Pemimpin dan Kepelbagaian
Oleh: Robby Chandra
Empat hari lontang-lantung di sebuah pulau:
Strategi buang hajat sampai mengejar kepiting
Dengan gamang, aku membuang hajat di pantai. Ternyata hal ini membutuhkan kebijaksanaan dan strategi yang canggih. Terlalu dekat dengan semak-semak, biawak dapat menyeruduk dengan bergairah. Bila terlalu dalam di air, badan basah…dan ranjau mengapung sekitar pusar. Melakukannya di pasir, koq mirip kura-kura di pantai selatan. Selanjutnya, membersihkan diri dengan air asin juga bukan suatu hal yang nikmat. Setelah usai dan menyadari kelegaan adalah anugrahNya, aku berjalan mengelilingi pantai dengan celana pendek saja sambil merenungkan bahwa ada banyak kenyaman hidup di Jakarta yang tidak kita sadari. Misalnya, closet duduk. We take it for granted.
Selama empat hari kami luntang-lantung di pulau Damar. Dari kejauhan gelombang menampar tepian pulau dengan suara gemuruh. Perahu-perahu nelayan berbaris di tepian yang agak tenang menghindari gelombang 3 meteran. Sementara angin bertiup tanpa ampun. Mulanya kami ragu kalau-kalau kepergian kami tidak akan berhasil, Agus, Giarso, Topo, Vivi, Akel, Ihud, Tommy, Tova, Matias, Heidi, Marsiana, Andreas dan badan tuaku. Aku hadir terutama karena butuh mensurvey pulau ini sebagai lokasi pelatihan kepemimpinan bagi para pendeta di bulan April yang menjadi pekerjaanku secara berkala.
Pertanyaan besar yang kucari jawabnya adalah “Mungkinkah sekelompok orang yang biasa hidup nyaman dan aman jadi terlatih mengembangkan sikap kepemimpinan yang pantang menyerah, saling menghargai kepelbagaian dan saling membantu di dalam konteks pulau yang terpencil? Ataukah justru sifat terburuk mereka akan mencuat ke permukaan ketika badan lelah, bau, dan terpencil sehingga mereka menjadi egois?
Selama melakukan survey, kudapatkan bahwa biota laut memang memukau. Tepian pulau ini dihuni kerang-kerang kecil, anemone, dan berbagai mahluk yang dapat dimakan. Sementara itu Akel muncul di kemahku dengan menenteng kunyit, kencur, pisang, dan berbagai temuannya. Vivi, sebagai mahasiswa kedokteran ternyata lebih senang menelusuri pedalaman pulau sendirian. Ia menemukan sebuah benteng kuno yang memang pernah kudengar namun gagal menemukannya karena sangat tersembunyi. Aku lebih terkejut ketika Giarso membawakan sebungkus kerang yang sudah dimasak dengan bumbu kuning. Ternyata, ia bercakap-cakap dengan nelayan yang sedang berlabuh dan hasilnya adalah makanan yang bergizi.
Di hari ketiga, Andreas, Tommy dan Matias meluncur turun dari puncak mercu suar dengan tali. Entah bagaimana cara mereka memasang alat itu di tengah angin kencang. Sementara itu Marsiana mengelilingi pulau dan mengejar kepiting-kepiting kecil. Satu sama lain saling membantu walaupun terkadang saling mencuri alat-alat masak.
Apa yang kudapatkan dari pulau itu? Pertama, wajahku menghitam dan completely tanned seperti surfer. Maklumlah, Coconut Brand Sun Protector terlalu mahal. Kedua, ternyata manusia cukup adaptif dan dapat hidup dalam kondisi yang jauh lebih sederhana daripada yang ia perkirakan. Setelah hari ke tiga, buang hajat di laut tidak jadi keanehan seakan aku sudah terbiasa melakukan hal itu sejak kecil, dan tidak ganti pakaian bukan masalah karena angin keras menyapu bau badan. Ketiga, hal yang terpenting adalah kini kusadari bahwa kelompok yang luntang-lantung di pulau itu terdiri dari orang-orang yang sangat berbeda. Ada yang berbadan tegap dan kekar, namun sangat takut dengan hantu. Ada yang sesekali menghilang membaca buku di tepi pantai. Adapula yang tidur pada jam 8 malam dan bangun jam 4 pagi, sedangkan yang lain tidur pada jam 12 malam dan bangun pada jam 7 pagi. Ada yang takut air dan ada yang takut menggunakan wc alam. Perbedaan ini tidak menjadi masalah. Justru, semua teman-teman memberikan kontribusi yang berguna. Tanpa Akel, makanan akan terus-menerus terasa hambar. Tanpa Topo kami tidak akan mendapatkan lokasi perkemahan yang cocok dan seterusnya. Kalau kupikir-pikir, perananku sendiri tidak sebesar mereka. Aku masak seadanya. Cuci piring sesekali. Merapihkan tenda juga bukan minatku. Tapi mereka memperlakukanku sebagai pimpinan.
Jadi, aku belajar, menjadi pemimpin tidaklah berarti kita harus mengumpulkan orang-orang yang sejenis dengan diri kita, atau orang yang seragam. Justru kepelbagaian membawa hal yang tidak terduga dan kontribusi yang unik. Pemimpin pun dapat belajar dari mereka.
Aku jadi menyadari bahwa kekuatan seorang pemimpin justru terletak pada kemampuannya menyatukan visi dari mereka yang berbeda-beda tadi serta merumuskan nilai bersama. Kekuatan pemimpin tidak terletak pada berapa banyak yang ia miliki sendiri, namun berapa kuatnya ia mengenali kekuatan orang-orang yang berbeda-beda disekitarnya serta kemampuan menyatukannya. Hal ini tidak selalu mudah, karena di pulau inipun, beberapa orang mulai menilai orang lain secara negative.
Aku jadi teringat kata-kata Jesse Jackson, pemimpin dari Rainbow Coalition mengatakan dengan tegas bahwa “Leadership has a harder job to do than just choose sides. It must bring sides together.”
Cara praktis membangun
Banyak orang mengatakan kepelbagaian sulit dijadikan model untuk melakukan tindakan nyata. Tidakkah semakin berbagai orang yang terlibat, semakin sulit bekerja dalam satu hati dan satu roh? Tidakkah akan banyak waktu terbuang sekedar untuk membuat landasan kerja sama?
Memang ada pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki kepekaan akan kepelbagaian. Ketika melatih sekumpulan siswa-siswi Tionghoa dari Jakarta, salah seorang pelatih kepemimpinan kami disapa dengan nama Koh Arif. Pelatih yang berasal dari persilangan orang Sunda dan Padang ini tentu tersipu-sipu. Aneh juga, padahal kulitnya hitam, rambutnya keriting dan tidak ada ciri yang mirip dengan orang Tionghoa. Calon-calon pemimpin yang tidak peka ini tentu mudah berbuat salah atau menganggap aneh sesuatu yang mereka tidak biasa temui.
Selanjutnya, ada pemimpin-pemimpin yang mengenali kepelbagaian, namun di lubuk hati mereka terdalam, apa yang berbeda dengan latar belakang dirinya dianggap lebih berkualitas rendah. Itulah sebabnya timbul prasangka rasial seperti, Hoa Nah (sebutan bagi pribumi) pasti malas dan culas, Teng Lang (Tiong Hoa) pasti cerdas, pekerja keras dan lihai, India pasti rewel dan kemlinthi. Orang-orang serupa ini tidak menyadari bahwa di tengah mereka yang disebutnya Hoa Nah terlahir ki Hadjar Dewantara, Sukarno, atau Raden Saleh. Mereka juga mendiskon fakta bahwa di tengah Teng Lang terdapat Yap Tiam Hin dan Arif Budiman. Juga tentunya mereka lupa bahwa Gandhi adalah bukan orang Kamboja. Hal itu juga yang membuat timbulnya prasangka agama yang konon kini menjadi dagangan beberapa politisi. Contohnya, kecurigaan bahwa orang Kristen pasti ingin mendominasi, atau orang Islam selalu dekat pada terorisme sering dijadikan dagangan para politisi tertentu.
Jenis pemimpin ketiga adalah mereka yang sudah mampu hidup dalam kepelbagaian, namun akan lebih suka bila berada di kalangan yang homogen. Orang-orang serupa ini berbisnis atau berkarir bersama orang yang berbeda-beda, namun mereka lebih suka berkecimpung dan menjadi excellent di dalam kalangannya sendiri.
Jenis pemimpin terakhir adalah mereka yang dapat memimpin dan menikmati manusia yang berbagai-bagai karena mereka melihatnya sebagai suatu pelangi, atau sekumpulan biota laut, atau pohon yang berbeda-beda dari hutan yang sama.
Yang mana Anda?
Pelbagai dalam gaya, nilai atau visi?
Kepelbagaian tidak berarti setiap orang dapat berbuat semau-maunya atas nama keunikan masing-masing. Di pulau Edam, tidak berarti dengan adanya kepelbagaian, maka ada orang yang boleh makan 3 porsi sedang temannya belum makan sejak pagi. Tidak boleh juga seseorang memasuki kamar mandi yang sedang dihuni lawan jenis.
Di pihak lain tidak berarti kepelbagaian harus dilebur menjadi suatu keseragaman, baik pakaian, jam buang hajat, jenis makanan yang disantap, atau cara bicara. Ada hal-hal yang dijadikan kesepakatan bersama, ada yang dianggap bebas untuk dicobakan, dan ada juga hal-hal yang terus diteliti kegunaannya. Di pulau terjadi kesepakatan bahwa persediaan makanan harus digunakan secara hemat. Kemudian, disepakati pula bahwa keselamatan dalam berlatih menjadi nilai utama. Sisanya dapat dilakukan masing-masing selama dikomunikasikan.
Disinilah kelebihan lingkungan kepelbagaian. Orang harus terus berbicara satu sama lain untuk mendapatkan kesepakatan. Keharusan ini membuat orang terus menerus belajar.. suatu tantangan yang secara sistemik membuat tiap orang terus meneliti dirinya dan mengamati orang lain secara akurat. Hasilnya adalah kesepakatan untuk visi bersama dan apa yang dianggap bernilai bersama. Kesempatan dan dorongan seperti ini tidak akan muncul secara sistemik dalam lingkungan yang homogen. Orang cenderung membentuk ruang nyaman yang diasumsikan terbaik untuk mereka, padahal menjadi tembok yang mengasingkan mereka dari dunia yang nyatanya Tuhan buat dengan penuh kepelbagaian.
Jadi?
Menjadi orang yang menyukai kepelbagaian adalah perjalanan spiritual bagi seorang pemimpin. Ia harus mulai belajar peka, belajar berkecimpung di dalam kepelbagaian, dan akhirnya belajar merenungkan makna apa yang Tuhan letakkan dalam konteks yang penuh kepelbagaian itu.
Nyatanya, kita suka atau tidak, kepelbagaian akan terus bertambah. Hal ini menjadi bagian dari desain hidup yang Sang Pencipta sediakan. Kristus juga memilih murid-murid dari kalangan yang beragam dalam orientasi politis, status social atau kepribadian mereka. Namun akhirnya kepelbagaian tadi tidak dijadikan hal yang direlatifkan saja. Aneh bukan, tidakkah lebih mudah semua diseragamkan?
