"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

MENGAPA BERTENGKAR?

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 20 September 2009

Minggu Biasa XX

Yeremia 11:18-20 Mazmur 54 Yakobus 3:13-4:3,7-8a Markus 9:30-37

PertengkaranKonon ada kakak beradik yang bertengkar hebat gara-gara pembagian harta peninggalan orang tua mereka. Pertengkaran meningkat menjadi permusuhan, bahkan meluas kepada keluarga mereka masing-masing. Padahal mereka itu merupakan warga gereja yang terpandang. Karena sangat sulit didamaikan, akhirnya Pak Pendeta menempuh satu jurus penyelesaian yang sangat unik, sebagai berikut: Kedua belah pihak keluarga yang bertengkar diundang untuk berkumpul di Rumah Tuhan, tentu bukan pada hari minggu. Sengaja mereka dipisahkan menjadi dua kubu yang diberi kesempatan yang luas untuk menuliskan segala kedongkolan, uneg-uneg, kemarahan bahkan kebencian yang satu terhadap yang lain. Setelah puas mengungkap segala yang negatip tentang lawannya, maka Pak Pendeta mulai menyampaikan kotbah singkatnya, membakar kertas-kertas itu sambil berkata:” Dalam Nama Yesus Kristus sekarang saya bakar habis segala sakit hati kalian, maka mulai hari ini tidak ada pertengkaran dan permusuhan, sebab kalian sudah dipersatukan kembali oleh Tuhan Sang Raja Damai!” Menyaksikan semua itu dan mendengar kata-kata yang berwibawa dari sang Hamba Tuhan maka merekapun saling berpandangan, saling mendekat dan akhirnya berpelukan sambil menangis histeris! Sejak hari itu mereka memulai lembar hidup baru sebagai keluarga besar yang hidup saling mengasihi. Dari menjadi batu sandungan, kini mereka berubah dapat memuliakan Nama Tuhan di tengah masyarakat! ( Kisah nyata djadoel yang dituturkan dosen saya }.

Kristus yang bisa menghindar. Dalam Markus 9:30 dikatakan bahwa ketika melewati Galilea bersama para muridNya, Tuhan Yesus tidak mau diketahui orang , karena Ia mau mengajar murid-muridNya tentang kematian dan kebangkitanNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sangat mementingkan tujuan utamaNya datang ke dalam dunia ini, serta rencana mempersiapkan para saksi mata, jauh-jauh hari sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus tidak mengutamakan popularitas. Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak suka menonjolkan diri; Ia dapat “menyembunyikan diri” selama tigapuluh tahun, sebelum memulai tugas besarNya. Segala sesuatu dilakukanNya sesuai rencana bapaNya, sehingga tatkala ibuNya berkata tentang pesta kawin di Kana yang kehabisan anggur, maka jawab Tuhan Yesus:”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Yesus juga pernah menyingkir seorang diri ke gunung ketika orang banyak akan memaksaNya menjadi raja mereka (Yohanes 6:15). Jika dihubungkan dengan masalah pertengkaran, maka seni menghindar termasuk pelajaran yang sangat penting. Dari pada menimbulkan rasa tidak puas dari orang banyak, lebih baik menghindar saja. Kita diajari Kristus agar pandai-pandai membaca situasi, menimbang dan memahami kecenderungan orang. Dalam hidup ini banyak pertengkaran dan salah paham terjadi gara-gara kita tidak pandai membawa diri, menempatkan diri dan menghindarkan diri. Ikut mencampuri urusan orang lain juga potensial menghadirkan pertengkaran. Kita sudah dilengkapi Allah sejak bayi dengan kepekaan dan hikmat. Dalam Yakobus 3:17 dikatakan: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Pertengkaran Bisa muncul di mana saja! Dalam pergaulan dengan masyarakat luas, ketika kita merasa tersinggung karena dihina atau hak kita diinjak-injak. Di tempat kerja kita, dengan teman sejawat, dengan karyawan , bahkan dengan majikan kita sendiri kita bisa bertengkar hebat yang biasanya berakhir dengan putus hubungan kerja! Pertengkaran dalam rumah tangga sepertinya yang paling banyak terjadi. Kedengarannya agak aneh, tapi nyata. Aneh sebab orang yang serumah dengan kita itu sebetulnya adalah merupakan sesama terdekat, tapi justeru dengan mereka yang seharusnya kita sayang , kita malah bertengkar dan berkelahi! Contoh di awal kotbah tadi masih belum seberapa, karena banyak kasus yang jauh lebih tragis! Di sini ada tulisan yang bisa kita trapkan untuk menghindari konflik rumah tangga: 10 Hukum Pernikahan Bahagia.

  1. Menuruti Allah, jangan menuruti hawa nafsu sendiri ( Efesus 5:1}.
  2. Trapkan sikap lemah lembut, jangan berteriak pada waktu yang bersamaan, kecuali jika rumah sedang terbakar! ( Matius 5:5 ).
  3. Sabar, kuasai diri sendiri, mengalah saja pada waktu bertengkar ( Amsal 16:32 ).
  4. Terikat hanya dengan pasangan Anda, jangan ada orang ke tiga! ( Kolose 3:14 ).
  5. Bersedia melupakan kesalahan masa lalu, tidak mengungkit-ungkit, seperti yang juga kita harapkan dari Tuhan ( Mikha 7:19 ).
  6. Jangan pernah melupakan pasangan hidup Anda ( Kidung Agung 8:6 ).
  7. Jangan menyimpan amarah sampai matahari terbenam ( Efesus 4:26 ).
  8. Seringlah memberi pujian kepada pasangan hidupmu ( Amsal 27:2 ).
  9. Bersedia mengakui kesalahan ( Amsal 28:13 ).
  10. Dalam pertengkaran, yang banyak bicara biasanya yang salah ( Pengkhotbah 3:7 )

Tidak mengerti tapi segan bertanya, menunjukkan bahwa mereka bukanlah murid yang baik. Cuek, malas, tidak bergairah dan kurang serius! Itu yang kita baca tentang sikap para murid terhadap penegasan Tuhan Yesus yang paling penting, untuk mereka pahami dan yakini (Markus 9:32). Kematian Kristus yang akan disusul dengan kebangkitanNya harus selalu melekat dalam ingatan dan hati mereka. Dengan demikian pengabdian mereka menjadi berbobot, dan segala jerih lelah mereka terasa ringan. Sikap para murid yang perlu ditegur dan diperbaiki itu menjadi cermin untuk kesalahan kita selama ini, sebab kita juga sering sok mengerti padahal tidak atau salah pemahaman terhadap ajaran Tuhan. Konsep yang kliru tentunya menghasilkan kiprah yang salah pula. Pada saat kita mulai membaca satu bagian Alkitab yang sudah terkenal, sering kita merasa sudah paham padahal jika dibaca dengan cermat maka kita akan menemukan banyak hal baru yang sangat penting untuk hidup kita.

Bertanya juga meskipun sudah tahu. Itu yang dilakukan Tuhan Yesus terhadap murid-muridNya ( Markus 9:33 ). Pastilah dengan nada sedih sebab Ia mengetahui apa yang sesungguhnya telah terjadi, bahwa mereka bukan memperbincangkan hal biasa tetapi mereka tadi telah bertengkar. Dan yang mereka lakukan adalah pertengkaran yang tidak baik! Lho, apa ada pertengkaran yang baik? Jangan heran, kadang terjadi pertengkaran yang baik di antara orang-orang yang tulus hati. Saya mempunyai sebuah cerita unik dari negeri Cina, seperti ini: Ada dua orang bertetangga yang mengadakan transaksi jual beli sebidang tanah. Setelah dilakukan pembayaran, maka sang pembeli langsung menggarap tanahnya dengan cangkul. Dia terkejut menemukan satu peti-besi berisi uang mas dan perhiasan. Cepat-cepat dia memanggil tetangga yang menjadi mantan pemilik tanah itu untuk menyerahkan peti yang menurut dia bukan menjadi haknya, sebab dia hanya membeli sebidang tanah. Tetapi di luar dugaan tetangganya tidak mau menerima peti itu sebab dia merasa sudah menjual tanah berikut cacing, batu, rumput dan apa pun yang ada di atas atau di dalamnya! Saat pertengkaran itu memuncak, tetangga yang lain telah menghadirkan Bapak Kepala Desa. Nasehatnya sangat adil dan melegakan, sehingga mendapat tepuk tangan tanda setuju dari penduduk desa yang menyaksikan! Apakah nasehat yang menjadi solusi yang sangat pas dan jitu itu? Kepala Desa mengusulkan supaya mereka berdua berbesanan saja, lalu harta benda itu dipakai untuk biaya pesta pernikahan, dan sisanya digunakan sebagai modal kerja bagi keluarga yang baru! Saya yakin pertengkaran seperti itu akan membuat Tuhan tersenyum geli, haru dan bangga!

Jika sudah mengetahui tetapi masih bertanya juga, adalah karena Tuhan Yesus mau memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk berterus terang, tapi mereka bungkam seribu bahasa mungkin karena merasa bersalah atau malu sebab mereka telah mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

Mengapa mempertengkarkan yang terbesar? Tujuannya sudah jelas, yaitu ingin dihormati, ingin menguasai yang lain dan diangkat sebagai wakil mereka. Jika sampai telah terjadi pertengkaran di antara mereka berarti banyak yang merasa berhak dan yang menginginkan pengakuan dan kedudukan itu. Berarti mereka telah melupakan pelajaran Tuhan Yesus melalui lisan maupun peneladanan. Dalam Markus 9:35 Tuhan Yesus berkata:” Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Dengan demikian Tuhan Yesus tidak melarang orang ingin menjadi yang terdahulu. Boleh dan tidak salah bahkan sangat dianjurkan, asal prosedur dan proses yang ditempuhnya harus menurut petunjuk Tuhan, yaitu bersedia menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan dari semuanya. Dengan lain kata seorang pemimpin adalah seorang yang rendah hati dan bersedia melayani. Di dalam Kerajaan Tuhan kebesaran seseorang diukur dari seberapa besar kesediaannya melayani. Maka jika para murid bertengkar ingin menjadi yang terbesar, semestinya mereka berebut untuk menjadi pelayan mereka dan semua orang. Lalu Tuhan Yesus menegaskan ajaranNya dengan menghadirkan seorang anak dan menghimbau mereka (dan kita) untuk bisa menyambutnya, sebab akan diakui sebagai menyambut Tuhan. Seorang anak kecil di sini mewakili orang-orang yang tidak memiliki kekuatan untuk membalas budi. Kebesaran dan pelayanan kita harus bisa tertuju kepada kelompok orang yang terkecil, yang tak bisa membalas karena keterbatasannya. Yang sangat miskin, tertindas dan bahkan tidak mengetahui kalau kitalah yang sudah mengulurkan tangan kepada mereka! Dengan demikian kita sudah menjadi alat yang kecil tapi hidup, di dalam tangan Tuhan yang maha besar untuk menolong sesama kita. Tak jarang yang kita tolong adalah seorang hamba Tuhan yang sedang tertekan dan menderita seperti yang dialami oleh nabi Yeremia pada zaman dulu (Yeremia 11:18-20).

Mari kita buang jauh-jauh kebiasaan bertengkar, kita ganti dengan senang bersyukur dan memuji Tuhan karena kita berada dalam hidup yang penuh dengan anugerah yang ditandai pertolongan dan penopangan Tuhan yang Maha Baik! (Mazmur 54:6,8)


Tagged as: , , ,

You must be logged in to post a comment.