"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

Ketika Hidup Harus Memilih

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu,11 Oktober 2009

Minggu Biasa XXIII

KETIKA HIDUP HARUS MEMILIH

Ayub 23:1-9, 16-17 Mazmur 90:12-17 Ibrani 4:12-16 Markus 10:17-31

Beberapa tahun yang lalu di Virginia Utara, seorang laki-laki tua berdiri di tanggul sungai menunggu seseorang yang dapat menyeberangkannya. Waktu itu udara sangat dingin dan tidak ada jembatan. Setelah lama menunggu, ia melihat sekelompok penunggang kuda yang mendekatinya.Tapi pria tua itu hanya memandang sejenak,lalu membiarkan penunggang yang pertama lewat, begitu seterusnya sampai yang ke lima! Akhirnya muncullah penunggang kuda yang ke enam, setelah melihat ke matanya pria tua itupun berkata, “Pak, bisakah anda memberi saya tumpangan ke seberang sungai?” Tanpa keraguan sedikitpun, penunggang kuda itu memersilakan pria tua itu naik. Setelah sampai di seberang maka bertanyalah penunggang kuda kepada penumpangnya, “ Tadi saya memperhatikan bahwa anda membiarkan semua penunggang kuda lainnya lewat begitu saja , tak ada satupun yang anda mintai tolong. Kemudian ketika saya mendekat, anda dengan segera minta membonceng. Tolong beri tahu saya, mengapa demikian?” Pria tua itu dengan suara pelan menjawab, “ Saya melihat ke mata mereka dan tidak menemukan kehangatan dan cinta kasih, saya tahu bahwa tak ada gunanya kalau saya minta tolong menumpang. Tapi ketika kemudian memandang mata anda, saya melihat kasih sayang dan kesediaan untuk menolong. Saya tahu bahwa dengan senang hati anda akan memberi saya tumpangan ke seberang sungai!” Sesudah berterimakasih atas penjelasan pria tua itu maka Thomas Jeffferson, Presiden Amerika Serikat ke tiga itu segera membelokkan kuda tunggangannya, terus menuju ke Gedung Putih! (Mutiara Mutiara Kasih).

Yang menarik bagi kita bahwa pria tua itu bisa membaca pandangan mata orang, untuk memilih siapa-siapa yang diyakininya bersedia menolong dia. Dalam hidup ini memang ada saat bagi kita untuk memilih, tapi apa selalu hanya dengan cara memandang mata? Walau tak mungkin kita bisa memandang mata Yesus, tetapi tetap bisa memandang hal-hal lain yang lebih akurat, yang ada padaNya yaitu: Firman atau ajaranNya, karyaNya dan juga tubuhNya atau gerejaNya. Meski firman dan karya Kristus sangat penting, tapi agaknya kiprah gereja, atau bahasa tubuh Tuhan, sepak terjang orang-orang beriman, menjadi semacam penentu bagi dunia untuk menolak atau memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juru-selamatnya.

Seorang pemuda yang memilih untuk datang kepada Yesus. Tidak hanya anak-anak kecil yang mencari Yesus (ayat 13), tetapi muncul juga di sini seorang pemuda, yang sehat dan kuat sehingga mampu berlari-lari ketika mendekati Tuhan Yesus. Mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat (kuat)! Tapi akan kita lihat nanti sejauh apa jiwanya yang sehat itu. Berlari-lari juga menunjukkan kesungguhan hati, pasti ada sesuatu yang penting untuk disampaikan. Tampaknya pemuda itu sudah menantikan kehadiran Kristus, ia tidak mau kehilangan peluang emas. Ini yang disebut kairos kesempatan berharga yang walaupun singkat tetapi dapat sangat menentukan, potensial untuk mengubah seluruh hidup kita! Bagi kaum muda tokoh Yesus pasti memiliki daya tarik yang kuat,dapat diidolakan, tidak loyo dan kolot, mempunyai pribadi yang kokoh dan mengesankan, pemimpin yang berkarisma! Dan di atas semuanya itu Ia adalah seorang Guru dan Tuhan! “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yohanes 13:13). Tapi dalam perjumpaan dengan pemuda itu tanggapan Tuhan Yesus terkesan aneh! Padahal pemuda itu sudah menunjukkan kesungguhan hatinya dengan berlari-lari, lalu bertelut di hadapanNya sambil bertanya dengan sopan: “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bukankah semuanya sudah serba okey? Kita semakin merasa kagum jika mengetahui bahwa dia itu juga seorang aristokrat muda yang kaya! Tentunya TuhanYesus tidak membenci bangsawan yang kaya, tapi mengapa jawabanNya ketus dan seperti tidak masuk akal? “Mengapa kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.” Sampai di sini kita melihat ada dua macam pilihan, yang dilakukan oleh sang pemuda tadi dan oleh Yesus. Di saat yang penting, sejak awal pemuda itu sudah memilih satu penampilan yang mengesankan, menarik dan mempesona! Satu penampilan atau appearance yang “wah” secara rohaniah. Tapi justeru karena itu Yesus merasa perlu memilih tanggapan yang sengaja kurang simpatik untuk menetralisir penampilan yang berlebihan itu. Sebagai orang yang belum mengenal siapa sebenarnya Yesus itu, penampilan pemuda tadi berlebihan, overacting. Sehingga Yesus mengimbangi dengan jawaban seperti itu, juga di Markus 10:21a kita membaca bahwa Yesus mengenal dia sedalam-dalamnya, sebab Dia itu sang Firman Allah yang kekal, seperti pedang yang maha tajam sehingga tidak ada yang tersembunyi di hadapanNya (Ibrani 4:12,13). Jadi, kita bisa melihat fleksibilitas dan kebijakanNya dalam menangani setiap pribadi.

Penganut agama yang saleh! Ketika ditanya oleh Tuhan Yesus, pemuda itu menyatakan bahwa sejak masih kecil ia sudah menuruti segala perintah Allah, Sepuluh Hukum Tuhan. Jadi dia juga mendapat pendidikan rohani yang ketat dari orang tuanya. Jika semua orang di dunia ini seperti dia maka dunia ini tentulah sangat aman dan manusia hidup sejahtera. Tapi nanti dulu! Mengapa dia tadi mencari Yesus? Ia mengharap petunjuk Tuhan Yesus, untuk memperoleh hidup yang kekal! Dapat ditarik kesimpulan bahwa pemuda ini, walau begitu sehat, sopan, kaya dan saleh namun hidupnya hampa! Rasul Paulus juga pernah menjadi agamawan tulen yang mematuhi Hukum Taurat, kegiatannya menganiaya jemaat Tuhan. Sebagai penganut Agama Yahudi, Paulus dihinggapi tiga penyakit agama:

Penyakit agama yang pertama: Legalis. Mematuhi Hukum Agama secara kaku. Waktu itu Paulus dan kaum Farisi ikut merinci Sepuluh Hukum Tuhan menjadi 366 larangan dan 260 perintah. Ada cerita tentang kakunya peraturan sampai jadi lucu: Suatu hari Nasrudin menemukan sebuah berlian. Menurut hukum, benda itu boleh menjadi miliknya sesudah tiga kali diumumkan di pasar, pada hari yang berbeda. Maka demi memenuhi hukum tersebut selama tiga malam berturut Nasrudin mengumumkan penemuannya di pasar, dengan suara lirih! Karena tak ada orang lain, dan hanya dengan suara lirih, maka barang berharga itu sah menjadi milik Nasrudin. Kalau begitu untuk menjadi orang jahat, tak perlu melanggar hukum.Sudah cukup menepatinya secara harafiah!

Penyakit agama yang kedua: Superficial. Dalam kamus berarti dangkal, pura-pura. Tuhan Yesus sering menegur mereka yang ibadahnya dangkal, lahiriah semata dan hanya mengutamakan yang ritual.

Penyakit agama ketiga: Fanatik. Selalu negatip sebab seperti kuda dengan penutup mata.

Semakin hanya bisa melihat diri sendiri, dan tidak bisa melihat orang lain. Bahkan orang lain selalu dicap jelek dan salah jika tidak sama dengan dirinya. Ciri-ciri orang fanatik: Selalu curiga, takut dan sinis. Ketika Paulus telah tenggelam dalam fanatisme agama yang mengerikan maka Tuhan Yesus lalu turun tangan, mencegat di jalan dan kemudian membutakan matanya untuk sementara.Dalam Encyclopedia Of 7700 Illustrations, dapat kita baca kotbah paling pendek di dunia yang disampaikan oleh Roy De Lamotte, Pendeta Sekolah di Georgia. Tema kotbah lebih panjang dari kotbahnya sendiri, yaitu “Apa jawab Kristus bila kita bertanya: Tuhan, apa yang akan saya peroleh di dalam agama?” Kotbah lengkap: “Nothing.” (Tidak ada). Ketahuilah bahwa kita tidak sedang mengabdi kepada sebuah agama, Hukum Tuhan, atau gereja supaya selamat, tetapi kita memilih Yesus Kristus yang memberi hidup kekal.

Bacalah Filipi 3:10: Mengenal Dia (pribadiNya), Kuasa kebangkitanNya (kuasaNya), dan persekutuan dalam penderitaanNya (kasihNya). Jika tiga hal itu terjalin didalam hidup kita maka hidup kita akan menjadi sangat kokoh kuat, sebab kita terikat pada: Pribadi Kristus, kasih Kristus dan kuasaNya! Ini membuat kita tidak sekedar beragama, dan tidak akan terjatuh dalam sikap yang legalis, superfisial, apalagi fanatik!

Sang pemuda yang kecewa. Yesus menyuruh agar pemuda kaya itu menjual semua miliknya, membagikan kepada orang miskin, lalu ikut Dia, supaya dengan demikian beroleh hidup yang kekal. Permintaan ini tidak berlebihan dan dapat dilakukan, asal dia mau dan percaya kepada perkataan Tuhan Yesus, serta merindukan hidup kekal. Tapi dia justeru kecewa dan sedih sebab hartanya sangat banyak, pengorbanannya dirasa terlalu besar, tak sebanding dengan apa yang akan diterima dan dialaminya! Orang seperti ini jika sudah berada di ambang maut pasti akan menyesal bahwa telah memilih harta yang tak bisa dibawa, dan menolak Yesus yang siap menyambutnya.

Sang pemuda yang tidak memenuhi inti Hukum Tuhan. Perintah Tuhan Yesus tadi merupakan inti sari dari Hukum Tuhan; membagikan harta kepada orang miskin berarti kasih kepada sesama manusia, ikut Tuhan Yesus berarti kasih kepada Tuhan. Tapi karena dia teguh berpegang pada harta benda sebagai berhalanya, maka dengan terpaksa menepis tawaran Tuhan Yesus yang sangat menjanjikan itu! Perlu diketahui bahwa tidak setiap orang pasti akan diperlakukan seperti itu. Yesus hanya tidak mau jika kita mempunyai “tuhan” yang bercokol di hati, dan selalu menghalangi kita datang kepadaNya. Serahkan lebih dulu kepada Tuhan, harta, pekerjaan, keluarga, semuanya termasuk jiwa raga kita, baru kemudian boleh menjadi milik kita yang sah untuk selamanya! Dan jika kita persembahkan bagi kemuliaanNya, maka lihatlah berkatNya pun melimpah ruah!

Kristus Firman yang kekal dan Imam Besar Agung. Di hadapanNya kita tidak dapat menyembunyikan berhala dan dosa sekecil apapun. Ia menghargai keterbukaan hati kita. Segala kelemahan mari kita ungkap, pendampinganNya kita harapkan, agar seumur hidup bisa ikut Yesus, seperti undanganNya kepada pemuda tadi.Bukankah Kristus adalah sang Firman yang maha tajam, tapi juga Imam Besar Agung yang bersedia memahami serta mewakili kita? Andai Ayub hidup sesudah Kristus hadir, wafat dan bangkit, maka tak perlu ia kebingungan memikirkan masalahnya, sebab di dalam Dia ada pemahaman, pembelaan dan kesediaan untuk menyayangi hamba- hambaNya (Mazmur 90:13)


Tagged as: , , ,

You must be logged in to post a comment.