Mengikuti PanggilanNya

3

Posted on : 15-02-2009 | By : GKI | In : Kesaksian

Oleh: Adi Netto Kristanto

Image051

“Mengapa kamu mau menjadi pendeta?” Itu adalah pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman yang penasaran akan jawaban saya. Tentunya untuk menjawab pertanyaan mereka bukan dengan jawaban yang singkat, bahkan sepertinya perlu dijawabnya dengan ditemani secangkir kopi dan pisang goreng hangat. Namun saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena saya bisa berbagi sedikit dari banyak pengalaman bersama Tuhan melalui situs GKI Klaten ini.

Panggilan itu mulai terdengar ketika saya mengikuti persekutuan pemuda GKI Klaten pada tahun 2002. Persekutuan pemuda pada waktu itu tidak banyak diikuti oleh pemuda GKI Klaten, dan karena inilah saya yang seorang remaja kelas 2 SMP memberanikan diri untuk turut hadir dalam persekutuan itu. Rasa rindu kepada Tuhanlah yang mendorong dan memberi keberanian kepada saya untuk masuk dalam persekutuan itu, meskipun waktu itu saya bukan jemaat GKI Klaten. Setiap kali diadakan persekutuan hanya sedikit orang yang hadir, 4-6 orang saja waktu itu.

Kebersamaan dalam memuji, menyembah dan merenungkan Firman Tuhan, membawa damai dan mengubah hidup saya menjadi lebih baik dan teratur. Maka dalam diri saya mulai muncul kerinduan untuk memperkenalkan Firman Tuhan kepada orang lain, yaitu teman-teman di sekolah. Kerinduan inilah yang kemudian membuatku rindu dalam pelayanan di Komisi Remaja dan selanjutnya Komisi Anak dengan menjadi guru sekolah minggu.

Pada waktu kelas 3 SMP ayah saya bertanya, “Besok kalau sudah kuliah kamu mau mengambil jurusan apa?”

Dengan memberanikan diri saya menjawab, “Saya ingin sekolah teologi.”

Mendengar hal itu ayah saya sangat marah dan berkata, “Teologi? Kalau kamu sekolah teologi kamu akan menjadi pendeta dan kalau kamu jadi pendeta kamu akan miskin, kamu mau kamu miskin?”

Saya hanya diam dan berkata,”Tuhan, aku mau jadi hambaMu.”

Di kemudian hari berikutnya pertanyaan itu kembali dilontarkan pada saya, dan saya menjawab dengan jawaban yang sama. Maka ayah saya kembali marah dan mengatakan kalau saya tidak tau apa-apa, dan dalam hati kembali saya katakan “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu.”

Kemudian saya berdoa, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” (Dan doa inilah yang nantinya akan membuka jalan saya untuk menuju sekolah theologi).

Di SMA saya aktif dalam persekutuan yang diadakan di sekolah. Pada waktu kelas 1 SMA saya sudah mulai membawakan Firman di persekutuan di sekolah dengan modal buku renungan dan pengalaman saat persekutuan di gereja. Melalui persekutuan di sekolah ini saya juga belajar berorganisasi, kerinduan untuk melayani Tuhan tersalurkan dengan baik. Saat kelas 3 SMA saya mulai pelayanan Firman ke sekolah-sekolah lain dari SMP hingga SMA dan terkadang juga diminta membawakan Firman di persekutuan pemuda-remaja di gereja lain.

Namun pengalaman pahit menimpa saat saya kelas 2 SMA. Saya membongkar kasus perselingkuhan ayah saya, dan akhirnya mulai muncul goncangan yang menimpa saya dan keluarga. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, mengapa Dia ijinkan masalah ini menimpa keluarga saya, bukankah saya sudah melayani Tuhan dan bahkan memberikan hidup saya untuk menjadi hamba. Beberapa hari saya hidup dengan protes tersebut dan akhirnya dalam kesempatan saat teduh saya, Tuhan mengingatkan doa saya saat kelas 3 SMP, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” Maka terbangunlah saya dari rasa protes tersebut dan menyadari bahwa masalah ini adalah resiko yang harus saya tanggung. Dengan tetap mengalami masalah dalam keluarga ini saya berusaha memisahkan dengan pelayanan dan terlebih menguatkan ibu saya.

Akibat dari perbuatan saya yang telah membongkar perselingkuhan ayah dan sikap saya yang tidak menyetujui perceraian yang diusulkan oleh ayah, maka saya semakin dibenci olehnya. Maka pada waktu saya harus menyerahkan foto kopi ijazah SMP untuk melengkapi syarat ujian nasional, saya kesulitan karana dokumen berharga saya seluruhnya disita ayah. Sudah tiga kali saya meminta, namun tidak diberikannya. Akhirnya ibu pergi ke SMP saya yang lama dan meminta foto kopi izasah di sana. Tidak hanya itu, ketika saya akan mendaftarkan diri untuk mengukuti tes calon pendeta di Sinode GKI Jateng dan membutuhkan surat sidi, saya harus meminta gereja membuat kopian surat sidi kembali.

Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa.

Akhirnya, saya lulus tes sinode dan harus registrasi di Universitas Kriten Duta Wacana, ada salah satu syarat registrasi yaitu akta kelahiran. Saya kembali kesulitan memintanya dari ayah saya. Akhirnya kita konsultasi ke kelurahan dan kami disarankan membuat akta kelahiran baru. Maka saya dan ibu pergi ke desa dimana saya dulu di lahirkan untuk meminta surat pengantar ke kantor kabupaten. Sekarang saya memiliki dua akta kelahiran, satu dibawa ayah dan satu dibawa ibu.

Karena ayah sudah tidak mau lagi membiayai keluarga, maka ibu yang mengambil alih semuanya, baik biaya sekolah tiga anaknya, kebutuhan hidup dan juga kewajiban pajak. Tekanan ekonomi sangat menghimpit kami. Doa dan pengharapan kami kepada Tuhan atas pertolongannya tidak lepas dari hati kami. Sampai pada akhirnya melalui Pdt. Phan Bien Ton, Tuhan memakai seorang donatur yang tidak mau disebutkan namanya menolong saya dalam memenuhi biaya hidup di asrama setiap bulannya, bahkan sampai dua tahun di asrama. Dan sampai kesaksian ini dibuat saya sedang menjajaki semester empat di Fakultas Theologi, Universitas Kristen Duta Wacana.

Tentu jika saya terus bercerita maka kesaksian ini akan begitu panjang dan bahkan bisa menjadi sebuah buku biografi. Namun yang dapat direfleksikan adalah bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi hambaNya, panggilan itu tidak muncul sekali atau pun dua kali, melainkan berulang-ulang sejalan dengan langkah hidup kita. Pangilan itu bagaikan rel kereta api yang selalu terpasang bersebelahan. Ada penyertaan dan kasih Tuhan di dalamnya. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan Ibu yang bijaksana bagi kita semua. Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa. Selamat menanggapi panggilanNya! Tuhan Yesus memberkati.

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

(Roma 8:28)

Share this :

  • Stumble upon
  • twitter

Comments (3)

Dear Netto,
Tetap tegar, ya. Allah itu bukan Tuhan yang nggak bertanggungjawab. Kalau Dia sudah memanggilmu, maka Dia pula yang akan membuka jalan sehingga engkau akan digunakan Allah secara luarbiasa.
Salam dan doa dari Klaten

Kak Wawan

Apa yang kau alami tak jauh berbeda dengan yang ku alami…namun aku masih terlalu kecil pada waktu itu untuk dapat memahami problema orang dewasa. Banyaknya kesulitan yang kita hadapi menjadikan kita senantiasa berserah penuh akan hidup fana ini kepada Tuhan. Trust that “Tuhan lebih besar daripada masalah yang menimpa kita”..always. Keep on fire Bro,syukuri berkat Tuhan dng belajar lbh sungguh2…he..he..sok nasehati niiih!!!!

Hai kris,
saya ingin bertanya-tanya seputar masalah kuliah theologia.
begini…

saya umur 19 tahun (tahun ini 20),tahun ini saya lulus dari salah satu sma penabur di jakarta.

saya berencana ingin masuk kuliah theologia.
tetapi banyak sekali kendala kendala yang harus saya hadapi bukan hanya dari luar tapi terutama dari diri saya sendiri.

contohnya mungkin sebagian besar orang yang kuliah theologia memiliki alasan yang hampir sama, yaitu ingin melayani Tuhan. Tetapi saya ini sangat berbeda, alasan saya juga tidak jelas kenapa saya mau ambil kuliah theologia.

saya ingin mengenal Tuhan lebih dekat, tapi saya tidak pernah berpikir untuk menjadi pendeta.
saya hanya berpikir kalau bisa jadi pendeta ya oke, kalau tidak ya oke juga.

saat ditanya orang/teman teman saya.kenapa mau ambil theologia.saya juga tidak dapat menjawabnya karena saya juga tidak tahu.

sampai tes bakat juga sudah saya lakukan dengan bantuan pembina di greja saya. Dulu pertama kali yang terlintas dari pikiran saya,saya ingin ambil jurusan koki, lalu jurusan bisnis.
tapi itu semua tidak bertahan lama dan minat saya selalu berganti-ganti.

Sampai akhirnya jurusan theologia yang paling lama nyangkut jadi minat saya.
sampai sekarang saya ngga pernah terpikir untuk jurusan jurusan lain.

Sebenarnya saya sangat yakin dengan pilihan saya ini.
tapi orang orang dekat di sekitar saya tidak setuju karena saya belum mempunyai alasan yang jelas.

Lalu saya belum di baptis sidi. kalau ikut katekisasi waktu saya tidak akan cukup sampai saya selesai katekisasi.karena minat saya ini baru muncul sekitar 5 bulan lalu.

Bagaimana menurut anda? saya sangat mengharapkan masukannya.terimakasih..

Post a comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!