"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

BELAJAR DARI SI BUTA

Markus 8:22-25

Oleh Adi Netto Kristanto

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia.

Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.”

Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

Di dunia Timur dari dulu sampai sekarang, kebutaan dianggap sebagai kutukan yang hebat. Padahal kebutaan itu dikarenakan kurangnya kebersihan badan dan perawatan mata. Merupakan hal yang lumrah melihat orang-orang dengan mata berkerak keras dan lalat-lalat hinggap di atasnya.

  1. Yesus memiliki tenggang rasa yang unik terhadap orang buta ini, yakni membawa orang buta ini keluar kampung. Mengapa demikian? Maksud Yeus adalah supaya orang buta ini tidak kaget dengan hal-hal baru yang akan dilihatnya nanti setelah matanya celik. “Seorang dokter yang baik mau menyelami akal dan hati pasiennya”, itu yang Yesus coba lakukan terhadap orang buta tadi.
  2. Masyarakat kuno percaya bahwa air ludah mempunyai khasiat menyembuhkan. Kita ingat, kalau jari kita terluka maka secara spontan kita memasukkannya ke dalam mulut sebagai pertolongan pertama. Oleh karena itu Yesus menggunakan media ludah untuk melakukan mukjizatNya.
  3. Mukjizat yang dilakukan Yesus adalah mukjizat yang sangat unik, mengapa? Biasanya mukjizat Yesus dilakukan sekali dan langsung selesai. Namun kali ini mukjizat Yesus terjadi secara bertahap. Pertama orang buta itu melihat orang-orang yang berjalan seperti pohon-pohon dan kedua barulah orang buta itu dapat melihat dengan jelas.

Kita dapat belajar dua hal dari Perikop ini:

Pertama, belajar dari mukjizat bertahap yang dilakukan oleh Yesus.

Dalam mengenal Kristus iman kita tidak serta merta menjadi dewasa dalam sekejab. Ada proses iman yang harus kita jalani untuk lebih mengenal dan percaya akan kebenaran Kristus. Iman percaya kita akan diuji melalui berbagai macam pergumulan dalam hidup kita sehingga iman kita mengalami pertumbuhan. Seperti Yesus yang membawa orang buta itu ke luar kampung dan berbicara “face to face” maka pengenalan dan pendewasaan iman itu bersifat pribadi. Perjumpaan secara “face to face” ini dapat kita rasakan saat berdoa, membaca Firman Tuhan serta merenungkannya, refleksi, kontemplasi, dll. Dengan hubungan khusus dengan Juru Selamat kita maka kita akan mengenal Dia lebih lagi.

Orang yang sudah mengikrarkan dirinya menjadi anggota gereja bukan berarti proses pengenalannya akan Kristus sudah selesai. Malahan itu adalah awal dari sebuah perjalanan iman untuk menemukan keagungan Kristus yang tiada habisnya. Benar bahwa pertobatan yang terjadi secara tiba-tiba adalah kemungkinan yang indah. Namun juga benar bahwa setiap hari seseorang harus memperbaharui pertobatannya.

Kedua, belajar dari sikap orang buta yang meminta disembuhkan.

Orang buta itu tentu sudah mendengar berita tentang makjizat-mukjizat luar biasa yang sudah dilakukan Yesus. Itu sebabnya ia memohon kepada Yesus supaya Dia menjamahnya dan ia mengalami kesembuhan. Tetapi apa yang Yesus perbuat? Yesus tidak mengabulkan permohonannya. Yesus malah membawa dia ke luar kampung dan meludahi matanya. Bayangkan saja, jika Saudara datang kepada dokter agar diperiksa dan diberi obat malah diludahi? Bagaimana reaksi kita? tentunya marah.

Terkadang tanpa disadari, kita mendekte Tuhan untuk menolong kita sesuai dengan cara kita sendiri. Ketika Tuhan tidak berbuat seperti yang kita inginkan kemudian kita memberikan label-label yang negatif kepada Tuhan, menganggap Tuhan meninggalkan kita, Tuhan jauh, Tuhan diam saja, atau bahkan menganggap Tuhan sudah tidak ada. Alangkah indahnya tetap berjalan dalam rancangan Tuhan seperti orang buta tadi. Dia sungguh-sungguh berserah sehingga apapun yang dilakukan Yesus terhadapnya dia ikut.

Orang buta itu bisa melihat namun masih kabur, orang-orang yang berjalan dilihatnya seperti pohon-pohon. Kemudian Yesus meletakkan lagi tangannya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas (ayat 25). Lihatlah, sekalipun mukjizat yang dilakukan Yesus bertahap, tidak sekali jadi namun hasilnya tetap sama yakni terjadi kesembuhan total. Kita sering berdoa berkali-kali agar Tuhan mengabulkan doa kita, namun kita merasa bahwa Tuhan tidak kunjung mengabulkannya. Lalu kita kembali memberikan label negatif kepada Tuhan. Melalui mujizat bertahap yang dilakukan Yesus kita diingatkan bahwa Tuhan juga memiliki proses atau tahapan untuk mengabulkan doa kita. Dan apapun cara yang akan Tuhan lakukan untuk mengabulkan doa kita, semuanya itu akan berujung ke dalam damai sejahtera bagi kita.

Tiga respon Tuhan terhadap doa kita:

  1. Menjawab “YA”
  2. Menjawab “NANTI”
  3. Menjawab “TIDAK”

Disaat Tuhan menjawab “TIDAK” dengan tidak mengabulkan doa atau permintaan kita bukan berarti Dia tidak mendengar doa kita atau jauh dari kita. Namun Dia memiliki rancangan yang lebih baik untuk hidup kita. Tuhan juga mengetahui porsi kita masing-masing dalam menerima berkatNya. Tuhan tahu dampak dikabulkannya doa kita terhadap diri kita masing-masing. Apakah setelah doa kita terkabul kita akan tetap dekat denganNya? Atau menjauh dariNya? Atau bahkan bisa menghancurkan hidup kita sendiri? Tuhan mengetahuinya.Yang pasti rancangan Tuhan itu mendatangkan kebaikan dan damai sejahtera dipenghujung perjalanan iman kita bersamaNya. (GBU.By:Netto)


Tagged as: ,

You must be logged in to post a comment.