"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

Respons Bencana ke Tasikmalaya

Photobucket
Photobucket

Pada Senin malam, 7 September 2009, telah diberangkatkan satu truk bantuan kemanusiaan ke Tasikmalaya. Bantuan ini berasal dari berbagai sumber yang meliputi: Departeman Kesaksian dan Pelayanan [DKP] Sinode Wilayah GKI Jawa Tengah, Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik [P3H], kantong persembahan khusus GKI Klaten, GKI Sangkrah dan donatur perseorangan. Bantuan diantarkan oleh dua relawan: Doddy Hendro [P3H] dan Januar [GKI Klaten].
Selasa pagi, pukul 6.30 WIB bantuan sudah sampai di GKI Tasikmalaya yang menjadi posko Tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia.

Bantuan Sembako    Berangkat dari Klaten

Rumah rusak di Sukajaya    Rumah rusak di Sukajaya

Selasa pagi, Purnawan dan Agus Tjandra juga telah bergabung dengan rombongan dari GKI Klaten. Sekitar pukul sepuluh pagi, kami meluncur menuju desa Sukajaya, kecamatan Purbaratu. Sepanjang pengamatan,  kota Tasikmalaya tidak terpengaruh sama sekali dengan adanya gempa. Semua berjalan dengan normal.  Tidak ada tanda-tanda kedaruratan.  Sedikit tanda bahwa ada gempa telah terjadi di sana adalah runtuhnya bangunan tua di sebuah perempatn dan aktivitas anak jalanan yang meminta sumbangan atas nama korban gempa. Aktivitas perekonomian berjalan dengan normal. Toko-toko buka seperti biasa, kecuali warung makan.  Jalanan disesaki kendaraan pribadi dan angkutan umum. Tidak banyak terlihat mobil pembawa bantuan kemanusiaan.
Sekitar 15 menit perjalanan,  kami melihat hamparan sawah dengan tanaman padi berumur sekitar sebulan dengan aliran air yang melimpah. Lima menit kemudian , kami memasuki lokasi yang terkena dampak gempa. Kami melihat ACT sudah membuka posko kemanusiaan. Sesampai di kantor kalurahan, kami melihat sekitar 50 orang sedang mengantri untuk menerima pengobatan gratis dari Obor Berkat Indonesia.
Photobucket


Photobucket
Photobucket
Di dekat kantor kelurahan sudah terpasang dua tenda peleton. Salah satunya milik Pelmas GBI, namun  sayangnya belum ada isinya. Tidak juga ada relawan yang ada di sana.
Kami diantarkan oleh aparat desa mengunjungungi rumah-rumah yang rusak. Berbeda dengan Klaten, kerusakan di sini tidak terpusat  satu tempat. Rumah yang rusak tersebar di tempat-tempat yang terpisah.
Berikut rekapitulasi kerusakan di kelurahan Sukajaya, kecamatan Purbaratu, kota Tasikmalaya:
•    Pengungsi: 715 KK/2.940 jiwa.
•    Rusak berat: 269 rumah, 1 sekolah
•    Rusak ringan: 433 rumah, 11 masjid, 7 sekolah
•    Luka berat: 6 orang
•    Luka ringan: 6 orang.
Sumber: Kantor kelurahan Sukajaya

Beberapa warga masih menghuni rumah meskipun sudah rusak berat. Jika terjadi gempa susulan, kemungkinan besar rumah tersebut akan roboh. Mereka hanya menghuni pada siang hari, dengan alasan jika tinggal di tenda, terasa sangat panas. Namun jika malam hari, mereka bermalam di tenda darurat.

Bayi ini terpaksa tidur di rumah rusak

Ada seorang ibu yang meninggalkan bayi di dalam rumah yang rusak berat. Puing-puing masih berserakan karena belum dibersihkan. Kondisi ini berbahaya bagi bayi yang masih rentan tersebut. Struktur bangunan yang sudah rapuh dapat runtuh sewaktu-waktu. Selain itu, debu-debu pada puing bangunan dapat menyebabkan penyakit ISPA [Infeksi Saluran Pernapasan Atas].
Menurut sang ibu, dia terpaksa meninggalkan bayinya karena harus mengurus pekerjaan domestik. Dia tidak mau meninggalkan bayinya di dalam tenda karena terasa panas. Sementara itu suaminya sedang pergi kerja sebagai kuli bangunan.
Melihat kondisi tersebut, maka kami menawarkan untuk membuat shelter dari bambu [orang Sunda menyebutnya Saung]. Di sekitar lokasi, kami melihat ada banyak bambu yang dapat dimanfaatkan. Kepada lurah setempat, kami menawarkan untuk menyediakan bahan bangunan, sementara mereka yang menyediakan tenaga kerja untuk pembuatannya secara bergotong royong. Mereka setuju. Saat ini, saung tersebut sudah berdiri.

Tembok retak    Rumah ambruk

Menjelang tengah hari, kami melanjutkan perjalanan ke Ciloa-Pasirjaya, desa Cikadu. Desa ini berlokasi di kaki perbukitan dengan hamparan sawah di bagian bawahnya. Untuk mencapai lokasi, kami harus mendaki bukit yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Pada awal gempa, ada banyak relawan yang membantu di sini. Namun karena lokasi yang sudah dijangkau, maka jumlah relawan yang masih bertahan hanya dapat dihitung dengan jari. Kendalanya adalah medan yang cukup curam.
Kerusakan di kampung ini mencapai 80 persen.
•    Pengungsi: 33 KK/ Dewasa 85 orang dan anak-anak 29 orang.
•    Rusak roboh: 22 rumah, 1 masjid
•    Rusak ringan: 11 rumah
Sumber: Ketua Posko

Di kanan-kiri rumah terdapat kolam-kolam ikan dengan air melimpah. Pada kaki bukit, terdapat hamparan padi berumur satu bulan. Mereka baru bisa memanen dua bulan kemudian. Ada juga kebun singkong dan talas, serta tanaman pepaya. Ini dapat menjadi sumber makanan karbohidrat jika mereka kehabisan beras. Dengan kata lain, stok pangan mereka masih bagus.
Menurut info dari Philipus dari Tasikmalaya, tim GKI akan membuka posko satelit di desa ini. Kendalanya adalah cara mengangkut bantuan ke lokasi yang ada di atas. Kebanyakan bantuan dicegat di lokasi yang ada di bawah. Para pemberi bantuan tidak mau bersusah payah untuk membawanya ke atas. Saya mengusulkan kepada pak Philipus supaya mencontoh apa yang dilakukan GKI Klaten. Kami tidak membawa barang ke lokasi. Kami hanya memberikan semacam kupon kepada warga setempat, selanjutnya mereka sendiri yang harus mengambil bantuan itu.


Tagged as: , , ,

You must be logged in to post a comment.