BERBAHAGIALAH MEREKA YANG MENDENGAR DAN MEMELIHARA FIRMAN TUHAN.
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
17 Oktober 2010
Minggu Biasa- Bulan Keluarga
Kejadian 32:22-31 Mazmur 121 2 Timotius 3:14-4:5 Luk.18:1-8
Dalam Buku Chicken Soup For The Soul At Work, ada satu tulisan menarik dengan judul: Saya Mendengar Bisikan Lembut. Seorang perawat yang berkisah sebagai berikut:
Saya merawat seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun yang hidupnya tidak lama lagi. Orang tuanya datang dari luar kota dan terus-menerus menungguinya di rumah sakit. Mereka menemani anak mereka itu selama berjam-jam dan akhirnya mau juga beristirahat dan pergi makan malam di luar. Ketika mereka sedang pergi itulah anak lelakinya meninggal. Keduanya merasa sangat terpukul, terutama ibunya; bukan saja anak lelakinya itu meninggal, tetapi meninggal ketika dia tidak berada di sampingnya. Sang ibu sangat tertekan dan berkali-kali meletakkan kepalanya di dada anaknya dan menangis. Ketika saya sedang berdiri di samping ibu itu, dengan jelas saya mendengar bisikan lembut dalam benak saya, “Suruh dia naik ke tempat tidur dan memeluk anaknya.” Saya jadi bingung. Bagaimana saya bisa menyampaikan permintaan seperti itu? Bagaimana kalau ada yang melihat? Bagaimana nanti kata orang? Saya mencoba mengabaikannya dan berharap suara itu hilang sendiri. Ternyata tidak. Beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lagi dengan nada yang lebih tegas, “Dia harus naik ke tempat tidur dan memeluk anaknya!” “Bu, apakah Ibu mau naik ke tempat tidur dan memeluknya?” , terdengar suara saya bertanya pada ibu itu. Dia langsung naik ke tempat tidur. Saya berada di situ ketika dia memeluk anaknya, membelai wajahnya, berbicara kepadanya, dan menyanyikan lagu untuknya. Saat-saat bersama ibu dan anaknya itu adalah saat-saat yang paling istimewa dalam hidup saya. Saya merasa mendapatkan rahmat karena bisa berada bersamanya ketika dia mengucapkan selamat jalan kepada anak lelakinya. ( Anne Walton ). Sara E. Anderson mengatakan: “Diperlukan keberanian besar untuk dengan tulus mengikuti apa yang kita ketahui sebagai kebenaran.”
Bisikan atau suara siapakah yang di dengar oleh perawat itu?
Saya cenderung untuk mengatakan bahwa bukan bisikan iblis, sebab yang dikatakannya itu baik semata. Pasti banyak yang setuju mengatakan, itu suara Tuhan. Bukankah Tuhan tetap bisa berbisik kepada siapapun yang dikendaki-Nya, melalui karya Roh Kudus? Tapi mungkin saja bisikan tadi hanya suara hatinya sendiri. Sekarang begini, bagaimana jika bisikan lembut itu adalah kombinasi, antara Firman Tuhan dan suara hatinya sendiri. Jika perawat itu seorang anak Tuhan, yang sudah bergaul akrab dengan Tuhan, maka dalam hidupnya pasti sudah banyak mendengar Firman Tuhan. Maka Firman Tuhan tentang segala kebaikan dalam hidup ini sudah dicerna, sudah mengendap dan menyatu dengan batin dan hati serta pikirannya. Begitu ada situasi yang menantang, maka ajaran Tuhan dan FirmanNya yang sudah menyatu dengan dirinya itu segera bereaksi. Suara hati yang sudah dibuahi oleh Firman Tuhan, selalu berbisik dan mengusik menuntut perwujudan yang sesuai dengan ajaran TuhanYesus dan hanya bagi kemuliaan-Nya. Perbuatan ibu tadi memang sangat janggal, tapi juga menjadi obat mujarab bagi hatinya yang sedang dirundung oleh kecewa berat. Inikah kasih yang dikemas dalam suatu kejanggalan?
Yakub yang selalu terbalut dalam Firman Tuhan. Ketika Yakub melarikan diri ke Padan-Aram karena akan di bunuh Esau, sepintas merupakan kabut tebal baginya, tapi sebenarnya tidak! Sebab dalam pelariannya itu Yakub justeru menerima Firman Tuhan yang menyejukkan jiwanya; Tuhan berjanji akan memberkati dan menyertai Yakub (Kejadian 28:13-15). Selama Yakub berada di tengah keluarga besar Laban, dapat di katakan bahwa hidup Yakub selalu terbalut dalam Firman Tuhan. Disadari atau tidak, Firman Tuhan sejak masa muda yang diterima dari orang tuanya sampai yang diterimanya secara langsung dari Tuhan terserap sudah dalam hidup Yakub, meskipun tak jarang ia menjalankan hidup yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Cara kerja Firman Tuhan memang seperti itu, merasuk ke dalam pikiran dan hati, menyatu dengan diri kita. Ada satu cerita tentang seorang anak laki-laki Irlandia yang mendapat sebuah Alkitab sebagai hadiah. Ia membacanya secara diam-diam. Ternyata di dalamnya ia mendapati jalan keselamatan yang dari Allah. Imam di daerah itu mendengar mengenai hal ini dan dia minta anak itu menyerahkan Alkitabnya. “Buku ini jelek, Mike,” kata imam tadi, lalu ia merobek-robeknya. “Bapak, Anda tidak dapat merampas Kitab Allah itu dari saya, karena kitab itu ada di sini!” sahut anak itu sambil meletakkan tangan di dadanya. Hati adalah tempat yang terbaik untuk menyimpan firman Tuhan. Seperti yang kita baca di Mazmur 119:11 “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (John Ritchie). Ketika suatu hari Tuhan berfirman lagi kepada Yakub (Kejadian 31:3), menyuruh Yakub agar ia pulang ke negeri nenek moyangnya, maka dengan kepekaan yang tinggi Yakub membulatkan tekadnya untuk melakukan langkah besar seturut Firman Tuhan itu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa seorang anak Tuhan seperti Yakub itu, di tengah hiruk pikuknya gejolak hidup, selama masih beriman kepada Tuhan, tak bakal dapat melepaskan diri dari jaring Firman Tuhan. Benarlah ketika dikatakan bahwa Firman-Nya tak pernah kembali dengan sia-sia (Yesaya 55:11). Jadi kebahagiaan terbesar dalam hidup Yakub di Padan-Aram, bukanlah tatkala ia dapat menikahi kedua puteri Laban, atau ketika punya sejumlah anak dan ternak, tapi ketika dia sebagai seorang pelarian bisa terus menggenggam Firman Tuhan.
Andai Yakub tidak memegang Firman Tuhan, apakah ia bisa bersemangat dalam perjalanan hidupnya? Apakah ia akan mengambil keputusan dan resiko untuk berangkat, dengan membawa rombongan sebesar itu? Apakah tanpa janji yang difirmankan oleh Tuhan itu, Yakub berani pulang untuk bertemu kembali dengan Esau yang sakit hati itu?
Yakub tidak hanya difirmani, tapi juga dijumpai oleh Tuhan! Sebagai manusia yang hina, adalah merupakan anugerah besar ketika Yakub boleh berjumpa, dan bahkan bergumul dengan Tuhan di tepi sungai Yabok. Saat itu Yakub sedang diobati, dibarui dan dilahirkan kembali oleh Tuhan. Dia sedang diguyur oleh firman Tuhan dalam bentuk sebuah pengalaman rohaniah yang maha dahsyat! Cara antropomorfis yang dilakukan Allah terhadap Yakub, justeru merupakan kebahagiaan sebesar-besarnya, yang menyebabkan dia dapat berada sedekat-dekatnya dengan Allah, bertanding, berdialog, menerima cendera mata, nama baru, dan diberkati oleh-Nya. Kemudian Yakub bisa tampil beda, ia tidak lagi menjadi seorang yang egois dan penakut, Yakub si penipu yang licik itu namanya sudah berubah menjadi Israel “Lelaki yang menghadapi Allah” sebab dia sudah berserah kepada Allah dan berdamai dengan dirinya sendiri. Kini dia juga sudah siap untuk mengakui kesalahannya dan merendah di hadapan kakaknya, sehingga Tuhan melunakkan hati Esau, lalu segalanya pun menjadi serba indah! Dengan bercermin pada kisah Yakub, bermodalkan iman, bersandar pada Firman Tuhan, bergumul dalam doa pertobatan, kita yakin bahwa Tuhan juga akan dapat membongkar, dan mengubah seluruh kehidupan kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya!
Tetapi apakah Tuhan sudi menemui kita? Pertanyaan ini menjadi sangat penting, sebab sekiranya Tuhan tidak sudi keluar dari “ persembunyian-Nya” apa daya kita? Andai Tuhan membisu seribu bahasa, maka kita tidak akan mengerti isi hati-Nya. Sudah sewajarnya jika kita merasa iri kepada Yakub yang bernasib begitu bagus. Yakub yang walaupun hidupnya ditandai berbagai noda, namun beroleh anugerah Tuhan. Akankah kita sebahagia dia? Tentu tidak mungkin bisa seperti Yakub, sebab dalam dunia ini selalu ada orang-orang yang dipilih Tuhan, bukan karena kehebatannya tetapi anugerah semata. Yakub dipilih menjadi moyang bangsa Israel, hal itu merupakan misteri bagi kita semua. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa kita sekalian dianak-tirikan oleh Bapa surgawi. Perumpamaan tentang hakim dan janda tadi dipakai Tuhan Yesus untuk menegaskan, bahwa Tuhan juga memberi perhatian khusus kepada setiap orang di dunia ini! Memang itulah perumpamaan tentang pengabulan doa, namun yang menjadi kata kunci adalah perhatian Tuhan. Supaya dapat menangkap pesan Tuhan, maka sebaiknya kita cermati persamaan serta perbedaan di antara sang hakim dalam perumpamaan itu, dan Tuhan yang kita kenal. Persamaannya adalah bahwa sang hakim maupun Tuhan sama-sama berkedudukan tinggi dan dapat mengubah nasib orang. Sedangkan perbedaan di antara mereka adalah sebagai berikut: Kepribadian sang hakim sangat buruk, Tuhan Maha Baik. Hakim itu egois dan pertolongannya tidak tulus, tetapi Tuhan selalu memikirkan kepentingan umat-Nya dan memberkati dengan penuh kasih. Kemudian kita digiring kepada sebuah kesimpulan, bahwa seorang hakim yang tidak takut kepada Allah serta tidak bisa menghormati sesamanya saja, pada akhirnya dapat juga berbuat baik, terlebih lagi Tuhan yang Maha baik. Kenyataan yang harus kita sadari dan kita syukuri sekarang adalah, Tuhan telah menyelamatkan kita melalui karya Kristus dan menghadiahi Firman-Nya, supaya kita baca dan kita pelihara di sepanjang hidup kita!
Berbahagia jika mau mendengar dan memelihara Firman Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan supaya hidup Timotius selalu berpautan pada Firman Tuhan. Begitu banyak alasan yang membuat Timotius, dan kita semua, harus berpegang pada Firman Tuhan dari Kitab Suci itu. Bahwa memberi hikmat, menuntun kepada keselamatan, dapat mengajar kita, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, mendidik dalam kebenaran dan dengan demikian kita diperlengkapi Allah untuk melakukan perbuatan yang baik! Ada cerita tentang keuntungan membaca Alkitab, demikian: Seorang rahib di Belgia menegur seorang ayah karena mengizinkan putranya membaca Alkitab. Menurut rahib tersebut Alkitab itu sebuah buku yang jelek. “Pak,” sahut ayah itu, “sebelum putra saya mendapat Alkitab itu, ia peminum, penjudi, dan pemalas. Sekarang ia sudah sadar, rajin, dan tenang. Bagaimana mungkin satu buku yang jelek menghasilkan sesuatu yang baik seperti itu.” Ada satu kenyataan yang tak dapat diingkari, yaitu demikian: Jika kita setia membaca Firman Tuhan, maka Firman Tuhan juga tidak akan pernah meninggalkan hidup kita. Kesetiaan kita dan kesetiaan Firman Tuhan lalu menghasilkan buah yang menarik untuk dipetik oleh manusia dan Allah. Dalam Mazmur 121:8 kita membaca “Tuhan akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Dengan cara bagaimana Tuhan menjagai kita? Antara lain dengan menggunakan Firman-Nya!
You must be logged in to post a comment.