Ulangan 26:1-11 Mazmur 91:1-2,9-16 Roma 10:8b-13 Lukas 4:1-13
Piccolo Paganini adalah salah seorang pemain biola terbesar yang pernah hidup di muka bumi ini. Pada suati hari, Paganini mengadakan sebuah konser di gedung opera dengan tiket terjual habis. Ketika acara yang dinanti-nantikan tiba, Paganini disambut dengan tepuk tangan yang meriah saat akan memulai pertunjukannya. Namun, betapa kagetnya Paganini ketika akan mulai memainkan biola, ia mendapati bahwa biola yang akan dimainkannya bukanlah biola yang biasa ia pakai. Paganini memang sempat panik, namun ia berusaha untuk tetap profesional melanjutkan permainannya sampai selesai. Pertunjukan hari itu adalah pertunjukan terhebat yang disajikan oleh Paganini. Seorang wartawan bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi? Mengapa pertunjukan hari ini begitu spesial?” Paganini pun menceritakan, “Sebelum pertunjukan hari ini, saya selalu merasa bahwa kemahiran saya bermain biola sangatlah bergantung pada biola yang saya pakai. Saya selalu berpikir bahwa dari biola itulah keluar musik yang indah; namun hari ini saya belajar, bahwa sebenarnya musik yang indah itu keluar dari diri saya.” (Buku Champion).
Paganini mendapat pelajaran penting hari itu, bahwa musik yang indah tidak bergantung dari biola atau alat yang ia miliki, tapi musik yang indah keluar dari dirinya! Hal ini saya hubungkan dengan tema khotbah kita hari ini, bahwa pelayanan kita yang indah tidak ditentukan oleh fasilitas, atau peralatan, instrumen apapun, bahkan yang mahal-mahal itu, tetapi keluar dari iman kita! Belakangan ada kecenderungan membangun gereja yang sangat indah, memiliki peralatan serta mobil yang bagus-bagus, tetapi pelayanan yang dijalankan masih perlu dipertanyakan. Tentu saja kita setuju bahwa zaman sudah banyak berubah, kita tidak bisa bergereja seperti pada zaman rasul Paulus, apalagi zaman Tuhan Yesus! Itu benar sekali, tapi apakah kita masih mengutamakan mutu dari iman saat mengharapkan pelayanan yang berhasil?
Pemahaman terbesar dalam hidup ini. Dalam kebersamaan maupun secara pribadi, kita perlu memiliki satu pemahaman yang terbesar dalam hidup ini. Umat Tuhan waktu itu perlu memahami, siapakah mereka itu? Apakah yang pernah mereka alami? Siapakah yang menjadi penolong mereka? Apakah hasil dari pertolongan kepada mereka itu? Dari Ulangan 26 yang kita baca tadi semua pertanyaan ini dapat terjawab, itupun baru secara umum sebagai suatu bangsa, belum sebagai keluarga dan pribadi seorang demi seorang. Timbul pertanyaan yang mengelitik, mengapa Tuhan harus memberitahu semuanya itu kepada mereka, seolah Tuhan itu “gila hormat” atau menuntut agar mereka menghormati Tuhan. Jika sampai timbul kesan seperti itu, bahwa Tuhan terkesan “gila hormat” gara-gara telah memberi penjelasan mengenai campur tanganNya, jasa-jasaNya pada masa lampau, lalu kewajiban umatNya sesudah menerima segala kebaikan Tuhan, maka di sini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari bersama, yaitu:
Pertama, Tuhan menghendaki agar umatNya memiliki satu pemahaman terbesar yang tergores di hati mereka, bahwa mereka sudah diselamatkan oleh Tuhan! Pemahaman ini haruslah mendarah daging sebab bukan sebuah teori atau indoktrinasi semata, tetapi sebuah kenyataan yang senyata-nyatanya! Sudah “ditanda-tangani” oleh Tuhan sendiri dengan mujizat-mujizatNya yang unik dan tidak bisa ditiru oleh siapapun! Maka semua karya Tuhan di dalam sejarah bangsa itu patut dipahami dan bahkan diyakini dan diimani, yang pada gilirannya akan membuahkan hidup ibadah dan pelayanan. Hidup ibadah, tadi sudah kita baca dalam Ulangan 26:1-11, sedangkan pelayanan secara spesifik dapat kita baca dalam ayat 12B, demikian:” Maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang.”
Kedua, Jika Firman Tuhan tadi, baik bunyi maupun isinya dapat merugikan pihak Tuhan sebab menimbulkan kesan bahwa Tuhan itu Allah yang “gila hormat” di sini kita justeru sedang melihat korban perasaan Bapa demi kepentingan anak-anakNya. Bagi Tuhan yang terpenting adalah kejelasan yang bisa dimengerti oleh semua orang, dan semua tingkatan, sebab Tuhan sedang bertindak sebagai seorang guru yang mengajar dan mendidik agar seluruh umatNya memiliki pengertian yang benar dan tahu berterima kasih kepada sang pemelihara yang sesungguhnya dalam hidup ini. Jika untuk itu Ia lalu akan dipandang sebagai Allah yang mencari nama Ia tidak peduli, sebab di dalam kenyataan Tuhan mempunyai Nama di atas segala nama dan kemuliaan serta kehormatanNya tidak bergantung dari siapapun juga! Dari dulu dan selama-lamanya Tuhan selalu berdaulat penuh!
Ketiga, Apakah relevansi Firman Tuhan tadi untuk kita semua saat ini? Kita juga sudah menerima berkat yang berbobot dalam Kristus. Jika kita mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan (Roma 10:9). Itulah anugerah Allah semata. Maka pelayanan yang kita lakukan sekarang merupakan respon, ungkapan syukur sambil bersaksi!
Sebuah awal yang menegangkan. Ketika dicobai oleh iblis, apakah Yesus juga bisa mengalami kegagalan? Pertanyaan seperti ini seolah sedang meragukan “iman” Yesus sebagai seorang manusia. Tapi bisa juga justeru sedang menghargai Yesus, yang berhasil lulus dari pencobaan yang maha berat, penuh kesungguhan, bukan hanya basa-basi atau sandiwara semata! Sebagai orang yang sudah melihat keseluruhan hidup Yesus Kristus, tidak seharusnya kita berpikir mengenai kegagalan Yesus dalam pencobaan itu. Sebab Yesus sempurna adanya, dan pencobaan itu merupakan pembuktian yang akurat! Bagaimanapun kita melihat pentingnya pencobaai iblis itu sebagai: 1.Pintu Masuk bagi Yesus ke dalam tugas besarNya sebagai Juru Selamat dunia. 2. Pengesahan Bapa yang diberikan kepada Yesus sebagai wakil manusia. 3. Keberanian dan kesungguhan Yesus menghadapi musuh besarNya. 4. Dan nanti kemenanganNya “yang sementara” sebab iblis tak kunjung menyerah.
Pencobaan pertama: “Jika Engkau Anak Allah suruhlah batu itu menjadi roti.”
Yang membuat pencobaan ini menjadi berat adalah:
- Yesus memang adalah Anak Allah; kelak iblis juga sering mengungkap kebenaran itu! Tapi sekarang dengan kelicikannya iblis minta pembuktian menurut caranya.
- Batu diubah menjadi roti adalah masalah yang sebetulnya kecil bagi Yesus, maka permintaan iblis potensial memancing keinginan untuk dipenuhi.
- Walau oleh dukungan kuasa ilahi dalam diriNya, Yesus mampu bertahan tidak makan dan minum selama 40 hari, namun sebagai seorang manusia setelah puasa tentulah Ia sangat lapar dan ingin lekas makan.
Tapi jika menuruti perkataan iblis, berarti: 1.Yesus hanya memikirkan diriNya sendiri, padahal Ia menyadari sebagai wakil manusia di dunia ini.
2. Mengenai masalah makanan, sebagai wakil manusia jika berada dalam situasi terjepit seperti itu, seharusnya Ia bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana umat Allah di padang gurun, bersandar kepada kemurahan Allah yang mengaruniai manna.
Jadi iblis menyerang, dan mau menggoyahkan kepercayaan Yesus kepada BapaNya. Apakah Yesus tetap teguh pada komitmenNya, datang ke dunia bukan untuk dilayani tapi melayani? Menangkis serangan itu, Ia mengutip Firman Tuhan dari Ulangan 8:3. Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja!( Iblis pasti sudah tahu kelanjutannya, yaitu: “Tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan”).
Pencobaan kedua: Yesus akan diberi segala kuasa dan kemuliaan dunia, jika Ia mau menyembah iblis.
Beratnya pencobaan ini,Yesus mengetahui harapan orang-orang Yahudi bahwa Mesias akan mendirikan kerajaan dunia yang termegah di seluruh dunia. Tapi Tuhan Yesus juga menyadari bahwa Ia datang untuk menjadi Hamba yang setia dan menderita. Pencobaan kedua dari iblis ini menyerang ketaatan Yesus. Dalam menghadapi segala glamor serta godaan duniawi yang menggiurkan ini, apakah Ia tetap setia kepada panggilan Bapa-Nya? Yesus tidak sudi menyembah iblis, karena orang hanya boleh menyembah dan berbakti kepada Allah saja (Ulangan 6:13). Sesungguhnya serangan iblis yang dipatahkan oleh Yesus ini masih selalu didengungkan dalam hati setiap pengikutNya, sehingga jika tidak bersandar kepadaNya tahu-tahu kita bisa menjadi koruptor atau pencuri! Juga hidup ibadah kita tercemar oleh sikap jatuh cinta kepada kekayaan dunia, yang ditandai dengan penyimpangan iman dan hidup bertentangan dengan Firman Tuhan.
Pencobaan ketiga: Menyerang kesalehan, supaya berubah menjadi kesombongan dan senang pamer! Iblis membawa Yesus ke Yerusalem,dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepadaNya:”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.”
Menurut kepercayaan masyarakat Yahudi Mesias akan menampakkan kemuliaanNya dengan cara seperti itu di halaman Bait Allah. Di samping itu serangan iblis menjadi sangat mengerikan, sebab iblis mengutip Firman Tuhan sehingga Yesus seolah sedang mendengar perkataan Bapa, hanya saja tidak disertai pemahaman yang benar! Memang Allah Bapa akan menunjukkan perlindungan yang sempurna seperti yang dikatakan iblis, tapi kita harus lebih dulu menunjukkan sikap berserah dan beriman yang diperkenan olehNya. Andai Yesus meloncat dari loteng Bait Allah hanya karena bujukan iblis, maka pasti akan sangat mengecewakan hati BapaNya .Tapi kembali Dia menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan iblis, “Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu .” Dengan keteguhan hati, secara konsisten Yesus menghadapi segala serangan si jahat. Semua itu dilakukan dengan satu kerinduan yang tak pernah padam, yaitu memberikan pelayanan kasih yang hebat dan kuat untuk mengubah hidup manusia!
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Minggu, 21 Pebruari 2010
Pra-Paska I



















0