Archive for the ‘Kesaksian’ Category
Lancaran Sorak Gembira [pelog 6]
Menyongsong Natal dengan tembang Jawa. Lancaran Sorak Gembira pelog 6, dibawakan oleh Karawitan Pusporini, desa Ringinputih, Karangdowo, Klaten


Kemunculan Kembali Herlin Pirena
Herlin Pirena bersama P.S. Immanuel
Setelah sempat vakum selama empat tahun, Herlin Pirena akhirnya melantunkan pujian lagi. Dia menjadi bintang tamu dalam Parade Pujian yang diselenggarakan oleh Komisi Musik GKI Klaten, 14 Agustus 2009. Di hadapan lebih dari 200 jemaat, penyanyi dengan ciri khas rambut panjang tergerai ini melantunkan lagu-lagu yang menjadi hits dalam albumnya seperti Jam Kehidupan, tuhan Kau gembala Kami, Ku mau Berjalan Bersama Juruselamatku dan Ku Tahu Bapa Peliharaku. Herlin juga berduet dengan Tata (8 tahun) menyanyikan “S’perti Bapa Sayang Anak-Nya”.
“Saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi”
Di sela-sela pujian, Herlin mengaku sempat menjadi seperti Yunus yang melarikan diri dari panggilan pelayanan. “Kalau Yunus selama 3 hari ditelan ikan besar, maka saya selama empat tahun “ditelan” oleh aktivitas lain” kata Herlin. Gangguan pada pita tenggorokan membuatnya beralih pada aktivitas lain. “Setahun terakhir ini saya ditinggalkan teman sesama pemuji. Tahun lalu, Evie, anggota V.G. “Priskila” dipanggil Tuhan. Demikian juga Heni Roring yang menjadi motor “Gloria Trio” juga menghadap Bapa karena menderita kanker,” papar Herlin, “Hal itu membuat saya bergumul, fenomena apa ini?”
“Mengapa banyak hamba Tuhan pergi?” tanya Herlin pada diri sendiri. “Saya tidak tahu persis jawabannya, tapi yang jelas kita semua sedang berpacu dengan waktu. Ini soal waktu dan kesempatan. Dan saya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi,” seru Herlin dengan berapi-api.
Siang sebelumnya, Herlin Pirena sempat mengunjungi jemaat Kristen yang menjadi korban gempa bumi tahun 2006 di Wedi, Klaten. Dari kisah yang dituturkan oleh para penyintas gempa, Herlin mendapatkan berkat rohani. Meski berada dalam kesesakan, para penyintas itu justru mengalami pertumbuhan rohani yang pesat. Mereka justru semakin giat dalam pelayanan dan persekutuan di dalam Tuhan. Sampai sekarang jemaat ini masih beribadah dalam bangunan darurat karena belum mendapat izin untuk membangun gedung gereja kembali [purnawan]
Bertemu fans
Cik Hoe
Telepon di pastori berdering. “Bu, ada kabar layu-layu,” kata pegawai gereja di ujung telepon, “Tan Lian Hoe telah dipanggil Tuhan.”
“Ah, yang benar saja!” seru istriku, “Satu setengah jam yang lalu, saya baru saja menjenguk dan mendoakan dia. Saat itu dia kelihatan baik-baik saja.”
Tapi kehendak Tuhan tak bisa dicegah siapa pun.
Semasa masih hidupnya Tan Lian Hoe adalah anggota jemaat yang sederhana dan tidak menonjol. Meski begitu, dia sangat rajin mengikuti acara-acara gereja maupun yang diselenggarakan oleh Persekutuan Wilayah 7/8. Perempuan yang melajang sampai akhir hayatnya ini punya ciri khas yaitu kacamatanya yang tebal.
Sekitar setengah tahun lalu, kami melihat dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Waktu itu adalah hari Minggu. Kami sedang mencari makan siang di luar, ketika melihat ada banyak orang berkerumun di jalan raya. Saya mengendarai sepedamotor dengan pelan, tiba-tiba saya melihat sepeda onthel yang sepertinya saya kenal. Sepertinya itu milik cik Hoe, batinku.
Benar juga. Saya melihat tubuh cik Hoe telah dibaringkan di atas bak mobil. Darah tampak mengucur di bagian kepalanya. Mobil itu segera melaju ke UGD R.S. Tegalyoso. Kami putuskan untuk mengikuti mobil itu, siapa tahu ada yang bisa kami lakukan untuk membantunya. Dalam perjalanan, kami menelepon beberapa anggota jemaat mengenal dan masih bersaudara dengan cik Hoe. Mereka segera berdatangan. Karena sudah ada yang mengurusnya, maka kami pun berpamitan karena kami belum makan siang dan istri perlu beristirahat untuk memimpin ibadah pukul lima sore.
***
Dalam ibadah penutupan peti, diceritakan kisah lucu yang dialami oleh cik Hoe semasa hidupnya. Suatu kali cik Hoe ikut rombongan Persekutuan Wilayah 7/8 melayat ke Solo. Mereka menumpang mobil gereja dan cik Hoe duduk di kursi paling belakang. Sesampai di tujuan, rombongan bergegas turun dan pintu mobil dikunci.
Usai melayat, rombongan pelayat itu terkejut karena mendapati cik Hoe masih berada di dalam mobil. Rupanya dia terkunci di dalam mobil selama upacara pemakaman berlangsung. Mungkin cik Hoe juga merasa kesal, tetapi kemarahannya tidak berlarut-larut. Buktinya, sampai akhir hayatnya dia masih terlibat aktif dalam Persekutuan Wilayah 7/8
Mengikuti PanggilanNya
Oleh: Adi Netto Kristanto

“Mengapa kamu mau menjadi pendeta?” Itu adalah pertanyaan yang sering saya dengar dari teman-teman yang penasaran akan jawaban saya. Tentunya untuk menjawab pertanyaan mereka bukan dengan jawaban yang singkat, bahkan sepertinya perlu dijawabnya dengan ditemani secangkir kopi dan pisang goreng hangat. Namun saya mengucap syukur kepada Tuhan Yesus karena saya bisa berbagi sedikit dari banyak pengalaman bersama Tuhan melalui situs GKI Klaten ini.
Panggilan itu mulai terdengar ketika saya mengikuti persekutuan pemuda GKI Klaten pada tahun 2002. Persekutuan pemuda pada waktu itu tidak banyak diikuti oleh pemuda GKI Klaten, dan karena inilah saya yang seorang remaja kelas 2 SMP memberanikan diri untuk turut hadir dalam persekutuan itu. Rasa rindu kepada Tuhanlah yang mendorong dan memberi keberanian kepada saya untuk masuk dalam persekutuan itu, meskipun waktu itu saya bukan jemaat GKI Klaten. Setiap kali diadakan persekutuan hanya sedikit orang yang hadir, 4-6 orang saja waktu itu.
Kebersamaan dalam memuji, menyembah dan merenungkan Firman Tuhan, membawa damai dan mengubah hidup saya menjadi lebih baik dan teratur. Maka dalam diri saya mulai muncul kerinduan untuk memperkenalkan Firman Tuhan kepada orang lain, yaitu teman-teman di sekolah. Kerinduan inilah yang kemudian membuatku rindu dalam pelayanan di Komisi Remaja dan selanjutnya Komisi Anak dengan menjadi guru sekolah minggu.
Pada waktu kelas 3 SMP ayah saya bertanya, “Besok kalau sudah kuliah kamu mau mengambil jurusan apa?”
Dengan memberanikan diri saya menjawab, “Saya ingin sekolah teologi.”
Mendengar hal itu ayah saya sangat marah dan berkata, “Teologi? Kalau kamu sekolah teologi kamu akan menjadi pendeta dan kalau kamu jadi pendeta kamu akan miskin, kamu mau kamu miskin?”
Saya hanya diam dan berkata,”Tuhan, aku mau jadi hambaMu.”
Di kemudian hari berikutnya pertanyaan itu kembali dilontarkan pada saya, dan saya menjawab dengan jawaban yang sama. Maka ayah saya kembali marah dan mengatakan kalau saya tidak tau apa-apa, dan dalam hati kembali saya katakan “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu.”
Kemudian saya berdoa, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” (Dan doa inilah yang nantinya akan membuka jalan saya untuk menuju sekolah theologi).
Di SMA saya aktif dalam persekutuan yang diadakan di sekolah. Pada waktu kelas 1 SMA saya sudah mulai membawakan Firman di persekutuan di sekolah dengan modal buku renungan dan pengalaman saat persekutuan di gereja. Melalui persekutuan di sekolah ini saya juga belajar berorganisasi, kerinduan untuk melayani Tuhan tersalurkan dengan baik. Saat kelas 3 SMA saya mulai pelayanan Firman ke sekolah-sekolah lain dari SMP hingga SMA dan terkadang juga diminta membawakan Firman di persekutuan pemuda-remaja di gereja lain.
Namun pengalaman pahit menimpa saat saya kelas 2 SMA. Saya membongkar kasus perselingkuhan ayah saya, dan akhirnya mulai muncul goncangan yang menimpa saya dan keluarga. Pada awalnya saya protes kepada Tuhan, mengapa Dia ijinkan masalah ini menimpa keluarga saya, bukankah saya sudah melayani Tuhan dan bahkan memberikan hidup saya untuk menjadi hamba. Beberapa hari saya hidup dengan protes tersebut dan akhirnya dalam kesempatan saat teduh saya, Tuhan mengingatkan doa saya saat kelas 3 SMP, “Tuhan, aku mau menjadi hambaMu, apapun resikonya aku mau tanggung.” Maka terbangunlah saya dari rasa protes tersebut dan menyadari bahwa masalah ini adalah resiko yang harus saya tanggung. Dengan tetap mengalami masalah dalam keluarga ini saya berusaha memisahkan dengan pelayanan dan terlebih menguatkan ibu saya.
Akibat dari perbuatan saya yang telah membongkar perselingkuhan ayah dan sikap saya yang tidak menyetujui perceraian yang diusulkan oleh ayah, maka saya semakin dibenci olehnya. Maka pada waktu saya harus menyerahkan foto kopi ijazah SMP untuk melengkapi syarat ujian nasional, saya kesulitan karana dokumen berharga saya seluruhnya disita ayah. Sudah tiga kali saya meminta, namun tidak diberikannya. Akhirnya ibu pergi ke SMP saya yang lama dan meminta foto kopi izasah di sana. Tidak hanya itu, ketika saya akan mendaftarkan diri untuk mengukuti tes calon pendeta di Sinode GKI Jateng dan membutuhkan surat sidi, saya harus meminta gereja membuat kopian surat sidi kembali.
Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa.
Akhirnya, saya lulus tes sinode dan harus registrasi di Universitas Kriten Duta Wacana, ada salah satu syarat registrasi yaitu akta kelahiran. Saya kembali kesulitan memintanya dari ayah saya. Akhirnya kita konsultasi ke kelurahan dan kami disarankan membuat akta kelahiran baru. Maka saya dan ibu pergi ke desa dimana saya dulu di lahirkan untuk meminta surat pengantar ke kantor kabupaten. Sekarang saya memiliki dua akta kelahiran, satu dibawa ayah dan satu dibawa ibu.
Karena ayah sudah tidak mau lagi membiayai keluarga, maka ibu yang mengambil alih semuanya, baik biaya sekolah tiga anaknya, kebutuhan hidup dan juga kewajiban pajak. Tekanan ekonomi sangat menghimpit kami. Doa dan pengharapan kami kepada Tuhan atas pertolongannya tidak lepas dari hati kami. Sampai pada akhirnya melalui Pdt. Phan Bien Ton, Tuhan memakai seorang donatur yang tidak mau disebutkan namanya menolong saya dalam memenuhi biaya hidup di asrama setiap bulannya, bahkan sampai dua tahun di asrama. Dan sampai kesaksian ini dibuat saya sedang menjajaki semester empat di Fakultas Theologi, Universitas Kristen Duta Wacana.
Tentu jika saya terus bercerita maka kesaksian ini akan begitu panjang dan bahkan bisa menjadi sebuah buku biografi. Namun yang dapat direfleksikan adalah bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi hambaNya, panggilan itu tidak muncul sekali atau pun dua kali, melainkan berulang-ulang sejalan dengan langkah hidup kita. Pangilan itu bagaikan rel kereta api yang selalu terpasang bersebelahan. Ada penyertaan dan kasih Tuhan di dalamnya. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih dan Ibu yang bijaksana bagi kita semua. Tantangan memang akan selalu ada namun itu baik, kesulitan memang akan selalu ada namun itu mendidik, dan masalah akan selalu ada namun itu membuat kita dewasa. Selamat menanggapi panggilanNya! Tuhan Yesus memberkati.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
(Roma 8:28)
Pelayanan Yakkum
Pada remaja yang diasuh oleh Yayasan Kesehatan Kristen untuk Umum (Yakkum) Yogya mengadakan pelayanan terhadap anak-anak Sekolah Minggu di GKI Klaten.
Berikut kesaksian dua orang yang kehilangan anggota tubuhnya dalam musibah yang tragis. Bagaimana mereka menghadapi kenyataan itu? Simak saja videonya.

Empat Kali Operasi dalam Sebulan
Kesaksian Janita Santosa
Setiap memasuki bulan Nopember, saya selalu diingatkan pada kejadian delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000. Saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dari Tuhan berupa pertolongan-Nya, kuasa-Nya dan kasih setia-Nya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Saya tidak mungkin mampu melewati peristiwa tanpa penyertaan Tuhan.
Peristiwa itu dimulai dengan keluhan sakit perut yang saya alami. Pada tanggal 6 Nopember, saya merasakan sakit yang luar biasa pada perut saya. Saya pergi ke rumah sakit di Solo untuk memeriksakan diri. Setelah diperiksa dengan sinar rontgen, baru diketahui bahwa usus saya terjepit dan saling lengket. Tidak ada pilihan lain, saya harus segera menjalani operasi pada hari berikutnya.
Operasi selama sekitar tiga jam itu berlangsung lancar. Beberapa hari kemudian, kondisi saya mulai membaik. Saya sudah diizinkan makan bubur. Namun pada tanggal 12 Nopember, kondisi saya memburuk kembali. Perut saya terasa sakit lagi.
Dokter berkata, “Itu hanya angin saja. Perut ibu sedang kembung. Sebentar juga sembuh” Akan tetapi kondisi perut saya justru semakin membesar dan saya mengalami kesakitan yang luarbiasa di seluruh tubuh saya. Dokter sampai memberikan pengurang rasa sakit. Namanya petidine sejenis morfin. Tetapi itu hanya bersifat sementara saja.
Di tengah rasa sakit itu, puji Tuhan ada banyak dukungan dan dia dari keluarga dan saudara-saudara seiman yang menguatkan saya. Saya juga berdoa memohon kekuatan dari Tuhan, “Tuhan, aku masih ingin hidup. Tuhan, aku masih ingin hidup. … Aku ingin masih hidup untuk melayani Engkau.”
Karena kondisi tidak kunjung membaik, dokter memutuskan untuk mengoperasi saya lagi, pada 20 Nopember. Sebelum operasi, dokter memanggil suami saya. Dia memberitahuakan bahwa operasi kali ini berisiko tinggi karena kondisi tubuh saya jelek dan baru 13 hari yang lalu menjalani operasi. Saya berkata berkata kepada Tuhan, “Tuhan aku tidak akan mati melalui operasi ini. Kalau aku harus menjalani operasi ini, hamba minta pertolongan dari padaMu.”
Suatu hal terjadi di luar dugaan dokter. Ketika perut saya dibuka, ternyata usus halus saya telah bocor dan saling mengikat membentuk gumpalan seperti bola (‘bundet’-bhs. Jawa). Dokter tidak mau mengambil risiko untuk melepaskan ikatan itu karena dapat menyebabkan usus itu jebol. Dokter hanya membersihkan kotoran-kotoran yang ada di perut.
Selesai operasi saya dimasukkan ruang ICU dengan mengenakan mesin pernapasan (ventilator). Suatu pagi, sesudah perawat mengelap badan saya, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang keras: “Buu..umm!!!!”. Ternyata alat ventilator meledak dan langsung mati. Karena tidak disuplai oksigen, napas saya menjadi sesak, berat dan terengah. Saat itu saya hanya bisa berseru kepada Tuhan: “Tuhan tolong!” Perawat bergegas masuk untuk memasang alat bantu sementara pada saya. Setelah itu dia memanggil teknisi untuk memperbaiki alat itu. Keesokan harinya, alat itu meledak lagi tapi tidak sekeras sebelumnya.
Pengalaman yang mendebarkan ini menyadarkan saya bahwa kita sering tidak mensyukuri udara segar yang kita hirup. Kita menganggap itu sebagai hal yang biasa.Bukankah suatu berkat yang luar biasa kalau kita bisa bernapas dengan bebas tanpa ventilator?
Kesehatan saya tidak membaik, bahkan memburuk. Cairan dari dalam perut merembes keluar karena infeksi. Tubuh saya mengalami demam hebat. Saya merasakan sangat kedinginan. Tubuh saya menggigil dan gigi gemeretuk sangat keras. Ternyata sepertiga paru-paru kanan saya sudah terendam air. Melihat kondisi ini, dokter sudah angkat tangan. “Tinggal menunggu waktunya saja,” kata dokter.
Akan tetapi keluarga saya tidak mau menyerah. Kami punya keyakinan bahwa waktu Tuhan berbeda dengan waktu manusia. Bagi manusia mungkin mustahil, tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Meski begitu, manusia juga diwajibakan untuk berupaya. Itu sebabnya, keluarga memutuskan untuk membawa saya ke Singapura, pada 24 Nopember. Malamnya saya langsung menjalani operasi yang ketiga. Dokter mengatakan kemungkinan keberhasilan hanya 50 persen. Dalam operasi ini, dokter berhasil menguraikan usus halus saya yang telah menggumpal dan saling lengket seperti bola. Berkat pertolongan Tuhan, operasi berjalan dengan baik.
Namun empat hari kemudian, perut saya mulai bocor lagi. Tanggal 30 Nopember, saya menjalani pemeriksaan dengan rontgen. Hasil rontgen memperlihatkan ada kebocoran lagi di usus. Saya harus menjalani operasi yang keempat hari itu juga. Saya menjalani operasi ini dengan hati yang pasrah kepada Tuham. Saya percaya, Tuhan akan menyelamatkan saya kembali.
Dari operasi itu diketahui bahwa ada dua kebocoran di usus besar. Oleh karena itu, dokter memutuskan untuk mengistirahatkan usus besar saya dengan teknik colostomi selama 3-6 bulan. Sejak saya sakit, saya tidak diizinkan makan nasi. Saya harus berpuasa nasi. Ini sungguh tidak mudah karena kita sudah terbiasa makan nasi. Waktu sehat saja, meski perut sudah kenyang, tapi kalau belum makan nasi, kita masih mengatakan belum makan. Sesudah dua bulan tidak makan nasi, saya sangat rindu pada nasi. Karena begitu inginnya makan nasi, saya sampai menciumi bau nasi. Aroma nasi terasa enak sekali saat itu. Dalam keadaan seperti itu, saya diingatkan bahwa saya sering lupa mensyukuri makanan yang kita santap setiap hari.
Saya juga bersyukur bahwa selama masa sakit tersebut, saya selalu dalam keadaan sadar. Meskipun dalam kondisi yang sangat kritis, tapi saya masih memiliki kesadaran. Ini adalah anugerah yang besar dari Tuhan. Ketika memasuki masa pemulihan, mula-mula saya belajar untuk berbaring dengan posisi miring. Kemudian duduk, lalu berjalan. Yang cukup mengherankan, meskipun saya cukup lama harus berbaring di tempat tidur, tapi saya tidak mengalami pusing atau gangguan kesehatan yang lain, selain di perut saya.
Tuhan itu sangat baik pada saya. Saya tidak harus menjalani proses colostomi sampai enam bulan. Tiga bulan kemudian, dokter menyatakan bahwa usus kecil saya siap disambung dengan usus besar. Pada tanggal 8 Maret 2001, saya menjalani operasipenyambungan. Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik.
Bila saya renungkan semua peristiwa itu, saya menyadari bahwa secara manusia hal ini tidak mungkin saya lalui. Siapa yang kuat menjalani operasi besar sebanyak empat kali hanya dalam waktu satu bulan? Setiap mengingat itu, saya terharu dan menangis karena betapa baikNya Tuhan itu. Kuasa–Nya begitu dahsyat dan tidak terselami oleh pikiran manusia. Kasih-Nya melebihi a papun yang ada di bumi ini. Oleh bilur – bilur Nya, saya sembuh. Jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan. Terpujilah Tuhan karena perbuatanNya ajaib.
Apa Kerjamu di Sini?
Oleh: Dyah Widyastuti
Sabtu sore, 9 Nopember 2008, saya mempersiapkan diri untuk persiapan bercerita kepada anak-anak Sekolah Minggu, tanggal 16 Nopember. Saya memulainya dengan renungan pribadi dengan membaca 1 Raja-raja 19:9-18. Pada perikop ini diceritaka tentang Allah yang menyatakan diri kepada nabi Elia di gunung Horeb.
Elia bukan nabi biasa. Allah menyertai Elia sepanjang hidupnya. Meski begitu, ketika dia mendengar ancaman pembunuhan dari Izebel, timbul perasaan takut dan gentar dalam diri Elia. Dia menjadi patah semangat dan merasa seolah-olah berjuang sendiri. Elia merasa Tuhan telah meninggalkannya sendirian.
Melihat hal ini, Tuhan mendatangi Elia dan bertanya, “APAKAH KERJAMU DI SINI, hai Elia?” Tuhan bertanya sebanyak 2 kali, seperti diceritakan dalam ayat 9 dan 13.
Elia menjawab, “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku” (1 Raja-raja 19:10).
Dialog antara Elia dan Tuhan ini membuat saya merenung. Saya merasa seolah-olah menjadi Elia yang berhadap-hadapan Tuhan. ” Apakah kerjamu di sini, hai hamba-Ku Dyah?” tanya Tuhan.
Saya ingin memberikan segudang jawaban. Saya ingin melaporkan bahwa saya sudah bekerja sebagai pendidik, sebagai konselor dan sebagai Koordinator selama sekitar 28 tahun. Saya juga sudah bekerja di dunia pendidikan sebagai anggota Komite Sekolah, sampai sekarang. Saya juga masih aktif melayani di gereja. Tapi apakah jawaban ini yang memang dikehendaki Tuhan?
Saya kira bukan itu. Pertanyaan itu bukan ditujukan pada hasil kerja saya selama 28 tahun, melainkan pada APA yang SEDANG saya kerjakan di SINI, hari ini! Saya merenungkan kembali, apakah saya sudah
memberikan yang terbaik dan akan memberikan yang terbaik selama saya hidup kepada Tuhan.
Hari ini, 9 Nopember, tepat enam tahun saya memasuki masa pensiun. Saya bersyukur Tuhan masih mengizinkan hamba-Nya ini untuk melayani-Nya dengan segala kemampuan, keterbatasan dan kesehatannya. Saya percaya tangan Tuhan memintal dan menenun hamba-Nya supaya memiliki iman yang sungguh-sungguh dan tangguh. “Apakah kerjamu di sini?” Pertanyaan ini diajukan Allah kepada Elia ketika dia merasa patah semangat. Apa yang telah saya lakukan dan akan saya lakukan untuk Tuhan, keluargaku, sesama, sekolah dan gereja yang saya cintai? Izinkan saja menjawab,”Saya ingin bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan, Allah semesta alam.”
Dua Tahun Koma
Sudah dua tahun ini Ida Kurniawati mengalami koma. Dia terbaring di atas ranjangnya tanpa reaksi apa-apa. Bulan Nopember 2006, dia mengalami kecelakaan di Semarang. Tidak jelas bagaimana kejadiannya, soalnya kendaraan lain yang terlibar dalam kecelakaan itu melarikan diri.
Sejak kecelakaan itu, Ida tak sadarkan diri hingga sekarang. Matanya terbuka, tetapi tidak memberikan reaksi apa meskipun ada objek di depan matanya. Otaknya mengalami kerusakan permanen.
Bagaimana keluarga menghadapi situasi ini? Tim multi media GKI Klaten melakukan wawancara dengan Bpk. Dadut dan Ibu Yenny. Mereka adalah kakak Ida yang selama ini merawat Ida.
Untuk melihat klip videonya, klik link ini.Dua Tahun Koma

Kesaksian Ibu Sri Hardini

Dokter menyatakan bahwa Ibu Sri Hardini mengalami kegagalan fungsi ginjal. Dia harus menjalani cuci darah selama dua kali dalam seminggu. Padahal, ketika masih sehat, ibu Sri Hardini rajin dalam pelayanan. Dia giat menjadi guru Sekolah Minggu, mengajar katekisasi dan memimpin pujian dalam Persekutuan Kelompok.
Bagaimana sikap Ibu Sri Hardini menghadapi penyakitnya ini? Simak hasil wawancara tim multmedia GKI Klaten dengannnya. Bisa juga dengan klik di sini:Kesaksian Ibu Sri Hardini
TURUN 10 KG
Di tengah-tengah banyaknya kegiatan pelayanan dan pekerjaan pribadi yang luar biasa, teman-teman sering mengatakan, “ Kamu kok sekarang makin kurus?!” Saat itu saya memang merasa bahwa kesehatan saya turun dengan drastis. Badan terasa selalu tidak fit. Karena banyak orang yang menanyakan hal serupa, maka akhirnya saya memutuskan untuk menimbang berat badan saya. Hasilnya membuat saya terkejut. Wowww…berat saya turun drastis 10kg!!! Pantas saja kesehatan saya selalu ada masalah walau tetap bisa beraktivitas. Karena takut terjadi apa-apa, maka saya memeriksakan diri ke dokter. Bahkan bahkan tidak cuma kepada satu dokter tapi sampai banyak dokter, yang menghabiskan dana, waktu, tenaga dan pikiran (dua tahun lho!). Semuanya itu untuk mencari penyebabnya.
Dokter sendiri merasa heran dan mengatakan bahwa saya menderita stress yang tidak disadari. Hal ini, akhirnya berimbas pada pencernaan saya. Saya lalu merenungkan perkataan dokter. Dan saya pikir betul juga! Oke saya mencoba untuk lebih santai dan tidak terlalu tegang. Hasilnya kesehatan lumayan membaik tetapi berat masih tetap saja tidak mau bergerak naik walau sedikit saja.
Nopember 2003 Tuhan memberi berkat yang luar biasa lewat sepupu saya. Berkat ini samasekali tidak pernah saya duga. Bahkan mimpi pun saya tidak berani. Saya diminta untuk mewakili sepupu saya untuk pergi ke Eropa euy selama 17 hari, ke 6 negara. Fuihhh…fantastis sekali! Mama saya sebenarnya merasa keberatan karena kesehatan saya yang sering drop. Akan tetapi kakak-kakak saya menyemangati saya untuk mengambil kesempatan yang langka bin gratis ini. “Ini sekaligus untuk refreshing ‘murni’”, demikian kata mereka. Sebenarnya pada bulan Desember saya ada pekerjaan di panitia natal dan event wedding. Namun saya memutuskan untuk berangkat saja. Dalam hal ini saya berterimakasih pada teman-teman merelakan diri mengambil alih tugas saya di dua event itu.
Awal Desember saya pun berangkat. Pada waktu transit di Singapura, badan saya ‘drop’. Perut terasa mual. Kepala terkena migrain. Badan keluar keringat dingin. Jalan saya sudah limbung. Saat itu saya sudah hampir memutuskan tidak melanjuntkan perjalanan ke Eropa. Namun ketika berada di toilet, saya mendengar suara yang berkata,‘Ayo lanjuntkan…’kan ada Aku. Jangan setengah-setengah!’. Ya sudah, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ternyata Tuhan memberikan teman perjalanan yang baik untuk mendampingi saya.
Namun setelah tiba di Roma, alih-alih menikmati city tour, pikiran saya malah kacau. Saya selalu memikirkan mama di rumah dan pekerjaan. Ada perasaan bersalah kepada teman-teman di panitia dan EO. Hingga pada saat melintasi jalan tol, Tuhan menegur saya. ”Kamu itu sudah Kuberi berkat yang fantastis malah tidak menikmati…kuatirmu kok malah lebih besar. Ayo semangat lihat sekelilingmu!!!” Saya langsung tersadar dan merubah hati-pikiran supaya lebih ‘semeleh…(bersandar pada Tuhan). Mulai saat itu saya menikmati perjalanan yang ada, bahkan tak henti-hentinya bersyukur atas berkat yang luar biasa ini. Termasuk bisa menikmati suasana Natal di sana (dulunya hanya lihat lewat film).
Karena bisa menikmati (semeleh..) saya dapat berkat yang lain, yaitu selama liburan berat badan saya naik 1 kg. Bagi saya itu adalah anugerah yang luar biasa setelah menunggu sekian tahun tidak naik-naik juga. Pulanglah saya dengan badan yang sehat dan sukacita ( cik Hana thanks ya…ternyata dikau diam-diam mengkhawatirkan kesehatan saya bahkan berdoa terus buat saya selama saya pergi..). Sejak belajar arti ‘semeleh” pelan-pelan berat saya naik mendekati ke semula.
Dari pengalaman ini saya belajar tentang arti bersandar pada Allah. Kalau kita percaya pada Tuhan itu tidak boleh setengah-setengah. Suatu proses itu ternyata menjadi indah bila kita beriman pada Tuhan. Thanks God what You have done to me….(Bernike RWB)
SELAMAT BERPROSES
Bukannya ikut-ikutan dengan Pdt. Andar Ismail yang mengarang buku seri selamat tapi saya memang senang dengan kata PROSES. Buat saya yang penting adalah prosesnya. Tapi kalau hasil akhirnya bagus, maka saya menganggapnya sebagai bonus. Tapi kalau hasilnya kurang bagus ya sudah, nggak apa-apa….yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin.
Saya dilahirkan sebagai anak paling kecil di antara 3 bersaudara. Kakakku pertama laki dan yang kedua perempuan. Di sekolah dasar saya anak yang biasa-biasa saja dan cenderung pendiam. Ikut Sekolah Minggu juga ogah-ogahan karena lebih senang menonton tv- si unyil. Kalau saya hitung, saya ikut Sekolah Minggu kurang dari 3tahun. Akan tetapi saya bersyukur karena kakak saya yang perempuan selalu giat mengajak saya datang ke Sekolah Minggu.
Menginjak masa remaja saya sedikit lebih aktif. Saya tidak begitu ingat apakah saya pernah menjadi pengurus komisi remaja atau tidak. Masih pada masa remaja, sekitar kelas 2 SMP, saya diajak menjadi Guru SM. Yang mengajak adalah cik Gien Gien dan Wimmy (thanks ya buat duet mentor saya …). Saya pun mula-mula hanya sekadar ikut-ikutan saja karena masih belum PD alias percaya diri. Namun lama-kelamaan bisa juga memimpin dan mengajar anak-anak SM.
Dan di sinilah proses awal itu mulai. Saya belajar memimpin, belajar untuk berorganisasi, belajar berpikir ke depan, berkreatif, dsb. Justru di Komisi Sekolah Minggu inilah Tuhan memproses saya dengan luar biasa. Betul sekali! Sampai sekarang, saya sendiri masih heran akan perubahan diri itu. Buat saya pelayanan di ladang Tuhan tidak akan pernah sia-sia asal kita all out asal kita mengerjakannnya dengan sungguh-sungguh. Dan itu akan mempengaruhi kehidupan pribadi secara luas.
Proses berikutnya terjadi pada Oktober 1998, saya ditawari untuk mengadakan KKR se-Klaten. Kembali saya tidak percaya diri untuk menyelenggarakan kegiatan besar ini. Bagaimana sih Tuhan?! Siapa sih saya ini sampai nekat mau ngadain KKR?! Tapi setelah saya sharring dengan 4 teman saya, akhirnya kami berani mengadakannya. Awal Januari 1999, KKR itu berhasil digelar di GOR bersama GS Ministry, GMB, Pdt. Samiton Panggelah.
Apa yang terjadi? Karya Tuhan luar biasa, kami terheran-heran karena yang datang itu mencapai 4000 orang! Sekali lagi Tuhan memproses saya untuk melihat bahwa kalau bekerja bersama Tuhan, saya tidak perlu ragu-ragu. Kalau Tuhan sudah membuka pintu siapa sih yang bisa menutupnya?!
Efek yang luar biasa di dalam diri saya ini(dan mungkin teman2 seperjuangan…) membuat saya semakin yakin untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Event semakin banyak kami kerjakan tapi buat saya sekali lagi bahwa Tuhan memproses dengan luar biasa. Dari tidak mungkin, jadi mungkin terjadi. Pada setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Ada sukacita tersendiri bagi saya kalau bisa melewati rintangan, dan yang lebih penting adalah Tuhan menyadarkan saya untuk bersyukur akan hal-hal yang justru simple, bukan hal-hal yang besar.
Sharring saya ini bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai ungkapan syukur saya atas karya Tuhan dalam hidup saya. Sampai saat ini saya terkadang masih heran: ‘Kok bisa ya, saya berubah seperti ini, Tuhan?’ Proses dalam hidup saya akan terus berlanjut dan saya lebih menghargai sebuah proses. Hasilnya? Terserah Tuhan saja deh….kalau bagus ya…bonus itu!!! Mari kita nikmati proses yang ada sambil mengucap syukur….selamat berproses yang positif dan GBU. (Ratnawati Bram/noel-trinity)
















