Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 5 Juli 2009
Minggu Biasa IX- Perjamuan Kudus
II Samuel 5:1-5, 9-10 Mazmur 48 II Korintus 12:2-10 Markus 6:1-13
Napoleon Bonaparte sering diasosiasikan sebagai jendral perang Perancis terhebat pada zamannya. Namun, catatan hitam kekalahannya di Waterloo atas tentera Inggris yang dipimpin oleh Duke of Wellington, membuat banyak orang bertanya-tanya apa yang menjadi penyebabnya? Beberapa wartawan penasaran dan mewawancarainya di penjara. Seorang wartawan bertanya,”Pak Jenderal, bisa Anda ceritakan mengapa tentera Inggris mengalahkan Anda di pertempuran Waterloo? Apakah mereka memiliki tentera yang lebih kuat?”
Dari kegelapan penjara terdengar suara Napoleon yang berkata, “Tidak.” Wartawan bertanya lagi: “Apakah karena mereka memiliki senjata yang lebih canggih?” Sekali lagi Napoleon menjawab, “Tidak.” ” Kalau begitu, mengapa Anda kalah pada pertempuran itu?” Keadaan hening sejenak lalu terdengar jawaban Napoleon:” Tentera Inggris berperang lima menit lebih lama dibandingkan tentera kami.” Cara berperang pada zaman Napoleon tentu berbeda dengan zaman sekarang, tetapi ada satu kenyataan yang tidak berubah sampai saat ini, yaitu mereka yang berjuang lebih lamalah yang akan memenangkan peperangan! ( Dikutib dari Buku Champion ). Kemenangan anak Tuhan dalam hidup yang penuh tantangan ini juga ditentukan oleh seberapa jauh kegigihan kita, tetapi selalu dalam pergumulan bersama Tuhan!
Hidup yang dipergumulkan bersama Tuhan menjadi semakin bermutu, sebab selalu ditandai oleh campur tanganNya yang positip, yang kita hayati sebagai kasih karuniaNya. Rasul Paulus salah seorang hamba Tuhan yang dalam hidupnya mengalami banyak sekali pergumulan, serta memperoleh kasih karunia Allah. Dia yang berniat menciduk para pengikut Kristus di Damsyik, malah terjaring dalam kasih Kristus yang ajaib. Sejak itu ia mengalami berbagai mujizat, seiring pelayanannya yang semakin penuh semangat dan gairah. Kasih karunia Allah sangat besar, jika mengingat bahwa semula Paulus sangat membenci dan memusuhi Yesus, tapi bisa berubah total menjadi sangat mencintai dan membela Kristus dalam sisa hidupnya. Namun demikian, dia tetap seorang manusia biasa dengan segala keterbatasannya. Dalam bacaan kita tadi II Korintus 12, kita dapat sedikit melihat dan mungkin ikut merasakan dinamika pelayanannya sebagai rasul Tuhan.
Pertama, Paulus mengaku pernah terangkat ke sorga tingkat tiga dan Firdaus yang mulia, dalam pengalaman rohaniahnya, dalam wahyu Tuhan, dalam ekstasis diluar kesadaran, atau apapun namanya. Semua itu hanya sebentar saja, juga tidak banyak yang diceritakan oleh Paulus. Tetapi meskipun demikian, pengalaman rohaniah seperti itu adalah kasih karunia yang cukup dari Tuhan. Sebab kita lalu bisa semakin mengenal sifat Tuhan, yang sangat Pemurah terhadap manusia. Walau sorga merupakan rahasia, tetapi karena Tuhan begitu menginginkan kita berada di sana maka setiap ada kesempatan, manusia sudah boleh mengintipnya. Yakub diberi impian yang sangat mengesankan tentang para Malaekat yang turun naik tangga yang ujungnya sampai di langit (Kejadian 28:12). Yesaya melihat Tuhan duduk di takhta yang tinggi, ujung jubahNya memenuhi Bait Suci, lalu ada para Serafim (Yesaya 6). Mengapa Paulus yang merasa terangkat ke sorga itu, tidak banyak berbicara tentang situasi di sana? Mengapa Paulus hanya mengatakan bahwa ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan? Karena bagi Paulus, yang terpenting bahwa di sorga ada Tuhan. Sukacita sorgawi adalah bahwa kita akan dapat bertemu dengan Tuhan, dan bersama Tuhan untuk selama-lamanya! Sukacita sorgawi yang tersedia secara pasti itu, mari kita biarkan memenuhi hati supaya kita mampu hidup dalam pengucapan syukur, setia dan tekun dalam pengabdian, bersemangat melayani dalam KerajaanNya di dunia ini! Ikut menghadirkan damai sejahtera sebagai bukti bahwa kita merindukan kehidupan sorgawi.
Kedua, segera sesudah berbicara tentang pengalaman sorgawi itu, Paulus juga berbicara tentang kelemahannya, yang digambarkan sebagai duri dalam daging, juga sebagai utusan iblis yang menghajar dia. Penderitaan Paulus seperti duri dalam daging, artinya tiap-tiap kali dapat muncul dan mengganggu. Seperti utusan iblis yang menghajar dia, lebih berat lagi, sebab berpotensi melemahkan iman dan pelayanan. Semua ini mengingatkan kita kepada Ayub, yang dihajar iblis secara hebat dengan seizin Tuhan. Karena begitu berat penderitaan itu, maka Paulus mengaku bahwa sudah sampai tiga kali ia berdoa kepada Tuhan, minta supaya dibebaskan dari semuanya itu. Apakah itu berupa penyakit atau kenangan masa lalu, bahwa pernah begitu jahat terhadap pengikut Tuhan? Kita tidak tahu pasti, namun jelas ada dan menyakitkan hati Paulus. Di sini kita melihat bahwa setiap anak Tuhan, bahkan seorang Paulus sekalipun tak bisa bebas dari masalah hidup. Semakin besar iman dan pelayanan kita, maka akan semakin besar pula “duri” yang kita hadapi. Mengapa demikian? Karena Tuhan melihat bahwa kita akan kuat memikulnya, sebagai salib dari Tuhan. Juga supaya kita jangan menjadi sombong bahwa telah menjadi anak-emas Tuhan. Kita harus tahu bahwa meskipun Tuhan mengasihi kita , namun keadilanNya membuat Tuhan tidak secara otomatis, atau dengan sendirinya menggugurkan setiap kesusahan hidup kita. Selain itu, Tuhan berharap supaya kita tampil sebagai teladan bagi sesama kita. Agar mereka bisa belajar melalui sikap hidup kita sebagai anak Tuhan yang tidak cengeng, tapi mau berdoa sambil tetap berusaha.
Ketiga, Kepada Paulus dan kepada setiap anakNya Tuhan berkata:”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justeru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Kita diingatkan bahwa kasih karunia Tuhan tidak pernah kurang tapi cukup. Berbeda dengan ukuran “cukup” menurut manusia, yaitu pas-pasan sebab pada dasarnya kita kikir dan egois. Ukuran “cukup” menurut Tuhan selalu melimpah sebab Ia Maha kaya, dan Pemurah, dan kasih karuniaNya memang khusus disediakan untuk manusia dan yang beriman kepadaNya.Dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan supaya kita minta secukupnya saja. Tapi dalam kenyataan kita selalu diberi banyak! Maka bersama Paulus, mari kita belajar melihat kasih karunia Tuhan, yang cukup dalam hidup kita. Kasih karuniaNya janganlah kita batasi pada materi atau kesehatan semata, tetapi harus yang seluas-luasnya sampai meliputi harta sorgawi yang kekal itu. Selanjutnya, justeru di dalam kelemahanlah kuasa Tuhan menjadi sempurna. Sungguh sangat aneh! Apa artinya? Tuhan sering mulai bertindak dalam hidup kita, tepat pada saat kita menentukan untuk stop! Pada saat kita tidak berdaya, Tuhan justeru berjaya bagi kita. Karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan (Lukas 1:37), dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya (Markus 9:23). Terang akan semakin nyata di dalam kegelapan yang besar, demikian pula kuasa Tuhan tampak sempurna dan benderang di dalam kelemahan kita yang kelam.
Dalam Markus 6 kita melihat bahwa Tuhan Yesus mengajar di rumah ibadat, juga melakukan banyak mujizat yang menakjubkan, tetapi memperoleh tanggapan yang negatip bahkan penolakan (Markus 6:3). Sampai di ayat 6 kita membaca bahwa Tuhan Yesus sendiri merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Tapi semua itu segera dinetralisir oleh pemahamanNya bahwa seorang nabi tidak dihormati di tempat asalnya sendiri. Yesus tidak mau stop, Ia justeru termotifasi oleh kenyataan bahwa memang sedang berhadapan dengan umat manusia bejad, yang sangat membutuhkan pemberitaan Firman bahkan penebusan dosa, maka di ayat yang sama (ayat 6) lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar! Yang lebih hebat, kemudian Yesus justeru melakukan peningkatan misi-Nya melalui pengutusan duabelas muridNya dengan pesan khusus agar jangan berkecil hati manakala mendapat menolakan seperti Gurunya! Jadi Yesus Kristus yang menolak permintaan Paulus sampai tiga kali itu, di dalam hidup dan pelayananNya juga pernah bahkan sering ditolak! Sebagaimana Ia mau bertahan dengan tegar, sambil tetap fokus kepada panggilan mulia-Nya, demikian pula Ia berharap agar Paulus dan kita semua mengikuti jejakNya. Lebih jauh kita perlu mengungkap kembali dari sanubari yang terdalam, satu drama penolakan yang paling dahsyat, yaitu tatkala Bapa terkasih memalingkan wajahNya, justeru pada saat Sang Putera sedang berada di puncak pelayanan kasihNya yang termulia! “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Markus 15:34. Buah dari penolakan bahkan murka Bapa ini sekarang tersedia bagi kita yang terwakili di dalamnya, sebagai “obat manjur” untuk segala bentuk penolakan, dan segala kegetiran hidup sehebat apapun juga di dunia ini.
Apa yang kita baca dalam II Samuel 5 tentang Daud, sepertinya dapat menggambarkan Yesus Kristus. Sesudah melewati status kehinaan yang semakin mendalam, akhirnya Yesus Kristus mengalami kemuliaan yang semakin memuncak, yaitu naik ke sorga duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Demikian pula Daud pada waktu dikejar-kejar oleh Saul telah mengalami begitu banyak penderitaan sebagai buron yang hina. Selain telah ditolak oleh Raja Saul, Daud juga selalu dibayang-bayangi maut ngeri. Tapi Daud bisa bertahan, tegar, dan yang menarik ia tidak mendendam kepada Saul., mencerminkan hati Kristus. Maka tertulislah dalam II Samuel 5:10: “Lalu makin lama makin besarlah kuasa Daud, sebab Tuhan, Allah semesta alam, menyertainya.” Tetapi kuasa dan kemuliaan Raja Daud tidak seberapa jika dibandingkan Yesus Kristus, yang kuasaNya meliputi bumi dan sorga, kemuliaanNya sempurna, dan keberadaanNya kekal untuk selamanya!
Mazmur 48:15 mempertegas dua hal yang penting, yaitu Dia adalah Allah kita untuk seterusnya dan selamanya. Lalu, Dialah yang memimpin kita. Kalau sudah begitu maka perjalanan hidup kita boleh bergejolak, boleh bermunculan segala macam masalah yang menantang. Tetapi, kita akan menghadapi dengan sikap berani. Apa artinya “berani”? Berani sebenarnya adalah takut, tetapi jalan terus! Jika memandang kemampuan diri sendiri memang takut, itu manusiawi. Tapi jalan terus, sebab percaya kepada Tuhan yang hebat! Tuhan yang tak pernah absen, dan selalu siap memimpin kita dalam sikap dan jalan yang benar! Dan bagi kita, semua itu sudah lebih dari cukup!
0