"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

SANG GEMBALA MENYERAHKAN NYAWA UNTUK MENYELAMATKAN UMATNYA

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Minggu 25 April 2010

Kisah Para Rasul 9:36-43  Mazmur 23  Wahyu 7:9-17  Yohanes 10:22-30

Seorang ibu ketika melihat anak laki-lakinya berenang di kolam dekat rumahnya, menjadi kaget luar biasa sebab ada seekor buaya mendekati anaknya itu. Sambil berteriak-teriak ketakutan ibu itu lari mendekati anaknya, yang sepintas juga mendengar teriakan ibunya. Begitu mengetahui bahwa jiwanya terancam, maka anak itu berusaha sekuat tenaga menepi mendekati ibunya.

Namun malang baginya, sebab pada saat kedua tangan anak itu sudah berhasil ditarik oleh ibunya, pada saat yang sama sang buaya juga berhasil menerkam kedua kakinya. Dalam sekejap terjadilah tarik- menarik diantara sang ibu yang dengan gigih mempertahankan anaknya, dengan buaya yang merasa senang memperoleh sarapan paginya.

Untunglah pada saat itu lewat seorang tentera, yang dengan senapannya dapat menembak mati buaya ganas itu. Bocah yang lukanya cukup parah itu segera dilarikan ke Rumah Sakit supaya ditangani oleh para dokter.  Syukur bahwa jiwanya tertolong dan sesudah dirawat beberapa minggu lamanya, diperbolehkan pulang ke rumah. Seorang wartawan sebuah majalah, mewancarai anak itu setelah diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit.

Dengan wajah muram anak itu menunjukkan beberapa jahitan pada ke dua kakinya akibat terkaman buaya., dan dengan bangga ia berkata,” Lihatlah ini kedua lenganku  juga terdapat bekas-bekas luka. Ini disebabkan, oleh karena ibuku tidak rela melepaskan aku menjadi mangsa buaya!”  ( Majalah Reflecta ).

Ibu yang menjadi Gembala bagi anaknya. Meskipun buaya itu mati karena tembakan seorang tentera, tetapi jika sang ibu tidak memegang tangan bocah itu sekuat tenaga maka  jiwanya tidak bakal tertolong. Kisah di atas mengingatkan kita bahwa dalam hidup ini kita mempunyai Gembala Yesus Kristus yang sangat peduli kepada kita. Setiap orang boleh mengatakan menjadi domba yang digembalakanNya dengan sempurna. Kita semua meyakini bahwa di setiap masalah selalu ada campur tangan Tuhan, walau bentuknya kadang  tidak seperti yang kita inginkan, maka  muncullah istilah blessing in disguise atau berkat yang tersamar. Coba perhatikan bocah yang disambar buaya tadi. Melalui kejadian yang tragis itu, dia memperoleh kesan yang sangat mendalam bahwa ibunya mencintai dia dengan sepenuh hati, maka kelak dia juga harus menjadi orang tua seperti itu terhadap anak-anaknya. Berkat yang lain baginya adalah sebuah peringatan untuk selalu bersikap  waspada terhadap mara bahaya yang sewaktu-waktu dapat menimpa dirinya. Dengan demikian dia sudah mengalami satu perubahan yang positip dalam hidupnya, hal itu sangat berharga, sampai ada seorang bijaksana yang mengajarkan doa seperti ini:  “Tuhan, berilah aku keberanian untuk mengubah apa yang bisa diubah. Berilah aku ketabahan untuk menerima apa yang tidak bisa diubah. Dan berilah aku kebijakan untuk dapat membedakan keduanya.”

Bagaimana bisa menerima keselamatan dari Yesus Kristus? Suatu hari ada sejumlah orang-orang Yahudi, yang mengelilingi Yesus tatkala Ia berada di serambi Bait Allah. Jadi, secara lahiriah sangat berdekatan dengan Tuhan Yesus, tetapi hal itu bukanlah jaminan untuk menerima keselamatan dari Kristus. Mengapa demikian? Karena ada langkah-langkah penting yang diabaikan oleh mereka

Yang pertama, mereka tidak percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Mereka telah berterus terang bahwa meragukan Yesus, mereka hidup dalam kebimbangan antara mempercayai dan menolak Yesus. Dengan demikian mereka hanya berada di luar kehidupan Yesus. Ketertarikan kepadaNya harus disertai penghargaan yang setingginya terhadap pribadi Yesus, bersimpati kepadaNya sehingga timbul keinginan untuk bisa berkomunikasi langsung dengan Yesus. Selalu merasa gelisah jika tak kunjung dapat mewujudkan keinginan tersebut.

Inilah yang disebut menginginkan Yesus untuk menjadi Sesembah didalam hidup ini. Sesudah menikmati betapa indahnya persekutuan itu, maka akan berlanjut dengan ingin untuk dapat menjalin persekutuan yang tidak terputus sampai akhir hayat. Itu baru merupakan tahap awal dari percaya. Setelah mengalami hidup dalam Kristus, maka akan semakin menyadari bahwa sesungguhnya kita sangat membutuhkan Dia, dan bukan sebaliknya. Dengan penuh kesadaran kita lalu belajar menyerahkan diri kepadaNya di setiap aspek kehidupan kita. Bukan hanya di bidang-bidang tertentu saja. Percaya bahwa Dia memperlakukan dan  memberikan yang terbaik kepada kita.

Hal itu akan  mendatangkan rasa tenang. Seperti yang dilukiskan dengan sangat indahnya dalam Mazmur 23. Tuhan Sang Gembala, membuat hidup kita tidak berkekurangan suatupun. Rejeki disediakanNya dengan cukup, ada pimpinan dan bimbingan dalam kehidupan yang penuh dengan pilihan ini. Di dalam persekutuanNya yang indah ada ketenangan dan kesegaran untuk jiwa kita. Kita memahami demikian: Oleh karena Yesus datang ke dunia untuk menormalisir hubungan kita dengan Bapa, maka di dalam Yesus Kristus semua yang “dijanjikan” Allah itu terwujud sepenuhnya. Itu sebabnya memiliki ikatan yang kuat dengan Tuhan Yesus, merupakan pintu masuk utama. Tidak ada jalan terobosan, harus mengenal dan dikenal olehNya. Membiasakan diri untuk mendengar suaraNya di tengah kebisingan dunia ini.

Yang kedua, mereka tidak mau mendengar perkataan Yesus. Meskipun sudah ulang kali mendapat peluang, tetapi  mereka  menutup telinga karena kesombongan mereka, menganggap bahwa Yesus tidak pantas menjadi Guru mereka.Seharusnya selalu merasa senang mendengar suara Sang Gembala yang mengasihi domba-dombaNya. Barang siapa sudah mencicipi perkataan Tuhan akan menyukainya, sebab merupakan makanan yang lezat bagi jiwa kita. Selain itu juga bergizi tinggi, mendatangkan kekuatan, semangat dan memberi daya tahan untuk melawan kejahatan.

Bukankah Tuhan Yesus sendiri sudah memberi teladan ketika dicobai oleh Iblis, hanya dengan menggunakan Firman Tuhan  ketika mengalahkannya?  Mendengar perkataan Yesus, berhubungan sangat erat dengan percaya kepada Yesus. Tak mungkin ada orang percaya, tapi tidak sudi mendengar perkataan Yesus, atau gemar menerima perkataanNya tapi tidak percaya kepada Yesus yang berfirman.

Sebab itu kita harus berhati-hati, jangan mengabaikan Firman Tuhan, apalagi menyelewengkan atau memalsukan Firman Tuhan, akan merugikan iman kita, dan orang-orang lain juga bisa kena dampaknya. Kalau sudah begitu mestinya akan berurusan sama Tuhan sendiri. Tuhan Yesus pernah berkata, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke laut.” Matius 18:6.

Yang ketiga, mereka juga tidak mengakui bahwa Yesus melakukan pekerjaan Bapa di sorga. Hati mereka tidak tersentuh oleh pekerjaan Yesus Kristus yang penuh kasih dan kuasa ilahi. Orang-orang seperti itu biasanya dikemudian hari akan tetap   mengeraskan hati, walau  Kristus bangkit dari kematianNya. Sebenarnya pekerjaan Yesus adalah juga pekerjaan Bapa, sebab Yesus dan Bapa adalah satu (Yohanes 10:30).  Pekerjaan Yesus adalah pekerjaan cinta kasih yang mendatangkan keselamatan sejati. Tuhan Yesus tidak pernah melakukan pekerjaan tanpa cinta kasih, semuanya bisa dipertanggung jawabkan, selalu beralasan dan hanya demi kebaikan sorga dan dunia.

Yesus melakukan pekerjaanNya bukan sekedar mengejar target, sekedar memenuhi rencana atau program, tapi disertai  penghayatan sebab kasihNya yang tak kunjung kering. Kita amati bahwa pekerjaanNya itu , yang sudah dimulai, berlangsung terus, berhasil dengan baik, dan berkelanjutan. PekerjaanNya itu berbobot dan sempurna. Efektif dan nyata. Jika sudah seperti itu masih juga ada yang menolak, seperti halnya orang-orang Yahudi saat itu maka tentunya mereka itu tidak termasuk sebagai domba-domba Kristus ( Yohanes 10:26).

Di sekitar kita juga selalu ada orang-orang yang sinis dan yang menolak segala sesuatu mengenai Kristus. Kita tidak boleh membenci dan memusuhi mereka, tetapi mengasihi dan mendoakan, seperti yang diajarkan oleh Gembala kita. Hal ini sulit untuk dilakukan dengan tulus hati, sebab mengasihi dan mendoakan mereka berarti kita sungguh-sungguh menghendaki mereka bisa bernasib baik seperti kita, yaitu memperoleh hidup yang kekal dan tidak akan binasa (Yohanes 10:28). Padahal terhadap pengendara motor yang ugal-ugalan sampai membuat kita hampir terjatuh saja,  kita sudah naik pitam dan mengharapkan hal-hal yang buruk menimpa dirinya. Baiklah kita terus belajar dan melatih diri menjadi seperti Yesus. Dunia membutuhkan anak-anak Tuhan yang hidup bersaksi, supaya Tuhan tidak menumpas habis dunia, dan kita bisa memberi pengaruh yang baik.

Penggembalaan Yesus menembus sampai dunia orang mati. Dorkas atau Tabita yang tinggal di Yope itu, setelah jatuh sakit lalu meninggal dunia. Petrus rasul yang pernah menyangkal Tuhan Yesus sampai tiga kali itu, dipakai Tuhan untuk menghidupkannya. Keanehan ini menunjukkan bahwa Petrus mempunyai Gembala Agung yang maha bijak dan mengasihinya. Bahwa Tabita dihidupkan kembali, bukan karena dalam hidupnya ia banyak berbuat banyak kebajikan. Sebab di dunia ini tentulah ada banyak orang yang berhati mulia seperti Tabita, namun mereka tidak dibangkitkan dari kematiannya. Jadi, jika Tabita dihidupkan kembali tentu karena Tuhan mempunyai maksud tertentu.

Sehubungan dengan tema hari ini tentang Gembala, maka baiklah kita katakan Tuhan bermaksud menegaskan bahwa penggembalaanNya  dapat menembus sampai dunia orang mati. Hal ini sungguh sangat hebat dan luar biasa, dan sulit dipahami! Tapi itulah yang mau dipastikan olehNya. Bahwa Yesus tidak mau melepaskan kita untuk selamanya, terlebih di dalam kebingungan kita yang terbesar ketika kita, domba kesayanganNya memasuki alam maut yang membingungkan dan menakutkan. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku ….” Mazmur 23:4.

Bilamana Yesus Kristus mengampuni dosa, sebab Dia sudah menebus dosa.Yesus Kristus berkenan membangkitkan orang mati, sebab Dia menjadi yang sulung dari orang-orang yang meninggal dunia (I Korintus 15:20). Tabita akan meninggal dunia untuk kedua kalinya, dan dibangkitkan juga untuk kedua kalinya. Kita cukup satu kali saja, yang penting kematian kita kelak adalah didalam kehendakNya, seperti yang tertulis di dalam Wahyu 7, sebagai orang yang keluar dari kesusahan yang besar. Kematian yang akan dilanjutkan dengan sukacita sorgawi. Dengan jubah yang sudah dicuci oleh darah Anak Domba. Kematian yang ditandai dengan berhenti dan terhapusnya dosa. Di hadapan takhta Allah akan melayani siang dan malam. Kematian yang berubah menjadi hidup kekal sempurna untuk bersatu dengan Gembala Agung dalam sukacita yang besar.


Tagged as: ,

You must be logged in to post a comment.