"Menjadi komunitas Kristen yang lebih SETIA, TERLIBAT, PEDULI dan HANGAT"

KEPEMIMPINAN Hamba

Kurang lebih 2500 tahun yang lalu, Lao-Tse berujar:

Alasan mengapa sungai-sungai dan laut menerima ratusan aliran air gunung adalah karena mereka meletakkan diri di bawah gunung tadi. Jadi seorang bijak meletakkan diri dibawah pengikut bila ia ingin memimpin mereka, dan berjalan dibelakang mereka agar ia berada dimuka.  Jadi walaupun ia berada di atas mereka, pengikut tidak merasa berat, dan mereka tidak terhina dengan ia berada di depan

Sementara itu didunia modern, Albert Einstein mengatakan dalam  Ideas and Opinions, “’not mastery but service’ will lead people on the right way.”

Di kalangan Kristiani, bunda Theresa mengatakan, “unless life is lived for others, it is not worth while.” (kecuali bila hidup adalah dijalani untuk orang lain, hal tadi tidak bernilai)

Dan Dietrich Bonhoeffer, sang martyr modern, mengatakan juga, “Sebuah gereja is gereja sejati bila ia hadir untuk orang lain.””

Kristus sendiri menekankan, sikap mendahulukan orang lain, “aku datang bukan untuk dilayani namun untuk melayani.”

Pemimpin

Secara kasat mata, kita kenali pemimpin-pemimpin sejati adalah orang yang menggerakkan kita. Mereka memberi inspirasi, mencipta keadaan, menjalin suasana dan struktur. Kita merasakan impian kita bertumbuh dan dipertajam. Menurut seorang ahli ilmu kepemimpinan, para pemimpin  menyebabkan  potensi atau hal-hal yang baik dari diri kita jadi kentara. Dalam bahasa yang lebih ilmiah, kita menyebutkan bahwa pemimpin merumuskan visi bersama, menggerakkan orang bersamanya dan menghasilkan transformasi baik pada dirinya dan orang lain. Ketiga hal itulah yang membedakan seorang pemimpin sejati dari pemimpin kebetulan atau seorang pengelola alias manager dan birokrat saja

Dari para pemimpin sejati yang kini bekerja keras didapatkan bahwa mereka berhasil menggerakkan orang bersamanya dan menghasilkan transformasi karena mereka menerima kepercayaan dari banyak pihak, terutama dari mereka yang mengikutinya. Hal inilah yang dapat kita garis bawahi. Pekerjaan besar utama seorang pemimpin sejati adalah mendapatkan kepercayaan dari mereka yang ada disekitarnya.

Bagaimana dengan kepemimpinan di kalangan persekutuan Kristiani?  Kalau Lao Tse sudah mencatatkan hal yang paradoksial serupa itu, bagaimana kata Alkitab?  Terutama, bagaimana kepercayaan diperoleh?  Jawabnya, adalah dengan menjadi pemimpin hamba.  Hamba di dalam dunia kuno adalah jabatan yang sangat rendah statusnya, bahkan tepatnya, tanpa status.  Hamba dapat diperjual-belikan, hamba juga tidak memiliki masa depan. Hamba juga mendahulukan mereka yang ia layani.  Hamba juga menekankan kesetiaan tanpa pamrih.  Tentunya terasa paradox, bagaimana mungkin seorang tanpa status dan menjadi orang yang tidak dihargai dapat menimbulkan dampak yang menginspirasikan?

Jawabnya terletak pada sifat dasar dari persekutuan Kristiani yang menjadi konteks orang-orang Kristen dan pemimpinnya.  Persekutuan Kristiani adalah persekutuan spiritual. Jadi bila pemimpin diikuti orang karena kepandaiannya, gelarnya, atau pesonanya serta bukan karena kualitas spiritualitasnya khususnya sebagai mana tercermin dalam keseharian dan pengabdiannya maka ada sesuatu hal yang secara serius sudah salah.

Bagaimana sosok kepemimpinan hamba

Secara teologis seorang yang dipilih melayani Tuhan adalah seorang hamba.  Inilah esensinya, namun di dalam fungsinya, sang hamba ini bisa diminta oleh tuannya untuk menjadi pelukis, pematung, pemasak, atau pemimpin.

A.   Pemimpin Yang Melayani

Di dunia Timur orang sering beranggapan bahwa seorang pemimpin haruslah menjadi orang dihormati dan dilayani oleh para pengikutnya.  Tanpa hak-hak serupa itu, maka seorang pemimpin dirasakan tidak akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.  Semakin otoriter dan berwibawa, atau semakin misterius seorang pemimpin, semakin orang merasakan kepemimpinnya.  Ia dapat menjadi pemimpin yang melayani bila, memiliki hati yang melayani.  Berbeda dari pemahaman tentang seorang pemimpin serupa itu adalah paradigma kepemimpinan yang melayani.  Bila seorang pemimpin adalah seorang yang menggerakkan dan mentransformasi, maka pemimpin yang melayani adalah seorang yang menggerakkan dan mentransformasi orang secara khas.

Seorang pemimpin yang melayani hanya dapat melakukan hal itu bila ia menghayati makna peran sebagai orang yang melayani.  Seorang yang melayani tidak melakukan hal itu karena ia ingin menebus dosa atau kesalahannya di masa lalu.  Ia juga bukan melakukan hal itu agar orang merasa iba padanya.  Pemimpin yang melayani melakukan hal itu karena ia ingin dengan melayani orang-orang, ia terdorong untuk membuka kesempatan agar orang-orang di sekitarnya memiliki kebebasan lebih luas untuk berkembang atau mengalami transformasi.  Dengan bahasa sederhana ia dapat menjadi pemimpin yang melayani bila, memiliki hati yang melayani.  Seringkali ia melakukan hal ini karena ia pernah merasakan dilayani seseorang, mengalami pemulihan karena ditolong seorang pemimpin, atau mampu mengembangkan visi yang tajam karena dialog dengan seorang pemimpin dan sebagainya.  Seorang dapat menjadi pemimpin yang melayani karena menghayati rasa berhutang atas kasih-kebaikan Tuhan pada dirinya.

Seorang pemimpin yang melayani secara definisi adalah seorang pemimpin yang sangat perduli atas pertumbuhan dan dinamika kehidupan pengikut, dirinya dan komunitasnya dan karenanya ia mendahulukan hal-hal tadi daripada pencapaian ambisi pribadi atau pola dan kesukaannya saja.

B.   Tampilan pemimpin yang melayani

1.  Pemimpin yang melayani memberikan teladan-teladan untuk perilaku dan sikap yang ia ingin hadir dan menjadi bagian utama dari hidup pengikutnya.  Jadi ia tidak memaksa orang untuk mengambil alih suatu perilaku atau memaksa dengan berbagai aturan hal-hal yang ia inginkan.  Ia memberikan ilham melalui demonstrasi model, pemberian teladan dan penentuan batas-batas perilaku dengan melaksanakannya sendiri.

2.  Pemimpin yang melayani sering bekerja dalam kerangka pikir waktu yang panjang. Ia tidak mengharapkan hasil spektakuler terlalu cepat karena ia menyadari bahwa untuk menggerakkan dan mentransformasi orang diperlukan waktu yang panjang dan proses yang sinambung.

3.  Pemimpin yang melayani melakukan komunikasi yang bersifat dua arah

4. Pemimpin yang melayani juga dapat hidup di tengah kepelbagaian pendapat, bahkan ia merasa tidak nyaman bila pendapat, paradigma, dan gaya kerja hanyalah sejenis

5. Pemimpin yang melayani memberikan kepercayaan dan wewenang pada pengikutnya.  Ia memiliki gambaran positif dan optimis tentang mereka.  Ia memberdayakan mereka melalui sharing pengetahuan, skil dan perspektif.

6. Pemimpin yang melayani menggunakan persuasi dan logika untuk mempengaruhi orang selain peneladanan.

7. Pemimpin yang melayani tidak berupaya menjadi pahlawan, namun menciptakan dan melahirkan pahlawan-pahlawan.

8. Pemimpin yang melayani mengerjakan banyak hal dan juga menghindar dari berbagai hal yang orang lain dapat lakukan.

Hal yang perlu dicatat disini adalah bahwa pemimpin yang melayani tidak berarti akan menghindar dari masalah atau konflik.  Ia tidak juga menjadi sosok yang dikendalikan oleh berbagai kelompok yang kuat. Dalam pekerjaan sehari-hari seorang pemimpin yang melayani mendahulukan orang lain.  Ia juga membuat orang jadi terinspirasi, terdorong, belajar, dan mengambil alih teladannya.  Pendekatannya bukanlah pendekatan kuasa tapi pendekatan hubungan atau relasional.


Prasyarat

Hanya dengan bermodal rasa syukur dan terpesona  serta merasa berhutang pada Tuhan, sang Tuannya, seorang pemimpin hamba menmfokuskan diri pada mendahulukan kebutuhan orang lain, pertumbuhan orang lain, dan kesejahteraan orang lain daripada dirinya sendiri.

Hal ini hanya dapat terjadi bila secara esensial ia tidak lagi terkungkung atau terobsesi dengan urusan dirinya sendiri.  Karena itu seorang yang ingin hidup sebagai pemimpin hamba adalah seorang yang berani menghadapi masalah pemulihan hubungan antara dirimnya dengan masa lalunya, dengan orang-orang di sekitarnya (termasuk tokoh ayah dan ibu), dengan masyarakat dimana ia berada dan lebih dalam lagi ialah dengan Tuhannya.  Seorang pemimpin hamba mencolok dalam kedamaian yang muncul dari dirinya, bahkan dalam keadaan yang paling suram.  Untuk mencapai titik ini ia perlu rela terus menerus memeriksa diri untuk menemukan luka-luka yang mungkin masih diidapnya, seperti, luka yang diakibatkan oleh kemarahan terpendam, kepahitan, ketakutan yang mendalam, rasa tak berdaya, kebencian, atau kesepian.  Luka-luka yang tidak pernah diselesaikannya dengan Tuhan membuat dirinya sulit memiliki percaya diri, dan sulit juga mempercayakan diri pada orang lain, karena pada dasarnya kepercayaan atau kebergantungannya pada Tuhan sangat rendah.  Luka-luka tadi menghalangi dirinya untuk memeluk Tuhan lebih erat. Bahkan tidak mustahil luka tadi menampakkan diri kelak pada saat yang tidak tepat dalam wujud kemarukan kuasa, kemarukan uang, penggunaan pengaruh seksualitas secara keliru, atau tindakan self-destruktif dalam hubungan antar manusia.

Pemulihan tercermin dalam kisah antara seorang anak wanita Vietnam dengan seorang pilot Amerika di masa perang.  Anak itu terbakar karena bom napalm yang dijatuhkan dari kapal terbang sang pilot.  Photonya sebagai anak berusia 9 tahun yang berlari dan terbakar memenangkan hadiah terkenal.  Bertahun-tahun sang pilot terus terganggu photo tadi dan berupaya melacak sang anak yang kini tinggal di Amerika.  Ketika dijumpai, anak yang kini telah menjadi jururawat kepala, hanya memeluknya dan mengatakan “sudah lama aku menantikan saat ini dan ingin mengatakan bahwa aku sudah mengampuni Anda.”  Sang pilot hanya dapat menangis …

Dengan paham demikian maka ia akan juga memiliki beberapa ciri lain:

  1. ia harus terus belajar di dalam hidupnya, baik mengenai Tuhan yang memanggilnya, orang lain, dan dirinya
  2. ia selalu siap bekerja sebagai bagian dari kepemimpinan yang lebih besar, dan bukan berjalan sendirian, karena ia telah menyadari batas daya dan ketidakberdayaan nya.
  3. ia selalu menyediakan waktu untuk merenungkan makna atau kehendakNya dan sementara itu ia mempercayakan diri dan komunitasnya ke dalam pemeliharaan Tuhan..

Penutup

Ketika profil pemimpin hamba dipaparkan, mungkin Anda tertawa dan mengatakan “apa mungkin hal itu muncul disini? Pendeta saja belum tentu bisa, apalagi kami di komisi atau majelis jemaat.”  Apalagi bila melihat masyarakat.  Tidakkah mereka yang dinamakan para pemimpin seringkali adalah komplotan koruptor yang besar dan canggih. Jawabnya begini: Hal yang terindah dalam inti kepemimpinan hamba adalah bahwa hal itu merupakan masalah hati.  Selama Anda memiliki hati tadi, mustinya profil dan kualitas tersebut Tuhan mungkinkan hadir dalam hidup Anda.

Robby I Chandra

Comments are closed.