"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

AKU PERCAYA, ALLAH MENOLONG

Oleh : Pdt.Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 15 Februari 2009

Ephifani VI

II Raja-raja 5:1-14 Mazmur 30 I Korintus 9:24-27 Markus 1:40-45

Ada cerita tentang seorang Uskup yang menumpang kapal dan berlabuh di sebuah pulau terpencil. Di sana ia bertemu dengan tiga nelayan yang mengaku sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan sudah dibaptiskan, tapi belum mengenal doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus itu, Doa Bapa Kami.Doa mereka kepada Tuhan sangatlah sederhana, yaitu:”Kami bertiga, kami bertiga, kasihanilah kami.” Maka sebelum berpisah dengan mereka sang Uskup tergerak hatinya untuk mengajarkan Doa Bapa Kami sampai mereka bisa hafal. Beberapa bulan kemudian kapal Uskup kebetulan berlayar di sekitar pulau itu lagi. Ketika sedang berada di geladak bersama para awak kapal yang lain, tiba-tiba muncullah tiga nelayan kristen itu. Mereka mendengar bahwa Uskup berlayar di sekitar pulau mereka , maka mereka mencari ke tengah laut dengan cara berjalan kaki di atas permukaan air! Tujuannya hanya satu saja yaitu mohon supaya diajar ulang Doa Bapa Kami sebab ternyata hanya bisa ingat sebagian saja. Mendengar permohonan mereka serta melihat kenyataan bahwa mereka bisa berjalan di permukaan air seperti Tuhan Yesus, maka sang Uskup merasa rendah diri lalu menyuruh agar mereka pulang saja dan berdoa menurut kemampuan mereka. (Diangkat dari Burung Berkicau A.de Mello SJ). Cerita ini sangat bagus untuk menjelaskan kepada kita bahwa hidup beriman tidak harus ditandai dengan sejumlah kemampuan tertentu, sebab perkenan dari Tuhan mewujud dalam campur tanganNya yang akan memunculkan segala sesuatu yang luar biasa! Aku percaya, Allah menolong lalu merupakan realita yang di sepanjang hidup ini akan dapat kita alami.

Siapa menduga bahwa mujizat kesembuhan Naaman diawali dengan pemberitaan-iman, dari seorang gadis kecil, tawanan perang yang menjadi pelayan isteri Naaman. Mengapa majikannya bisa begitu tertarik sampai diteruskan kepada sang raja? Saya mempunyai tiga alasan, yaitu: 1.Karena di Israel, Tuhan sudah banyak membuat mujizat sehingga pasti sudah didengar pula oleh bangsa-bangsa lain, termasuk bangsa Aram. 2. Pastilah pelayan kecil ini dalam hidup sehari-harinya menunjukkan sikap jujur dan beriman kepada Tuhan, sehingga perkataannya pantas dipercaya oleh tuannya. 3. Tuhan mempunyai rencana yang indah, sehingga mau campur tangan dan menolong Naaman.Naaman

Aku percaya, Allah menolong adalah merupakan urutan yang tidak boleh dibalik menjadi: Allah menolong, aku percaya.Jika urutan dibalik demikian maka lalu menjadi hal yang biasa dan bahkan murahan. Percaya dulu baru akan ada pertolongan Tuhan! Bagi para pemula, kita dapat membayangkan bahwa percayanya pasti masih sangat sederhana atau kurang lengkap. Itu sama saja dengan orang tua yang menghadapi anaknya yang masih batita. Walau ungkapannya hanya sepotong-potong bahkan banyak salah ucap, tetap saja menyukakan hati dan diupayakan untuk bisa dipenuhi. Itulah kita, manusia! Terlebih lagi Tuhan yang maha pemaham dan bijaksana serta pemurah.Saudara, sebenarnya percaya kita itu sangat tidak memadai untuk beroleh pertolongan Tuhan sebagai imbalannya. Percaya kita penuh cacad cela, tapi pertolongan Tuhan indah dan sempurna. Tuhan masih harus menyempurnakan iman kita sebelum Dia menghadirkan pertolonganNya. Kalau begitu sesungguhnya kita ditolong Tuhan bukan karena percaya kita yang hebat, melainkan hanya karena anugerah Tuhan semata!

Dari kisah Naaman apa saja yang dapat kita pelajari?

1.Tuhan memunculkan kepercayaan di hati kita melalui apa yang kita dengar (Tentu saja melalui karya Roh Kudus}. Dalam Roma 10:14 tertulis: “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?” Kita lihat Saudara, betapa Isteri Naaman, Naaman sendiri, dan diharapkan juga raja Aram, mereka semua percaya sesudah mendengar berita. Atau dapat dikatakan demikian: Percaya berarti mau mendengarkan apa yang sedang Tuhan sampaikan. Dalam hal ini bisa melalui seorang nabi, hamba Tuhan yang lain, seorang pelayan sederhana, tapi yang sangat akurat tentunya berita Alkitab! Kakak kandung saya yang sudah menjadi warga negara Swedia, semula tidak percaya kepada Tuhan Yesus. Bersikap sinis terhadap segala kegiatan gerajawi yang dilakukan oleh isterinya. Suatu saat kakak saya itu sakit flu dan karenanya beristirahat di rumah. Dalam kejenuhannya, secara sambil lalu ia membuka Alkitab milik isterinya.Roh Kudus bekerja di hatinya, sehingga kakak saya semakin bersemangat membaca Alkitab, dan hari itu juga ia menerima Tuhan Yesus.Sejak itu ia menjadi pengikut Tuhan yang setia dan giat melayani pekerjaan Tuhan. Beberapa tahun yang lalu, ketika berkunjung ke Indonesia ia begitu antusias memberitakan Injil di mana-mana!

2.Percaya juga menyangkut apa yang kita lihat. Tertulis dalam Kitab Kejadian 15:5,6 ”Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”.Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Itu terjadi sesudah Tuhan memperlihatkan bintang-bintang di angkasa, maka Abram mempercayai janji Tuhan. Dalam diri Naaman terjadi kekecewaan yang besar karena dia tidak melihat yang memuaskan matanya. Ia berharap bisa melihat nabi Elisa yang mengerak-gerakkan tangan di atas penyakitnya, bukan tampilnya seorang pelayan yang menyuruhnya mandi di sungai yang tidak lebih baik dari sungai-sungai di negerinya sendiri. Tapi untung bagi Naaman sebab Tuhan bisa memahami latar belakang kehidupannya sebagai panglima perang yang sudah terbiasa diperlakukan sopan dan hormat oleh bawahannya.

3.Percaya berarti melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Hampir saja Naaman tidak sudi melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Untunglah ia mau merendahkan diri menuruti bujukan pegawai-pegawainya, dan merendahkan diri membenamkan tubuhnya tujuh kali ke dalam sungai Yordan.

4.Percaya meningkat dalam pengakuan dan ucapan syukur. Di ayat 15 Naaman berkata kepada Elisa:”Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini.” Elisa memilih untuk menolak hadiah itu agar Naaman sungguh-sungguh merasa telah menerima anugerah kesembuhan dari Tuhan, dan bukan “membelinya”.

5.Percaya juga berarti memutuskan hubungan dengan illah lain dan mempersilahkan Tuhan memasuki kehidupan kita. Di ayat 17 kita melihat tekad Naaman untuk membuang illah lain dan hanya akan menyembah Tuhan saja. Tetapi di ayat 18 Naaman minta ampun kepada Tuhan sebab selaku bawahan raja, nanti dia masih harus menghantar dan ikut sang raja, sujud menyembah dalam kuil Rimon. Bagaimana nasehat dan tanggapan nabi Elisa tentang ini? Ia hanya berkata: ”Pergilah dengan selamat!” Karena Elisa memahami betapa sulitnya posisi Naaman. Kerinduan hatinya pasti dilihat Tuhan, dan Tuhan siap menolong dia untuk mengatasi persoalannya sendiri. Saudara, dalam mendampingi orang yang baru saja bertobat kita sering bersikap terlalu keras dan tegas. Kita menuntut agar mereka memiliki sebuah bangunan hidup kristiani yang prima, padahal mereka itu bagaikan pohon kecil yang baru trubus. Biarkan saja mereka dengan ketidak sempurnaan serta ketimpangan iman mereka.Akan lebih baik jika secara “alami” akhirnya mereka sendiri yang memutuskan untuk ikut Tuhan secara utuh, yaitu sesudah semakin menikmati indahnya hidup dalam kasih Tuhan, dan sesudah iman menjadi dewasa.

Sekarang mari kita tengok orang kusta yang lain dalam Injil Markus tadi. Ia mendatangi Tuhan Yesus, ia berlutut di hadapan Tuhan Yesus, ia memohon bantuan Tuhan Yesus, dan sebagai orang yang pasrah ia mengungkap isi hatinya:”Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Ini yang namanya percaya! Ada pengenalan, siapa dan baimanakah Yesus itu (walau masih sangat terbatas), begitu melihat Yesus segera datang kepadaNya, bukan menunggu. Meskipun demikian dekat dengan Tuhan Yesus, tetapi dia tidak memaksa Tuhan Yesus menyembuhkannya, dia hanya berkata:”Kalau Engkau mau, ……” Walau orang kusta dilarang mendekati orang sehat, tetapi dia percaya bahwa tidak bakal diusir atau dijauhi oleh Yesus. Namun demikian pasti dia tidak menduga bahwa Tuhan Yesus mau mengulurkan tanganNya untuk menjamah dia! Sebab sebenarnya dari jarak jauh pun Tuhan Yesus berkuasa menyembuhkan ( Lukas 17:14 ). Ketika menangani si kusta itu, Tuhan Yesus bukan sedang mengeluarkan kekuatan magis tapi kehendak illahiNya! Menjamah orang kusta itu merupakan bagian dari satu paket pertolonganNya, yaitu -sesudah hatiNya tergerak oleh belas kasihan- Yesus juga memberikan kelemah- lembutan illahi, keakraban seorang sahabat, serta kebapaan yang penuh kasih sayang.

Hari itu dia mendapat pengalaman rohani yang luar biasa hebatnya, yaitu bahwa imannya yang sangat minim itu sudah beroleh tanggapan maksimal dari pihak Tuhan. Pertolongan Tuhan yang melampaui segala akal itu telah membuat dia tidak mampu menutup mulutnya, meskipun sudah dipesan dengan sangat oleh Tuhan Yesus agar jangan menyiarkan kesembuhannya . Dia tidak tahu bahwa tujuan utama kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukanlah menjadi tabib pandai atau ahli sulap, melainkan menjadi sang Juru Selamat yang rela mati bagi orang berdosa. Penyembuhan dan mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus hanya merupakan tanda-tanda dari KerajaanNya, serta bukti bahwa Dia berkuasa melakukan yang lebih besar dari semuanya itu.

Menyerahkan sedikit beroleh banyak! Aku percaya, Allah menolong Hal itu tidak boleh membuat kita menjadi anak Tuhan yang lemah, asal-asalan dan malas. Iman kita memang hanya sebesar biji sesawi, tetapi hidup, sehingga tidak mandeg tapi maju terus. Iman harus selalu dalam perjalanan, dalam proses sampai akhir hayat! Maka dalam I Korintus 9 tadi sebenarnya kita semua dihimbau untuk ikut ambil bagian dalam pertandingan iman. Pertandingan selalu butuh latihan, menaati petunjuk, tapi yang terpenting adalah sikap penuh kesungguhan. Tuhan selalu menghargai sikap penuh kesungguhan (Mat.25:23). Jika kita bersungguh-sungguh dalam iman, Tuhan juga bersungguh-sungguh dalam menolong kita, lalu mahkota abadi akan sungguh-sungguh menjadi milik kita.!

Dalam Mazmur 30 kita melihat kesungguhan Tuhan menolong orang beriman sehingga beroleh kesembuhan, terbebas dari dunia orang mati, serta menempatkan kita di atas gunung yang kokoh, yaitu hidup beriman teguh di tengah dunia ini. Maka kita diajak untuk menyanyikan mazmur bagi Tuhan, bersyukur serta memberitakan kesetiaanNya.


Tagged as:

You must be logged in to post a comment.