"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

Cukupkanlah Apa yang Ada Padamu

(Ibrani 13;5-8)

Sebagian besar kita pasti pernah makan ayam goreng, makanan favorit sebagian besar rakyat Indonesia. Suatu saat saya dikejutkan oleh suatu fenomena realita kehidupan yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televise. Dikisahkan seorang pemulung makanan restoran cepat saji. Pemulung itu mengambil sampah makanan yang terdapat di tong sampah di restoran cepat saji itu. Dia membawanya ke rumah, sebagian diberikan kepada tetangganya dan sebagian diberikan kepada keluarganya. Hal yang mengharukan ketika sebelum makan makanan sisa tersebut, mereka berdoa terlebih dahulu.

Bagaimana perasaan kita jika melihat fenomena kehidupan seperti ini? Terkadang kita makan dengan menyisakan makanan dan membuangnya dengan sia-sia. Kisah ini tadi tentunya mengetuk hati kita. Namun sadarkah kita bahwa ditengah-tengah keberuntungan yang kita miliki terkadang kita tidak puas dengan apa yang ada di depan kita.

Surat Ibrani mengajarkan kepada kita agar kita mencukupkan diri dengan apa yang ada pada kita saat ini. Kata cukup itu relative bagi masing-masing orang namun sebenarnya masing-masing pribadi mengetahui takaran cukup bagi dirinya. Bagi saya makan semangkok bakso terasa cukup kenyang namun bagi yang lain empat mangkok bakso baru dirasa cukup.

Saya membawa sebuah gelas, apa yang terjadi jika saya memasukkan air terus menerus melebihi kapasitas? Tentu akan luber, tertumpah keluar dan akhirnya merepotkan kita sendiri untuk membersihkannya. Demikian juga Tuhan, Dia mengetahui takaran berkat yang cukup bagi masing-masing anakNya. Takaran Tuhan sangat pas dan lebih detail dari timbangan elektronik. Masihkah kita ingat perlanan bangsa Israel ketika Tuhan mengirimkan roti Manna dari Surga dan burung puyuh? Tuhan memerintahkan untuk mengambil secukupnya. Makanan tersedia melimpah ruah tetapi Tuhan memerintahkan untuk mengambil secukupnya. Dan orang-orang yang tidak mentaatinya maka mencelakakan dirinya sendiri.

Surat Ibrani juga mengajarkan kepada kita untuk tidak menjadi hamba uang. Menjadi hamba Tuhan diberkati Tuhan tetapi menjadi hamba uang berarti menolak berkat-berkat Tuhan, karena dia merasa dirinya bisa hidup tanpa pertolongan Tuhan. Jangan sampai kita melakukan apapun untuk mendapatkan uang dengan jalan yang dibenci Tuhan, apalagi menjual iman demi sebuah jabatan. Menjual iman berarti menjadikan dirinya seperti Yudas Iskariot yang menjual Yesus kepada imam-imam kepala.

Terkadang kita tidak puas dengan berkat yang telah disediakan Tuhan sehingga kita menuntut Tuhan untuk memberikan lebih, lebih parah jika kita memerintahkan Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Disaat Tuhan tidak mengabulkannya kita marah; mengucap syukurnya kurang, berdoa malas-malasan, berdoa asal-asalan, dsb. Taukah Saudara bahwa Tuhan memiliki maksud tertentu mengapa Tuhan tidak memberikan/belum memberikan? Tuhan tahu tentang diri kita, sifat-sifat dan kepribadian kita bahkan yang tidak diketahui oleh orang lain. Tuhan tahu bagaimana kita jika doa kita dikabulkan, apakah kita akan semakin setia ataukah berkat itu akan membuat kita menjauh dari Tuhan. Tuhan begitu mengasihi kita, oleh sebab itu Dia tidak ingin jalinan kasih dengan anak-anakNya terputus.

Namun apabila pada saat ini kita memang dalam keadaan kekurangan, untuk makan saja susah, Surat Ibrani memberikan janji bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita, “Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5b). Jika barung pipit dan bunga bakung saja dipelihara oleh Tuhan terlebih kita anak-anaknya. Mazmur 37:25-26 mengatakan, Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat”. Ini adalah janji Tuhan dan ini adalah jaminan Tuhan bagi orang-orang percaya. Namun ayat-ayat yang kita terima ini tidak ada faedahnya jika kita tidak mengimani dan mengamininya dalam kehidupan kita.

Hal yang tidak kalah penting adalah bahwa kita harus senantiasa mengucap syukur, 1 Tesalonika 5:18 mengatakan, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Belajar menyadari bahwa apa yang sudah disediakan kepada kita itu sudah sesuai dengan usaha dan kebutuhan kita. Kita tidak perlu cepat merasa iri melihat rumput tetangga yang begitu hijau, lihat dulu meteran air mereka. Tidak perlu bersaing mengadakan pesta karena tiap orang memiliki kemampuannya masing-masing.

Sekarang marilah kita nikmati berkat Tuhan itu dengan sikap seperti murid-murid Kristus; mengucap syukur, mencukupkan diri, rendah hati dan berbagi berkat dengan yang lainnya. Amin.

Comments

  • Nathan Christianto Setiabudi said:

    terberkati banget dengan renungan ini… supaya mencukupkan diri dan bersyukur selalu pada Tuhan

Trackbacks

There are no trackbacks

You must be logged in to post a comment.