Telepon di pastori berdering. “Bu, ada kabar layu-layu,” kata pegawai gereja di ujung telepon, “Tan Lian Hoe telah dipanggil Tuhan.”
“Ah, yang benar saja!” seru istriku, “Satu setengah jam yang lalu, saya baru saja menjenguk dan mendoakan dia. Saat itu dia kelihatan baik-baik saja.”
Tapi kehendak Tuhan tak bisa dicegah siapa pun.
Semasa masih hidupnya Tan Lian Hoe adalah anggota jemaat yang sederhana dan tidak menonjol. Meski begitu, dia sangat rajin mengikuti acara-acara gereja maupun yang diselenggarakan oleh Persekutuan Wilayah 7/8. Perempuan yang melajang sampai akhir hayatnya ini punya ciri khas yaitu kacamatanya yang tebal.
Sekitar setengah tahun lalu, kami melihat dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Waktu itu adalah hari Minggu. Kami sedang mencari makan siang di luar, ketika melihat ada banyak orang berkerumun di jalan raya. Saya mengendarai sepedamotor dengan pelan, tiba-tiba saya melihat sepeda onthel yang sepertinya saya kenal. Sepertinya itu milik cik Hoe, batinku.
Benar juga. Saya melihat tubuh cik Hoe telah dibaringkan di atas bak mobil. Darah tampak mengucur di bagian kepalanya. Mobil itu segera melaju ke UGD R.S. Tegalyoso. Kami putuskan untuk mengikuti mobil itu, siapa tahu ada yang bisa kami lakukan untuk membantunya. Dalam perjalanan, kami menelepon beberapa anggota jemaat mengenal dan masih bersaudara dengan cik Hoe. Mereka segera berdatangan. Karena sudah ada yang mengurusnya, maka kami pun berpamitan karena kami belum makan siang dan istri perlu beristirahat untuk memimpin ibadah pukul lima sore.
***
Dalam ibadah penutupan peti, diceritakan kisah lucu yang dialami oleh cik Hoe semasa hidupnya. Suatu kali cik Hoe ikut rombongan Persekutuan Wilayah 7/8 melayat ke Solo. Mereka menumpang mobil gereja dan cik Hoe duduk di kursi paling belakang. Sesampai di tujuan, rombongan bergegas turun dan pintu mobil dikunci.
Usai melayat, rombongan pelayat itu terkejut karena mendapati cik Hoe masih berada di dalam mobil. Rupanya dia terkunci di dalam mobil selama upacara pemakaman berlangsung. Mungkin cik Hoe juga merasa kesal, tetapi kemarahannya tidak berlarut-larut. Buktinya, sampai akhir hayatnya dia masih terlibat aktif dalam Persekutuan Wilayah 7/8























0