Lebih Ingat Satenya
Mereka dapat dikenali dari kelakuan mereka, sama seperti sebatang pohon dapat dikenali dari buahnya. Kalian tidak akan keliru membedakan pohon anggur atau pohon ara dari semak duri. (Matius 7:16 FAYH)
Saat menanam pohon di punggung Merapi, saya bertemu dengan warga desa Pijenan yang pernah mengungsi di tempat pengungsian yang kami kelola.
“Bapak yang pernah mentraktir sate untuk pengungsi ‘kan?” sapa ibu itu. Saya mengangguk sambil tersenyum geli.
Sebenarnya bukan saya yang mentraktir. Saya hanya menjalankan amanat dari penderma. Namun bukan itu yang membuat saya geli. Yang membuat saya geli adalah mereka justru lebih ingat “sate”-nya daripada lembaganya.
Itu sebabnya, sejak awal kami memang sengaja tidak menonjolkan identitas lembaga, membentangkan spanduk atau menancapkan bendera di lokasi bencana. Sebab bagi kebanyakan penyintas, mereka akan melihat dulu tindakan apa yang sudah dilakukan oleh sang pemberi bantuan. Barulah setelah itu mereka akan mengingat siapa sang pemberi bantuan.
Orang mengenal mengenali pohon itu dari buahnya. Ada beberapa pohon yang tampak sama. Maka cara untuk membedakannya adalah dengan melihat buahnya. Buah yang baik pastilah dihasilkan oleh pohon yang baik. Di dunia ini ada banyak pihak yang memberikan bantuan kemanusiaan. Ada berbagai motif di balik sumbangan itu. Ada yang bermotif dagang, ada yang bermotif gengsi, ada yang bermotif politik tetapi ada pula yang bemotif tulus. Semuanya itu akan diuji dari buahnya. Percuma saja menonjolkan identitas kelompok jika karyanya tidak bermanfaat bagi orang lain. Itu seperti pohon yang rimbun tak berbuah. Orang akan segera mengabaikan dan melupakan pohon itu karena tidak dapat mengambil manfaat darinya [Purnawan]
SMS from God: Hasilkan buah lebih dulu, maka orang akan mengenal pohonnya. Tunjukkan aksi yang nyata dulu, barulan mereka mengenal Kristus.
