Situation Update on Merapi Response
31 Desember
Dua hari menjelang tahun baru (30 Desember 2010), satgas tanggap bencana GKI SW Jateng kembali mengirimkan bibit pohon untuk penghijauan di lereng Merapi. Ini adalah pengiriman tahap III. Bibit yang dikirim kali ini adalah 2000 bibit alpukat, 2600 bibit nangka, dan 1300 bibit mindi. Sebelumnya, telah dikirimkan:
- 6650 batang bibit Jabon
- 310 batang bibit Mindi (Nimba)
- 2600 batang bibit pisang
- 1310 batang bibit sengon buto
- 2600 batang bibit munggur
- 1310 batang bibit sirsak.
Penerima manfaat adalah Kadus I, Desa Balerante, kecamatan Kemalang, Klaten. Desa ini menjadi korban sapuan awan panas paling parah di wilayah kabupaten Klaten. Setelah diguyur hujan selama berhari-hari, beberapa tanaman yang sempat meranggas karena awan panas mulai bersemi kembali. Dimulai dengan tanaman semak seperti rumput gajah, talas dan pisang, kemudian diikuti oleh pohon bambu, alpukat dan mindi. Sementara itu, tanaman yang berbatang lebih keras seperti mahono dan jati diperkirakan tidak akan bersemi kembali.
Denyut kehidupan mulai berdetak. Para pengungsi mulai membersaihkan rumah dan memperbaiki bangunan yang rusak. Dengan dibantu oleh relawan, warga setempat mulai membangun tenpat tinggal sementara. Yang menarik, warga mendahulukan untuk mendirikan kembali kandang sapi daripada rumah tinggal mereka. Mungkn ini berakit dengan cairnya uang bantuan pengganti sapi yang mati kerena awan panas. Di desa ini ada ratusan sapi yang mati terpanggang awan panas, dan sebagian lapi mati kelaparan karena ditinggal mengungsi.
Kabar yang menggembirakan lagi, pemerintah kabupaten Klaten juga sudah mencairkan dana Rp. 5 juta kepada warga yang rumahnya rusak ringan dan sedang. Sementara untuk rumah yang rusak total malah belum mendapatkan bantuan. Kemungkinan besar hal ini berkait dengan kebijaksanaan pemerintah daerah yang melarang pembangunan kembali rumah-rumah yang berada di Kawasan Rawan Bencana I (KRB I). Meski begitu, nampaknya kebijaksanaan ini tidak akan dipatuhi oleh warga karena mereka memutuskan untuk tetap menghuni rumah-rumah lama mereka, meski sampai sekarang belum ada sambungan listrik dan pasokan air bersih.
Sepanjang jalan menuju lokasi kini muncul portal tiban yang dibuat secara dari batang bambu oleh warga setempat. Setiap kendaraan yang melintas dimintai “dana sukarela” jika ingin portal dibukakan. Sasarannya adalah kendaraan pribadi yang oleh warga setempat disebut sebagai “wisatawan bencana. Akan tetapi untuk mobil relawan dan yang membawa bantuan kemanusiaan diizinkan lewat begitu saja. Di beberapa titik di kali Gendol yang dialiri lahar dingin telah menjadi tempat wisata baru. Setiap pengunjung yang masuk dipungut biaya 1 ribu s/d 5 ribu rupiah. Demikian juga makam mbah Maridjan di dukuh Srunen, meski telah terkubur pasir, tetapi menjadi episentrum baru untuk kunjungan wisatawan. Geliat ini diikuti dengan munculnya warung-warung makan sederhana serta penjual foto dan VCD merapi.
Kendala:
1. Di atas pasar Butuh, Klaten kini terpampang spanduk milik Relawan FPI Nasional yang bertuliskan: “Bantuan Kemanusiaan, Yes; Pemurtadan, No.” Meski kegiatan kemanusiaan yang kami lakukan ini tidak ada unsur penyebaran agama, namun tak urung spanduk ini membuat kami merasa risih.
2.Bibit pohon yang telah kami kirimkan belum bisa tertanam semuanya karena warga setempat kekurangan tenaga untuk menanamnya. Mereka masih memprioritaskan tenaga untuk membersihkan dan memperbaiki rumah. Berkenaan dengan itu, maka satgas tanggap bencana akan mengajak relawan dari pemuda Ansor NU dan pemuda GKI/GKJ di Klaten untuk membantu penanaman pohon. Selama ini, kami menjalin hubungan baik dengan NU, khususnya pondok pesantren Pancasila Sakti, pimpinan mbah Lim. Rencana ini baru akan diwujudkan setelah tahun baru. Gerakan ini juga bertujuan untuk menetralisiri isu-isu yang gencar dilontarkan oleh kelompok lain.
Demikian laporan perkembangan respons tanggap bencana di Merapi.
Foto-foto kegiatan dapat dilihat di sini: http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/Tanggap%20Bancana/
Dokumentasi video dapat dilihat di sini:
http://www.youtube.com/view_play_list?p=77EC3F6A96B76689&feature=bf-title
–
23 Nopember
Selasa, 22 Nopember: telah diserahkan bantuan logistik untuk warga di desa Tlogolele, kabupaten Boyolal. Bertindak sebagai penyalur bantuan adalah relawan dari Lembaga Bantuan Kemanusiaan Umat Beragama (LBKUB) dengan koordinator Nandar. Bantuan yang diberikan sejumlah 600 paket yang masing-masing berisi: beras 3,5 kg, dan 15 dos mie instan. Selain itu juga diserahkan selimut 100 lembar, tikar 100 lembar dan masker 600 lembar.
Rabu, 23 Nopember: Inge Susanti (dari Departemen Kesaksian dan Pelayanan GKI SW Jateng) dan Iskandar Saher (Pusat Pengembangan Pelayanan Holistik) mengadakan monitoring di Muntilan, Klaten dan Boyolali.
Kamis, 24 Nopember: Tim tanggap bencana GKI+GKJ Klaten mengadakan survei di desa Keningar, Srumbung, Muntilan. Situasinya: Wilayah ini masuk dalam KRB III (sangat berbahaya). Ada 187 KK yang mengungsi di sekitar Mendut. Beberapa pengungsi, terutama yang berbadan kuat kembali ke desa. Mereka kesulitan air bersih karena pipa pralon yang menyalurkan air tersapu lahar panas. Mata air terletak 3 km dari puncak Merapi. Pekerjaan utama adalah bertani dan masih bisa bertanam padi. Kebutuhan utama adalah air bersih dan bibit.
Program yang sedang berjalan adalah pengurasan tandon air dan memasok air bersih. Target yang henda dicapai adalah memasok 855 tangki air dengan kapasitas 5000 liter. Bantuan ini akan dinikmati oleh lebih dari 1700 warga di desa Bawukan dan Gemampir.
Program lain yang sedang berlangsung adalah pemberian bantuan logistik kepada penyintas yang sudah pulang ke rumah. Sasarannya adalah menyediakan bahan pangan sampai penyintas bisa bekerja dan mencari makan sendiri. Setiap kepala keluarga mendapat bahan mentah yang terdiri dari: 5 kg beras, minyak goreng 1 liter, gula pasir 1 kg, kecap 620 ml, abon 250 gram, teh dan bumbu dapur. Distribusi sudah diberikan ke desa Pijenan (100 paket), Tegalsari (58 paket), Mberut-Srumbung (120 paket), Boyolali (60 paket), Remeng-Tlogowatu (128 paket), Gemampir dan Bawukan.
Untuk keperluan jangka panjang, tim sedang menyusun rencana pemulihan dengan sasaran meningkatkan pendapatan warga. Gagasan yang sedang digodog adalah:
1. Membagikan benih bagi petani yang tanamannya rusak karena abu Merapi.
2. Menghijaukan kembali lereng Merapi dengan bibit sengon, duren, kelapa dan pisang.
3. Memberi bantuan ternak kambing dengan sistem gaduhan.
4. Memperkenalkan teknologi pembuatan pupuk organik dan biogas.
5. Menambah ketrampilan warga. Antara lain membuat kerajinan bunga kering.
6. Mengupayakan bea siswa bagi anak penyintas erupsi Merapi.
18 Nopember
Hari ini, (18/11) tim tanggap bencana GKI+GKJ di Klaten memasok 88 tangki air bersih untuk warga desa Gemampir, dengan nilai nominal Rp. 4,4 juta rupiah. Di desa ini, kami akan memasok 464 tangki air bersih. Mengapa kami memilih memasok air bersih? Karena tandon air milik warga desa ini telah tercemar abu merapi. Kami melihat bahwa air bersih merupakan kebutuhan yang mendesak. Selain untuk memasak, minum warga dan memberi minum ternak, air bersih juga dibutuhkan kaum perempuan untuk kesehatan reproduksi mereka.
Selain di Gemampir, kami juga akan memasok air bersih untuk warga desa Bawukan. Saat ini kami telah meminjamkan satu mesin penyedot air. Biaya untuk memasok air bersih di desa Bawukan ini lebih mahal karena jarak sumber air dengan sasaran juga lebih jauh.
*********
Para pengungsi yang tersisa di aula SMP Kristen akhirnya pulang. Semuanya berasal dari desa Bawukan. Mereka pulang tidak dengan tangan hampa karena membawa serta pasokan kebutuhan pokok selama seminggu. Kami akan memantau terus kebutuhan mereka.
***********
Ada info dari Dukun, Muntilan: Wilayah ini masuk dalam Ring I atau KRB III (zona paling berbahaya), namun warga terpaksa pulang ke desanya. Mereka sempat mengungsi ke sekolah. Tapi karena mengganggu proses belajar-mengajar, maka pemerintah akan memindahkan mereka. Akan tetapi lokasi pengungsian yang baru itu terlalu jauh buat mereka, yaitu di Magelang. Padahal pengungsi harus mengurusi ternak dan ladang mereka. Akibatnya, mereka memutuskan pulang ke desa meski masih berbahaya.
Sebelum pulang, mereka harus menandatangani pernyataan bahwa pengungsi tidak akan menuntut pemerintah jika terjadi apa-apa. Akibat dari keputusan ini, warga desa ini tidak mendapatkan pasokan bantuan dari pemerintah.
Hari Jumat, kami akan membawa pasokan logistik, hygiene kit dan alat kebersihan ke sana. Kami akan dipandu oleh Siska, seorang siswa SMA yang menjadi warga desa Mberut. Karena wilayah tersebut masih dalam wilayah berbahaya, maka kami akan menurunkan bantuan pada titik yang aman, kemudian warga desa setempat yang akan mengusung bantuan logistik ke rumah masing-masing.
16 Nopember
Warga desa Bawukan dan Gemampir sudah pulang dari tempat pengungsian yang kami kelola. Saat mereka sampai ke rumah masing-masing, mereka mendapati bahwa tandon air mereka telah tercemari abu vulkanik. Saat mengungsi, mereka lupa menutup atau memindahkan talang air. Akibatnya, abu vulkanik masuk ke dalam persediaan air mereka. Air yang sudah tercemar ini tidak bisa dikonsumsi atau dipakai untuk mandi karena membuat gatal-gatal.
Sebagai informasi, desa ini selalu kekurangan sumber air bersih terutama pada musim kemarau. Untuk itu, mereka membuah kolam dari semen yang mengumpulkan curahan air hujan dari atap.
Mulai Selasa, 16 Nopember, tim tanggap bencana di GKI dan GKJ Klaten mengerahkan mesin penyedot air untuk menguras air kotor tersebut. Selanjutnya, kami juga memasok 2 tangki air bersih (10 ribu liter) kepada setiap pemilik tandon air. Untuk desa Gemampir, dibutuhkan 464 tangki air, dengan biaya Rp. 50 ribu/tangki. Total dibutuhkan dana Rp. 23.200.000,- Angka ini baru untuk satu lokasi. Masih ada satu lokasi lagi yang akan menjadi sasaran pembersihan, yaitu desa Bawukan. Berminat jadi berkat bagi sesama? Bergabunglah dengan kami memasok mereka dengan air bersih!
Saat ini kami sudah mendapat dana dari gereja Kalam Kudus Solo untuk membeli empat pompa air. Yang dibutuhkan adalah uang untuk membeli air bersih. Kini saat yang tepat untuk menunjukkan bahwa gereja tidak latah dengan pihak lain dalam tanggap bencana ini. Saat pihak lain merasa sudah cukup memberi bantuan kepada pengungsi, gereja dapat menjadi teladan dengan setia mendampingi penyintas saat gegap gempita euforia penderma memudar dan liputan media menyurut.
Situation Report on 15/11
Merapi Eruption Response
Along with the activity of Merapi is flat, then since Friday, November 12, the internally displaced persons (IDPs) refugees began to return home. On Sunday, all IDPs at big house Jonggrangan had returned to their homes even though the government still set a CAUTION status. But the IDPs dare go home in line with the announcement that the government reduce the danger radius of 10 km for the Klaten district.
From Gemampir village, got the news that when the IDPs return to their villages, they found the water container vessel has been polluted by ash and sand. In the rush to evacuate, they did not get to move the gutter, as a result of rain and ash into the water container vessel.
The polluted water only used for watering the roof, mopping floors or washing clothes. To get a supply of clean water, they have to queue up at the two artesian wells by paying Rp. 500, -(about US$ 0,05)/jerry can as a substitute for electricity cost. Maximum can only take 2 jerry cans of water per person.
Rev. Soetomo informed that there were 45 IDPs who came from Cangkringan, Sleman, Yogyakarta (live at most hazard area). Most likely they will be displaced for a long time because their homes were completely destroyed and swept by pyroclastic flows. Today they were staying in homes, in the vicinity of Klaten.
GKI responses
At Klaten District:
1) Since November 16, GKI end the kitchen soups services
2) Continuing the temporary shelter at Christian Junior High School auditorium, as long as the government has not declared safe state.
3) Supplying clean water for villagers Gemampir (first priority), Manisrenggo and Karangnongko.
4) Initiating cooperation with GKJ (Java Christian Church) at Manisrenggo for house cleaning program in Bawukan. GKJ Manisrenggo expected to mobilize and manage volunteers to clean the ash-covered village environment and many trees uprooted. GKI Klaten will supply the need of volunteers.
5) Designing a relief program by distributing seed and goat
6) For IDPs from Cangkringan, because it will be displaced for a long time, it is predicted that the conflict could arise with homeowners boarded. Actions to be undertaken are:
a) Offer to the IDPs to move to a very large house owned by GKI church. If necessary, the house will be sealed-bulkhead so that the privacy of each family awake.
b) Collect data and the possibility of reconstruction of houses for them. Therefore we need information about that government’s policy on villages (may be occupied again or not), the status of land (in legal status or property disputes)
Issued: 16 November 2010
Situation Report on 12/11
Merapi Eruption Response
Merapi phase ramps. Some refugees decide to return to their homes even though the government has not declared a safe condition. Even so, the refugees still want to go home because they have cattle and fields that must be taken care of.
GKI responses
At Klaten District:
1. 1. Providing raw food to displaced person who return. Consists of:
* 5 kg of rice
* Cooking oil 1 liter
* 1 carton of instant noodles
* 1 ounce Shredded meat
* Sugar 1 kg
* Red + White Garlic 2.5 ounces
* Ketchup 620 ml
2. 2. In cooperation with GKI church Darmo Satelit Surabaya invites children to play in Dodiklatpur Klaten.
3. 3. Distributes 4715 meals in Klaten
At Muntilan Sub District:
1. 1. Disaster response team take a pregnant women to giving birth in hospital. After that held a welcome ceremony for the baby and mother.
2. 2,Distribute clothing and toiletries.
3. 3.Held fun games for children.
4. 4. Distribute snacks and milk for children.
5. 5. Reunite three separate families
6. 6. Delivering a man who has a lump on the hand to the hospital at a cost of GKI Muntilan.
Listen
Read phonetically
At Prambanan Sub District:
1. 1. Distribute toiletries, underwear, medicines, noodles, milk, and pads to the place of refuge.
2. 2. Distribute meals for 5720 displaced person at the various barracks in Prambanan.
Issued: 12 November 2010
Situation Report on 11/11
Merapi Eruption Response
The day after the first eruption on 26 October, disaster response teams provide food to the barracks, which is managed by the government. But the eruption on 3 November to create a big change in situation. The displaced people leave the barracks. Because of this emerge many new smaller barracks. But they are not ready to accept the refugees in large numbers.
GKI responses
At Klaten District:
1. GKI open two places to accomodate the displaced people: At christian yunior high school hall (aat least 372 persons) and a big house belong to congregation member (at least 109 persons)
2. GKI run 6 (six) kitchen soup.
3. GKI distributed meal for 2000 person per a day.
4. On Nopember 11, Merapi in plain condition. The displaced person decide to back to their home. GKI give raw food kit to family who returned to their home
At Boyolali District:
Although most late, but Indonesian Christian Church at Boyolali district begin run a response team. They open their church hall to accomodate at least 90 persons and run kitchen soup to provide food for them.
At Muntilan Sub District:
After big erruption at Nopember 3, and several erruption later, Muntilan subdistrict covered by thick ashes and even sands. The electricity supply was bogged down. At night, Muntilan such as dead city.
Indonesian Christian Church at Muntilan open their gymnastic room to accomodate at least 200 person. They also mobilize the volunteers to clean up the church and school roof. Because the heavy of the ashes and sands, the almost burned out. They need heavy equipment to aid their works.
Issued: 11 November 2010
31 oktober
Agenda tim GKI+GKJ Klaten pagi ini:
1. Mengantar GKI Kayuputih, Jakarta menyalurkan bantuan ke lokasi.
2. Mengantar Gereja Gereeformed, Semarang menyalurkan bantuan ke lokasi.
3. Menghibur pengungsi di barak Keputran, Kemalang dengan organ tunggal.
4. Menyuplai kebutuhan posko Boyolali (pdt. Simon dkk).
Kebutuhan untuk 2000 pengungsi:
a. Beras, minyak goreng, gula, bumbu dapur, minyak tanah
b. Lauk-pauk: tempe, tahu, telor asin, telor ayam, mie kering, ikan asin, abon.
c. Makanan siap santap: biskuit, roti kering, dll.
d. Peralatan mandi: handuk, sabun, sikat gigi, odol
e. Peralatan mencuci: Sabun colek, sabun cuci, ember plastik, gantungan baju.
f. Baby kit: selimut bayi, perlak, bubur bayi, bedak (untuk 30 bayi).
g. Selimut
h. Tikar plastik
i. Kantong plastik tempat sampah.
j. Masker
Hari Senin dan Rabu sore, adakan pertunjukan Badut Sulap dan Punakawanan (lawak Semar, Gareng, Petruk, Bagong) di barak pengungsi Dompol dan Bawukan, Klaten.
Kebutuhan:
a. Bingkisan makanan kecil untuk anak-anak
b. Doorprize
c. Konsumsi relawan
