Memilih Hidup
Oleh: Pdt Em Daud Adiprasetya
Minggu 5 September 2010 (Minggu Biasa).
Ulangan 30:15-40 Mazmur 1 Filemon 1-21 Lukas 14:25-33
Dikisahkan tentang sebuah desa kecil di kaki gunung, para penduduknya sebagian besar merupakan petani yang mencari penghasilan mereka dengan menanam padi. Daerah tersebut dikenal sangat subur sehingga kebanyakan warganya menjadi kaya raya. Satu tahun belakangan ini, desa tersebut dilanda wabah tikus yang sangat hebat yang mengakibatkan panen padi di desa itu terganggu. Hampir seluruh pelosok desa dipenuhi oleh kawanan tikus yang senang memakan dan merusak hasil panen petani. Oleh karena kewalahan menangani masalah ini, Kepala Desa membuat sayembara untuk seluruh penduduk desa. Sayembara itu sangat menarik karena bagi mereka yang berhasil menangkap seekor tikus akan diberikan uang sebesar 1000 rupiah. Tiga bulan setelah program dikeluarkan, populasi tikus dengan serta merta menurun.
Warga kegirangan dan keasyikan memburu tikus, bukan hanya karena tikus merupakan musuh bebuyutan mereka, namun mereka juga mendapatkan hasil yang sangat lumayan. Bahkan, banyak keluarga yang mengerahkan seluruh anak-anaknya untuk menangkap tikus. Penghasilan warga meningkat dengan cepat setelah penangkapan tikus-tikus tersebut. Celakanya, sebagian warga merasa bahwa uang dari hasil menangkap tikus jauh lebih besar dan lebih mudah didapat daripada ketika mereka bekerja di sawah. Hari demi hari populasi tikus mulai berkurang dan warga merasa gusar hati karena penghasilan mereka dari menangkap tikus menjadi berkurang. Dua bulan kemudian, Kepala Desa kembali melakukan survei, dan alangkah kagetnya ia ketika menemukan informasi bahwa jumlah tikus pada saat ini lebih banyak daripada jumlah tikus sebelum diadakan sayembara. Selidik punya selidik, ternyata ada beberapa oknum penduduk desa yang mengembangkan tikus untuk dapat ditukarkan dengan uang. Alhasil sayembara yang bermaksud memberikan insentif bagi para penduduk untuk mengurangi populasi tikus, disalahgunakan segelintir oknum yang menginginkan sesuatu yang lebih mudah. ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).
Oh, memilih selalu bikin pusing kepala! Pada saat wabah tikus menggila mengapa mereka tidak segera memilih jalan yang terpuji, yaitu ramai-ramai memerangi tikus? Hal itu akan dapat memupuk persatuan warga, dapat mengatasi kerugian secara finansial, dan menghadirkan kepuasan batiniah. Tapi apa yang telah terjadi? Dalam kisah di atas kita menemukan hal-hal yang mengecewakan dan semuanya berhubungan dengan pilihan dalam hidup ini. Pertama, Mengapa penduduk desa tidak memilih untuk menolak dengan tegas ketika ditawari insentif, sebab memerangi tikus adalah untuk kepentingan mereka sendiri?
Kedua, Mengapa Kepala Desa tidak memilih cara yang sehat, yaitu menyadarkan penduduk dan memberi dorongan kepada mereka untuk melestarikan kemakmuran desa?
Ketiga, Dalam keadaan yang sangat memperihatinkan itu bagaimana mungkin bisa muncul segelintir orang yang memilih untuk beternak tikus daripada menanam padi? Mereka yang malas, egois dan rakus seperti tikus itu patut ditegur keras atau dihukum.
Musa seperti Kepala Desa yang menghadapi wabah tikus? Memang sama-sama sebagai pemimpin, tapi kepemimpinan Musa jauh lebih mantap tentunya. Dia memimpin sebuah bangsa yang besar, umat yang dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir menuju Tanah Perjanjian melalui perjalanan panjang 40 tahun lamanya. Jika Kepala Desa tadi kebingungan menghadapi tikus-tikus ganas yang tersebar ke segala pelosok desa, maka Musa lain lagi. Dalam matanya Musa melihat nasib bangsanya yang penuh teka-teki, bangsa besar yang belum mempunyai sejengkal tanah untuk dihuni itu, akan hidup atau mati? Musa sendiri sudah tahu bahwa ajalnya tak lama lagi, tapi dia akan hidup bersama Tuhan di sorga, bagaimana dengan umat dan bangsa yang ia kasihi seperti anaknya sendiri ini? Jika ditinggal pergi nanti, akankah mereka itu bertahan sebagai umat Tuhan?
Sebab begitu seringnya mereka itu berpaling dari Tuhan dan terpikat kepada ilah lain.
Jika Kepala Desa tadi menawarkan solusi-insentif sebagai pilihan untuk mengubah nasib, maka Musa memerintahkan bangsanya untuk mengasihi Tuhan dan menolak allah lain. Keduanya berhubungan dengan hidup, tapi bobotnya berbeda jauh seperti bumi dan langit. Permasalahan tikus itu memang bisa saja mempengaruhi kehidupan di dunia ini, tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan ibadah kita kepada Tuhan. Hal inilah yang membuat Musa menjadi panik, kiranya dapat disebut kepanikan-rohani. Jelas sekali Musa merasa sangat tidak nyaman hatinya saat berhadapan dengan umat Tuhan saat itu.
- Musa memerintahkan umat Tuhan mengasihi Tuhan, supaya hidup.
- Musa memperingatkan jika umat Tuhan menyembah allah lain akan binasa
- Musa memberitahukan, memanggil langit dan bumi sebagai saksi, memperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk.
- Akhirnya Musa menghimbau agar umat Tuhan memilih kehidupan, supaya mereka dan keturunannya hidup.
Di sini kita melihat Musa sedemikian mengharapkan keselamatan umat Israel. Penekanan kata-katanya begitu terasa supaya mereka jangan sampai salah memilih di antara hidup dan mati. Jika Kepala Desa, dan para pemimpin dunia pada umumnya hanya sekedar menjalankan tugas, maka Musa begitu menyatu dengan seluruh bangsanya. Meski sudah ulangkali dikecewakan oleh bangsa yang diasuhnya, tapi Musa tetap mengasihi mereka. Dengan demikian Musa dapat menggambarkan sikap Yesus Kristus yang penuh kasih sayang, terhadap umat manusia yang sudah dirusak oleh dosa.
Pelajaran apa yang dapat kita ambil?
Pertama, Jika kita menjadi seorang pemimpin; dalam keluarga, dalam jemaat, kantor dan di manapun, upayakan untuk dapat menyatu dengan mereka yang kita pimpin serta memperjuangkan kepentingan mereka dengan penuh ketulusan hati.
Kedua, Tingkatkan terus kecerdasan memilih yang memberi “hidup” daripada yang membawa “kematian”. Ingat, kalau-pun kita tidak mau memilih, maka itu sudah berarti memilih, yaitu memilih untuk tidak memilih.
Tetap masih harus memilih, meski sudah memilih. Orang banyak yang berduyun-duyun mengikuti Yesus saat itu tidak secara otomatis sudah menjadi murid-Nya. Jika ingin menjadi murid-Nya maka mereka harus membenci keluarga dekatnya bahkan nyawanya sendiri. Sudah jelas bahwa di sini, Tuhan Yesus tidak sedang menganjurkan untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, terhadap keluarga dan hidup kita. Dia hanya mau menekankan bahwa murid-Nya harus memiliki kasih yang kuat kepada Yesus Kristus. Barang siapa mau menjadi murid-Nya maka ia harus mengutamakan persekutuan secara pribadi dengan Yesus, melebihi apa dan siapapun dalam hidupnya. Karena di dalam Yesus Kristuslah terdapat segala sesuatu yang terbaik. Termasuk pelajaran-Nya mengenai bagaimana seharusnya sikap kita terhadap anggota keluarga, yang menjadi sesama terdekat dan terhadap diri sendiri. Setiap kali diperdengarkan Firman-Nya ini berarti panggilan-Nya sedang ditujukan kepada yang mendengarnya. Panggilan Tuhan Yesus untuk menjadi murid-Nya ini seharusnya kita tanggapi dengan penuh rasa syukur, sebab merupakan peluang emas untuk ditindaklanjuti, misalnya dengan mengikuti kateksasi lalu menerima sakramen Baptis Kudus. Mengikuti Pemahaman Alkitab, terjun dalam kegiatan gerejawi dan seterusnya.
Jika seorang memilih untuk menjadi murid Yesus, maka ia harus:
Siap menghadapi kesulitan. Di dalam hidupnya, setiap murid Yesus pasti mempunyai salib yang harus dipikulnya. Itulah penghalang yang dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Bentuknya berbeda-beda, tapi selalu ada. Maka jangan minta untuk dibebaskan dari salib, tetapi mohonlah kekuatan supaya mampu memikul dan mengatasinya. Sebenarnya,Salib dapat membuat kita menjadi semakin bersandar kepada Tuhan Yesus. Semakin akrab dengan Kristus, dengan demikian kita akan menjadi semakin kuat.
Siap mewujudkan niat hatinya. Seperti orang yang mau membangun sebuah menara, atau seorang raja yang akan berperang. Tuhan memang tidak melarang kita mengadakan perhitungan , pertimbangan dari segala segi, bahkan pergumulan secara besar-besaran, tapi pada akhirnya kita harus mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan yang tegas untuk menjadi murid Tuhan yang setia.
Siap berkarya sebagai garam. Seperti garam yang rela dikorbankan demi kesuburan dan kelezatan, menjadi murid Kristus yang melayani dunia ladang-Nya itu adalah merupakan komitmen kita. Murid Tuhan tidak mengejar kedudukan dan nama besarnya sendiri, tapi mengutamakan integritas.
Siap menyatakan kasih kepada yang mengecewakan hati. Sebagai murid Tuhan Yesus sebenarnya kita dipanggil untuk sering melakukan perbuatan-perbuatan “kecil” dalam hidup kita, yang dapat menggambarkan perbuatan besar Guru kita Yesus Kristus. Seperti yang sedang dilakukan Paulus ketika memperjuangkan masa-depan Onesimus, agar bisa diterima kembali oleh mantan majikannya. Untuk itu Paulus telah mempertaruhkan nama baik, hubungan baiknya dengan Filemon, dan sejumlah uang sekiranya Onesimus pernah merugikan Filemon. Di pihak lain bila Filemon bersedia menerima kembali Onesimus maka ia akan mengajarkan kasih dan pengampunan Kristus dalam praktik kepada Onesimus dan masyarakat luas. Meskipun Paulus telah mengharap dengan sangat dalam suratnya, namun Filemon tetap bisa memilih untuk menolak permintaan Paulus. Memang untuk berbuat baik, kita harus melewati pintu-pilihan yang sempit dan sulit!
Siap menolak kejahatan, menyambut kebenaran Tuhan. Hal itu diungkap dalam Mazmur 1:1 yang sangat terkenal itu. Murid Tuhan dengan tegas harus menolak sikap, pola hidup dan pergaulan jahat yang dapat merusak hidupnya, dan menggemari Firman Allah yang indah dan benar.
You must be logged in to post a comment.