Foto Jadul
Nomor Rekening




Bank NISP No. 122.810.006.777 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas diakonia]


Bank Permata No. 121.1.393.889 a/n Gereja Kristen Indonesia Klaten [untuk kas operasional gereja]

Ibadah Sabtu
DOWNLOAD
Download berbagai makalah pembinaan di GKI Klaten.
Download

ShoutMix chat widget
Tag Cloud
Kalender
April 2009
M T W T F S S
« Mar   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Archive for April, 2009

Pelatihan Sablon Komisi Dewasa

[youtube scjhvup9po0 nolink]

Untuk membekali anggota jemaat dengan ketrampilan praktis dan bernilai ekonomis, maka Komisi Dewasa GKI Klaten menggelar Pelatihan Ketrampilan Sablon pada 25-26 April 2009. Pelatihan yang mengambil tempat di ruang workshop SMP Kristen Klaten ini sekaligus dibimbing oleh pak Agus, yang juga guru SMP Kristen Klaten. Di hadapan 38 peserta, pak Agus menerangkan langkah-langkah pembuatan sablon mulai dari menunjukkan alat-alat sablon seperti screen, rakel dan meja sablon. Setelah itu, dia menunjukkan cara membuat klise positif pada screen. pada bagian akhir, peserta diajak langsung mempraktikkan ketrampilan sablon.

PIC_1545

PIC_1547

PIC_1554

PIC_1562

PIC_1580
PIC_1584

KASIH KRISTUS MELENYAPKAN KETAKUTAN

Kisah Para Rasul 8:26-40  Mazmur 22:25-31  I Yohanes 4:7-21  Yohanes 15:1-8

Seorang anak laki-laki yang sangat nakal, suatu hari oleh orang tuanya dimasukkan ke sebuah gudang gelap sebagai hukumannya, supaya menjadi  jera. Tapi tangisnya sangat memilukan hati, karena ketakutan berada dalam gudang besar yang gelap seorang diri. Ketika sang ayah akan segera mengakhiri hukumannya karena tidak sampai hati, hal itu tidak disetujui oleh isterinya yang lebih tegas dan tabah, “Supaya benar-benar jera, kita bertahan saja.” Tapi hati sang ayah merasa sangat tidak nyaman dan tidak tahan mendengar ratapan puteranya itu, lalu katanya:”Baiklah aku tidak akan membebaskan dia, aku hanya akan mendampingi saja!” Lalu pergilah dia ke gudang membawakan sedikit roti dan air minum. Begitu sang ayah masuk ke dalam gudang langsung dipeluk erat-erat oleh puteranya, dan tak ada tangisan lagi sebab rasa takutnya sudah hilang. Setelah makan roti dan minum air, ia pun tertidur di pangkuan ayahnya. Ke depan nanti diharapkan  anak ini bisa berkurang nakalnya, dan lebih memperhatikan nasehat orang tuanya.

Apakah Anda bisa membayangkan kebahagiaan anak itu ketika dijenguk, bahkan kemudian didampingi oleh ayahnya? Seketika segala ketakutannya sirna sebab kehadiran ayahnya mempunyai makna yang sangat besar, yaitu bahwa oleh ayahnya ia diperhatikan, dihargai, dikasihi! Kalau sudah begitu, tak ada lagi ketakutan terhadap apa dan siapapun.  Demikianlah  seharusnya kita selaku  anak Tuhan.  Setelah  menghayati betapa besar kasih Tuhan kepada kita, maka tak ada lagi rasa takut terhadap siapa dan apapun dalam hidup ini. Oleh Tuhan, karena Tuhan dan bersama Tuhan hidup kita dilambari atau didasari oleh sukacita yang meresap dan mantap! Tuhan lalu menjadi yang utama dalam segala aspek kehidupan kita. Sebagaimana Tuhan telah memperhatikan  kita dan telah menunjukkan kasihNya yang luar biasa, maka tiba giliran kita untuk berbuat yang sama terhadap Tuhan. Ketika merasakan kasihNya kita berbahagia,  ketika dapat melakukan yang dikehendaki olehNya, kebahagiaan kitapun berlipat ganda!

Dalam Kisah Para Rasul 8 tadi kita melihat kiprah salah seorang diaken yang dipilih para rasul, namanya Filipus. Kemungkinan besar dia bukan orang yang memiliki banyak harta benda, namun sudah pasti hidupnya sangat bahagia, sebab memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Melalui malaikatNya Tuhan menyapa dia, dan dengan segera ia menanggapinya. Malaikat Tuhan berkata:”Bangunlah dan berangkatlah ……. ” Kemungkinan saat itu Filipus sedang tidur atau beristirahat, langsung saja disuruh agar segera bangun dan berangkat. Jika ditunda atau berlambat-lambat pasti akan mubasir sebab kita  mengetahui keperluannya sangat mendesak, yaitu menjadi berkat bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan. Ini yang namanya kairos, sebuah kesempatan yang kadang “ditawarkan” Tuhan kepada kita, biasanya secara pribadi. Jika kita bimbang atau terlalu banyak pertimbangan, apalagi tidak berminat maka akan lenyap dari hadapan kita, untuk selamanya,  Mengingatkan kita kepada apa yang terjadi di kolam Betesda. “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.” (Yohanes 5:4). Ini yang namanya peluang emas. Bagi setiap anak Tuhan merupakan peluang emas jika kita dipanggil untuk melakukan pemberitaan Injil. Bagi Tuhan Yesus memberitakan Injil adalah merupakan rejekiNya. “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaanNya.” (Yohanes 4:14). Lain lagi dengan Rasul Paulus:  “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (I Korintus 9:16).

Sangat menarik bahwa Malaikat Tuhan memberi tahu agar Filipus pergi ke jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza, dan disebutkan bahwa jalan itu jalan yang sunyi. Maksudnya tentu dibutuhkan keberanian, sebab tentunya akan ada resiko keamanan, jika ditempuh seorang diri saja. Tapi Filipus tidak takut sebab yang mengutus dia adalah Tuhan, maka pasti akan disertai Tuhan. Apalagi kemudian ia mengetahui bahwa waktu itu ia sedang menempuh perjalanan-kasih, yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama yang membutuhkan keselamatan dari Kristus.

Jika tadi Filipus disuruh bangun dan berangkat oleh seorang malaikat Tuhan, maka sekarang ia disuruh oleh Roh Tuhan supaya mendekati kereta yang sedang ditumpangi seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu Etiopia. Filipus disuruh oleh Tuhan supaya mendekati sebuah kereta yang sedang berjalan, artinya ia harus bersedia berlari-lari. Di sini Filipus perlu menunjukkan kesungguhan hatinya. Melayani Tuhan memang harus disertai kesungguhan hati, dan dituntut untuk tidak takut menjadi lelah, karena kasih kepada Tuhan dan sesama. Nabi Yunus harus jalan keliling kota Niniwe yang sangat besar, para Rasul harus mendampingi Tuhan Yesus berjalan kaki dari desa ke desa, kota ke kota. Untuk memberitakan Injil kepada sida-sida itu Filipus perlu mengadakan yang sangat penting, yaitu: Pendekatan. Ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pemberitaan Injil. Kepada orang asing, apalagi jika berhadapan dengan orang yang berpangkat tinggi, biasanya kita merasa takut. Tapi di dalam kasih tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, itulah yang kita baca tadi di I Yohanes 4:18. Jika kita  sedang memberitakan Injil Tuhan, maka harus memahami bahwa dia atau mereka itulah yang sangat membutuhkan keselamatan dari Kristus. Karena aku mengasihi dia atau mereka, maka aku tidak boleh merasa takut dalam mengadakan pendekatan.Filipus tidak takut diremehkan atau dianggap angin lalu, tidak takut dipandang sebagai pengganggu, tidak takut diusir, ia bisa begitu PD karena kasih kepada sesama yang dijumpai  di perjalanan hidupnya.

Setelah berdekatan, maka Filipus mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya 53. Lalu Filipus bertanya:”Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Di sini ada upaya dari Filipus untuk mengadakan dialog dengan sida-sida itu. Karena Roh Tuhan berkarya maka terbukalah jalan masuk, diawali dengan keterbukaan dan kerendahan hati sida-sida itu mengakui bahwa ia tidak memahami apa yang dibacanya, serta meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Jika sudah begini,  berarti sida-sida itu sudah berada di ambang pintu keselamatan! Ketika mereka duduk berdampingan, maka tampak nyata bawa pemberita Injil duduk sama tinggi dengan penerima Injil. Di mata Tuhan kita sama saja, harus saling mengasihi, sebab lahir dari Allah dan mengenal Allah. (I Yohanes 4:8). Dengan saudara-saudari seiman yang baru belajar mengenal Tuhan kita tidak boleh mengadakan jarak, atau merasa lebih tinggi. Bukankah Tuhan Yesus bersabda:”Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Matius 19:30)

Dari membaca Firman Tuhan, mendapat penjelasan dari hamba Tuhan, dan tentu saja sebab hatinya digerakkan oleh Roh Kudus, maka sida-sida itupun percaya kepada Yesus Kristus dengan segenap hati, dan mengakuiNya sebagai Anak Allah. Bagi seorang dewasa yang terpelajar dan berpangkat tinggi, berarti sudah hidup mapan dan nyaman, jika sampai mengambil keputusan untuk menyembah Tuhan yang baru, maka hal itu merupakan kejutan besar!Tak mustahil bahwa sida-sida itu nanti bakal menghadapi berbagai tantangan sehubungan dengan “alih agama” yang dilakukannya, tapi dia tidak merasa takut sebab hatinya sudah masuk ke dalam jaring kasih Kristus! Mulai hari itu muncul sudah satu ranting baru di dalam pokok anggur yang benar! Baru saja trubus, tapi dapat dipastikan akan bertumbuh terus semakin kuat sebab sudah diawali oleh karya Tuhan yang dahsyat.

Pelajaran kateksasi yang diberikan oleh Filipus di atas kereta itu rupanya sudah sampai bab akhir, yaitu tentang sakramen baptis kudus. Yang sangat menarik adalah bahwa karya Tuhan dalam diri sida-sida itu sedemikian lengkapnya, sehingga hari itu juga dapat dilakukan baptisan atas permintaan sida-sida itu sendiri. Iman yang bakal menghadapi berbagai problim hidup itu, memang perlu diperkokoh dengan baptisan kudus.Sekarang resmi sudah sida-sida itu menjadi seorang anak Tuhan, baptis kudus diberikan Tuhan sebagai meterai sorgawi sesuai perintah Kristus untuk setiap pengikut sejati.

Tetapi mengapa tiba-tiba Roh Tuhan melarikan Filipus sehingga sida-sida itu tidak melihatnya lagi? 1.Karena pelayanan Filipus dilakukan dengan segala tulus hati, tidak menunggu ucapan atau ungkapan terimakasih dari penerimanya. 2.Karena kini sida-sida itu harus mandiri, cukup dengan penyertaan Roh Kudus. 3.Karena Filipus harus ke Asdod dan kota-kota lain sampai di Kaisarea. Filipus tidak boleh stop berbuah (ayat 2), juga asal berbuah (ayat 2), bahkan jangan hanya lebih banyak berbuah (ayat 2), tetapi diharapkan bisa berbuah banyak (ayat 8). KITA TIDAK BOLEH BERDIRI DALAM TERANG, TANPA MENGULURKAN TANGAN KEPADA MEREKA YANG BERDIRI DI DALAM KEGELAPAN. ( E. Nikrine ).

Khotbah ini kita tutup dengan Mazmur 22:28 “Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada Tuhan; dan segala kaum dari bangsa-bangsa  akan sujud menyembah di hadapanNya.” Itulah yang kita harapkan dan akan  terus kita upayakan dalam karya Tuhan yang sempurna, sampai akhir hayat kita melalui berbagai cara dan jalan, tanpa takut karena kasih!

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 10 Mei 2009

Minggu Paska V

MENGASIHI DENGAN RELA BERKORBAN

Kisah Para Rasul 4:5-12  Mazmur 23  I Yohnes3:16-24  Yohanes 10:11-18

Kezia duduk di kelas empat SD, setiap pergi sekolah tentu diantar oleh ibu yang sangat mengasihinya.Tapi Kezia sering lari meninggalkan  ibunya jika sudah sampai di dekat sekolah, oleh karena teman-teman Kezia senang mengejek dengan teriakan:” Pincang, belang!” Biasanya teriakan seperti itu diulang-ulang dan bahkan dengan nada tertentu. Itulah cemoohan anak-anak nakal yang ditujukan kepada ibunya Kezia yang kaki serta wajahnya  cacad. Hal itu membuat  Kezia merasa amat malu berjalan bersama  ibunya, bahkan nun di dasar hatinya ia merasa malu punya ibu yang berpenampilan seperti itu.

Anak-anak nakal itu sebetulnya sudah sering dimarahi oleh Bapak dan Ibu Guru, tapi mereka bandel masih sering menghina ibu Kezia yang cacad itu. Dalam  suatu upacara hari senin, Bu Guru diberi kesempatan oleh Kepala Sekolah  untuk menyampaikan sebuah cerita nyata yang terjadi sembilan tahun yang lampau. Bu Guru berkisah tentang  sebuah kebakaran,  yang terjadi di pemukiman yang padat penduduk. Waktu itu ada seorang bayi yang kamarnya sudah dikepung kobaran api.  Ketika sang ibu berniat akan menolong bayinya, segera  dicegah dengan sangat oleh orang banyak sebab kobaran api sudah sedemikian hebatnya. Namun  kasih ibu lebih hebat dari kobaran api! Maka tanpa menghiraukan keselamatan jiwanya, dengan membawa sebuah  handuk basah ia pun menerobos masuk  ke dalam rumah yang keadaannya sudah sangat gawat itu! Akibatnya wajah ibu itu cedera karena terbakar dan kakinya juga kejatuhan balok pintu yang membara,  tetapi bayinya yang dibungkus dengan handuk itu terlindung aman dalam pelukan ibu. Nama bayi itu adalah Kezia, dan ibunya Magdalena, atau biasa dipanggil “Bu Lena”. Penduduk kampung menaruh hormat dan mengagumi Bu Lena sebagai ibu teladan. “Hanya di sekolah ini saja ada anak-anak  yang suka mengejek ibu yang telah mengasihi dengan rela berkorban itu!” Mendengar kisah Bu Guru itu banyak anak yang meneteskan air mata haru dan tersipu malu, karena merasa bersalah. Sejak itu tak pernah lagi ada anak sekolah yang mengejek mereka berdua, dan Kezia juga  tidak malu lagi jalan bersama ibunya!  Saudara, mengingat Kristus yang telah rela berkorban bagi kita, timbul pertanyaan sekarang: Sebesar apakah rasa hormat, kagum dan kasih kita kepada Nya?  Hal itu  bergantung dari sejauh manakah pengenalan serta pemahaman kita atas pengorbanan Kristus, yang  sudah kita terima selama ini!

Dalam Kisah Para Rasul 4 tadi  kita melihat satu kenyataan yang sepintas tampak sangat janggal, yaitu:  hanya gara-gara seorang pengemis lumpuh yang disembuhkan, maka para tokoh  rohaniwan telah  berkumpul guna memeriksa sang penyembuhnya. Sebetulnya hal itu dapat kita mengerti , sebab satu mujizat besar baru saja terjadi atas si lumpuh yang sudah dikenal oleh seluruh penduduk yang religious itu. Cara menyembuhkannya pun sangatlah sederhana dan seketika,  padahal kelumpuhannya sudah sejak dari  lahir! Yang sedang diperiksa atau diadili memang Petrus dan Yohanes, tetapi sebetulnya Yesus Kristuslah yang sedang diserang dan dimusuhi. Sejak awal para pemimpin dan rohaniwan itu sudah  menduga  bahwa kesembuhan si lumpuh itu mesti ada kaitannya dengan Tuhan Yesus. Hal itu tampak dari  pertanyaan  tendensius yang ditujukan kepada Petrus dan Yohanes: “Dengan kuasa manakah dan dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?” Ada beberapa hal yang dapat membuat kita semakin mengenal tindakan Kristus:

Pertama, Dalam peristiwa ini kita melihat betapa Tuhan Yesus sangat mengasihi dan menghargai si pengemis yang lumpuh itu. Demi kesembuhan,  kebahagiaan dan masa depannya maka  Tuhan Yesus rela mendapat serangan;  NamaNya yang kudus diobok-obok dan kuasaNya dipersoalkan untuk dihina oleh orang-orang munafik itu. Pada waktu yang lalu pernah ada upaya orang yang  menghina dan merendahkan  kuasa Tuhan Yesus menjadi setara dengan  kuasa iblis ! Hal itu dapat kita baca di Injil Lukas 11:15 Tetapi ada diantara mereka yang berkata:” Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Sikap Yesus Kristus memang konsisten, dari dulu sampai selamanya Ia selalu rela mengorbankan hidup dan perasaanNya, demi keselamatan dan kebahagiaan manusia.                                                                                                                                                     Kedua, Selanjutnya kita melihat Kristus mengizinkan berlangsungnya proses pengusutan dan pemeriksaan, yang dilakukan oleh para petinggi  rohani supaya murid-muridNya bisa lulus dalam ujian berani bersaksi!  Di ayat 19 dan 20 tertulis: Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka:”Silahkan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah, taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah  kami lihat dan yang telah kami dengar.”

Ketiga, Sebagai domba Kristus kadang kita mendapat perlakuan yang tidak adil dari kelompok masyarakat  yang tidak menyukai kita. Pada saat itu nun  di dasar hati, kita merasa sangat kecewa mengapa Kristus tidak membela kita dan menghukum mereka, mengapa Kristus  rela dihina namaNya? Diserang TubuhNya, ajaranNya dan seterusnya. Kalau kita merasa  penasaran dan  tidak puas terhadap “ketegasan” Kristus , berarti kita masih harus banyak belajar mengasihi dan mendoakan musuh, bersabar, rendah hati dan mengetrapkan ajaranNya yang lain. Kedewasaan iman dan kematangan sebagai seorang pengikut Kristus akan bertumbuh justeru melalui kesulitan, tekanan dan serangan!

Keempat, Pada saat Kristus diserang dan rela berkorban justeru  sering  merupakan rahmad Allah bagi orang-orang berdosa atau  yang  memusuhi Nya untuk bertobat. Bukankah di sekitar salib Kristus yang kelabu itu ,  telah berhembus “angin yang sejuk”? Yang menyukakan hati, pertama-tama tentu saja  penjahat di samping Kristus yang  dibukai pintu firdaus,kemudian  kita juga membaca Matius 27:54 Kepala pasukan dan prajurit-prajurit yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata : “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Pertobatan yang terjadi selalu  merupakan keuntungan bagi Kerajaan Allah!  Sebab itu setelah  melancarkan  tegurannya yang keras, maka Petrus juga memunculkan sebuah pintu-masuk bagi para pendengarnya yang terhormat itu untuk bertobat! Perkataan Petrus menjadi  ayat  emas yang sangat terkenal di seluruh dunia: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada  nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat  diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).

Petrus yang penuh dengan Roh Kudus telah meluncurkan berlimpah Firman Allah, baik dalam bentuk teguran, pernyataan maupun kesaksian. Semuanya itu harus disadari oleh pendengarnya sebagai ungkapan kasih, sebab berpotensi untuk mengubah paradigma dan hati manusia yang bengkok menjadi lurus, tapi dapat pula  justeru semakin memanaskan hati atau mendatangkan  ketakutan! Hal itu bergantung dari pihak penerimanya. Bagi pihak Petrus dan Yohanes semua itu adalah merupakan ungkapan kasih kepada sesama yang harus mewujud dalam perbuatan dan kebenaran, I Yohanes 3:18.

Di  Yohanes 10, kita diperhadapkan kepada Sang  Gembala Agung Yesus Kristus yang mempunyai komitmen yang jelas dan pasti, untuk mengorbankan nyawa bagi kita yang diangkat menjadi  domba-dombaNya. Wacana dan janjiNya kemudian  menyatu dengan tindakan-tindakan besar, yang mendorong kita untuk meneladan dalam hidup sehari-hari.  Ketika Yesus Kristus mengenalkan diri sebagai Gembala yang baik,  sepintas Ia itu  seperti orang yang sombong , tetapi sebenarnya tidak begitu.  Keterusterangan Yesus merupakan keterbukaan hatiNya yang tulus.UngkapanNya  juga merupakan undangan yang  ditujukan kepada setiap orang yang sedang  kebingungan mencari andalan hidup, berarti sedang   sangat membutuhkan kehadiran Yesus Kristus.  Jadi keterbukaan  Kristus mengenai diriNya,  sudahlah merupakan anugerah awal di dalam hidup setiap manusia berdosa. Jika Yesus Kristus tidak berterus terang, maka semakin banyak orang yang akan salah pilih, datang kepada gembala upahan yang tak bertanggung jawab. Dengan rela dianggap sombong, Yesus mau menolong! Segera di ayat 19 dan 20 Ia sudah harus menuai banyak reaksi yang mengatakan bahwa Yesus itu kerasukan setan dan gila, justeru karena Yesus telah mengenalkan diriNya sebagai Gembala yang baik! Di ayat 33 Ia dilempari batu dan dikatakan menghujat Allah, justeru karena Ia telah  berterus terang mengenai betapa akrab  hubungan dengan BapaNya.Jika Kristus membuka diri maka akan menanggung resiko dianggap menghujat Allah, tapi jika Ia  menutup diri lalu apakah gunanya pihak Allah telah  berjerih menghadirkan Mesias ke dalam dunia ini? Tapi Kristus mengasihi dengan rela berkorban! Ah,  tema kotbah kita sangat menyentuh hati, bukan? Saudara,  kita melihat perbedaan yang sangat besar diantara orang  yang bersimpati kepada Kristus, dan yang membenciNya. Pada saat mendengar kata Yesus adalah gembala yang baik, orang yang bersimpati kepada Yesus akan   merasa sejuk hatinya, sedangkan mereka yang membenci Yesus akan  merasa muak. Konon mantan Presiden RI yang pertama, Bung Karno diundang menghadiri perayaan Natal di Jakarta dengan tema “Yesus Adalah Gembala Yang Baik”. Ketika diminta memberi sambutan, dengan suara lantang Bung Karno membaca tema tersebut, lalu berkata:”Itu salah!” Tentu saja membuat hadirin menjadi kebingungan, lalu katanya pula :” Yesus Adalah Gembala Yang Terbaik!” Semua merasa lega dan bertepuk tangan gembira!

Jika kita mengakui Yesus sebagai gembala yang baik, berarti kita sudah dipersatukan dengan umat Tuhan di Perjanjian Lama. Gambaran Yesus sebagai gembala yang baik sudah dimunculkan Allah  dalam Mazmur 23. Penggembalaan Yesus sudah mulai diungkap di sana. Apa yang direncanakan dan dilakukan Allah kepada kita, diwujud nyatakan oleh Yesus! Bahkan yang masih samar-samar dijelaskan, yang dalam bentuk lambang dinyatakan, dan yang merupakan tuntutan (yang berat, terberat dan mustahil bagi manusia) dipenuhi! Yaitu: Mengasihi musuh, melakukan sepuluh Hukum Tuhan dan menanggung murka  Allah yang kekal. Kristus yang mengasihi dengan rela berkorban, mampu mengubah kita menjadi manusia yang bermakna!

There is a great man who makes every man feel small. But the really great man is the man who makes every man feel great.  G.K.Chesterton

Oleh: Pdt. Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 3 Mei 2009

Minggu Paska IV


Ibadah Jumat Agung

Ibadah Jumat Agung di GKI Klaten diselenggarakan dua kali, yaitu pada pukul 7 pagi dan pukul 5 sore. Pada ibadah pagi yang dilayani oleh pdt. Pelangi Kurnia Putri, diputar cuplikan film penyaliban Yesus dan Tujuah Ucapan Yesus di kayu salib. Hal ini untuk mengiingatkan jemaat lagi atas bahan-bahan Pendalaman Alkitab yang sudah mereka bahas dalam menghayati masa-masa pra paskah.

Sedangkan pada sore hari, ibadah dilayani oleh pdt. Phan Bien Ton. Pada saat liturgi persembahan, jemaat tidak memberikan persembahan uang, tapi mempersembahkan hidupnya yang disimbolkan dengan penghormatan salib. Dengan didahului oleh pendeta, majelis, kemudian majelis jemaat masing-masing menempelkan tangan kanan pada salib yang diletakkan di depan mimbar. Sementara tangan yang kiri memegang dada. Dengan penuh khidmad, lebih dari 300 pengunjung mengikuti prosesi ini.

Photobucket

Ibadah sore dilayani pdt. Phan Bien Ton

Photobucket

Pnt. Yohanes Wahyudi memberikan penghormatan
Photobucket

Pnt. Agus Mulia dan Pnt Budi Hakim memberikan penghormatan salib
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Lari Telanjang

Melihat sekumpulan massa yang mendekat, anak muda ini menjadi panik. Dia melihat ada banyak orang yang bergegas datang sambil membawa pentungan dan senjata tajam. Mereka berjalan dengan wajah beringas. Sambil meneriakkan nama Tuhan, sekelompok orang yang berpakaian jubah dan dikawal tentara ini menerobos kegelapan malam.

Tujuan mereka adalah untuk menangkap sang Guru yang baru saja selesai berdoa. Anak muda ini merupakan salah satu pengikutnya. Gerombolan massa bersenjata itu dipimpin seseorang yang rupanya dikenal baik oleh sang Guru. Dia segera memeluk sang Guru, seraya mencium pipinya. Akan tetapi sesudah itu, massa yang lain segera menggelandang sang Guru dengan mudah. Tanpa perlawanan sedikit pun.

Massa bersenjata ini juga akan menangkap para pengikut sang Guru yang mereka anggap sesat. Melihat situasi ini, anak muda ini menjadi sangat ketakutan. Nalurinya mendorong untuk melarikan. Dia tidak mau mati konyol dan menjadi korban kekejaman massa bersenjata ini.

Malam itu dia hanya mengenakan kain lenan untuk menutup tubuhnya. Ketika beberapa orang mendekatinya dengan wajah murka, maka anak muda ini menanggalkan kain lenan itu dan lari menyelamatkan diri dengan tubuh telanjang!

***

Percaya atau tidak, kisah ini tertulis di dalam Bible. Kisah ini selalu terlewatkan ketika membaca kisah penangkapan Yesus, seperti yang dicatat oleh Markus. Perhatian saya justru tertuju pada perlawanan yang dilakukan oleh salah satu pengikut Yesus yang memotong telinga hamba Imam Besar sampai putus [pada Injil lain, hamba ini bernama Malkhus. Telinganya kemudian dipulihkan kembali oleh Yesus. Ini adalah mukjizat-Nya yang terakhir sebelum kematian-Nya di kayu salib].

Akan tetapi Markus menulis sebuah peristiwa konyol ini, yang tidak terdapat pada Injil-injil yang lain. Mengapa Markus menuliskan hal ini? Siapakah anak muda ini dalam Markus 14:51-52? Mengapa dia juga akan ditangkap?

Beberapa penafsir berpendapat bahwa anak muda ini adalah Lazarus, yang dibangkitkan oleh Yesus dari kematian. Karena mukjizat ini, maka banyak orang yang percaya kepada Yesus. Itu sebabnya, Lazarus menjadi target pembunuhan dari ulama-ulama Yahudi yang tidak menyukai Yesus Yoh. 12:10-11).

Rumah Lazarus di Betania tidak jauh layaknya dari Getsemani. Mungkin pada malam itu, dia terbangun oleh keributan yang sedang terjadi, lalu keluar dengan mengenakan sehelai selimut saja. Di sini timbul persoalan: Apakah orang Yahudi memiliki kebiasaan tidur sambil telanjang? Kata telanjang dalam bahasa Yunani adalah gymnos. Kata ini tidak selalu berarti telanjang bulat, tanpa sehelai benang pun. Kata ini juga dipakai untuk melukiskan orang yang hanya memakai pakaian dalam. Mungkin dapat dipahami begini: Ketika kita diajak untuk menghadiri acara resmi atau bepergian, kita akan minta permisi dulu untuk “berpakaian.” Apakah saat itu kita sedang telanjang? Tidak. Kita ingin mengenakan pakaian yang pantas.

Sementara Stefan Leks memberikan penafsiran yang berbeda: Orang muda dalam kisah ini tidak memakai jubah, tetapi hanya mengenakan baju dalam dari kain lenan. Artinya, ia seorang kaya! Ia tidak sempat berpakaian lengkap, sebab ia mau sesegera mungkin sampai ke Getsemani untuk menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh pasukan front pembela Bait Suci ini.

***

Interpretasi lain akan muncul jika kita membaca kitab Amos tentang hari penghakiman. Pada hari penghakiman itu, suasananya sangat mengerikan dan dahsyat sehingga “orang yang berhati berani di antara para pahlawan akan melarikan diri dengan telanjang pada hari itu,” demikianlah firman TUHAN” (Amos 2:16) Penangkapan Yesus adalah awal dari penghakiman yang dinubuatkan Amos.

Banyak orang yang berpendapat bahwa orang muda ini adalah Markus sendiri yang keluarganya memang tinggal di Yerusalem. Menurut tradisi, Yesus mengadakan perjamuan terakhir di rumah Markus. Kalau dugaan ini benar, maka Markus adalah saksi mata kejadian di Getsemani itu.

Usaha penangkapan dirinya diceritakan untuk satu tujuan saja. Ia ingin menegaskan bahwa semua orang yang mengikut Yesus akhirnya melarikan diri dan meninggalkan Yesus. Kata “Seorang muda” dalam bahasa Yunani adalah neaniskos. Kata ini digunakan untuk orang laki-laki yang berusia di antara dua puluh empat dan empat puluh tahun (Arndt, hlm. 536). Yang menarik adalah kata neaniskos juga digunakan untuk menggambarkan seorang muda lainnya, yang menurut Mrk. 16:55, “duduk di sebelah kanan” kubur Yesus yang sudah kosong. Ternyata “orang muda” itu adalah malaikat!

Apakah keduanya merupakan oknum yang sama? Tidak ada keterangan yang pasti. Bisa jadi, keduanya sama. Kedatangan “orang muda” ini di Getsemane adalah untuk menemani Yesus di dalam mengalami pergumulan. Kemungkinan lain, keduanya adalah oknum yang berbeda. Markus menggunakan terminology yang sama untuk membandingkan “pengkhianatan” sebelum penyaliban dan “pemuliaan” setelah kebangkitan, yang sama-sama dilakukan oleh orang muda.

Orang muda biasanya memiliki tubuh kuat, lincah, pemberani dan kadang-kadang nekat. Dalam dua ayat pendek ini kita mendapat pelajaran bahwa kuat dan berani pun tidak cukup untuk mengikut Yesus sampai pada saat penyaliban. Seperti yang dinubuatkan oleh Amos, para prajurit yang punya mental baja juga akan kehilangan nyali pada saat penghakiman tiba.

Hal ini mengingatkan kita supaya tidak menyombongkan kerohanian. Siapakah kita ini dibandingkan murid-murid Yesus. Selama tiga tahun lebih mereka telah dididik oleh Yesus dan menyaksikan sendiri mukjizat yang dilakukan oleh sang Mesias. Namun pada menjelang hari penyaliban tiba, mereka kabur terbirit-birit.

Jika kita masih beriman sampai sekarang ini, itu adalah kasih karunia Allah. Itu sebabnya, saya merasa heran mengetahui ada pendeta yang mengklaim memiliki roh kemartiran. Siapa yang dapat menjamin bahwa kita akan tetap setia pada Yesus jika diperhadapkan pada pilihan antara hidup dan mati? Siapa yang dapat memastikan bahwa kita tidak akan berlari dengan telanjang bulat, tanpa merasa malu, jika kita sudah dikepung oleh musuh-musuh yang ganas?

Menyambut Paskah ini, biarlah dengan kerendahan hati masing-masing berseru: “Kyrie, Kyrie Elesion . . . Tuhan kasihani, Kristus kasihanilah kami.”

Referensi:

Stefan Leks, Tafsir Injil Markus, Kanisius, 2002

Walter M. Pos, Tafsiran Injil Markus, Kalam Hidup, 1998

http://www.shroud.com/pdfs/n64part4.pdf

http://alkitab.sabda.org/

———————————————–

Saksikan Video Jalan Salib di sini:

Beoscope

Beoscope
Beoscope
Beoscope

Prosesi Jalan Salib:Prelude

Allah Bapa yang Mahabaik, kami bersyukur kepada-Mu, karena pada hari ini kami Kau kumpulkan. Lewat Jalan salib ini kami ingin mengenang kembali Yesus Kristus, yang menderita sengsara demi keselamatan kami.

Semoga Roh Kudus yang Kau curahkan ke dalam hati kami, membuat kami semakin menyadari betapa besar cinta-Mu kepada kami.

Maka lewat Jalan salib ini ajarilah kami, agar kami tidak takut mencintai Engkau dan sesama kami. Demi  Yesus Kristus Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dan persekutuan dengan Roh Kudus selalu mendampingi hidup kami, Allah sepanjang masa. Amin.

Rekaman Khotbah
Dengarkan rekaman khotbah dalam acara Bina Pasutri oleh Komisi Dewasa.
Follow Me
Aktivitas Gereja
KKR Barnabas Ong KKR Barnabas Ong Retret Pasutri Retret Pasutri Bakar, bakar, bakar!
Wise Words
sms inspiratif