"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

INJIL YESUS KRISTUS BERKUASA MEMBAHARUI UMAT MANUSIA

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Minggu 18 april 2010 (Paska III}

Kisah Para Rasul 9:1-6,7-20  Mazmur 30  Wahyu 5:11-14  Yohanes 21:1-19

Ada sebuah kapal perang besar yang melintasi laut yang tertutup dengan kabut tebal, sang kapten yang gagah perkasa menyerahkan arah kapal tersebut kepada supervisor kapal yang mengamati keadaan laut di depan kapal dari menara pantau tertinggi di kapal itu.  Suatu ketika sang supervisor berteriak,” Kapten, ada sesuatu di depan kita.” Kapten menjawab,” Beritahukan kepadanya agar membanting setir 20 derajat ke arah kiri.” Sang supervisor memberikan kode dengan isyarat lampu kepada kapal tersebut, kemudian dibalas dengan perintah agar kapal perang tersebut yang harus membanting setir 20 derajat ke arah kiri. Sang kapten sangat marah, kemudian memberikan pesan balasan,” Dengar ini adalah perintah dari kapten.” Kemudian datang balasan yang mengatakan,” Ini adalah perintah dari supervisor tingkat II.” Merasa dipermainkan, sang Kapten menjelaskan dengan tegas, “ Kami adalah kapal perang.” Kemudian balasan datang yang mengatakan,” Kami adalah mercusuar.” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion }.

Saulus versus Yesus Kristus. Ketika berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan ia adalah seperti sang Kapten kapal perang tersebut. Surat kuasa dari Imam Besar, orang-orang yang menyertainya, Ke-Yahudiannya yang tulen, kewargaan negara Romawi, pendidikan Hukum Taurat dari pemimpin besar orang Farisi, yaitu Gamaliel dan kewibawaan duniawi yang lain, semuanya itu menjadi mubasir dan sia-sia setelah berhadapan dengan Tuhan Yesus. Sebab Yesus seperti mercusuar yang kokoh, dan semua harus tunduk serta menurut  perintahNya. Yesus bukan penyesat, tapi Sang Kebenaran. Dia bukan tawanan dari maut tapi penakluk maut, Dia Mesias yang dijanjikan dan Anak Allah yang mulia. Yesus tidak patut dimusuhi tapi di sembah dan diikuti. Saulus yang mau menawan semua pengikut Kristus, malah telah terjaring dalam kasihNya yang indah. Saulus mau membungkam mulut Yesus, tapi dia dipanggil menjadi pemberita Injil yang membaharui umat manusia.

Saulus di dalam tangan Kristus. Semangatnya yang berkobar untuk menumpas jalan Tuhan itu, dimurnikan menjadi hasrat yang suci menjelajahi berbagai wilayah untuk membuka jalan baru bagi  penyebaran injil mulia.  Keberaniannya yang arogan itu telah disempurnakan dan diarahkan, untuk membela kebenaran dan mengasihi sesama di jalan hidupnya. Pengetahuannya akan Taurat, dilengkapi dengan pengalaman rohaniah yang semakin mendekatkan dirinya dengan sang Hakim Tertinggi.  Jika semula bertekad untuk menghancurkan Tubuh Yesus, sekarang malah rajin membangun banyak Jemaat Tuhan, dan  dengan  tanggung jawab yang besar mengunjungi, menyurati dan membina mereka  seperti terhadap anaknya sendiri. Haleluya! Injil Yesus Kristus semakin meluas,  semakin membaharui umat manusia, sehingga sekarang  kita memperoleh dampak positipnya. Baiklah bagian ini saya selingi dengan sebuah cerita humor dari Majalah Reflecta. Pada suatu hari, Sri Paus tiba di New York dan memanggil sebuah taksi untuk mengantarnya ke gereja St.Patrick. Sri Paus sangat terburu-buru, sehingga ia mohon pengemudi taksi itu agar cepat melaju. Namun, pengemudi menolak untuk berjalan lebih cepat lagi. Karena merasa kesal, ia mengatakan,” Berhentilah, biarkan aku sendiri yang menyetir.” Lalu, Sri Paus berada di belakang stir, dan tidak lama setelah itu seorang agen polisi menghentikan mereka di tepi jalan. Pak polisi menengok ke dalam taksi lalu menelpun atasannya. Atasannya mengatakan agar mereka diberi surat tilang. Agen polisi berkilah,” Namun, kelihatannya orang itu sangat penting sekali.” Atasannya menjawab kembali, “ Lalu, siapa dia? Walikota? Gubernur? Presiden?” “Aku tidak tahu,” jawab si agen polisi. “Namun, pengemudinya adalah Sri Paduka Paus.”   Jika kisah jenaka ini dihubungkan dengan pekerjaan Paulus serta semua pemberita injil sungguh sangat tepat. Injil Tuhan selalu dipandang sangat penting, tidak boleh berjalan lambat atau lamban, sampai Tuhan sendiri yang pegang stir, lalu kita yang berada di samping Tuhan sering dipandang dan merasa sebagai orang penting, pada hal kita hanya hamba Tuhan saja.

Sri Paus, Rasul Paulus, Malaikat, Tua-tua tersungkur menyembah Yesus. Dialah Anak Domba yang disembelih itu. Tapi Dialah yang patut menerima kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan dan puji-pujian dari semua makhluk yang di sorga, di bumi dan yang di bawah bumi, yang di laut dan yang ada di dalamnya ( Wahyu 5 ). Yesus Kristus adalah junjungan kita, Dialah pusat kehidupan, pokok pemberitaan Injil,  dan kepada Dialah semua orang seharusnya datang tersungkur.  Pekerjaan kita semua adalah menyadarkan orang berdosa untuk bertobat, menerimaNya  sebagai Tuhan dan Juru Selamat sambil menyembah di hadapanNya.

Petrus perlu diperbarui sebelum menjadi Penginjil besar. Injil Yesus Kristus menjadi penting karena nyawa Putera Allah sudah dikorbankan sebelum meraih kemenanganNya yang besar. Sebab itu para pemberitanya harus menyerahkan diri, sebelum siap dipakai Tuhan kapan saja. Lazimnya, sebelum mempekerjakan seseorang kita harus yakin dulu bahwa sang calon, memiliki kemampuan dan pantas melakukan tugasnya nanti. Bila terbukti pernah melakukan kesalahan yang fatal, biasanya kita coret saja namanya. Satu kali saya pernah merekomendasikan seorang anggota jemaat menjadi driver di sebuah toko.  Pada hari pertama dia bekerja, dengan majikan di sampingnya, langsung dia sudah membuat mobil majikannya itu menghantam beca. Sejak itu saya punya rasa takut, atau trauma saat membantu anggota Jemaat yang mencari pekerjaan. Rasul Petrus mempunyai daftar cukup panjang, yang menunjukkan masa lalunya yang memalukan di depan Guru dan Tuhannya. Jika Yesus Kristus masih mau memakai dia, pasti hanya karena karunia semata. Dan karena kemampuanNya membaharui seorang Petrus, seperti halnya Saulus  serta semua orang yang sekarang ini menjadi partnerNya dalam Kerajaan Allah. Hari itu Petrus kembali boleh melihat kuasa Yesus di dalam pengalamannya yang sangat menarik, bahwa ada 153 ekor ikan tertangkap jaringnya dalam satu kali tebar saja. Itu terjadi sesudah sepanjang malam hasilnya nihil. Di sini dia diingatkan Gurunya bahwa sebagai Pemberita Injil dan penjala manusia keberhasilannya tidak ditentukan oleh kemampuan manusia. Selanjutnya sebagai Pemberita Injil, Petrus harus memiliki hubungan kasih yang kuat dengan Tuhan, dan sesama yang dipercayakan Tuhan untuk digembalakannya. Rasa hormat, takut, setia, tekun,sabar dan lain sebagainya menjadi tidak penting jika tanpa ada kasih yang kuat diantara kita dengan Tuhan dan sesama kita. Bersedia untuk mengasihi, di sini menjadi seperti satu janji bahkan sumpah yang harus diwujudkan di  sepanjang hayat. Itu sebabnya Petrus harus mengucapkan janji kasihnya  itu di hadapan semua orang. Kasih Petrus harus ada buktinya maka Yesus Kristus Sang Gembala Agung itu  langsung saja menugasi Petrus untuk menggembalakan domba-dombaNya.

Kasih kita yang kongkrit. Yesus menghendaki kasih kita yang kongkrit, seperti Abram yang bersedia meninggalkan Urkasdim, Ayub yang rela kehilangan segalanya, Daniel yang dimasukkan ke dalam kandang singa, Sadrah, Mesakh dan Abednego yang siap untuk dijebloskan ke dalam dapur api, dan masih banyak contoh yang lain. Saya yakin bahwa setiap orang Kristen sebetulnya mengasihi Tuhan Yesus, hanya saja tidak berani menunjukkan kasihnya secara kongkrit. Buktinya, tidak ada orang kristen yang secara kongkrit dan terang-terangan menyatakan tidak mengasihi Tuhan Yesus. Konon ada seorang ibu yang sedang kecewa berat sama Tuhan Yesus, karena doanya tidak dikabulkan. Kepada pendetanya, dia bilang bahwa sudah tidak mau mengasihi Tuhan Yesus lagi. Lalu  pendetanya mengambil secarik kertas dan pensil sambil berkata, “ Coba sekarang tulislah bahwa kau tidak mengasihi Tuhan Yesus, lalu tanda tanganilah di sini.” Ternyata ibu itu tidak berani melakukan permintaan pendetanya. Jadi nun jauh di dasar hati, sebenarnya kita semua percaya dan mengasihi Tuhan Yesus, hanya saja tidak kita ungkapkan secara kongkrit. Itulah juga yang sering kita lakukan terhadap orang tua kita, atau anak kita. Jika semua orang kristen dengan berani dan sukacita menyatakan kasihnya kepada Tuhan Yesus secara terang-terangan dan berlimpah, maka hidup kita ini menjadi sangat menarik karena indah menyejukkan hati orang-orang di sekitar kita. Bukankah hidup kita  seperti buku yang terbuka, sehingga setiap orang bisa membacanya? Kalau begitu Injil Tuhan itu terdapat di dalam Alkitab dan pada hidup kita sehari-hari. Dalam Mazmur 30 tadi, kita melihat betapa Pemazmur sesudah mengalami sakit parah hampir mati, ia mendapat  kesembuhan dari Tuhan. Yang menarik adalah apa yang dilakukannya sesudah disembuhkan Tuhan. Di Bait Allah, di hadapan banyak orang ia bersaksi dengan sukacita dan rasa haru, menceritakan pengalamannya ketika di ambang maut karena penyakitnya, lalu kasih Tuhan yang besar sudah menolongnya .Itu berarti tidak sia-sia Tuhan sudah mengizinkan dia jatuh sakit, kemudian menunjukkan kemurahanNya yang besar supaya hidupnya semakin dekat dengan Tuhan.  Saat dia bersaksi, Tuhan juga dapat merangkul sebanyak mungkin orang yang mendengar berita sukacita dari temannya itu.

Dari Buku Jendela Kebenaran ada tulisan sebagai berikut: Ada seorang  penganut agama Hindu, suatu hari bertanya kepada seorang hostess Amerika yang melayaninya makan, bagaimana pendapatnya tentang Yesus Kristus. “Kami tidak mau memperbincangkan hal itu di meja makan,” jawab si hostess dengan sopan. Keesokan harinya orang Hindu itu melontarkan pertanyaan yang sama kepada seorang Saudagar. Dengan wajah penuh keraguan Saudagar itu menjawab, “Mari kita naik ke balkon untuk membicarakan hal itu.” Kemudian orang Hindu itu dengan wajah  keheranan berkomentar, “Inilah untuk pertama kalinya saya bertemu dengan suatu bangsa yang malu akan Allahnya!” .


Tagged as: , ,

You must be logged in to post a comment.