"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

MELAYANI DENGAN SUKACITA DAN SUKARELA

Oleh: Pdt. Em Daud Adiprasetya

Minggu, 18 Juli 2010 (Minggu Biasa).

Kejadian 18:1-10a  Mazmur 15  Kolose 1:15-28  Lukas 10:38-42

Petani

Seorang petani Skotlandia miskin pada suatu hari mendengar tangisan seorang anak kecil yang terperosok ke dalam lumpur yang dalam. Petani yang bernama Fleming itu dengan cepat membantu si anak kecil keluar dari lumpur yang mematikan tersebut. Keesokan harinya, ajah dari anak itu datang untuk berterima kasih kepada Fleming. Orang kaya itu menawarkan apa saja yang diinginkan oleh Fleming, namun petani itu menolaknya. Melihat  anak Fleming keluar dari rumah mereka yang sederhana, si orang kaya menawarkan akan membiayai sekolah anak itu dan memberikan fasilitas sekolah yang sama dengan anaknya sendiri. Anak petani itu dimasukkan ke universitas terbaik pada saat itu, yaitu St. Mary’s Hospital Medical School di London, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Anak itu akhirnya menjadi sangat terkenal karena berhasil  menemukan obat Penisilin, dan ia bernama Sir Alexander Fleming. Bertahun-tahun kemudian, anak si orang kaya terserang pneumonia dan tahukah obat apa yang mampu menyelamatkannya? Tepat sekali, Penicilin. Nama anak yang diselamatkan itu adalah Sir Winston Churchill. Ingatlah selalu bahwa setiap perbuatan baik, akan mengembalikan perbuatan baik yang lebih besar kepada Anda. ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).

Begitulah Tuhan, begitu pula anak-anakNya. Andai semua penduduk dunia suka menolong dan melayani seperti kisah nyata di atas, alangkah bahagianya kita. Untuk menunjukkan perkenanNya, maka dalam kisah di atas kita melihat kedua belah pihak diberkati Tuhan dengan limpah. Alexander beroleh pendidikan tinggi yang ditandai sukses besar di bidangnya, meskipun dulunya hanya seorang anak miskin, padahal yang melakukan kebaikan bukan dia, tapi ayahnya. Tapi Churchill lebih beruntung, sebab sampai dua kali nyawanya tertolong oleh keluarga miskin yang sama, dan selanjutnya ia boleh menjadi orang besar, yaitu perdana menteri Inggris. Pasti Tuhan dengan sukacita dan sukarela melimpahkan berkatNya kepada orang-orang yang bersangkutan, karena mereka memancarkan kasih, kerinduan hati dan kebiasaan Tuhan! Begitulah Tuhan, begitu pula anak-anakNya. Jangan tidak sama, apalagi bertentangan.

Pelayanan yang menyejukkan hati. Itulah teladan yang diberikan Abraham kepada kita, ketika dia menyambut ketiga tamunya. Secara spontan, dengan tulus hati dan penuh keterbukaan Abraham menyambut mereka, bahkan dengan sujud sampai ke tanah, memohon agar mereka mau singgah di kemahnya.Abraham menyatakan bersedia mempersembahkan segala sesuatu untuk menyukakan hati para tamunya. Mengapa seperti itu sikap Abraham? Ada beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi, yang menyebabkan Abraham tampil sebagai tuan rumah yang sangat baik, sampai menimbulkan kesan berlebihan, yaitu:

Pertama, Pada zaman itu agaknya sudahlah lazim seorang tamu mendapat sambutan yang  hangat dari pihak tuan rumah. Apalagi jika sang tamu datang dari tempat yang jauh, dan tidak hanya seorang diri saja. Selain itu, sangat mungkin sejak dulu Tuhan sudah mengajarkan anak-anakNya untuk menyambut tamu dengan baik. “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” ( Ibrani 13:2 ).

Kedua, Abraham memang seorang yang baik hati. Kepada Lot keponakannya ia lebih suka mengalah. Ketika terjadi pertengkaran diantara para gembala mereka, dan terpaksa mereka harus berpisah, Abraham sebagai paman justru mempersilahkan Lot untuk lebih dulu memilih pemukiman untuk masa depannya. Juga kita masih ingat betapa Abraham “memperjuangkan” keselamatan penduduk Sodom yang jahat itu dari hukuman Allah.

Ketiga, sebagai seorang sahabat Tuhan, tak mustahil Abraham merasa dalam hatinya bahwa pada waktu itu Tuhan sendiri yang sudah berkenan menjadi tamunya.

Tetapi di atas semua itu, bagaimanapun juga kita telah melihat pelayanan Abraham yang disertai sukacita dan sukarela yang menyejukkan hati, elok dipandang enak dirasakan!

Berbeda dengan yang dilakukan Sara isterinya, yang mencuri dengar janji Tuhan bahwa tahun depan ia akan melahirkan seorang anak laki-laki. Karena Abraham dan Sara sudah lanjut usia, Sara sudah mati haid dan mati birahi, maka telah mati pengharapan dan kini menjadi mati iman pula! Maka Sara telah begitu lancang menertawakan  janji Tuhan, bahkan ketika ditegur, karena takut ia berani pula menyakal, tetapi “Sang Tamu” itu  menegaskan apa yang telah dilakukan Sara, supaya tahu tamunya bukan manusia biasa.

Pelayanan ilahi tidak sekedar disertai sukacita dan sukarela. Ketika nenek moyang Mesias dijanjikan kelahiranNya, mendapat tanggapan sinis dari calon bundanya sendiri. Juga ketika pelopor dari Mesias, yaitu Yohanes Pembaptis dijanjikan kelahirannya, telah disambut dengan ketidak-percayaan oleh calon ayahnya sendiri. Maklumlah sebab keduanya berkaitan dengan kepantasan manusiawi dan “keterlambatan” yang serius.  Di sini kita melihat, betapapun kecewaNya Tuhan sebab kuasaNya direndahkan, namun Ia tetap tidak membatalkan janjiNya, untuk menghadirkan Ishak.                                                                                             Pertama, sebab Tuhan bersedia memahami kelemahan manusia, Ia mengasihi kita!

Kedua, kebodohan-kebodohan yang dilakukan manusia menjadi kecil dan tak berarti bagi

Tuhan jika dikaitkan dengan rencana besarNya, menghadirkan sang Juru Selamat dunia.

Marta yang sibuk sekali melayani. Biasanya kita menyebut nama Maria lebih dulu, baru Marta adiknya ( Yoh.11:5 ),  tapi dalam perikop ini Marta disebut-sebut lebih dulu baru kemudian Maria. Kasih Tuhan Yesus kepada Marta, Maria dan Lazarus sama besarnya. Dalam dunia ini setiap orang boleh menganggap dirinya sangat dikasihi oleh Tuhan. Setiap orang boleh merasa memiliki hubungan yang istimewa denganYesus. Dalam Yohanes 11 kita membaca bahwa keduanya sama-sama berani mengungkap penyesalan mereka bahwa Tuhan Yesus “datang terlambat” sehingga fatal akibatnya, yaitu kematian Lazarus yang sangat mereka cintai. Meskipun Marta memercayai Yesus sebagai Mesias Anak Allah (Yoh.11:27), tetapi ketika Yesus mengatakan bahwa Lazarus akan bangkit, Marta tidak menduga dan mungkin tidak percaya bahwa Yesus dapat membangkitkannya hari itu. (Yohanes 11:24 ). Kalau begitu Marta termasuk pengikut Yesus yang masih perlu banyak menimba FirmanNya, serta mengenal lebih mendalam siapakah Yesus Kristus sahabat dan Tuhannya itu. Tetapi ketika hari itu Yesus ada di rumahnya, bahkan ada di sampingnya, Marta lebih memilih melayaniNya dengan banyak bersibuk-sibuk, sedangkan Maria tekun mendengarkan Firman Tuhan. Jika mereka itu adalah pemula, atau murid-baru, maka yang dilakukan Maria lebih baik, bahkan tepat! Selaku pengikut Tuhan, paling baik lebih dulu “duduk manis” menimba sebanyak mungkin pelajaran serta petunjuk-petunjukNya sebelum banyak berkiprah, menghindari salah langkah.Tentu saja boleh terus bergantian, di antara menimba Firman dan bersibuk-sibuk seperti Marta, tapi FirmanNya harus diutamakan dan kita jadikan modal pelayanan.

Yesus yang melayani dengan sukacita dan sukarela. Dengan bersedia datang berarti Yesus siap melayani. Ada dua cara melayani yang dibuka olehNya, yaitu menyampaikan Firman Hidup dan yang kedua, siap menyambut segala kegiatan yang dilakukan anak-anakNya, seperti yang dilakukan  Marta bahkan dapat terus diperluas dan ditingkatkan sesuai dengan kemajuan zaman. Orang-orang seperti Marta boleh terus berkibar, asal jangan jatuh pada kesombongan, dan mulai mengeritik mereka yang sedang tekun mempelajari Firman Tuhan, sebab kegiatan mereka harus dilandasi oleh Firman Tuhan.  Sebaliknya, orang-orang yang membuka hatinya untuk Firman Tuhan boleh saja memperdalam pengetahuan serta pengenalan akan Tuhannya, asal jangan menjadi sombong  dan merasa diri suci, sebab panggilan kita di dunia ini adalah untuk melayani.

Paulus mengajak kita melayani. Paulus memang rasul Tuhan yang besar, sedangkan kita hanya anak-anak Tuhan yang kecil di dalam Kerajaan Tuhan yang besar. Mazmur 15  mengingatkan  bahwa kita ini penuh dengan cacad cela. Namun demikian kita diberi hak dan kesempatan  untuk melayani.  Sesungguhnya, Firman Tuhan maupun segala kegiatan pelayanan yang dilakukan manusia, hanya berpusatkan Yesus Kristus. Dalam Suratnya kepada Jemaat di Kolese, rasul Paulus mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Juga  bahwa Dia, Yesus Kristus itu adalah kepala Tubuh, yaitu jemaat. Tugas kita adalah bersaksi kepada dunia tentang Yesus Kristus, serta mengajak mereka untuk bersama kita menerima dan menyembahNya  sebagai Tuhan dan Juru Selamat dunia.  Sebab FirmanNya, “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.” Kolose 1:19.

Sedikit catatan sebagai bekal untuk melayani Tuhan:

  1. Jika kita melayani  dalam kebersamaan, maka jadilah seperti sebuah tim sepak bola yang kompak.
  2. Jangan melayani dengan alasan, “Dari pada nganggur” sebab jika sudah tidak nganggur lagi maka akan berhenti melayani.
  3. Juga jangan melayani hanya karena diajak teman, sebab jika sudah tak ada lagi yang mengajak lalu bagaimana?
  4. Melayani juga jangan semata karena “tugas”., pasti akan terasa sebagai beban yang berat dan melelahkan. Kita diperbolehkan melayani, hal itu merupakan karunia dan perkenan Tuhan, maka kita lakukan dengan sukacita dan sukarela.
  5. Melayani juga bukan karena sedang mencari kegembiraan atau hiburan sehat. Di Matius 5:11,12 kita membaca bahwa adalah suatu kebahagiaan jika karena Yesus Kristus kita dicela, dianiaya, difitnah. Jadi pelayanan kita ada tantangannya!
  6. Kita tidak melayani sambil mencari pujian, atau menghitung-hitung jasa, apalagi mencari berbagai keuntungan materi dan yang lainnya. Tapi kita melayani sebagai pengucapan syukur kepada Tuhan yang sudah menyelamatkan kita.

Tagged as: ,

You must be logged in to post a comment.