Inisiatif VS Lancang
Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, menetakkannya kepada hamba Imam Besar dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus (Yohanes 18:10)
Dalam satu hal, inisiatif adalah hal baik dalam pelayanan. Tapi dalam situasi lain, inisiatif kadang bikin jengkel. Saat terjadi erupsi Merapi, kami mengerahkan ibu-ibu untuk membuat 640 nasi bungkus. Ketika akan dibagikan ke tempat pengungsian, ternyata jumlahnya berkurang. Rupanya ibu yang membantu di dapur umum itu ada yang membagikan nasi bungkus tanpa berkonsultasi dengan koordinator posko.
Meski sama-sama dibagikan kepada pengungsi, namun tindakan tanpa koordinasi ini mengacaukan rencana yang sudah dibuat.
“Kalau masing-masing orang lancang berbuat sendiri-sendiri, maka planning kita akan berantakan.” keluh sang koordinator.
“Oh itu bukan lancang,” sahut relawan lain dengan nada bercanda, “bahasa halusnya itu jemaat mengambil inisiatif tanpa diperintah.”
Mengambil inisiatif adalah tindakan yang sangat baik. Namun alangkah baiknya jika tindakan ini sudah diperhitungkan secara matang dan selaras dengan tujuan organisasi. Tindakan Petrus untuk membela Gurunya adalah tindakan yang baik. Akan tetapi karena inisiatif itu dilakukan sembarangan, maka tindakan itu justru bisa mengacaukan rencana Yesus. Bayangkan jika murid-murid yang juga terprovokasi melakukan perlawanan, maka misi Yesus untuk menuju ke kayu salib bisa terhambat.
Meski begitu, jangan takut untuk mengambil inisiatif. Saat peristiwa Pentakosta, Petrus juga mengambil inisiatif untuk berpidato di depan banyak orang. Hasilnya luarbiasa! Ribuan orang memberi diri untuk dibaptis [Purnawan]
SMS from God: Negara kita butuh terobosan-terobosan. Ambil inisiatif, namun jangan sampai berbuat lancang
