MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 02 Agustus 2009
Minggu Biasa XIII
Keluaran 16: 2-4, 6-15 Mazmur 78: 23-29 Efesus 4: 1-16 Yohanes 6: 24-35
Suatu hari ada seorang pengemis yang mengumpulkan kaleng dan botol kosong yang berserakan di pantai Florida. Ketika ditanya oleh seseorang, jawabnya adalah demi uang. Ia bisa menukar kaleng dan botol kosong itu dengan sedikit uang. Selanjutnya juga ada seorang pemuda yang melakukan hal yang sama sebagai hukuman, sebab ia tertangkap basah ketika mencuri barang di sebuah supermarket.Maka baginya itulah pekerjaan sosial yang sangat menyebalkan! Akhirnya, ada seorang bapak yang melakukan pengumpulan kaleng dan botol kosong demi kebersihan dan kelestarian pantai, dan semua itu dilakukan olehnya dengan kesadaran, ikhlas dan sukacita! Martin Luther King, Jr menyampaikan demikian:” Jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang penyapu jalan, hendaknya ia menyapu jalan seperti bagaimana Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven menyusun karya musiknya atau seperti Shakespeare mencipta puisi. Ia hendaknya menyapu jalan sedemikian baik dan bersih sehingga seluruh isi langit dan bumi ini berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa seorang penyapu jalan telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.” ( Dari Buku Champion ). Jika mengumpulkan kaleng dan botol kosong, serta menyapu jalan saja bisa mendatangkan kekaguman bagi yang melihat, dan kepuasan batiniah bagi yang melakukannya, terlebih lagi: Melakukan pekerjaan yang menyangkut keselamatan umat manusia seperti yang dilakukan oleh Kristus. Apakah selaku anak-anakNya kita juga telah diajari untuk melakukan pekerjaan yang mulia, yang mempunyai nilai kekal?
Tuhan adalah Pekerja yang agung, kalau tidak begitu maka kita pasti tidak pernah ada, atau sudah mati semua. Tuhanlah sang Pencipta dan Pemelihara alam semesta, teristimewa umat manusia di dunia ini. Sejak manusia jatuh dosa, kita melihat perhatian Tuhan langsung tertuju kepada pemulihan hidup kita yang sudah dirusak oleh dosa. Setiap rencana dan langkah yang diambil oleh Tuhan, setindak demi setindak menuju kepada pemulihan hidup kita, yaitu supaya bisa menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Kita lihat Tuhan bagai Pekerja yang giat dan tekun, bahkan berjerih payah dalam memperjuangkan keselamatan umat manusia, karena Ia mengasihi dunia ini.
Jika Tuhan adalah Pekerja yang agung, Kreator yang kreatif maka sebagai anak-anakNya kita menjadi Pekerja kecil yang melakukan tugas sesuai dengan kadar pekerjaan masing-masing, hal itu kita baca tadi di Efesus 6:16. Pekerjaan apa pun yang kita yakini berasal dari Tuhan kita syukuri sebagai berkat, kemalasan kita lawan, etos kerja kita tingkatkan! Dengan demikian kita dapat memancarkan keindahan Tuhan.
Tuhan mengerjakan pembebasan umat-Nya, dari kekuasaan bangsa Mesir. Maka dalam Keluaran 16 tadi kita membaca betapa Tuhan berhasil mengeluarkan mereka dari Mesir. Tuhan tidak rela jika umatnya ditawan, ditekan, dicederai dan diperbudak. Di sini Tuhan melihat perlakuan kejam orang-orang Mesir sebagai bukti dosa di hati manusia. Maka Tuhan peduli dan mendengarkan teriak umatNya minta tolong, lalu Ia pun bertindak dalam rangka pemulihan yang sangat significant! Tuhan mau menegakkan kembali harkat dan martabat umatNya di antara bangsa-bangsa di dunia, sebab Tuhan mempunyai rencana besar atas umatNya. Ketika Tuhan mengerjakan pembebasan umatNya, ada dua hal yang dilakukan Tuhan, yaitu: Pertama, mengikut- sertakan Musa dan Harun. Kedua hamba Tuhan itu dipersiapan untuk memimpin perjalanan panjang dan sulit, yang bakal di hadapi seluruh umat menuju ke Tanah Perjanjian. Juga agar di hadapan Firaun serta umat Israel, mereka berdua dapat diterima sebagai wakil dan pemimpin yang resmi. Dan yang terpenting, sejak awal mereka berdua sudah diyakinkan melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Keyakinan seperti itu sangat dibutuhkan sebab di depan sana sudah menghadang sejumlah besar problema, yang berpotensi menggrogoti semangat juang mereka selaku pemimpin bangsa. Kedua, kadang Tuhan juga berperan tunggal, tanpa mengikut- sertakan siapa pun juga, yaitu ketika Tuhan melakukan berbagai mujizat di hadapan Firaun (Sepuluh tulah} maupun seluruh umat (Manna dan burung puyuh dll). Di sini kita disadarkan, bahwa sebenarnya Tuhan tidak bergantung dari siapa pun. Jika sampai mengikut sertakan kita juga, adalah suatu kehormatan dan anugerah yang sangat besar bagi kita!
“Tetapi sekarang ini apakah aku sebagai anggota jemaat biasa juga bisa dan diperbolehkan melakukan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan dalam hidupku?” Pertanyaan seperti itu mungkin saja muncul diantara anak-anak Tuhan. Jawabnya adalah: Tentu saja bisa dan boleh. Kita juga bisa melakukan pekerjaan yang dikehendaki Tuhan, yaitu dengan cara: Melakukan pekerjaan Tuhan di dalam jemaat, masyarakat bahkan dunia dalam bidang kita sesuai bakat, talenta dan kemampuan masing-masing. Untuk itu dalam Efesus 4:11,12 dijelaskan bahwa Tuhan sudah menentukan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan yang dikehendaki Tuhan, yaitu pembangunan tubuh Kristus.
Selanjutnya, menghayati karunia pembebasan Tuhan di Mesir, serta pembebasan Kristus atas kuasa dosa yang dilakukan di Golgota, maka marilah sekarang kita lawan dengan gigih kuasa dosa yang dapat menjajah dan memperbudak kita. Siapa yang dalam hidupnya masih menggenggam dosa maka dengan sendirinya akan dihambat, dicegah, dipersulit dan digagalkan oleh dosa itu sendiri sampai tidak dapat melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Dari dalam penjara rasul Paulus menganjurkan, selaku pengikut yang sudah dipanggil oleh Kristus, hendaklah hidup kita berpadanan dengan panggilan itu (Efesus 4:1}.
Tuhan mengerjakan pencerahan, ketika Ia disalahmengerti dan dituduh oleh umat-Nya. Membebaskan umat dari perbudakan Mesir, dan memimpin mereka memasuki Kanaan, adalah karya besar yang dikehendaki Allah. Tetapi umat yang seharusnya bersyukur itu, malah bersungut-sungut dan dengan sangat kasar menuduh, bahwa Musa dan Harun sengaja merencanakan mereka mati kelaparan di padang gurun (Keluaran 16:2,3). Menuduh Musa dan Harun seperti itu berarti menuduh Tuhan juga, sebab mereka berdua hanya utusan Tuhan. Tetapi Tuhan tidak murka kepada umatNya, malah bersedia mencurahkan berkat sorgawi, sehingga setiap hari mereka bisa makan manna dan daging burung puyuh dengan cukup. Di sini Tuhan telah tampil sebagai Allah yang handal dan konsekuen. Segalanya sudah terencana dengan matang, tantangan demi tantangan dihadapi-Nya secara elegant dan penuh pemahaman.
Ingat baik-baik! Saat kita sedang melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah, bukan hanya hasilnya saja yang mau dilihat oleh Tuhan, tetapi juga caranya! Kenyataan menunjukkan, banyak sekali hasil kerja yang dinodai oleh cara-cara yang tidak terpuji. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Itulah tadi yang kita baca di Efesus 4:2. Berhadapan dengan Tuhan, kita bisa terkagum-kagum, coba pikir: Tuhan itu Maha kuasa, tapi tidak mau menonjolkan segala kekuasaanNya apalagi menggunakan tangan besi dalam menentukan kehendakNya. Tuhan itu Maha kaya, tetapi tidak menonjolkan kekayaanNya, apalagi mengobralNya tanpa guna. Meskipun Ia Maha kuasa dan Maha kaya, namun dengan sangat bijak mengetrapkan cara-caraNya yang elok! Sejiwa dengan firmanNya sendiri (Efesus 4:2), Tuhan adalah yang paling rendah hati, lemah lembut, sabar dan penuh kasih dalam melakukan segala pekerjaanNya.
Tuhan mengerjakan pengorbanan diri, supaya kita tidak akan lapar lagi! Di dalam Injil Yohanes 6 tadi kita membaca bahwa Tuhan Yesus mengerjakan pengorbanan diri yang paling agung yang pernah dilakukan orang di dunia ini.Apa yang membuat paling agung? Pertama, sebab Dia telah menyerahkan diriNya secara total. Kedua, penyerahanNya dilakukan tanpa tekanan tapi dengan kasih.
Ketiga, tujuan pengorbananNya hanya satu, yaitu supaya dapat menyelamatkan kita.
Keempat, pengorbananNya diakui dan disahkan oleh Bapa (Yoh6:27).
Meskipun paling agung, namun digambarkan dengan sangat sederhana, yaitu hanya sebagai makanan, atau roti. Dalam ayat 27 Tuhan Yesus menganjurkan supaya kita bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan olehNya kepada kita. Di sini dianjurkan kepada kita supaya bekerja dan kemudian akan diberi. Apakah untuk menerima keselamatan kita mesti bekerja? Bukankah keselamatan dianugerahkan semata oleh Tuhan? Memang sepenuhnya hasil karya Kristus yang dianugerahkan, namun untuk menerima dan memilikinya kita harus mau membuka, kemudian mengulurkan tangan-iman kita kepadaNya. Iman yang benar, yang ditandai pengenalan, pengetahuan, keyakinan akan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Dalam Filipi 2:12 dikatakan: “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Jadi keselamatan harus selalu kita kerjakan dengan penuh kesungguhan agar terlindung dari godaan, dan terus menerus kita kerjakan peningkatannya melalui berbagai kegiatan rohaniah dan gerejawi. Selain begitu Firman Tuhan mengingatkan bahwa harus dengan takut dan gentar, artinya tetap harus bertumpu pada kuat kuasa Tuhan, tidak bersandar pada kemampuan atau kesalehan kita sendiri! Diselamatkan oleh Tuhan merupakan kebahagiaan, tapi sekaligus juga tanggung jawab. Sebab Tuhan selalu mempunyai rencana yang lebih besar, yaitu semakin banyak lagi yang diselamatkan. Jika lilin keselamatan sudah dinyalakan dalam diri kita, maka mari kita teruskan kepada yang lain. Hal itu akan membuat hidup kita menjadi semakin bergairah. Di sini ada tulisan indah tentang lilin: A candle loses nothing if it is used to light another one. Maka jangan kita kikir segalanya,dalam hal meneruskan keselamatan Kristus kepada sesama kita. sebab itu adalah pekerjaan yang paling diharapkan Tuhan atas anak-anakNya. Allah sudah memberi teladan ketika menurunkan Roti malaikat, hujan daging, dan Roti Hidup!
You must be logged in to post a comment.
Terima kasih untuk khotbahnya yang cukup menarik, alangkah bagusnya kalau bagian inti dari khotbah (Yoh: 6:24-35) di ulas dengan lebih lugas agar kami bisa mengerti dengan lebih baik. Saya kesulitan untuk mengikuti jalan pikiran yang telah di berikan, saya berpikir pasti ada bagian pembukaan sedahnya masuk ke bagian inti dari kotbah dan ditutup dengan bagian penutup yang merupakan aplikasi dari injil yang dibacakan bagi pendengar masa sekarang. Dalam tulisan ini tidak terlalu jelas pembagian itu, tetapi saya percaya punulis telah berusaha dengan bantuan Roh Kudus menyajikan suatu permenungan yang bagus pula bagi saya yang membacanya hari ini. Terima kasih Tuhan Memberkati