Archive for June, 2009
Menyeimbangkan antara Pekerjaan, Keluarga dan Pelayanan
Ada orang yang aktif dalam pelayanan, tetapi keluarganya tak terurus. Ada orang yang sukses dalam kariernya, tetapi tidak punya waktu untuk pelayanan. Ada orang yang hidup harmonis, tetapi hidup pas-pasan. Inilah realitas yang ada dalam kehidupan.
Lalu, bagaimana cara menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga? Pertanyaan ini yang menjadi tema dalam Persekutuan Komisi Dewasa, GKI Klaten pada 30 Juni 2009. Untuk menjawab pertanyaan ini, Komisi Dewasa mengundang Bpk. Samuel Gunawan, seorang pengusaha sukses dari Solo yang tetap giat dalam pelayanannya.
Totalitas kehidupan kita adalah rohani. Demikian pernyataan awal yang disampaikan oleh Bpk. Samuel Gunawan. “Kita tidak dapat membuat pemisahan bagian mana yang disebut rohani dan bagian mana yang disebut sekuler,” kata Samuel. Mantan majelis GKI Coyudan ini mengutip pengkhotbah 9:10: “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Setelah itu, dia mengutip surat Paulus: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kol 3:23)
Berdasarkan ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa seluruh aktivitas kita, entak itu dalam pekerjaan, pelayanan atau keluarga adalah ibadah untuk Tuhan. Di dalam melaksanakan semua itu, kita harus melakukan dengan tulus dan merupakan dorongan dari buah pertobatan kita. “Jika kita melakukan sesuatu tidak didasari karena buah perobatan, maka bisa jadi justru akan ditolak oleh Tuhan Yesus,” kata Samuel Gunawan sambil mengutip ayat berikut: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”" (Mat 7:22-23)
Setiap orang Kristen mendapat mandat dari Tuhan. Mandat adalah tugas yang tidak dapat ditolak dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. “Kita mendapat tiga mandat. Yaitu: Mandat Penginjilan, Mandat Pengajaran dan Mandat Mandat Budaya,” papar Samuel Gunawan. Semua itu harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari, entah itu dalam pelayanan, pekerjaan atau keluarga. “Itu sebabnya kita tidak bingung menyeimbangkan antara pekerjaan, pelayanan dan keluarga. Karena semuanya adalah ibadah untuk Tuhan,” simpul Samuel mengakhiri uraiannya.
Untuk download sebagian rekaman audio acara ini, silakan klik di sini.
Persekutuan Komisi Dewasa, 30 Juni 2009
Peserta mendengarkan dengan tekun
Bpk. Samuel Gunawan
DAHULU JAUH, SEKARANG MENJADI DEKAT
Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 19 Juli 2009
Minggu Biasa XI
2 Samuel 7:1-14a Mazmur 89:20-37 Efesus 2:11-22 Markus 6:30-34, 53-56
Baru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang pendeta, berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua, rame-rame makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu, Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan. Tiba-tiba salah seorang pengunjung baru restoran itu dengan nada memerintah berkata kepada Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!” Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.” Tetapi Joas tidak segera pergi sebab harus menjawab panggilan telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan Jemaat GKI Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT Jakarta supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera minta maaf dan mau berkenalan, serta ngobrol dengan Joas, maka dengan begitu yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!
Dalam 2 Samuel 7 kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5). Keberadaan Daud sebagai raja hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim. Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat. Bagaimana dengan iman Daud? Tiba-tiba saja dia merasa bersalah bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.
BERSIH TANGANNYA DAN MURNI HATINYA
leh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu,12 Juli 2009
Minggu Biasa X
II Samuel 6:1-5, 12b-19 Mazmur 24 Efesus 1:3-14 Markus 6:14-29
Seorang isteri mengeluh kepada suaminya:”Waduh Pak, pembantu kita baru saja menggondol dua handuk baru kita.” Dengan suara marah sang suami berkata, “Memang dasar pembantu zaman sekarang, sikapnya selalu tidak terpuji …. Ngomong-ngomong handuk mana yang digondolnya?” Sang isteri menjawab, “Handuk-handuk yang kita ambil di Hard Stone Hotel, Pak.” Orang-orang dalam cerita ini tangan dan hatinya tidak ada yang bersih. Dari sang pembantu sampai para majikannya sama saja! Kisah di bawah ini lebih keterlaluan lagi, sampai mungkin kita tidak bisa mempercayainya, tapi itulah yang saya baca di Buku Mutiara-Mutiara Kasih, diberi judul: Kesempatan Terakhir.
Pendeta Henry White tengah malam diundang untuk mendoakan seseorang yang sudah di ambang kematian, yang mau bertobat. Sambil membungkuk di dekat wajah pria usia empat puluhan itu, pak pendeta menginjili dengan penuh semangat dan harap. Pendeta Henry merasa bersyukur sebab merasa mendapat respon yang positip, hal itu tampak dari matanya yang bercahaya selama mendengarkan firman Tuhan. Setelah selesai didoakan, pria itu sudah meninggal dunia. Tapi yang sangat mengherankan adalah ketika diamati ternyata tangan orang itu sedang menggenggam erat-erat rantai jam milik Pak Pendeta! Rupanya rantai emas di kantung pendeta itulah yang membuat matanya bercahya tadi! Sungguh sangat sayang, tangan dan hatinya tetap kotor pada detik-detik terakhir Tuhan membukai pintu pertobatan baginya!
Dalam Markus 6 tadi kita bisa melihat keluarga Herodes yang sangat memperihatinkan. Mental yang bobrok, dengan mudah akan menghasilkan pekerjaan tangan yang kotor bahkan menjijikkan. Kita lihat seorang kepala keluarga yang lemah dan tidak bijaksana, yaitu Herodes. Sebagai kepala keluarga dan sekali gus seorang raja, Herodes telah melakukan kesalahan besar. Ada dua kesalahan besar yang dilakukan olehnya, yaitu pertama: Mengapa ia menangkap, membelenggu dan menjebloskan Yohanes Pembapis dalam penjara (Markus 6:17). Tidak pada tempatnya bila Yohanes dipersalahkan dan dipenjarakan, Herodes seharusnya berterimakasih kepada Yohanes yang sudah mau menegur kesalahannya. Di antara rakyatnya yang banyak itu, siapa yang berani dan mau menegur dia? Tak seorangpun kecuali Yohanes yang murni hatinya. Kiprah Yohanes yang beda dan istimewa itu sekiranya ditanggapi secara positip maka akan membawa berkat yang besar dalam hidup Herodes, setidaknya bisa menjadi awal yang menuju ke jalan keselamatan baginya! Tapi sayang sikap Herodes mengambang, maka sudah hampir masuk ke dalam anugerah Allah, tetapi keluar lagi! Dapat kita baca itu di Markus 6:20 “Sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.” Di sini kita melihat banyak hal yang indah dan mengembirakan dalam diri Herodes tetapi semuanya diganjal oleh sikapnya yang mengambang, yaitu hatinya yang selalu terombang-ambing! Hati yang selalu terombang-ambing adalah hati yang tidak murni, sebab dipengaruhi oleh banyak faktor yang negatip. Kesalahan Herodes yang kedua jauh lebih berat sebab dia telah mengabulkan permintaan Salome, hanya karena telah terlanjur bersumpah akan memberikan apa saja yang dimintanya. Kesalahan ini diawali dengan keteledorannya yang gegabah bersumpah, dilanjutkan rasa malu untuk menarik kembali janji yang sudah diucapan di hadapan para tamunya .Sekiranya Herodes mempunyai keberanian untuk berkata “tidak” dan dengan tegas menolak permintaan Salome yang keterlaluan itu, maka Tuhan tentu akan memberkati dia! Dengan demikian dia akan bisa memecahkan rekor sebagai satu-satunya Herodes yang berada di pihak Tuhan, maka tak mustahil dia akan diselamatkan! Selanjutnya kita ketemu Herodias yang semula menjadi isteri Herodes- Filipus, tetapi sudah digaet menjadi permaisuri Herodes Antipas tadi. Jikalau Herodes yang ditegur merasa segan terhadap Yohanes, maka sebaliknya Herodias diam-diam menaruh dendam yang mendalam, dan ingin bisa menyingkirkan dia untuk selamanya! Itu sebabnya begitu memperoleh peluang maka langsung saja digunakan sebaik mungkin olehnya. Salome yang telah menggirangkan hati Herodes, Salome yang telah menerima janji pakai sumpah dari Herodes, telah dibisiki oleh ibunya supaya meminta kepala Yohanes! Dalam Buku William Barclay dikatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang sebaik perempuan yang baik, tetapi juga tidak ada yang sejahat perempuan yang jahat. Lebih jauh para Rabi Yahudi mengungkapkan:”Seorang wanita yang baik jika menikah dengan pria jahat, akan dapat mengubah suaminya menjadi baik. Tetapi seorang pria yang baik, jika menikah dengan wanita jahat, maka akan dapat berubah menjadi sejahat isterinya!” Walau hanya berada di belakang layar, tetapi dapat dikatakan bahwa Herodias adalah pelaku pembunuhan sang pelopor Juru Selamat dunia itu! Tindakan Herodias sangat sembrono, sebab secara terang-terangan berani melawan Tuhan. Hatinya penuh kedengkian kepada Yohanes, berarti dia berani membenci Tuhan yang sangat mencintai hambaNya itu. Membunuh Yohanes berarti berani membungkam mulut Tuhan yang menyuarakan kebenaran sabdaNya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Herodias itu busuk hatinya, berbisa mulutnya, kotor tangannya dan bobrok moralnya. Herodias sangat berbeda dengan isteri Pilatus yang justeru memperingatkan suaminya agar jangan mencampuri urusan Tuhan Yesus dengan orang Yahudi yang menyeretNya ke hadapan Pilatus.Dengan sangat simpatik ia menyebut Yesus sebagai orang benar, juga mengaku telah diperingatkan (Tuhan) dalam mimpinya, Matius 27:19. Sekarang kita menengok Salome sang penari yang telah memukau perhatian segenap tamu dalam pesta ulang tahun Herodes. Ada dugaan kuat bahwa Salome waktu itu mempersembahkan sebuah tarian erotik, yang tidak pantas dilakukan oleh seorang keluarga istana.Sungguh sangat menyedihkan nasib Salome, sebagai seorang remaja puteri pada zaman itu agaknya ia sudah terbiasa tampil di depan umum dengan tarian yang aduhai, serta mendapat dukungan dari pihak orang tuanya. Sebagai seorang remaja yang polos hatinya, sudah diracuni dan diperalat untuk mewujudkan suatu pembunuhan yang begitu sadis dan mengerikan, atas seorang hamba Tuhan yang tak berdosa. Dengan menuruti bisikan ibunya Salome telah menjadi seorang remaja yang terlibat secara langsung dalam dosa pembunuhan itu. Demi mendengar ide sang ibu semestinya Salome menunjukkan sikap tidak setuju dan berani menolak dengan tegas, tetapi apa yang kita baca dalam Alkitab? “Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: Aku mau, supaya sekarang juga engkau memberikan kepadaku kepala Yohanes Pembabtis di sebuah talam!” Markus 6:25. Perhatikanlah kata-kata: Cepat-cepat, dan sekarang juga. Yang sangat menarik, atau lebih tepat sangat menjijikkan, adalah apa yang terungkap dalam ayat 28. Diterangkan di situ bahwa sesudah leher Yohanes dipenggal maka oleh seseorang kepalanya diserahkan kepada Salome. Bayangkan bahwa seorang remaja puteri memiliki hati yang tega untuk menerima satu kepala manusia yang berdarah di atas nampan! Kemudian membawa dan menyerahkan kepada ibunya! Tak mustahil mereka itu juga memiliki kekejaman untuk melakukan pemenggalan dengan tangannya sendiri!
Sedari tadi pembicaraan kita cuma di seputar orang-orang yang hidupnya di luar Kristus, sehingga akrab dengan kejahatan yang ditandai dengan tangan dan hati yang kotor. Sekarang, di Efesus 1:3-14 kita disuguhi satu tema yang menarik tentang kekayaan orang-orang yang terpilih. Firman Tuhan menegaskan bahwa sudah sejak semula Allah menghendaki kita menjadi anak-anakNya yang hidup kudus di hadapanNya. Ketika dosa sempat menerobos ke dalam hidup kita, Allah tidak mau menyerah kalah. Persoalan besar kita diatasiNya melalui pengorbanan Kristus, sehingga tersedia pemulihan hubungan dengan Allah serta pengembalian status kita sebagai anak-anak yang dilimpahi kekayaan kasih karunia dan hikmat. Satu kali kita dihubungkan dengan Kristus, maka untuk selamanya tidak akan pernah terpisahkan lagi baik di bumi maupun di sorga. Selama ada di dunia ini kita akan dikuatkan melalui Firman Tuhan dan pendampingan Roh Kudus, dan hal itu merupakan jaminan bahwa kita sudah menjadi milik Allah. Semua berasal dari kemurahan Allah, maka hidup kita berisi puja dan puji bagi kemuliaan Tuhan.
Kiprah Daud selaku raja yang telah menggerakkan ribuan rakyatnya dalam II Samuel 6 tadi sesungguhnya merupakan nubuat dan gambar, dari sukacita umat Tuhan di segala abad, seperti yang dipaparkan dalam Efesus 1:3-14. Yang dirasakan Daud saat itu adanya kehadiran Tuhan kembali, setelah tabut Allah dapat direbut dari tangan Filistin. Hal itu sama seperti kehadiran Kristus ke tengah-tengah umat manusia sebagai bukti perkenan Allah, untuk mengakhiri kemenangan iblis dan dosa. Mikhal anak perempuan Saul memandang rendah sikap Daud yang dinilainya berlebihan, padahal semua itu dilakukan oleh Daud dengan segala ketulusannya, sehingga ia tidak mempedulikan jabatannya sebagai seorang raja yang mau berbaur dengan rakyak jelata. Intisari dari kisah ini mau mengajarkan kita demikian: Jika sukacita sorgawi telah merasuki hidup kita maka yang pertama-tama muncul adalah ketulusan hati menanggapi kemurahan Tuhan. Ketulusan hati yang ditandai tangan yang bersih, serta hati yang murni akan menjauhi segala kejahatan dan hidup kotor, dan sebagai gantinya adalah hidup penuh pujian kepada Tuhan di dunia ini dan berlanjut sampai di sorga kelak. Kita melihat perbedaan besar diantara dua raja tadi: Herodes dan Daud. Meskipun sikap Herodes lumayan baik, tetapi karena dia masih selalu terombang-ambing dan tidak berani tegas menerima firman Tuhan, berarti masih hidup di luar Tuhan, maka tidak ada sukacita dan hidup sejahtera. Berbeda dengan Daud, sejak muda ia sudah selalu berpautan dengan Tuhan, sehingga walau hidupnya tidak sempurna namun tak pernah terlepas dari genggaman Tangan Nya, maka keselamatan dan sukacita sejati dari Tuhan diwarisinya.
Mazmur 24 mengingatkan bahwa kita mempunyai Raja Kemuliaan, yaitu Tuhan semesta alam. Jika kita mau berserah dan bergaul dengan Dia, maka dikatakan bahwa kita boleh naik ke atas gunung Tuhan. Kemuliaan kita itu harus ditandai dengan tangan yang bersih dan hati yang murni!
Foto Pelatihan GSM
Tanggal 21 Juni 2009, bertempat di wisma Narwastu, Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan Pelatihan untuk Guru-guru Sekolah Minggu. Bertindak sebagai pembicara adalah kak Agustina Wijayani, seorang penulis buku tentang Sekolah Minggu dan editor di penerbit Gloria. Acara yang dihadiri lebih dari 35 orang ini diisi dengan ceramah dan icebreaker.

Agustina Wijayani

Kak Kiki, Kak Yuda, Kak Nita

Kaos bikinan Komisi Anak
Suasana Pelatihan
GSM GKI Klaten
Video Klip Pelatihan GSM
Tanggal 21 Juni 2009, bertempat di wisma Narwastu, Komisi Anak GKI Klaten menyelenggarakan Pelatihan untuk Guru-guru Sekolah Minggu. Bertindak sebagai pembicara adalah kak Agustina Wijayani, seorang penulis buku tentang Sekolah Minggu dan editor di penerbit Gloria. Acara yang dihadiri lebih dari 35 orang ini diisi dengan ceramah dan icebreaker.
Berikut Video Klipnya:

CUKUPLAH KASIH KARUNIA ALLAH
Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 5 Juli 2009
Minggu Biasa IX- Perjamuan Kudus
II Samuel 5:1-5, 9-10 Mazmur 48 II Korintus 12:2-10 Markus 6:1-13
Napoleon Bonaparte sering diasosiasikan sebagai jendral perang Perancis terhebat pada zamannya. Namun, catatan hitam kekalahannya di Waterloo atas tentera Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington, membuat banyak orang bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabnya? Beberapa wartawan penasaran dan mewawancarainya di penjara. Seorang wartawan bertanya,”Pak Jenderal, bisa Anda ceritakan mengapa tentera Inggris mengalahkan Anda di pertempuran Waterloo? Apakah mereka memiliki tentera yang lebih kuat?”
Dari kegelapan penjara terdengar suara Napoleon yang berkata, “Tidak.” Wartawan bertanya lagi: “Apakah karena mereka memiliki senjata yang lebih canggih?” Sekali lagi Napoleon menjawab, “Tidak.” ” Kalau begitu, mengapa Anda kalah pada pertempuran itu?” Keadaan hening sejenak lalu terdengar jawaban Napoleon:” Tentera Inggris berperang lima menit lebih lama dibandingkan tentera kami.” Cara berperang pada zaman Napoleon tentu berbeda dengan zaman sekarang, tetapi ada satu kenyataan yang tidak berubah sampai saat ini, yaitu mereka yang berjuang lebih lamalah yang akan memenangkan peperangan! ( Dikutib dari Buku Champion ). Kemenangan anak Tuhan dalam hidup yang penuh tantangan ini juga ditentukan oleh seberapa jauh kegigihan kita, tetapi selalu dalam pergumulan bersama Tuhan!
Hidup yang dipergumulkan bersama Tuhan menjadi semakin bermutu, sebab selalu ditandai oleh campur tanganNya yang positip, yang kita hayati sebagai kasih karuniaNya. Rasul Paulus salah seorang hamba Tuhan yang dalam hidupnya mengalami banyak sekali pergumulan, serta memperoleh kasih karunia Allah. Dia yang berniat menciduk para pengikut Kristus di Damsyik, malah terjaring dalam kasih Kristus yang ajaib. Sejak itu ia mengalami berbagai mujizat, seiring pelayanannya yang semakin penuh semangat dan gairah. Kasih karunia Allah sangat besar, jika mengingat bahwa semula Paulus sangat membenci dan memusuhi Yesus, tapi bisa berubah total menjadi sangat mencintai dan membela Kristus dalam sisa hidupnya. Namun demikian, dia tetap seorang manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Dalam bacaan kita tadi II Korintus 12, kita dapat sedikit melihat dan mungkin ikut merasakan dinamika pelayanannya sebagai rasul Tuhan.
Pertama, Paulus mengaku pernah terangkat ke sorga tingkat tiga dan Firdaus yang mulia, dalam pengalaman rohaniahnya, dalam wahyu Tuhan, dalam ekstasis diluar kesadaran, atau apapun namanya. Semua itu hanya sebentar saja, juga tidak banyak yang diceritakan oleh Paulus. Tetapi meskipun demikian, pengalaman rohaniah seperti itu adalah kasih karunia yang cukup dari Tuhan. Sebab kita lalu bisa semakin mengenal sifat Tuhan, yang sangat Pemurah terhadap manusia. Walau sorga merupakan rahasia, tetapi karena Tuhan begitu menginginkan kita berada di sana maka setiap ada kesempatan, manusia sudah boleh mengintipnya. Yakub diberi impian yang sangat mengesankan tentang para Malaekat yang turun naik tangga yang ujungnya sampai di langit (Kejadian 28:12). Yesaya melihat Tuhan duduk di takhta yang tinggi, ujung jubahNya memenuhi Bait Suci, lalu ada para Serafim (Yesaya 6). Mengapa Paulus yang merasa terangkat ke sorga itu, tidak banyak berbicara tentang situasi di sana? Mengapa Paulus hanya mengatakan bahwa ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan? Karena bagi Paulus, yang terpenting bahwa di sorga ada Tuhan. Sukacita sorgawi adalah bahwa kita akan dapat bertemu dengan Tuhan, dan bersama Tuhan untuk selama-lamanya! Sukacita sorgawi yang tersedia secara pasti itu, mari kita biarkan memenuhi hati supaya kita mampu hidup dalam pengucapan syukur, setia dan tekun dalam pengabdian, bersemangat melayani dalam KerajaanNya di dunia ini! Ikut menghadirkan damai sejahtera sebagai bukti bahwa kita merindukan kehidupan sorgawi.
Kedua, segera sesudah berbicara tentang pengalaman sorgawi itu, Paulus juga berbicara tentang kelemahannya, yang digambarkan sebagai duri dalam daging, juga sebagai utusan iblis yang menghajar dia. Penderitaan Paulus seperti duri dalam daging, artinya tiap-tiap kali dapat muncul dan mengganggu. Seperti utusan iblis yang menghajar dia, lebih berat lagi, sebab berpotensi melemahkan iman dan pelayanan. Semua ini mengingatkan kita kepada Ayub, yang dihajar iblis secara hebat dengan seizin Tuhan. Karena begitu berat penderitaan itu, maka Paulus mengaku bahwa sudah sampai tiga kali ia berdoa kepada Tuhan, minta supaya dibebaskan dari semuanya itu. Apakah itu berupa penyakit atau kenangan masa lalu, bahwa pernah begitu jahat terhadap pengikut Tuhan? Kita tidak tahu pasti, namun jelas ada dan menyakitkan hati Paulus. Di sini kita melihat bahwa setiap anak Tuhan, bahkan seorang Paulus sekalipun tak bisa bebas dari masalah hidup. Semakin besar iman dan pelayanan kita, maka akan semakin besar pula “duri” yang kita hadapi. Mengapa demikian? Karena Tuhan melihat bahwa kita akan kuat memikulnya, sebagai salib dari Tuhan. Juga supaya kita jangan menjadi sombong bahwa telah menjadi anak-emas Tuhan. Kita harus tahu bahwa meskipun Tuhan mengasihi kita , namun keadilanNya membuat Tuhan tidak secara otomatis, atau dengan sendirinya menggugurkan setiap kesusahan hidup kita. Selain itu, Tuhan berharap supaya kita tampil sebagai teladan bagi sesama kita. Agar mereka bisa belajar melalui sikap hidup kita sebagai anak Tuhan yang tidak cengeng, tapi mau berdoa sambil tetap berusaha.
Ketiga, Kepada Paulus dan kepada setiap anakNya Tuhan berkata:”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justeru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kita diingatkan bahwa kasih karunia Tuhan tidak pernah kurang tapi cukup. Berbeda dengan ukuran “cukup” menurut manusia, yaitu pas-pasan sebab pada dasarnya kita kikir dan egois. Ukuran “cukup” menurut Tuhan selalu melimpah sebab Ia Maha kaya, dan Pemurah, dan kasih karuniaNya memang khusus disediakan untuk manusia dan yang beriman kepadaNya.Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita minta secukupnya saja. Tapi dalam kenyataan kita selalu diberi banyak! Maka bersama Paulus, mari kita belajar melihat kasih karunia Tuhan, yang cukup dalam hidup kita. Kasih karuniaNya janganlah kita batasi pada materi atau kesehatan semata, tetapi harus yang seluas-luasnya sampai meliputi harta sorgawi yang kekal itu. Selanjutnya, justeru di dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Sungguh sangat aneh! Apa artinya? Tuhan sering mulai bertindak dalam hidup kita, tepat pada saat kita menentukan untuk stop! Pada saat kita tidak berdaya, Tuhan justeru berjaya bagi kita. Karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan (Lukas 1:37), dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23). Terang akan semakin nyata di dalam kegelapan yang besar, demikian pula kuasa Tuhan tampak sempurna dan benderang di dalam kelemahan kita yang kelam.
Dalam Markus 6 kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengajar di rumah ibadat, juga melakukan banyak mujizat yang menakjubkan, tetapi memperoleh tanggapan yang negatip bahkan penolakan (Markus 6:3). Sampai di ayat 6 kita membaca bahwa Tuhan Yesus sendiri merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Tapi semua itu segera dinetralisir oleh pemahamanNya bahwa seorang nabi tidak dihormati di tempat asalnya sendiri. Yesus tidak mau stop, Ia justeru termotifasi oleh kenyataan bahwa memang sedang berhadapan dengan umat manusia bejad, yang sangat membutuhkan pemberitaan Firman bahkan penebusan dosa, maka di ayat yang sama (ayat 6) lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar! Yang lebih hebat, kemudian Yesus justeru melakukan peningkatan misi-Nya melalui pengutusan duabelas muridNya dengan pesan khusus agar jangan berkecil hati manakala mendapat menolakan seperti Gurunya! Jadi Yesus Kristus yang menolak permintaan Paulus sampai tiga kali itu, di dalam hidup dan pelayananNya juga pernah bahkan sering ditolak! Sebagaimana Ia mau bertahan dengan tegar, sambil tetap fokus kepada panggilan mulia-Nya, demikian pula Ia berharap agar Paulus dan kita semua mengikuti jejakNya. Lebih jauh kita perlu mengungkap kembali dari sanubari yang terdalam, satu drama penolakan yang paling dahsyat, yaitu tatkala Bapa terkasih memalingkan wajahNya, justeru pada saat Sang Putera sedang berada di puncak pelayanan kasihNya yang termulia! “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Markus 15:34. Buah dari penolakan bahkan murka Bapa ini sekarang tersedia bagi kita yang terwakili di dalamnya, sebagai “obat manjur” untuk segala bentuk penolakan, dan segala kegetiran hidup sehebat apapun juga di dunia ini.
Apa yang kita baca dalam II Samuel 5 tentang Daud, sepertinya dapat menggambarkan Yesus Kristus. Sesudah melewati status kehinaan yang semakin mendalam, akhirnya Yesus Kristus mengalami kemuliaan yang semakin memuncak, yaitu naik ke sorga duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Demikian pula Daud pada waktu dikejar-kejar oleh Saul telah mengalami begitu banyak penderitaan sebagai buron yang hina. Selain telah ditolak oleh Raja Saul, Daud juga selalu dibayang-bayangi maut ngeri. Tapi Daud bisa bertahan, tegar, dan yang menarik ia tidak mendendam kepada Saul., mencerminkan hati Kristus. Maka tertulislah dalam II Samuel 5:10: “Lalu makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab Tuhan, Allah semesta alam, menyertainya.” Tetapi kuasa dan kemuliaan Raja Daud tidak seberapa jika dibandingkan Yesus Kristus, yang kuasaNya meliputi bumi dan sorga, kemuliaanNya sempurna, dan keberadaanNya kekal untuk selamanya!
Mazmur 48:15 mempertegas dua hal yang penting, yaitu Dia adalah Allah kita untuk seterusnya dan selamanya. Lalu, Dialah yang memimpin kita. Kalau sudah begitu maka perjalanan hidup kita boleh bergejolak, boleh bermunculan segala macam masalah yang menantang. Tetapi, kita akan menghadapi dengan sikap berani. Apa artinya “berani”? Berani sebenarnya adalah takut, tetapi jalan terus! Jika memandang kemampuan diri sendiri memang takut, itu manusiawi. Tapi jalan terus, sebab percaya kepada Tuhan yang hebat! Tuhan yang tak pernah absen, dan selalu siap memimpin kita dalam sikap dan jalan yang benar! Dan bagi kita, semua itu sudah lebih dari cukup!
RC Kelompok 5-6
Foto-foto ini sebenarnya sudah lama. Namun tak apalah sebagai pengingat acara Refreshing Course yang diadakan oleh Persekutuan Wilayah 5/6, GKI Klaten, pada September 2007 di Tawangmangu.

Beribadah pada hari Minggu dan menambah keakraban

Berfoto bersama di depan Villa

Berjalan kaki menuju air terjun Gorojogan Sewu. Napas ngos-ngosan, tapi nanti terbayar kalau melihat keindahan air terjun.

Berakrab-akrab dengan permainan yang seru dan lucu. Bu Agus sampai terduduk karena tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah itu bermain basah-basahan di bawah air terjun.

Keindahan air terjun Grojogan Sewu

Sebagian panitia beristirahat sejenak di Kalisoro. Pemandangannya asyik. Koh Yoypk. Yuka, Lia dan Ny. Agus Permadi

Sungainya masih jernih. Agus Permadi, Yuka dan Lia
HIDUP BERSAMA
Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 28 Juni 2009
Minggu Biasa VIII
II Samuel 1:1, 17-27 Mazmur 130 II Korintus 8:7-15 Markus 5: 21-43
Kisah ini terjadi di Amerika, dapat diberi judul: “Rantai Kebaikan”. Ada seorang wanita lansia yang sangat kaya, tapi malam itu ia kehujanan dan sungguh tak berdaya karena ban mobilnya kempis. Dalam kebingungannya, tiba-tiba muncul seorang pria yang mengenalkan diri dengan nama Bryan Anderson, kemudian menawarkan jasa baiknya untuk menggantikan ban mobil nenek itu. Setelah Bryan selesai menggantikan ban mobilnya, sang nenek dengan hati-hati menyodorkan sejumlah uang sebagai ungkapan terima kasih, tapi ditolak olehnya. “Jika ingin berterima kasih, maka silahkan Ibu juga memberikan bantuan kepada orang lain yang memerlukan. Dalam perjalanan pulangnya nenek itu mampir di sebuah kafe untuk membeli roti dan minuman. Muncul seorang pelayan wanita yang gerakannya lamban, karena dalam keadaan hamil tua. Pelayan itu mendatangi tamunya sambil membawakan sebuah handuk bersih,untuk mengeringkan rambut nenek yang basah itu. Melihat keadaan pelayan yang usia kehamilannya diperkirakan sudah mencapai delapan bulan itu, tetapi masih berupaya tampil prima di hadapan para tamunya, tiba-tiba teringatlah sang nenek kepada kebaikan Bryan. Setelah selesai makan dan minum, nenek itu membayar dengan $ 100. Pelayan wanita itu pergi mengurus pembayaran tersebut ke kasir, tapi pada waktu balik ia hanya menemukan tulisan di secarik kertas. “Engkau tidak berhutang apapun kepadaku.Aku pernah ditolong seseorang dan sekarang aku mau melanjutkan kepadamu, jangan kau hentikan Rantai Kebaikan ini. Aku ingin membantu persalinan bayimu dengan uang kembalian tadi dan yang ini.” Di bawah piring ada sejumlah uang yang lumayan besar, $400. Bantuan dari nenek yang baik hati itu sungguh sangat berarti bagi sang pelayan yang hidupnya sangat pas-pasan. Ketika ia pulang, buru-buru ingin menyampaikan berita besar itu kepada suaminya, tetapi didapati bahwa suaminya sudah tidur mendengkur. Dengan tersenyum ia menggelengkan kepala sambil berkata pelan kepada suaminya yang tidur itu:”Sekarang segalanya akan beres, aku mengasihimu, Bryan Anderson!”
Dalam hidup bersama di dunia ini, masalah memberi dan menerima, terus bergulir, antar semua pihak! Bahkan Tuhan tidak hanya menjadi penonton atau penganjur, tetapi mau ikut menjadi pelaku dan pelopor. Tuhan senang memberi tapi Ia juga sudi menerima dari umatNya. Maka kepada yang egois saban hari Tuhan menegur, baik melalui Kitab Suci maupun melalui alam ini. Cobalah simak tulisan kecil ini:
Allah mencipta matahari, matahari memberi
Allah mencipta bulan, bulan memberi
Allah mencipta bintang-bintang, bintang-bintang memberi
Allah mencipta tumbuh-tumbuhan, tumbuh-tumbuhan memberi
Allah mencipta laut, laut memberi
Allah mencipta manusia, manusia ……?
Dalam II Korintus 8 di bagian awal kita dapat membaca keharuan hati Paulus, tentunya juga Tuhan, yang melihat sikap Jemaat Makedonia yang begitu bersimpati kepada Jemaat Yerusalem yang memerlukan bantuan. Walau Jemaat Makedonia lebih kecil dari yang lain, juga sebenarnya sedang mengalami berbagai penderitaan., namun mendesak Paulus supaya diizinkan untuk ikut berpartisipasi meringankan beban. Selanjutnya Paulus menilai bahwa mereka itu telah memberi melampaui kemampuan mereka (II Korintus 8:3}. Sungguh sangat berbeda dengan Jemaat Korintus, yang terus mengulur waktu untuk memberi bantuan kepada Jemaat Yerusalem. Paulus memang tidak mau memerintahkan Jemaat Korintus untuk memberi, ia hanya menunjuk mereka yang bisa menjadi teladan, ia menguji keikhlasan sambil mengingatkan kepada pengorbanan Kristus. Dengan begitu Paulus mencerminkan sikap Tuhan, terhadap manusia yang sedang menggenggam dosa. Sikap Bapa Sorgawi yang membujuk anakNya supaya tidak egois, dan meninggalkan prinsip hidup bersama. Mengapa Tuhan, yang “diwakili” oleh Paulus tidak mau memerintahkan dengan tegas atau mengharuskan mereka untuk memberi sumbangan kepada Jemaat Yerusalem? Karena yang menjadi permasalahan saat itu sebenarnya adalah persembahan kepada Tuhan sendiri, maka tidak seharusnya ada paksaan, perintah, keharusan, dan segala bentuk tekanan yang lain. Ada cerita tentang seorang gadis kecil usia lima tahun. Gadis kecil Ana suatu siang berlari mendatangi ayahnya, memberikan es cream kesukaannya. Itu adalah suatu kejutan bagi sang ayah yang tiba-tiba beroleh perhatian dan cinta kasih dari anaknya yang masih begitu belia. Maka secara iseng ia lalu bertanya kepadanya:”Mengapa kau berikan es cream ini kepada Papa?” ” Karena Ana baru batuk, dilarang Mama.” Sang ayah kurang senang hati, tapi lanjutnya:” Jadi karena batuk maka kau berikan kepada Papa?” Dengan memasang wajah cemberut si kecil Ana menjelaskan kepada ayahnya: ”Sebetulnya mau kusimpan di lemari es sampai sembuh, tapi Mama suruh Ana berikan kepada Papa.” Kini hati sang Ayah menjadi masgul, lalu dengan suara parau katanya:”Kalau begitu sampaikan terimakasih Papa kepada Mama, sudah sana!” Dari awal hidup kita, sudah tampak bahwa memberi dengan ikhlas ternyata sangat sukar. Lebih dahulu harus ada alasan yang besar dan kuat, yaitu pengorbanan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan kita. Kenyataan sering menunjukkan bahwa walaupun sudah diajari oleh Kristus, tetapi masih saja kita tidak mampu memenuhi harapanNya. Rasul Paulus menggunakan kata “menguji”. Sebab selaku anak Tuhan selalu ada kemungkinan bagi kita untuk bisa gagal atau lulus dalam memberi dengan ikhlas, untuk menegakkan hidup bersama. Enaknya belajar di Sekolah Kristus, yaitu kalau kita memberi kepada sesama manusia maka akan diakui oleh Tuhan sebagai pemberian kepadaNya (Matius 25). Tapi memberi dengan ikhlas bukan berarti memberi secara asal-asalan saja, atau sekedar sudah memberi, sebab harus disertai kesadaran, yaitu: 1. Sadar bahwa selama ini aku sudah menerima banyak berkat dan kasih karuniaNya. 2. Sadar bahwa pekerjaan di ladang Tuhan membutuhkan banyak biaya.
Berkaitan erat dengan ikhlas dan sadar, Rasul Paulus juga sempat menyinggung satu kesalahan yang kelihatannya kecil tapi tak boleh dilakukan oleh Jemaat Korintus maupun Jemaat yang lain di dunia ini, yaitu menunda-nunda (II Korintus 8:10,11). Barang siapa menunda-nunda niat baik untuk menolong sesama, terlebih lagi menyampaikan persembahan kepada Tuhan, berarti ia berhutang! Menunda bisa berarti meremehkan, setengah hati, tidak rela, terpaksa, berharap ada perubahan yang dapat membatalkan rencana memberi, dan seterusnya yang serba negatip! Apa jadinya jika pada akhirnya kita sampai melupakan rencana yang tertunda itu, atau terlanjur sudah dipanggil pulang oleh Tuhan, tapi masih belum sempat ”bayar hutang” ? Akhirnya Rasul Paulus juga mengetengahkan gagasan indah tentang adanya keseimbangan dalam tubuhNya. Yang berlebih mau memberi, yang berkekurangan mau menerima, di lain kesempatan dapat terjadi yang sebaliknya! Ada saling melengkapi dan mengisi kekurangan secara timbal balik yang sangat menyenangkan dan menggairahkan, lalu terjadi keadaan yang tidak terlalu berat sebelah, tapi ada keseimbangan, keselarasan, keserasian, pemerataan, keharmonisan, dan apa lagi yang semacam itu. Semua itu sangat dibutuhkan dalam hidup bersama. Hidup bersama bukan sekedar exist, juga bukan sekedar tumbuh bersama, bukan bersama-sama jalan, bukan jalan bersama-sama, tapi jalan-bersama ! Walau kita dalam kondisi kuat dan sehat namun jika rekan kita terseok-seok jalannya, maka akibatnya kita tidak dapat jalan-bersama lagi, hidup bersama kita terganggu dan berubah menjadi macet total! Semua pihak merugi, Kerajaan dan Nama Tuhan ikut dirugikan.
Dalam Markus 5 tadi kita melihat Tuhan Yesus sangat menjunjung tinggi prinsip Hidup Bersama. Ia melimpahkan berkat illahiNya kepada manusia yang sedang sakit, bahkan kepada yang sudah meninggal dunia! Diberikan olehNya dengan tulus ikhlas, disertai kesadaran penuh bahwa Ia datang bukan untuk dilayani tetapi melayani, tanpa menunda
karena Ia tak mau berhutang kepada siapapun, sehingga ketika yang akan disembuhkan sudah terlanjur mati, Ia membangkitkan! Maka berakhir dengan adanya keseimbangan yang ditandai dengan semua pihak merasa lega dan bersukacita, dan ke depan siap untuk jalan-bersama dalam memuliakan Nama Tuhan. Tuhan tidak berpangku tangan tapi turun tangan menjadi pelopor dan pendorong buat kita, supaya mensukseskan Hidup Bersama. Karena Ia itu Tuhan, maka yang diberikan adalah yang maha bobot, yaitu kesembuhan, keajaiban, kebangkitan bagi yang sudah mati, dan semua itu merupakan bukti bahwa Ia berkuasa mengaruniakan pengampunan dosa serta hidup yang kekal!
Dalam “gerakan” Hidup Bersama kita juga perlu memperhatikan teladan yang diberikan oleh Daud, ketika mengetahui bahwa Saul dan Yonatan meninggal dunia. Jika Daud berduka karena kematian Yonatan hal itu dapat kita fahami, karena mereka bersahabat. Tapi lihatlah, Daud juga begitu berduka karena kematian Saul yang selama ini secara terus menerus menjadi duri dan berniat membunuhnya. Meskipun demikian Daud tidak menaruh dendam, dia sudah memaafkan Saul, tidak mengangkat dan mengungkit segala kejahatan Saul. Daud justeru mencari segala kebaikan Saul di masa lalu, dan mengajak seluruh bangsa menangisi kematiannya. Daud membuang perasaan pribadinya, dan mendidik bangsanya untuk bisa menghargai Raja Saul yang sudah diurapi oleh Tuhan. Hidup Bersama harus bisa berpikir positip, berkata positip, bertindak positip, dan bersikap positip. Di sini Daud tidak hanya bersedia memberikan hartanya, tetapi juga simpatinya, dukungan moral, penghargaan, serta penghormatan kepada Saul sebagai seorang Raja yang telah diurapi oleh Tuhan!
Dalam Mazmur 130:6 ditekankan jiwa yang mengharapkan Tuhan, hal itu harus selalu diingatkan dalam Hidup Bersama kita, sebab bukan kebaikan manusia yang terpenting tetapi kebaikan Tuhan melalui sesama kita. Hidup Bersama kita harus menjadi Hidup Bersama Tuhan juga! Sebab Tuhanlah yang menggerakkan hati kita untuk memberi, Ia juga yang menjaga keutuhan persekutuan kita, Ia yang melatih, menguji dan terus meningkatkan Hidup Bersama kita dalam firman, dan pimpinan TanganNya!



















