JANGAN SIMPAN DOSAMU
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Minggu- 13 Juni 2010 (Minggu Biasa)
II Samuel 11:26-12:10, 13-15 Mazmur 32 Galatia 2:15-21 Lukas 7:36-8:3
Dari Buku Litani Serba Salah Pastor, ada judul: Semua Berdosa.
Dahulu ada seorang miskin yang karena tidak tahan lapar ia mencuri sepotong kue. Tapi malang baginya, ia tertangkap dan dimasukkan dalam penjara. Ia beberapa kali berusaha untuk melarikan diri tapi selalu mengalami kegagalan. Kemudian, dia mendapat akal. Pada suatu hari ia berkata kepada kepala penjara, “Pak, saya mempunyai sebuah benda berharga yang akan saya persembahkan kepada raja.” Pada mulanya kepala penjara tidak menghiraukan perkataannya, tapi setelah dijanjikan sejumlah uang dari hasil hadiah raja, barulah kepala penjara tersebut membawanya menghadap raja. Di hadapan raja, ia mempersembahkan sebutir kacang dengan mengatakan,”Paduka Raja, biji kacang ini sangat ajaib. Jika biji kacang ini ditanam, akan menghasilkan kacang mas.” Setelah oleh raja ditanyakan mengapa ia tidak menanam untuk dirinya sendiri maka jawabnya, ”Ampun Tuanku, hamba tidak layak untuk menanam biji tersebut, sebab hanya orang yang tidak pernah melakukan kesalahan yang layak menanam dan beroleh kacang mas.” Raja, Permaisuri, perdana menteri dan panglima perang yang mendengarkan penjelasan dari orang miskin itu, tak seorang pun yang berani menanam biji kacang ajaib tersebut sebab mereka masing-masing menyadari bahwa dalam hidup mereka ada banyak kesalahan dan dosa yang mereka lalukan. Setelah melihat kenyataan itu maka si miskin memberanikan diri untuk mohon pengampunan Raja karena telah mencuri kue ketika ia tak dapat menahan rasa laparnya. Raja pun mengabulkan permohonannya, karena merasa bahwa dalam hidupnya juga mempunyai banyak kesalahan dan dosa.
Cerita di atas menjadi menarik sebab mengingatkan ayat-ayat dalam Alkitab kita, bahwa semua manusia di dunia ini mempunyai dosa. Jika kita berkata tidak berdosa, maka kita membuat Tuhan menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita (I Yoh 1:10).
Raja Daud Pun Berdosa Juga. Kalimat seperti ini agak janggal, bagi orang yang sudah mengetahui bahwa setiap orang potensial berbuat dosa. Tapi siapa tahu Anda tergolong orang yang mengagungkan seorang Daud yang sedemikian dicinta oleh Tuhan, sampai menjadi moyang Sang Juru Selamat dunia. Mengikuti perjalanan hidupnya sejak dari rumah Isai ketika Daud masih seorang pemuda, menjadi gembala domba yang lugu dan beriman teguh. Daud yang mengalahkan Goliat karena bersandar pada kekuatan Tuhan. Dalam masa pengejaran Saul selalu menjunjung tinggi pemilihan Tuhan atas raja Saul Karena keberpihakan Tuhan telah diurapi menjadi raja, mengalami masa kejayaan Israel, dapat mengalahkan semua seterunya. Sosok sehebat itu, yang telah dilimpahi kasih karunia Tuhan, mana mungkin dapat melakukan dosa, atau begitu sampai hati membalas kebaikan hati Tuhan dengan satu keranjang “telur busuk” yaitu dosa yang dilakukannya bukan hanya dalam satu gebrakan. Dosa Daud dan Batsyeba mengapa bisa begitu terkenal di seluruh dunia? Pasti bukan hanya karena pelanggaran Hukum Tuhan yang ke-tujuh saja. Dosa Daud terkenal karena telah dilakukan setahap demi setahap dan semakin meningkat dan kompleks, ditandai dengan kematian seorang tentera dan keturunannya, serta melibatkan panglima perangnya.Dosa oleh seorang raja besar terhadap dan bersama wanita biasa, dilakukan secara sadar dan dibumbui dengan kepalsuan yang menjijikkan; seperti yang kita baca tadi di 2 Samuel 11:26 ”Ketika didengar isteri Uria, bahwa Uria, suaminya, sudah mati, maka merataplah ia karena kematian suaminya itu.” Ratapan Batsyeba di sini patut diragukan ketulusannya sebab kemudian dia bersedia diboyong oleh Daud ke istananya. Andai Batsyeba menjadi marah kepada raja Daud dan tak sudi pindah ke istana, meskipun ancamannya adalah kematiannya, baru kita bisa acung jempol; Batsyeba meratap karena menyesali dosa dan kebodohannya telah mau digait oleh seorang Don Juan. Tapi kenyataannya tidak seperti itu! Wanita yang satu ini moralnya patut dipertanyakan; jangan-jangan dia mandi di alam terbuka waktu itu karena memang dengan maksud supaya bisa disambar oleh pandangan mata yang liar dari sang raja yang sedang kesepian. Yang penting bagi kita sekarang adalah bahwa Batsyeba pun berdosa juga, seperti Daud. Mari bersama mereka, kita mengakui segala kelemahan baik yang kita sadari maupun yang di luar pengetahuan kita. Kita akui dosa kita dalam segala aspek kehidupan kita.
Daud dan Natan. Kenapa Natan mendatangi Daud? Secara manusiawi, karena ia adalah sahabat sejati Daud, yang bersedia menegur tatkala Daud bersalah, supaya selamat karena bertobat. Tapi secara khusus, karena kedudukannya sebagai nabi Tuhan, Natan datang menyampaikan suara kenabiannya, yaitu Firman Tuhan yang menegur Daud, sehubungan dengan apa yang tertulis dalam 2 Samuel 11:27 B, “ . . . . Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata Tuhan.” Meski Daud sudah menunjukkan rasa tanggung jawabnya dengan bersedia memboyong Batsyeba ke istananya. Tapi hal itu tetap jahat di mata Tuhan, sebab Tuhan mengetahui bahwa Daud masih mau menikmati tubuh wanita itu. Daud juga sudah menjadi seorang raja yang tidak mengayomi rakyatnya, yaitu Uria, suami Betsyeba, tapi justeru telah mencelakai dan menghilangkan nyawanya demi citra dan napsu bejatnya. Dan semua dosanya itu masih saja dipoles dan disimpan rapat-rapat oleh Daud di hadapan Tuhan. Dengan demikian dosa telah mengerdilkan kejantanan dan keperkasaan sang raja yang kenamaan itu, dan merendahkan Maha Tahu Tuhan, seolah sekarang Tuhan sudah bisa dikelabui oleh seorang yang licik di dunia ini. Lebih jelek lagi jika Daud berpikir bahwa Tuhan sudah “jatuh cinta” kepadanya sehingga Tuhan akan mengistimewakan dan bersikap lunak, maka apa pun yang dilakukannya sudah mendapatkan lampu hijau.
Mengapa Natan menegur dengan sebuah perumpamaan? Di sini kita melihat Tuhan yang kaya-raya dengan cara dan jalan untuk mendekati kita. Apa pun yang dipakai Tuhan untuk menyapa dan menegur kita selalu yang sesuai dan pas untuk setiap kondisi dan pribadi. Natan menggunakan perumpamaan, supaya Daud dilibatkan secara langsung dan dapat menghayati kejahatannya yang sangat keterlaluan itu. Maksud Natan (Tuhan) tercapai ketika Daud menjadi sangat marah terhadap orang kaya yang kejam itu, yang begitu sampai hati bertindak sewenang-wenang terhadap orang kecil. Daud juga yang menentukan hukuman untuk dirinya sendiri, yaitu hukuman mati! Bukankah dia sudah dilimpahi banyak berkat oleh Tuhan, tetapi mengapa masih merampas nyawa Uria dan mengambil isterinya? Sesudah berbuat demikian, masih juga bertindak seolah tak ada Tuhan atau tidak dilihat oleh Tuhan? Apa boleh buat jika seorang anak Tuhan tak sengaja telah tersandung, atau terpeleset sehingga jatuh dosa. Itu adalah karena keterbatasan dan kelemahan kita, dan juga sebab kita masih hidup di dunia yang penuh dengan ranjau yang dipasang oleh iblis. Tapi harus sesegera mungkin bangkit dan bertobat! Tak ada gunanya kita menyembunyikan segala dosa kita. Dosa adalah untuk diakui dan dipohonkan ampun dari Tuhan. Supaya jalur ilahi dalam hidup kita terpasang tanpa sumbatan lagi. Di sini ada sebuah cerita kecil tentang gadis kecil yang suatu hari memecahkan jambangan kesayangan ibunya. Dalam ketakutannya ia telah menyembunyikan pecahan dari jambangan itu di dasar keranjang sampah. Tapi keesokan harinya, ketika ibunya membuang sampah ke tong sampah untuk diangkut truk-sampah, maka pecahan dari jambangan itu langsung saja terlihat dengan jelas. Ibu itu menjadi marah untuk dua kesalahan yang dilakukan puterinya, memecahkan jambangan kesayangannya dan ke dua yang lebih berat yaitu mengapa puterinya tidak berterus terang dan meminta maaf ? Di hadapan Tuhan jumlah kesalahan tidak hanya dua, tapi menjadi tiga, yaitu mengapa kita mengira Tuhan tidak mengetahui perbuatan bahkan pikiran kita?
Seberapa besar anugerah pengampunan dari Yesus Kristus? Hal itu bergantung dari kita yang menerimanya. Jika kita merasa bahwa dosa-dosa kita sangat banyak dan besar, maka pengampunan Tuhan Yesus sungguh sangat dahsyat, sehingga dapat menimbulkan rasa haru yang besar, maka kita akan sangat bersyukur dan berterimakasih kepadaNya.
Tapi, jika merasa bahwa dosa-dosa dalam hidup kita sedikit dan kecil tak seberapa, maka pengampunan Tuhan juga tidak begitu kita harapkan, dan dengan sendirinya juga tidak sampai menghadirkan rasa bahagia dan sukacita. Kita lalu tidak menjadi anak Tuhan yang bersyukur dan hidup dalam sukacita.
Anda pilih jadi seperti Simon orang Farisi, atau perempuan yang berdosa itu?
Tentu saja Anda tidak mau menjadi seperti Simon yang ditegur oleh Tuhan Yesus. Tapi, apakah dalam hidup ini kita tidak sering melakukan kesalahan Simon? Seperti Simon kita juga sering mengundang Tuhan Yesus ke dalam hidup kita, tetapi sesudah Ia benar-benar bersedia hadir, bagaimana perlakuan dan sambutan kita? Waktu Kita mengundang Tuhan Yesus dengan doa, kadang hanya dengan setengah hati saja, tanpa kerinduan dan penghayatan. Tanpa merasa sungguh-sungguh memerlukan kehadiranNya, kurang menghargai dampak positif dari kedatanganNya dalam hidup kita. Apakah itu dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, studi, atau rencana-rencana kita yang penting. Kita juga lebih senang menonton apa yang sedang dilakukan Tuhan terhadap orang-orang lain, padahal kita sendiri juga sangat membutuhkan sentuhan tanganNya, pelukanNya, pengakuanNya, karya perbaikan yang dilakukanNya, pengampunanNya!
Anda memilih sikap perempuan berdosa itu? Baiklah, asal Anda sungguh merasa telah berdosa di hadapan Tuhan. Jangan hanya karena latah, tapi kenalilah dosa dan kelemahan kita dan beritahukanlah kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Pemazmur 32. Disini ada urutan yang penting, yaitu: Menyadari dosa, mengakui bahwa itu adalah jahat dan tak disuka oleh Tuhan, mohon ampun kepadaNya dengan sepenuh hati, berjanji untuk tidak mengulangi, merindukan hidup baru dalam kasih karunia Kristus!
Aku tidak berniat menjadikan Kristus sebagai pelayan dosa. Galatia 2:17 ini sangat penting untuk kita pahami, supaya tidak kita lakukan. Marilah kita menyesali sampai bisa membenci dosa-dosa kita, kemudian kita menghargai setinggi mungkin kemurahan hati Kristus yang bersedia mengampuni dosa kita, sambil memandang dengan penuh kekaguman kesediaanNya berkorban di atas kayu salib demi keselamatan kita.
You must be logged in to post a comment.

dosa kita udah dibayar lunas oleh Dia
GBU