Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 19 Juli 2009
Minggu Biasa XI
2 Samuel 7:1-14a Mazmur 89:20-37 Efesus 2:11-22 Markus 6:30-34, 53-56
Baru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang pendeta, berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua, rame-rame makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu, Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan. Tiba-tiba salah seorang pengunjung baru restoran itu dengan nada memerintah berkata kepada Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!” Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.” Tetapi Joas tidak segera pergi sebab harus menjawab panggilan telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan Jemaat GKI Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT Jakarta supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera minta maaf dan mau berkenalan, serta ngobrol dengan Joas, maka dengan begitu yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!
Dalam 2 Samuel 7 kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5). Keberadaan Daud sebagai raja hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim. Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat. Bagaimana dengan iman Daud? Tiba-tiba saja dia merasa bersalah bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.
Pertama: Sikap Daud yang tidak baik terhadap Tuhan, ialah ketika Daud yang terkenal sangat religius itu ternyata berlarut-larut dalam mengabaikan kepentingan Tuhan. Walau Tuhan sendiri menyatakan bahwa Ia “sudah terbiasa” tinggal di tenda sebab selalu mengembara bersama umatNya, dan tidak pernah minta dibangunkan sebuah rumah, tetapi ternyata Tuhan menentukan Salomo yang akan membangunkan sebuah Rumah bagiNya kelak. Itu berarti sebetulnya Tuhan bersedia dibangunkan sebuah Rumah atau Bait Allah, jadi Daud telah bersalah kepada Tuhan, sebab telah mendahulukan dirinya sendiri. Maka tadi Tuhan mengingatkan asal-usul Daud serta peningkatan hidupnya yang hanya merupakan kasih karunia Tuhan.
Kedua: Sikap Daud yang baik terhadap Tuhan, setelah menyadari kesalahan ia bersedia untuk segera membangun sebuah Rumah bagi Tuhan, supaya tabut perjanjian Tuhan tidak lagi disimpan di sebuah tenda yang sederhana! Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dahulu Daud itu berjauhan tetapi sekarang sudah mendekat. Tapi sekiranya kita tarik garis hidup Daud lebih ke belakang lagi, seperti yang dilakukan oleh Tuhan, yaitu tatkala dia belum menjadi seorang raja, di situ Daud justeru hidup sangat dekat dengan Tuhan. Ingatlah ketika Daud akan berhadapan dengan Goliat, dengan gagahnya Daud berkata:”Tuhan yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filitin itu.” Kalau begitu dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam hidup ini hubungan kita dengan Tuhan dapat mengalami perubahan berulang kali, tidak stabil karena dipengaruhi oleh macam-macam faktor.
Apa yang dapat kita bayangkan saat membaca Markus 6 tadi? Agaknya kehadiran Yesus Kristus di tengah-tengah pergaulan manusia itu, telah mendatangkan kegemparan besar! Dapat dipastikan bahwa kehadiran Yesus Kristus telah mendatangkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat Yahudi saat itu. Walau menyadari keberadaan mereka sebagai umat Allah, tetapi hidup mereka tidak seperti umat Allah. Hidup keagamaan mereka hanya secara ritual semata. Hambar, membosankan, tertekan dan menanggung beban, menakutkan karena ditandai oleh banyak ancaman hukuman illahi, kering bahkan juga hampa sebab seperti raga tanpa jiwa atau roh. Tapi sekarang! Ketika Yesus Kristus datang maka segalanya pun berubah total! Tuhan Allah menurut versi Yesus jauh berbeda dengan pandangan para pemimpin mereka. Begitu pula dengan Hukum Taurat, masalah doa, puasa, persembahan, perzinahan, pembunuhan, dan segala-galanya! Bertemu dengan Yesus Kristus mereka merasa seperti sedang bergaul dengan seorang Guru Besar dan Gembala Baik yang memberi penghiburan dan dorongan, petunjuk dan nasehat yang berharga. Belum lagi saat menyaksikan Yesus Kristus menyembuhkan orang-orang sakit serta melakukan berbagai mujizat, hati mereka pun begitu tergoncang karena sadar bahwa sedang berhadapan dengan seorang Nabi bahkan dengan Allah sendiri. Bagi umat Tuhan semua itu merupakan lembar hidup yang baru. Mereka tentunya dapat berkata bahwa dahulu jauh, tetapi sekarang sudah terasa semakin dekat hidupnya dengan Tuhan. Kita melihat dalam bacaan kita bahwa manusia yang hidup dekat dengan Tuhan ditandai oleh hal-hal yang menarik, yaitu: 1. Munculnya ketertarikan kepada pribadi Kristus,, sehingga lalu proaktif cari tahu keberadaan-Nya, mendatangi tanpa mengenal lelah dan pantang menyerah. 2. Selalu mengajak orang-orang lain untuk bergabung, agar ikut menikmati kebahagiaan yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Maka kita melihat tadi betapa jumlah mereka lalu membengkak, kedatangan mereka itu dari segala penjuru: Seluruh daerah, desa, kota dan kampung (Mrk6:55,56). 3. Karena tumbuh iman percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka menyerahkan diri seutuhnya baik sebagai orang sehat maupun sakit, seperti domba yang pasrah kepada Gembalanya. Hal itu membuat hati Tuhan Yesus tergerak sebab di mata-Nya mereka itu seperti domba yang tidak mempunyai gembala (Mrk6:34} 4. Mereka juga diperkenan menjamah-Nya, berarti bisa berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan Yesus! (Mrk6:56) Itulah yang disebut kedekatan yang membawa berkat, sebab tertulis bahwa semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Keadaan ini sangat istimewa, karena biasanya kesembuhan terjadi setelah dijamah oleh Tuhan Yesus
dan bukan sebaliknya!
5.Dipersiapkan untuk menerima yang paling penting, yaitu karya Kristus yang terbesar! Semua orang yang berdekatan dengan Kristus akan mengetahui bahwa Kristus Yesus datang untuk menggenapi Hukum Allah, untuk mewujudkan rencana Allah, untuk menanggung tuntutan keadilan Allah atas manusia, untuk mewakili Allah menyatakan kasih-Nya yang sangat besar, untuk merubuhkan tembok-tembok pemisah supaya yang berjauhan menjadi dekat!
Di dalam Efesus 2 tadi kita dapat melihat karya Kristus secara besar-besaran, yaitu:
Yang utama, bahwa di dalam Kristus Yesus kita yang dahulu “jauh” , sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus. Hal ini terjadi atas segala bangsa dan semua manusia di dunia karena Allah mengasihi isi dunia ini (Yoh3:16). Jika semula kita berjauhan dengan Allah, bahkan memusuhi Allah melalui segala dosa kita yang keji itu, maka sekarang karena jasa Kristus Yesus kita sudah diperdamaikan dengan Allah, sehingga hubungan kita dengan Allah sudah menjadi sangat dekat. Tembok dan jurang yang memisahkan kita dengan Allah sudah dilenyapkan oleh pengorbanan Kristus. Pada zaman Tuhan Yesus ada banyak orang Yahudi yang karena merasa menjadi bangsa pilihan Allah, umat Allah, lalu beranggapan bahwa keselamatannya sudah terjamin. Kristus Yesus datang untuk menyadarkan “iman” mereka yang salah. Demikian pula di antara kita selaku orang Kristen saat ini, juga perlu disadarkan bahwa kekristenan kita bukan merupakan jaminan keselamatan. Sebab setiap manusia berdosa harus mau menyambut Kristus dan karya penebusanNya dengan iman yang benar.
Selanjutnya, sebagai Penebus yang sempurna maka Kristus Yesus memberitakan damai sejahteraNya, dan di hadapan Allah tembok-tembok pemisahan di antara kita sudah dirubuhkan, sehingga kita sama-sama beroleh jalan masuk kepada Bapa, tak ada lagi orang asing atau pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah yang berbahasa kasih!
Akhirnya, di dalam Kristus Yesus kita semua tak ada yang terkecuali, rapi tersusun menjadi bait Allah yang kudus, tempat kediaman Allah di dalam Roh. Dengan demikian kita mengetahui bahwa peran Kristus Yesus sungguh sangat sentral, mempersekutukan manusia dengan Sang Khalik dan dengan sesamanya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang indah, mulia dan kekal!
Dalam Mazmur 89:21,22 kita membaca bahwa Allah sedemikian memberkati Daud. Mengapa demikian? Jawabnya adalah: Karena Allah mempunyai rencana besar atas Dia yang disebut Anak Daud, seorang keturunannya yang akan mengubah dunia ini, sehingga yang dahulu jauh bisa menjadi dekat!


















0