"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

PELAYANAN YANG DISERTAI PENDERITAAN

(2 Korintus 4:1-15)

Pengantar

Kata ‘pelayan’ (diakonos) di dalam gereja mengalami perubahan makna secara ameliorasi, dari makna yang negative; pembantu, jongos menjadi makna yang positif; pelayan Tuhan, hamba Tuhan, majelis, pelayanan. Oleh sebab itu jemaat-jemaat yang terlibat dalam berbagai pelayanan gereja merasa dirinya dihargai. Tak jarang ketika ditanya rekan kerja, “Baru dimana nih?” “Di gereja baru pelayanan nih.” orang dapat menjawab dengan mantap. Namun di sisi lain banyak diantara para pelayan Tuhan ini tidak lagi memaknai arti sebuah pelayan yang resikonya tidak jauh berbeda dengan arti pelayan yang ada di luar gereja. Bahwa sesungguhnya terjun ke dalam pelayanan  berarti siap untuk merendahkan diri dan menerima tantangan.

Isi

Di dalam pelayanan Paulus dalam jemaat Korintus Paulus menerima tuduhan-tuduhan miring atas pelayanannya. Ada orang-orang tertentu yang tidak menyukai pelayanan Paulus dan mereka ini adalah orang-orang yang mengaku dirinya adalah hamba Tuhan. Orang-orang yang tidak menyukai pelayanan Paulus ini kemudian menghasut jemaat agar ikut menolak pelayanan Paulus. Untuk meluruskan masalah ini akhirnya Paulus menulis surat kepada jemaat Korintus.

Ayat 1-2

Paulus menegaskan bahwa pelayanan yang dilakukannya itu semata-mata adalah oleh karena kemurahan Allah, Allah yang memampukan Paulus untuk memberitakan Firman Tuhan. Oleh karena itu dia mengatakan tidak tawar hati; tidak mudah putus asa karena Allah sendiri yang menyertai pelayanannya. Banyak tantangan dalam pelayanan Paulus namun Tuhan yang memampukan dia untuk menghadapi tantangan itu. Paulus berbeda dengan para pengkotbah di Korintus yang hanya berkhotbah demi kesenangan hati jemaat bukan murni memberitakan Firman Tuhan. Paulus menentang mereka yang berkotbah dengan maksud tertentu yang tersembunyi dan Paulus menegaskan bahwa dirinya tidak berlaku demikian. Dia memberitakan kebenaran Injil yang murni sesuai dengan kehendak Tuhan. Bahkan Paulus siap untuk dinilai atas pelayanannya itu dihadapan jemaat dan siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Ayat 3-6

Paulus memberitakan Injil kepada semua orang namun ada orang-orang yang tidak mau menerima Injil, orang-orang yang tidak mau menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan. Pikiran mereka dibutakan dengan kenikmatan duniawi yang dirasa lebih membahagiakan diri mereka, kenikmatan duniawi yang dinilai dapat menjamin kehidupan mereka. Paulus mengatakan dengan tegas orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang akan binasa. Saat ini mereka memang belum binasa tetapi mereka sudah kehilangan jalan keselamatan. Bukan salah Paulus jika orang-orang itu tidak menerima Injil tetapi salah mereka sendiri yang telah menolaknya. Bukan ‘biji’nya yang salah tetapi ‘tanah’nya, jika kita hubungkan dengan perumpamaan penabur.

Pelayanan Paulus bukanlah mencari sebuah ketenaran sehingga dirinya akan dikenal orang banyak. Bukan dirinya sendiri yang dia beritakan melainkan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dan apabila dia memberitakan Injil itu adalah karena kehendak Yesus Kristus bukan keinginanan Paulus semata.

Ayat 6-7

Ketika orang menerima Kristus maka Kristus akan tinggal di dalam kehidupannya. Kehidupan yang pada awalnya gelap menjadi terang karena Kristus ada dalam kehidupannya. Terang Kristus telah menerangi kehidupan setiap orang yang menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sehingga orang itu dapat mengetahui kehendak Allah dan menyadari kasih Allah di dalam kehidupannya.

Hal ini merupakan suatu anugrah dari Allah. Paulus mengatakan, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat” mengapa demikian? Diceritakan bahwa Kekaisaran Romawi membutuhkan banyak minyak zaitun. Minyak ini dipakai untuk memasak, mandi, pengobatan, beragam upacara, sumber penerangan, dan kosmetik. Selama puluhan tahun, minyak zaitun dari Spanyol selatan dikirim dengan kapal ke Roma di dalam bejana-bejana tanah liat besar yang disebut amphorae. Bejana-bejana ini, yang tidak berharga untuk dikirim kembali ke Spanyol, dibuang menjadi timbunan pecahan-pecahan bejana yang terus menumpuk yang disebut Monte Testaccio. Diperkirakan ada 25 juta pecahan amphorae yang membentuk bukit buatan, yang masih berdiri sampai sekarang di tepi Sungai Tiber di Roma. Di dunia kuno, bejana-bejana tersebut bukan dinilai karena keindahan bentuknya, tetapi karena isinya.

Oleh sebab itu, para pengikut Kristus di abad permulaan dapat memahami dengan jelas perumpamaan yang diberikan oleh Paulus tentang bagaimana Yesus hidup di dalam diri setiap orang beriman. “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor. 4:7).

Tubuh-tubuh kita, seperti amphorae, bersifat sementara, rapuh, dan akan usang. Di dunia modern, kita yang sangat menjunjung tinggi keindahan penampilan luar, akan menjadi bijak, jika mengingat bahwa harta terbesar kita adalah Yesus yang hidup di dalam kita. Oleh anugerah dan kuasa Allah, kiranya kita dapat hidup sedemikian rupa sehingga banyak orang dapat melihat Kristus di dalam diri kita.

Ayat 8-15

Rasul Paulus bersaksi tentang hambatan-hambatan dalam pelayanannya di ayat 8-9. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Ada saat-saat dimana Paulus tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan tetapi dia tak pernah kehilangan harapan; diburu orang-orang yang membencinya tetapi tidak pernah ditinggalkan Allah. Kesulitan demi kesulitan dia temui dalam melayani Allah tetapi Paulus merasakan bagaimana penyertaan Allah begitu nyata dalam kehidupannya.

Semua pelayanan yang Paulus lakukan itu semata-mata karena kekuatan dari Yesus Kristus. Paulus katakan, ‘Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami’, artinya Paulus senantiasa menghidupi kemanusiaan Yesus ketika berada di dunia. Bahwa dalam pelayanannya di dunia Yesus selalu berhadapan dengan orang-orang yang membenci diriNya sampai akhirnya salib menjadi jalan kematiaanNya. Oleh karena itu penderitaan dalam pelayanan tidak menjadi penghalang Paulus untuk memberitakan Injil Kristus karena Kristus lebih dulu menderita.

Keberaniannya dalam memberitakan Injil juga merupakan suatu anugrah dari Tuhan. Imannya yang begitu besar kepada Yesus Kristus telah menumbuhkan keberanian untuk terus mengabarkan Injil. Paulus menyadari bahwa maut senantiasa memburunya dan sewaktu-waktu bisa saja dia harus mati karena memberitakan Injil. Tetapi itu tidak membuat Paulus untuk berhenti memberitakan Injil. Paulus rela menerima konsekwensi terberat yaitu kematian. Baginya jika memang harus mati karena Injil Kristus, berarti dia mati bersama Kristus dan Allah yang telah membangkitkan Kristus juga akan membangkitkan dirinya. Semua pelayanan ini hanya demi tersebarnya Injil sehingga orang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya sehingga semakin banyak orang yang akan memuliakan Allah.

Refleksi:

Paulus sudah memberi kesaksian bahwa dalam pelayanan itu terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi bahkan kematian menjadi tantangan terberat. Saat kita melayani Tuhan dalam gereja banyak dari kita yang tidak siap menerima tantangan itu. Sehingga banyak orang yang akhirnya undur dari pelayanan. Musuh Paulus tidak hanya berasal dari luar jemaat Korintus saja tetapi juga dari dalam. Dalam pelayanan gereja pun juga terjadi konflik di dalamnya karena perbedaan paham, pendapat dan pandangan. Belum lagi pergumulan dirasa semakin berat meskipun telah melakukan pelayanan. Berharap dengan pelayanan dapat terhindar dari pergumulan-pergumulan yang berat tetapi yang ditemukan adalah sebaliknya. Akhirnya memilih untuk undur dari pelayanan.

Kita harus menyadari bahwa pelayanan itu merupakan panggilan. Ketika Allah memanggil kita maka hal itu akan membuahkan kerinduan untuk melayaniNya. Atas dasar kerinduan itu maka kita dengan penuh sukacita melayani Dia. Jika ada tantangan dalam pelayanan maka akan dihadapi bersama dengan Allah. Terkadang masalah yang ada dalam pelayanan itu tidak selalu berasal dari orang lain tetapi berasal dari diri kita. Motivasi yang salah adalah akar sebuah  konflik dalam pelayanan. Ada dua jenis pelayanan yang ada di gereja; pelayanan sejati dan pelayanan palsu. Pelayanan palsu ketika orang melayani karena saya… agar saya dikenal bayak orang, supaya saya dihormati orang. Pelayanan palsu ketika orang melayani karena kamu… supaya kamu dekat denganku, supaya kamu memberikeuntungan dalam pekerjaanku, supaya kamu menjadi pacarku. Motivasi yang salah itu menimbulkan masalah dengan diri sendiri dan juga dengan orang lain.

Sedangkan pelayanan sejati ketika orang melayani karena Kristus telah melayaniku terlebih dahulu. Saat kita melakukan pelayanan karena Kristus  maka secara otomatis kita telah melakukan pelayanan yang baik kepada diri kita dan orang lain. Saat pergumulan datang maka seorang pelayan sejati akan menanggung dan menyelesaikannya bersama dengan Kristus.

Maka mari kita bersama-sama merenungkan “Menjadi pelayan yang seperti apa kita?” Pelayan sejati atau pelayan palsu? Amin.

Adi Netto Krisanto

Mahasiswa Teologi UKDW Yogyakarta


Tagged as: ,

Comments

  • abraham said:

    PELAYANAN DAN PENDERITAAN

    Puji Tuhan…hanya itu yang bisa saya ucapkan sepanjang hidup saya sampai saat ini. Menjalani pekerjaan sebagai sopir gereja sungguh merupakan pekerjaan yang “makan hati”. Pada awalnya saya sempat terpancing dengan ulah beberapa jemaat yang “kurang” iman. Emosi, marah dan tentunya dengan kata-kata kotor hampir tiap hari saya lontarkan kepada jemaat/ majelis yang model-model sok pintar, dan sok kaya. Mungkin karena memang saya bekas orang yang cukup berada, ditambah dengan pendidkan saya yang S-1 farmasi. Bulan-bulan pertama saya lalui dengan sangat berat, tetapi Tuhan tidak tinggal diam, melalui Bapak Pdt. Gidyon, saya selalu di nasehati agar membiarkan perilaku beberapa jemaat yang mau dipakai oleh iblis. Lambat tapi pasti saya sudah mulai bisa mengendalikan emosi dan “membiarkan” setan-setan itu lewat. Begitu nyata kuasa Tuhan, didalam menguatkan saya…Suka cita dan suka cita yang senantiasa saya pelihara didlam Tuhan. Tuhan memberkati.

Trackbacks

There are no trackbacks

You must be logged in to post a comment.