KASIH KRISTUS MELENYAPKAN KETAKUTAN

0

Posted on : 27-04-2009 | By : GKI | In : Renungan

Kisah Para Rasul 8:26-40  Mazmur 22:25-31  I Yohanes 4:7-21  Yohanes 15:1-8

Seorang anak laki-laki yang sangat nakal, suatu hari oleh orang tuanya dimasukkan ke sebuah gudang gelap sebagai hukumannya, supaya menjadi  jera. Tapi tangisnya sangat memilukan hati, karena ketakutan berada dalam gudang besar yang gelap seorang diri. Ketika sang ayah akan segera mengakhiri hukumannya karena tidak sampai hati, hal itu tidak disetujui oleh isterinya yang lebih tegas dan tabah, “Supaya benar-benar jera, kita bertahan saja.” Tapi hati sang ayah merasa sangat tidak nyaman dan tidak tahan mendengar ratapan puteranya itu, lalu katanya:”Baiklah aku tidak akan membebaskan dia, aku hanya akan mendampingi saja!” Lalu pergilah dia ke gudang membawakan sedikit roti dan air minum. Begitu sang ayah masuk ke dalam gudang langsung dipeluk erat-erat oleh puteranya, dan tak ada tangisan lagi sebab rasa takutnya sudah hilang. Setelah makan roti dan minum air, ia pun tertidur di pangkuan ayahnya. Ke depan nanti diharapkan  anak ini bisa berkurang nakalnya, dan lebih memperhatikan nasehat orang tuanya.

Apakah Anda bisa membayangkan kebahagiaan anak itu ketika dijenguk, bahkan kemudian didampingi oleh ayahnya? Seketika segala ketakutannya sirna sebab kehadiran ayahnya mempunyai makna yang sangat besar, yaitu bahwa oleh ayahnya ia diperhatikan, dihargai, dikasihi! Kalau sudah begitu, tak ada lagi ketakutan terhadap apa dan siapapun.  Demikianlah  seharusnya kita selaku  anak Tuhan.  Setelah  menghayati betapa besar kasih Tuhan kepada kita, maka tak ada lagi rasa takut terhadap siapa dan apapun dalam hidup ini. Oleh Tuhan, karena Tuhan dan bersama Tuhan hidup kita dilambari atau didasari oleh sukacita yang meresap dan mantap! Tuhan lalu menjadi yang utama dalam segala aspek kehidupan kita. Sebagaimana Tuhan telah memperhatikan  kita dan telah menunjukkan kasihNya yang luar biasa, maka tiba giliran kita untuk berbuat yang sama terhadap Tuhan. Ketika merasakan kasihNya kita berbahagia,  ketika dapat melakukan yang dikehendaki olehNya, kebahagiaan kitapun berlipat ganda!

Dalam Kisah Para Rasul 8 tadi kita melihat kiprah salah seorang diaken yang dipilih para rasul, namanya Filipus. Kemungkinan besar dia bukan orang yang memiliki banyak harta benda, namun sudah pasti hidupnya sangat bahagia, sebab memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhan. Melalui malaikatNya Tuhan menyapa dia, dan dengan segera ia menanggapinya. Malaikat Tuhan berkata:”Bangunlah dan berangkatlah ……. ” Kemungkinan saat itu Filipus sedang tidur atau beristirahat, langsung saja disuruh agar segera bangun dan berangkat. Jika ditunda atau berlambat-lambat pasti akan mubasir sebab kita  mengetahui keperluannya sangat mendesak, yaitu menjadi berkat bagi seseorang yang sedang dalam perjalanan. Ini yang namanya kairos, sebuah kesempatan yang kadang “ditawarkan” Tuhan kepada kita, biasanya secara pribadi. Jika kita bimbang atau terlalu banyak pertimbangan, apalagi tidak berminat maka akan lenyap dari hadapan kita, untuk selamanya,  Mengingatkan kita kepada apa yang terjadi di kolam Betesda. “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.” (Yohanes 5:4). Ini yang namanya peluang emas. Bagi setiap anak Tuhan merupakan peluang emas jika kita dipanggil untuk melakukan pemberitaan Injil. Bagi Tuhan Yesus memberitakan Injil adalah merupakan rejekiNya. “MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus aku dan menyelesaikan pekerjaanNya.” (Yohanes 4:14). Lain lagi dengan Rasul Paulus:  “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (I Korintus 9:16).

Sangat menarik bahwa Malaikat Tuhan memberi tahu agar Filipus pergi ke jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza, dan disebutkan bahwa jalan itu jalan yang sunyi. Maksudnya tentu dibutuhkan keberanian, sebab tentunya akan ada resiko keamanan, jika ditempuh seorang diri saja. Tapi Filipus tidak takut sebab yang mengutus dia adalah Tuhan, maka pasti akan disertai Tuhan. Apalagi kemudian ia mengetahui bahwa waktu itu ia sedang menempuh perjalanan-kasih, yaitu kasih kepada Tuhan dan sesama yang membutuhkan keselamatan dari Kristus.

Jika tadi Filipus disuruh bangun dan berangkat oleh seorang malaikat Tuhan, maka sekarang ia disuruh oleh Roh Tuhan supaya mendekati kereta yang sedang ditumpangi seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu Etiopia. Filipus disuruh oleh Tuhan supaya mendekati sebuah kereta yang sedang berjalan, artinya ia harus bersedia berlari-lari. Di sini Filipus perlu menunjukkan kesungguhan hatinya. Melayani Tuhan memang harus disertai kesungguhan hati, dan dituntut untuk tidak takut menjadi lelah, karena kasih kepada Tuhan dan sesama. Nabi Yunus harus jalan keliling kota Niniwe yang sangat besar, para Rasul harus mendampingi Tuhan Yesus berjalan kaki dari desa ke desa, kota ke kota. Untuk memberitakan Injil kepada sida-sida itu Filipus perlu mengadakan yang sangat penting, yaitu: Pendekatan. Ini merupakan bagian yang sangat penting dalam pemberitaan Injil. Kepada orang asing, apalagi jika berhadapan dengan orang yang berpangkat tinggi, biasanya kita merasa takut. Tapi di dalam kasih tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan, itulah yang kita baca tadi di I Yohanes 4:18. Jika kita  sedang memberitakan Injil Tuhan, maka harus memahami bahwa dia atau mereka itulah yang sangat membutuhkan keselamatan dari Kristus. Karena aku mengasihi dia atau mereka, maka aku tidak boleh merasa takut dalam mengadakan pendekatan.Filipus tidak takut diremehkan atau dianggap angin lalu, tidak takut dipandang sebagai pengganggu, tidak takut diusir, ia bisa begitu PD karena kasih kepada sesama yang dijumpai  di perjalanan hidupnya.

Setelah berdekatan, maka Filipus mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya 53. Lalu Filipus bertanya:”Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?” Di sini ada upaya dari Filipus untuk mengadakan dialog dengan sida-sida itu. Karena Roh Tuhan berkarya maka terbukalah jalan masuk, diawali dengan keterbukaan dan kerendahan hati sida-sida itu mengakui bahwa ia tidak memahami apa yang dibacanya, serta meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya. Jika sudah begini,  berarti sida-sida itu sudah berada di ambang pintu keselamatan! Ketika mereka duduk berdampingan, maka tampak nyata bawa pemberita Injil duduk sama tinggi dengan penerima Injil. Di mata Tuhan kita sama saja, harus saling mengasihi, sebab lahir dari Allah dan mengenal Allah. (I Yohanes 4:8). Dengan saudara-saudari seiman yang baru belajar mengenal Tuhan kita tidak boleh mengadakan jarak, atau merasa lebih tinggi. Bukankah Tuhan Yesus bersabda:”Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Matius 19:30)

Dari membaca Firman Tuhan, mendapat penjelasan dari hamba Tuhan, dan tentu saja sebab hatinya digerakkan oleh Roh Kudus, maka sida-sida itupun percaya kepada Yesus Kristus dengan segenap hati, dan mengakuiNya sebagai Anak Allah. Bagi seorang dewasa yang terpelajar dan berpangkat tinggi, berarti sudah hidup mapan dan nyaman, jika sampai mengambil keputusan untuk menyembah Tuhan yang baru, maka hal itu merupakan kejutan besar!Tak mustahil bahwa sida-sida itu nanti bakal menghadapi berbagai tantangan sehubungan dengan “alih agama” yang dilakukannya, tapi dia tidak merasa takut sebab hatinya sudah masuk ke dalam jaring kasih Kristus! Mulai hari itu muncul sudah satu ranting baru di dalam pokok anggur yang benar! Baru saja trubus, tapi dapat dipastikan akan bertumbuh terus semakin kuat sebab sudah diawali oleh karya Tuhan yang dahsyat.

Pelajaran kateksasi yang diberikan oleh Filipus di atas kereta itu rupanya sudah sampai bab akhir, yaitu tentang sakramen baptis kudus. Yang sangat menarik adalah bahwa karya Tuhan dalam diri sida-sida itu sedemikian lengkapnya, sehingga hari itu juga dapat dilakukan baptisan atas permintaan sida-sida itu sendiri. Iman yang bakal menghadapi berbagai problim hidup itu, memang perlu diperkokoh dengan baptisan kudus.Sekarang resmi sudah sida-sida itu menjadi seorang anak Tuhan, baptis kudus diberikan Tuhan sebagai meterai sorgawi sesuai perintah Kristus untuk setiap pengikut sejati.

Tetapi mengapa tiba-tiba Roh Tuhan melarikan Filipus sehingga sida-sida itu tidak melihatnya lagi? 1.Karena pelayanan Filipus dilakukan dengan segala tulus hati, tidak menunggu ucapan atau ungkapan terimakasih dari penerimanya. 2.Karena kini sida-sida itu harus mandiri, cukup dengan penyertaan Roh Kudus. 3.Karena Filipus harus ke Asdod dan kota-kota lain sampai di Kaisarea. Filipus tidak boleh stop berbuah (ayat 2), juga asal berbuah (ayat 2), bahkan jangan hanya lebih banyak berbuah (ayat 2), tetapi diharapkan bisa berbuah banyak (ayat 8). KITA TIDAK BOLEH BERDIRI DALAM TERANG, TANPA MENGULURKAN TANGAN KEPADA MEREKA YANG BERDIRI DI DALAM KEGELAPAN. ( E. Nikrine ).

Khotbah ini kita tutup dengan Mazmur 22:28 “Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada Tuhan; dan segala kaum dari bangsa-bangsa  akan sujud menyembah di hadapanNya.” Itulah yang kita harapkan dan akan  terus kita upayakan dalam karya Tuhan yang sempurna, sampai akhir hayat kita melalui berbagai cara dan jalan, tanpa takut karena kasih!

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 10 Mei 2009

Minggu Paska V

Share this :

  • Stumble upon
  • twitter

Post a comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!