Ibadah Malam Rabu Abu
Ibadah Rabu Abu yang mengawali masa pra paskah diselenggarakan di GKI Klaten, Selasa 21 Februari 2012. Ibadah ini dilayani oleh pdt. Fendi Susanto, S.Si. Dalam khotbahnya, pendeta utusan khusus GKJ Gondokusuman untuk RS Bethesda ini memberi ilustrasi dari lagu berjudul “Dondong opo Salak.” Lagu Jawa ini sebenarnya memberikan simbol tiga macam manusia. Pertama, manusia dondong. Ciri-cirinya, halus di luar tapi berduri di dalam. Manusia tipe ini selalu menjaga pencitraan dirinya. Di luar dia kelihatan baik, santun, berbudi baik, tapi dalam hatinya ternyata jahat. Kedua, manusia salak. Ciri-cirinya, kasar di luar, tapi halus di dalam. Manusia tipe ini terpaksa berperilaku jahat, meskipun hati nuraninya sebenarnya baik. Manusia seperti ini bisa menjadi batu sandungan karena tidak punya prinsip yang kuat. Ketiga manusia duku. Ciri-cirinya sama-sama halus di luar dan di dalam. Manusia ini tampil utuh atau berintegritas. Apa yang tampak di luar memang sesuai dengan isi hatinya.
Dalam masa pra paskah ini, jemaat diajak untuk melakukan tiga laku rohani yaitu berpuasa, berdoa dan bersedekah. Diharapkan dengan lelaku ini, jemaat mengalami perubahan hidup sehingga bisa menjadi manusia yang utuh, yaitu menunjukkan sikap hidup Kristus. Usai penyampaian firman, dilanjutkan dengan prosesi pengolesan abu sebagai tanda pertobatan. Abu ini berasal dari hasil pembakaran daun palem. Pendeta Fendi mengawali dengan mengoleskan abu di dahinya membentuk tanda salib, kemudian diikuti oleh penatua dan sekitar lebih dari seratus jemaat GKI Klaten.
Pendeta Fendi mengoleskan abu
Pengolesan abu
Yang masih muda juga ikut
Mengapa ibadah Rabu Abu diselenggarakan pada hari Selasa? Karena masa puasa selama 40 hari dimulai pada hari Rabu. Dengan demikian, setelah beribadah hari Selasa, keesokan harinya jemaat mulai berpuasa selama 40 hari kecuali hari Minggu. Hasil dari aksi puasa ini akan dipersembahkan pada setiap ibadah minggu dan sepenuhnya digunakan untuk kegiatan diakonia
















