TERANG YANG BERCAHAYA DALAM HATI KITA
Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu 22 Februari 2009
Minggu Transfigurasi
II Raja-raja 2:1-12 Mazmur 50: 1-6 II Korintus 4:3-6 Markus 9:2-9
Pdt.Nehemiah Mimery di dalam bukunya, Lukisan Tentang Iman Dan Hidup Kristen, bercerita tentang satu jenis batu permata yang penampilannya sangat sederhana bahkan tidak menarik. Jauh berbeda dengan batu permata pada umumnya yang bercahaya indah. Tetapi begitu batu permata tersebut diambil dan ditaruh dalam genggaman tangan kita, berubahlah menjadi batu permata yang menawan hati, karena bersentuhan dengan tangan yang hangat.Batu permata yang bernama “Batu Opsaal” atau “Batu Sympathiek” itu menggambarkan keberadaan kita orang-orang beriman. Keadaan kita sebenarnya sama saja dengan keadaan orang-orang dunia, tapi karena kita berada dalam genggaman tangan Tuhan Yesus maka dapat mengalami peningkatan yang positip; hati kita akan bercahaya sampai bisa memancar keluar ke sekitar hidup kita!
Kehidupan kita selaku anak Tuhan mengalami pasang surut, juga dalam kehidupan bergereja, ibadah dan pelayanan kita. Mari kita coba menyelami apa yang dialami oleh Elia dan Elisa waktu itu. Keadaan Elia sangat lumayan karena dia tahu bahwa bakal diangkat oleh Tuhan ke sorga. Paling-paling hatinya berdebar-debar menghadapi saat akan diangkat oleh Tuhan itu. Penuh tanda tanya: Cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat? Kapan saatnya? Bagaimana rasanya? Berapa lama perjalanan ke sorga? Sesudah sampai di sana lalu bagaimana? Di samping itu jelas Elia juga menghadapi gangguan yang sangat merepotkan karena sikap Elisa yang kekanak-kanakan sebab tidak mau pisah dari dirinya. Semua ini tentulah memunculkan aneka perasaan dalam hati Elia. Tapi itulah manusia! Siapapun dia, selama sebagai manusia tak bisa lepas dari situasi hati seperti itu. Karena kemampuan kita memang serba terbatas. Elia tidak mampu mengetahui cara apa yang akan dipakai Tuhan untuk mengangkat dia ke sorga, juga tidak tahu cara terbaik untuk melayani dan menghadapi Elisa. Kita melihat betapa Elia itu sangat kebingungan karena pergi ke Betel, ke Yerikho dan ke sungai Yordan selalu saja diikuti oleh Elisa, padahal ia ingin pergi ke tempat-tempat itu tanpa diikuti oleh Elisa. Tentu akan lebih baik baginya jika sebelum naik ke sorga ia bisa mempersiapkan diri demi pemantapan dan hatinya bisa tenang, terang bercahaya.
Baiklah kita juga menyelami keadaan Elisa, pelayan Elia itu (I Raja-raja 19:21}. Agaknya hubungan mereka semakin hari semakin erat, meningkat menjadi hubungan guru dan murid, sampai seperti ayah dan anak. Hal itu kita ketahui berdasarkan permohonan Elisa agar diberi dua bagian dari roh Elia. Inilah ungkapan untuk anak sulung yang beroleh warisan dari ayahnya (Ulangan 21:17). Apa yang dikehendaki oleh Elisa ketika ia meminta warisan dari Elia? Pastilah bagian dari kenabian Elia, termasuk segala kemampuan yang dimiliki Elia. Sebab semua itu adalah karunia Tuhan maka Elia bilang sukar, lalu menyerahkan kepada Tuhan dengan cara: Bilamana Elisa nanti bisa melihat keberangkatan Elia berarti Tuhan setuju memenuhi permohonan itu. Saudara, sangat menarik untuk menyelami perasaan Elisa yang akan ditinggal pergi oleh Elia. Dalam peribahasa Perancis dikatakan bahwa perpisahan merupakan “sedikit kematian”. Artinya sudah jelas, berpisah dari orang yang kita cinta itu sungguh sangat berat dan mendatangkan rasa sedih, rasa kehilangan. Sejak batita kita sudah merasakan sedih dan girang silih berganti pada saat orang tua kita main “cilup-ba “ dengan kita. Pisah-jumpa, pisah- jumpa lagi !
Jika hanya berdasarkan perasaan atau emosi semata, maka pada tempatnya jika Elisa itu merasa sangat berat berpisah dari Elia.Tapi bukankah itu berarti mengandung egoisme yang perlu ditindas? Jika Elisa sungguh-sungguh mengasihi Elia, bukankah seharusnya dia merasa bersyukur mengetahui Elia akan diangkat ke sorga? Tapi, bagaimana Elisa bisa bersyukur jika dialah yang bakal melanjutkan pelayanan sebagai nabi Tuhan? Apakah hatinya bisa bercahaya jika mengingat bahwa ke depan sudah menunggu tantangan yang tidak ringan? Jadi ada rasa takut, kuatir, sedih dan tentunya juga sedikit rasa syukur. Ketika para nabi memberitahu soal Elia yang akan naik ke sorga, maka Elisa menjawab dengan ketus:”Aku juga tahu, diamlah!” Jelaslah bahwa Elisa saat itu patut dikasihani. Maka kita merasa lega melihat campur tangan Tuhan dalam kegalauan Elisa.
Tuhan yang sudah mempunyai rencana atas Elia dan Elisa itu, tidak hanya menyaksikan kiprah mereka, tidak hanya mengikuti perjalanan mereka, tidak hanya memahami perasaan mereka, namun juga bersedia ikut campur tangan. Semua yang dilakukan oleh Tuhan bagaikan tanda tangan atau meterai sorgawi yang tak dapat ditiru oleh siapapun! Kereta dan kuda berapi yang memisahkan mereka berdua, badai besar yang mengangkat Elia ke sorga, kemudian juga kemampuan Elisa melakukan mujizat. Campur tangan Tuhan yang dahsyat ini seharusnya dapat mendatangkan kekaguman besar dan memberi kemantapan hati kepada Elia, Elisa dan … kita sekarang.

Sekarang kita akan menengok apa yang telah terjadi di sebuah gunung yang tinggi, ketika Tuhan Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes sertaNya (Markus 9). Di dalam pelayanan agung Kristus, ternyata juga ada semacam pasang surutnya. Ada saat dimana Ia mengalami kemuliaan dan dimuliakan, tapi ada pula saat direndahkan, dihina bahkan dibunuh. Sebab itu barang siapa mau menjadi pengikut Tuhan juga harus siap sedia menghadapi pasang surut di sepanjang pelayanan, bahkan di sepanjang hidupnya. Namun yang dikehendaki Tuhan, dalam segala situasi, kita tetap mengutamakan persekutuan dengan Tuhan agar hati kita tetap dapat bercahaya. Kita membaca tadi bahwa di gunung yang tinggi itu Tuhan Yesus dimuliakan oleh BapaNya. WajahNya berubah, pakaianNya juga menjadi putih berkilat. Kemuliaan Tuhan Yesus berlanjut dengan munculnya dua tokoh dari zaman Perjanjian Lama, yaitu Elia dan Musa! Mereka bertiga lalu mengadakan pembicaraan yang tentu saja tidak diketahui isinya oleh para murid. Jadi Allah bisa menghadirkan dari sorga kereta dan kuda yang berapi, namun juga hamba-hambaNya yang setia. Ketika menyaksikan semua itu maka Petrus, yang biasanya mengatas- namai rekan-rekannya, mengungkap kebahagiaan hatinya serta kesediaan mereka mendirikan tiga kemah sebagai tempat tinggal Tuhan Yesus, Musa dan Elia.Ucapan Petrus jelas tidak masuk akal dan tidak berbobot karena mengingkari panggilan illahi untuk hidup melayani Tuhan dan dunia ini. Jika saat itu hati Petrus bercahaya, maka itulah terang atau cahaya yang palsu karena bertolak dari kebahagiaan yang tidak memikirkan orang-orang lain. Jiwa dari usulan Petrus mengandung bisa atau racun yang melumpuhkan semangat juang serta mematikan kreativitas. Di dalam dan bersama Tuhan Yesus kita harus selalu berada dalam perjalanan yang disebut “anti-mandeg”. Kadang sebagai pengikut Tuhan kita merasa sudah sampai di penghujung, lalu cenderung merasa puas, sudah terlalu tua,ingin berhenti dengan alasan mau memberi kesempatan kepada yang masih muda.Seolah sudah tidak berguna, tidak ada yang bisa dikerjakan . Lupa bahwa di dalam Kerajaan Tuhan orang yang paling kecil atau tua tetap dapat melayani sesuai dengan kemampuannya. Di dalam Tuhan yang maha agung tak mustahil kita akan mengalami suatu pembaruan! Pada dinding kamar saya ada tulisan sebagai berikut: In Life, What Sometimes Appears To Be The End Is Really A New Beginning (Dalam Hidup Ini Kadang Apa Yang Tampak Menjadi Akhir Justeru Merupakan Sebuah Awal Yang Sesungguhnya). Saudara, pada akhirnya dari dalam awan pun terdengarlah suara Allah yang penuh wibawa mengatakan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Itu berarti Allah Bapa sendiri yang sedang memuliakan Yesus, sebab semuanya ditujukan untuk Tuhan Yesus: Mengubah wajah dan pakaian, menghadirkan Elia dan Musa, serta pernyataan bahwa mengasihi Yesus Kristus. Lalu sebagai puncaknya Allah Bapa menyampaikan perintah agar umat manusia mau mendengarkan Yesus Kristus. Dengan demikian berarti Allah Bapa sedang memberitakan Injil kepada kita. Allah Bapa sedang memancarkan Cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus seperti yang tertulis dalam II Korintus 4:4. Di sini Allah Bapa sedang memberi teladan bahwa Ia tidak sedang memberitakan diriNya sendiri, tetapi Kristus. Sungguh tepatlah jika dikemudian hari Rasul Paulus berkata seperti itu dalam II Korintus 4:5. Berbahagialah kita yang membuka diri terhadap Injil yang bercahaya itu, sebab ia memiliki daya untuk dapat membuat hati bercahaya terang sampai menjadi berkat bagi banyak orang di sekitar kita. Mazmur 50:1 berbunyi: “Yang Mahakuasa, Tuhan Allah, berfirman dan memanggil bumi, dari terbitnya matahari sampai kepada terbenamnya.” Kegiatan yang Mahakuasa Allah itu sampai sekarang masih terus berlangsung, memanggil bumi, atau manusia di seluruh bumi. Berbahagialah kita yang bersedia menjadi penyambung lidah Allah yang Mahakuasa memanggil dengan panggilan yang lebih jelas sebab mempergunakan Injil Yesus Kristus yang mempunyai daya yang kuat untuk menjadikan hati kita bercahaya!
You must be logged in to post a comment.