di sini kita melihat perjalanan Tuhan Yesus di dalam kebenaran, tanpa pernah bergeser sedikit pun. Pengalaman hidup Nya memang sangat pahit dan getir tetapi buahnya manis dan tentulah dapat membuat Tuhan Yesus bermegah dalam rohNya. Sangat menarik ketika dikatakan bahwa di dalam Roh Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang pada zaman Nuh tidak taat kepada Allah.(I Petrus 3:19,20). Saudara, kita mengakui bahwa ayat-ayat ini merupakan bagian yang sulit untuk kita pahami; tapi kita percaya bahwa bagi Tuhan Yesus dalam Roh dan keillahianNya tak ada yang mustahil untuk dilakukanNya. Kita masih ingat ketikaTuhan Yesus berkata kepada seorang pemuda dari Nain yang sudah meninggal dunia:”Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya (Lukas 7:14,15). Berarti Tuhan Yesus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang yang sudah mati! Sekarang baiklah kita garis bawahi saja dua pesan dari Firman Tuhan tadi, yaitu: Pertama, bahwa Tuhan Yesus begitu merasa lega, bersukacita, bahkan bermegah karena telah merampungkan tugasNya yang besar dan penting itu sebagai Juru selamat dunia, sampai dalam RohNya Ia memproklamasikan kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia. Bagaimana kejelasannya adalah merupakan rahasia illahi, kaliber illahi dan adalah urusan Tuhan, namun bagi kita yang terpenting adalah ini: Jika sehebat itu semangat Tuhan Yesus memberitakan Injil kemenanganNya, sampai mendatangi orang-orang yang sudah mati, maka marilah kita semakin bersungguh memberitakan Injil sukacita kepada yang lebih mudah kita jumpai, yaitu kerabat dan sesama kita yang masih hidup! Kedua, Jika nama Nuh masih disebut-sebut juga padahal hidupnya pada zaman dahulu kala, hal itu mau menegaskan kepada kita bahwa di hadapan Tuhan seluruh umat manusia merupakan kesatuan dan keluarga besar, bahkan kita juga boleh menyertakan seluruh ciptaan. Alangkah senang hati Tuhan jika semuanya mau berjalan di dalam kebenaran Tuhan!
Akhirnya, mari kita tengok Mazmur 25:8-10. Ayat-ayat ini membesarkan hati kita, mendorong, serta memberi informasi yang penting! Kepada yang sesat, Tuhan mau menunjukkan jalan.Melalui dan berada di dalam jalan itu kita beroleh kebenaran, sebab Yesus Kristus adalah sang jalan dan sang kebenaran yang memberi hidup kekal. Karena jalanNya itu tidak selalu mulus dan mudah, maka hendaklah dengan segala kerendahan hati kita bersedia dibimbing dan diajar oleh Tuhan. Kita patut bersyukur sebab di sepanjang jalan Tuhan, kita akan menikmati kasih, setia dan kebenaran Tuhan. Akhirnya, sebab kita akan terus berjalan bersama Tuhan di sepanjang hidup ini, maka berpeganglah selalu kepada janji-janji Tuhan serta peringatan-peringatanNya.
Oleh: Adi Netto Kristanto

“Mengapa kamu mau menjadi pendeta?” Itu adalah pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman yang penasaran akan jawaban saya. Tentunya untuk menjawab pertanyaan mereka bukan dengan jawaban yang singkat, bahkan sepertinya perlu dijawabnya dengan ditemani secangkir kopi dan pisang goreng hangat. Namun saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena saya bisa berbagi sedikit dari banyak pengalaman bersama Tuhan melalui situs GKI Klaten ini.
Panggilan itu mulai terdengar ketika saya mengikuti persekutuan pemuda GKI Klaten pada tahun 2002. Persekutuan pemuda pada waktu itu tidak banyak diikuti oleh pemuda GKI Klaten, dan karena inilah saya yang seorang remaja kelas 2 SMP memberanikan diri untuk turut hadir dalam persekutuan itu. Rasa rindu kepada Tuhanlah yang mendorong dan memberi keberanian kepada saya untuk masuk dalam persekutuan itu, meskipun waktu itu saya bukan jemaat GKI Klaten. Setiap kali diadakan persekutuan hanya sedikit orang yang hadir, 4-6 orang saja waktu itu.
Kebersamaan dalam memuji, menyembah dan merenungkan Firman Tuhan, membawa damai dan mengubah hidup saya menjadi lebih baik dan teratur. Maka dalam diri saya mulai muncul kerinduan untuk memperkenalkan Firman Tuhan kepada orang lain, yaitu teman-teman di sekolah. Kerinduan inilah yang kemudian membuatku rindu dalam pelayanan di Komisi Remaja dan selanjutnya Komisi Anak dengan menjadi guru sekolah minggu.
Pada waktu kelas 3 SMP ayah saya bertanya, “Besok kalau sudah kuliah kamu mau mengambil jurusan apa?”
Dengan memberanikan diri saya menjawab, “Saya ingin sekolah teologi.”
Mendengar hal itu ayah saya sangat marah dan berkata, “Teologi? Kalau kamu sekolah teologi kamu akan menjadi pendeta dan kalau kamu jadi pendeta kamu akan miskin, kamu mau kamu miskin?”
Saya hanya diam dan berkata,”Tuhan, aku mau jadi hambaMu.”
Di kemudian hari berikutnya pertanyaan itu kembali dilontarkan pada saya, dan saya menjawab dengan jawaban yang sama. Maka ayah saya kembali marah dan mengatakan kalau saya tidak tau apa-apa, dan dalam hati kembali saya katakan “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu.”
Kemudian saya berdoa, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” (Dan doa inilah yang nantinya akan membuka jalan saya untuk menuju sekolah theologi).
Di SMA saya aktif dalam persekutuan yang diadakan di sekolah. Pada waktu kelas 1 SMA saya sudah mulai membawakan Firman di persekutuan di sekolah dengan modal buku renungan dan pengalaman saat persekutuan di gereja. Melalui persekutuan di sekolah ini saya juga belajar berorganisasi, kerinduan untuk melayani Tuhan tersalurkan dengan baik. Saat kelas 3 SMA saya mulai pelayanan Firman ke sekolah-sekolah lain dari SMP hingga SMA dan terkadang juga diminta membawakan Firman di persekutuan pemuda-remaja di gereja lain.
Namun pengalaman pahit menimpa saat saya kelas 2 SMA. Saya membongkar kasus perselingkuhan ayah saya, dan akhirnya mulai muncul goncangan yang menimpa saya dan keluarga. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, mengapa Dia ijinkan masalah ini menimpa keluarga saya, bukankah saya sudah melayani Tuhan dan bahkan memberikan hidup saya untuk menjadi hamba. Beberapa hari saya hidup dengan protes tersebut dan akhirnya dalam kesempatan saat teduh saya, Tuhan mengingatkan doa saya saat kelas 3 SMP, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” Maka terbangunlah saya dari rasa protes tersebut dan menyadari bahwa masalah ini adalah resiko yang harus saya tanggung. Dengan tetap mengalami masalah dalam keluarga ini saya berusaha memisahkan dengan pelayanan dan terlebih menguatkan ibu saya.
Akibat dari perbuatan saya yang telah membongkar perselingkuhan ayah dan sikap saya yang tidak menyetujui perceraian yang diusulkan oleh ayah, maka saya semakin dibenci olehnya. Maka pada waktu saya harus menyerahkan foto kopi ijazah SMP untuk melengkapi syarat ujian nasional, saya kesulitan karana dokumen berharga saya seluruhnya disita ayah. Sudah tiga kali saya meminta, namun tidak diberikannya. Akhirnya ibu pergi ke SMP saya yang lama dan meminta foto kopi izasah di sana. Tidak hanya itu, ketika saya akan mendaftarkan diri untuk mengukuti tes calon pendeta di Sinode GKI Jateng dan membutuhkan surat sidi, saya harus meminta gereja membuat kopian surat sidi kembali.
Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa.
Akhirnya, saya lulus tes sinode dan harus registrasi di Universitas Kriten Duta Wacana, ada salah satu syarat registrasi yaitu akta kelahiran. Saya kembali kesulitan memintanya dari ayah saya. Akhirnya kita konsultasi ke kelurahan dan kami disarankan membuat akta kelahiran baru. Maka saya dan ibu pergi ke desa dimana saya dulu di lahirkan untuk meminta surat pengantar ke kantor kabupaten. Sekarang saya memiliki dua akta kelahiran, satu dibawa ayah dan satu dibawa ibu.
Karena ayah sudah tidak mau lagi membiayai keluarga, maka ibu yang mengambil alih semuanya, baik biaya sekolah tiga anaknya, kebutuhan hidup dan juga kewajiban pajak. Tekanan ekonomi sangat menghimpit kami. Doa dan pengharapan kami kepada Tuhan atas pertolongannya tidak lepas dari hati kami. Sampai pada akhirnya melalui Pdt. Phan Bien Ton, Tuhan memakai seorang donatur yang tidak mau disebutkan namanya menolong saya dalam memenuhi biaya hidup di asrama setiap bulannya, bahkan sampai dua tahun di asrama. Dan sampai kesaksian ini dibuat saya sedang menjajaki semester empat di Fakultas Theologi, Universitas Kristen Duta Wacana.
Tentu jika saya terus bercerita maka kesaksian ini akan begitu panjang dan bahkan bisa menjadi sebuah buku biografi. Namun yang dapat direfleksikan adalah bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi hambaNya, panggilan itu tidak muncul sekali atau pun dua kali, melainkan berulang-ulang sejalan dengan langkah hidup kita. Pangilan itu bagaikan rel kereta api yang selalu terpasang bersebelahan. Ada penyertaan dan kasih Tuhan di dalamnya. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan Ibu yang bijaksana bagi kita semua. Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa. Selamat menanggapi panggilanNya! Tuhan Yesus memberkati.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Roma 8:28)
Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 22 Februari 2009
Minggu Transfigurasi
II Raja-raja 2:1-12 Mazmur 50: 1-6 II Korintus 4:3-6 Markus 9:2-9
Pdt.Nehemiah Mimery di dalam bukunya, Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen, bercerita tentang satu jenis batu permata yang penampilannya sangat sederhana bahkan tidak menarik. Jauh berbeda dengan batu permata pada umumnya yang bercahaya indah. Tetapi begitu batu permata tersebut diambil dan ditaruh dalam genggaman tangan kita, berubahlah menjadi batu permata yang menawan hati, karena bersentuhan dengan tangan yang hangat.Batu permata yang bernama “Batu Opsaal” atau “Batu Sympathiek” itu menggambarkan keberadaan kita orang-orang beriman. Keadaan kita sebenarnya sama saja dengan keadaan orang-orang dunia, tapi karena kita berada dalam genggaman tangan Tuhan Yesus maka dapat mengalami peningkatan yang positip; hati kita akan bercahaya sampai bisa memancar keluar ke sekitar hidup kita!
Kehidupan kita selaku anak Tuhan mengalami pasang surut, juga dalam kehidupan bergereja, ibadah dan pelayanan kita. Mari kita coba menyelami apa yang dialami oleh Elia dan Elisa waktu itu. Keadaan Elia sangat lumayan karena dia tahu bahwa bakal diangkat oleh Tuhan ke sorga. Paling-paling hatinya berdebar-debar menghadapi saat akan diangkat oleh Tuhan itu. Penuh tanda tanya: Cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat? Kapan saatnya? Bagaimana rasanya? Berapa lama perjalanan ke sorga? Sesudah sampai di sana lalu bagaimana? Di samping itu jelas Elia juga menghadapi gangguan yang sangat merepotkan karena sikap Elisa yang kekanak-kanakan sebab tidak mau pisah dari dirinya. Semua ini tentulah memunculkan aneka perasaan dalam hati Elia. Tapi itulah manusia! Siapapun dia, selama sebagai manusia tak bisa lepas dari situasi hati seperti itu. Karena kemampuan kita memang serba terbatas. Elia tidak mampu mengetahui cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat dia ke sorga, juga tidak tahu cara terbaik untuk melayani dan menghadapi Elisa. Kita melihat betapa Elia itu sangat kebingungan karena pergi ke Betel, ke Yerikho dan ke sungai Yordan selalu saja diikuti oleh Elisa, padahal ia ingin pergi ke tempat-tempat itu tanpa diikuti oleh Elisa. Tentu akan lebih baik baginya jika sebelum naik ke sorga ia bisa mempersiapkan diri demi pemantapan dan hatinya bisa tenang, terang bercahaya.
Baiklah kita juga menyelami keadaan Elisa, pelayan Elia itu (I Raja-raja 19:21}. Agaknya hubungan mereka semakin hari semakin erat, meningkat menjadi hubungan guru dan murid, sampai seperti ayah dan anak. Hal itu kita ketahui berdasarkan permohonan Elisa agar diberi dua bagian dari roh Elia. Inilah ungkapan untuk anak sulung yang beroleh warisan dari ayahnya (Ulangan 21:17). Apa yang dikehendaki oleh Elisa ketika ia meminta warisan dari Elia? Pastilah bagian dari kenabian Elia, termasuk segala kemampuan yang dimiliki Elia. Sebab semua itu adalah karunia Tuhan maka Elia bilang sukar, lalu menyerahkan kepada Tuhan dengan cara: Bilamana Elisa nanti bisa melihat keberangkatan Elia berarti Tuhan setuju memenuhi permohonan itu. Saudara, sangat menarik untuk menyelami perasaan Elisa yang akan ditinggal pergi oleh Elia. Dalam peribahasa Perancis dikatakan bahwa perpisahan merupakan “sedikit kematian”. Artinya sudah jelas, berpisah dari orang yang kita cinta itu sungguh sangat berat dan mendatangkan rasa sedih, rasa kehilangan. Sejak batita kita sudah merasakan sedih dan girang silih berganti pada saat orang tua kita main “cilup-ba “ dengan kita. Pisah-jumpa, pisah- jumpa lagi !
Jika hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata, maka pada tempatnya jika Elisa itu merasa sangat berat berpisah dari Elia.Tapi bukankah itu berarti mengandung egoisme yang perlu ditindas? Jika Elisa sungguh-sungguh mengasihi Elia, bukankah seharusnya dia merasa bersyukur mengetahui Elia akan diangkat ke sorga? Tapi, bagaimana Elisa bisa bersyukur jika dialah yang bakal melanjutkan pelayanan sebagai nabi Tuhan? Apakah hatinya bisa bercahaya jika mengingat bahwa ke depan sudah menunggu tantangan yang tidak ringan? Jadi ada rasa takut, kuatir, sedih dan tentunya juga sedikit rasa syukur. Ketika para nabi memberitahu soal Elia yang akan naik ke sorga, maka Elisa menjawab dengan ketus:”Aku juga tahu, diamlah!” Jelaslah bahwa Elisa saat itu patut dikasihani. Maka kita merasa lega melihat campur tangan Tuhan dalam kegalauan Elisa.
Tuhan yang sudah mempunyai rencana atas Elia dan Elisa itu, tidak hanya menyaksikan kiprah mereka, tidak hanya mengikuti perjalanan mereka, tidak hanya memahami perasaan mereka, namun juga bersedia ikut campur tangan. Semua yang dilakukan oleh Tuhan bagaikan tanda tangan atau meterai sorgawi yang tak dapat ditiru oleh siapapun! Kereta dan kuda berapi yang memisahkan mereka berdua, badai besar yang mengangkat Elia ke sorga, kemudian juga kemampuan Elisa melakukan mujizat. Campur tangan Tuhan yang dahsyat ini seharusnya dapat mendatangkan kekaguman besar dan memberi kemantapan hati kepada Elia, Elisa dan … kita sekarang.

Sekarang kita akan menengok apa yang telah terjadi di sebuah gunung yang tinggi, ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sertaNya (Markus 9). Di dalam pelayanan agung Kristus, ternyata juga ada semacam pasang surutnya. Ada saat dimana Ia mengalami kemuliaan dan dimuliakan, tapi ada pula saat direndahkan, dihina bahkan dibunuh. Sebab itu barang siapa mau menjadi pengikut Tuhan juga harus siap sedia menghadapi pasang surut di sepanjang pelayanan, bahkan di sepanjang hidupnya. Namun yang dikehendaki Tuhan, dalam segala situasi, kita tetap mengutamakan persekutuan dengan Tuhan agar hati kita tetap dapat bercahaya. Kita membaca tadi bahwa di gunung yang tinggi itu Tuhan Yesus dimuliakan oleh BapaNya. WajahNya berubah, pakaianNya juga menjadi putih berkilat. Kemuliaan Tuhan Yesus berlanjut dengan munculnya dua tokoh dari zaman Perjanjian Lama, yaitu Elia dan Musa! Mereka bertiga lalu mengadakan pembicaraan yang tentu saja tidak diketahui isinya oleh para murid. Jadi Allah bisa menghadirkan dari sorga kereta dan kuda yang berapi, namun juga hamba-hambaNya yang setia. Ketika menyaksikan semua itu maka Petrus, yang biasanya mengatas- namai rekan-rekannya, mengungkap kebahagiaan hatinya serta kesediaan mereka mendirikan tiga kemah sebagai tempat tinggal Tuhan Yesus, Musa dan Elia.Ucapan Petrus jelas tidak masuk akal dan tidak berbobot karena mengingkari panggilan illahi untuk hidup melayani Tuhan dan dunia ini. Jika saat itu hati Petrus bercahaya, maka itulah terang atau cahaya yang palsu karena bertolak dari kebahagiaan yang tidak memikirkan orang-orang lain. Jiwa dari usulan Petrus mengandung bisa atau racun yang melumpuhkan semangat juang serta mematikan kreativitas. Di dalam dan bersama Tuhan Yesus kita harus selalu berada dalam perjalanan yang disebut “anti-mandeg”. Kadang sebagai pengikut Tuhan kita merasa sudah sampai di penghujung, lalu cenderung merasa puas, sudah terlalu tua,ingin berhenti dengan alasan mau memberi kesempatan kepada yang masih muda.Seolah sudah tidak berguna, tidak ada yang bisa dikerjakan . Lupa bahwa di dalam Kerajaan Tuhan orang yang paling kecil atau tua tetap dapat melayani sesuai dengan kemampuannya. Di dalam Tuhan yang maha agung tak mustahil kita akan mengalami suatu pembaruan! Pada dinding kamar saya ada tulisan sebagai berikut: In Life, What Sometimes Appears To Be The End Is Really A New Beginning (Dalam Hidup Ini Kadang Apa Yang Tampak Menjadi Akhir Justeru Merupakan Sebuah Awal Yang Sesungguhnya). Saudara, pada akhirnya dari dalam awan pun terdengarlah suara Allah yang penuh wibawa mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu berarti Allah Bapa sendiri yang sedang memuliakan Yesus, sebab semuanya ditujukan untuk Tuhan Yesus: Mengubah wajah dan pakaian, menghadirkan Elia dan Musa, serta pernyataan bahwa mengasihi Yesus Kristus. Lalu sebagai puncaknya Allah Bapa menyampaikan perintah agar umat manusia mau mendengarkan Yesus Kristus. Dengan demikian berarti Allah Bapa sedang memberitakan Injil kepada kita. Allah Bapa sedang memancarkan Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus seperti yang tertulis dalam II Korintus 4:4. Di sini Allah Bapa sedang memberi teladan bahwa Ia tidak sedang memberitakan diriNya sendiri, tetapi Kristus. Sungguh tepatlah jika dikemudian hari Rasul Paulus berkata seperti itu dalam II Korintus 4:5. Berbahagialah kita yang membuka diri terhadap Injil yang bercahaya itu, sebab ia memiliki daya untuk dapat membuat hati bercahaya terang sampai menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Mazmur 50:1 berbunyi: “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.” Kegiatan yang Mahakuasa Allah itu sampai sekarang masih terus berlangsung, memanggil bumi, atau manusia di seluruh bumi. Berbahagialah kita yang bersedia menjadi penyambung lidah Allah yang Mahakuasa memanggil dengan panggilan yang lebih jelas sebab mempergunakan Injil Yesus Kristus yang mempunyai daya yang kuat untuk menjadikan hati kita bercahaya!





















0