MENJADI HAMBA BAGI SESAMA: MUNGKINKAH?

0

Posted on : 16-03-2010 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Konfusius

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Minggu 28 Maret 1020
Pra- Paska VI
Yesaya 50:4-9a  Mazmur 118:1-2, 19-29  Filipi 2: 5-11  Lukas 19:28-40

Pada suatu hari, Konfusius, seorang filsuf yang terkenal, menempuh perjalanan jauh menyeberangi padang gurun bersama beberapa muridnya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari akhirnya persediaan air minum habis, mereka semua berjalan dengan lemah dan gontai. Suatu ketika salah seorang dari muridnya, menemukan ceruk kecil di bawah batu-batuan yang berisi genangan air yang dangkal. Dengan segera murid itu mengambil mangkuk nasinya, dan dengan susah payah  hanya mampu menyedok sebanyak setengah mangkuk saja.Ia mengantarkan air dalam mangkuk itu kepada gurunya. Ketika Konfusius menempelkan mangkuk itu ke bibirnya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, “Air ini terlalu sedikit untuk kita semua, dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini.” (Dari Buku Champion).

Keputusan yang diambil oleh Konfusius tadi sangat mengesankan, yaitu bahwa lebih baik mengabaikan air minum yang berharga demi kepeduliannya kepada orang banyak. Di sini kita melihat  keterbatasan manusiawi dari Konfusius, bahwa ia  tidak mampu menyediakan air minum untuk murid-muridnya. Saat itu terpaksa Konfusius tidak bisa menjadi hamba bagi sesama, walaupun ia sudah berhasil menampilkan satu contoh kepemimpinan yang sejati. Untuk bisa menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus dengan leluasa, tanpa keterbatasan dapat melimpahkan berkat-berkatNya. Dalam pesta kawin di Kana Ia pernah memberikan minuman dari anggur nomer satu, ketika waktu itu persediaan anggur sudah hampir habis. Kristus  juga mengadakan roti dan ikan untuk 5000 orang lebih, yang memerlukan makan malam sesudah mendengarkan khotbahNya. Tapi sebaliknya dari segala peristiwa yang mulia itu, supaya dapat menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus juga telah bersedia menempuh jalan hidup yang hina dan sengsara bahkan menuju kematian yang terkutuk! Kalau begitu Kristus memiliki  kelenturan hidup yang menyebabkan Dia dapat melayani kita dalam segala situasi.

Ada seorang ayah, ketika anaknya sedang menghadapi masalah yang berat, telah memberi nasehat dan dorongan demikian, “Bertahanlah dan atasi masalahmu itu sampai tuntas. Dengan demikian nanti kau akan berhasil pula menyelesaikan masalah-masalah lain, yang lebih ringan!” Bertindak sebagai wakil kita, Yesus Kristus dengan tekad yang bulat telah memasuki suatu lorong kehidupan yang sangat kelam untuk menghadapi satu tugas yang maha berat! Untuk  itu,  terlebih dahulu Ia justeru melepaskan kesetaraanNya dengan Allah. Sebab Dia tahu bahwa tidak mungkin bagiNya untuk berpegang terus pada identitas ilahi yang mulia, jika ingin menjadi wakil manusia seutuhnya. Ketika rencana mengosongkan diriNya telah menjadi fakta, maka Anak Allah benar-benar telah inkarnasi menjadi manusia seperti kita, bahkan menjadi seorang hamba. Dengan memilih identitas seorang hamba itulah  maka Yesus Kristus  justru semakin bisa meraih semua pihak, termasuk lapisan masyarakat yang paling bawah, tapi tetap dekat  pula dengan Tuan yang tak lain adalah BapaNya sendiri!

Yesus yang merendahkan diri, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib! Ketika Yesus merendahkan diri, sikap hidupNya itu seperti seekor unta yang tinggi besar tetapi bersedia menekukkan kedua lututnya, pada saat ada orang akan mengendarainya. Jika kita melihat proses tersebut, tahulah kita bahwa untuk itu sang unta harus bersedia

untuk bersusah payah, sebab sebenarnya cukup sulit baginya untuk berlutut kemudian bangkit kembali, dengan menanggung beban. Unta yang sudah “merendahkan diri” itu tidak mengeluh, sebab biasanya  tidak menunjukkan sikap penolakan atau memberontak. John Bunyan (1628-1688) berkata, “Orang yang berada di bawah tidak perlu merasa takut terjatuh. Orang yang rendah hati tidak takabur atau arogan. Jika orang merendahkan diri, maka ia akan memperoleh Tuhan sebagai penuntun hidupnya!”

Ketika Yesus taat, bukan berarti mengalir begitu saja dengan mudah, akan tetapi disertai pergumulan batiniah yang sangat hebat, baik di Taman Getsemani, selama terjadi proses pengadilan, saat memikul salib di sepanjang jalan yang disebut via dolorosa, begitu pula  ketika berjam-jam tubuhNya tergantung pada tiang salib dengan tangan dan kaki yang terpaku sambil menanggung rasa lapar, haus, terik matahari dan pedihnya luka-luka di sekujur tubuh. Tak ada rasa sesal bahwa telah terlanjur menyanggupi satu tugas berat, apa lagi  terpikir untuk membalas perlakuan tidak adil dari banyak pihak.Bukankah Dia justru  mendoakan mereka yang telah menyalibkan Dia?  Bagi kita sekarang yang  berada dalam kondisi baik-baik saja, sebenarnya adalah mustahil untuk dapat membayangkan  betapa beratnya perasaan Yesus saat itu. Dia yang pada dasarnya tidak menyukai segala bentuk kekerasan, tetapi harus menjalani hukuman sekasar itu. Dia yang  sebenarnya setiap saat memiliki peluang untuk melepaskan diri dari hukuman, kalau mau, amatlah sulit bagiNya untuk bisa taat sampai akhir. Hanya oleh karena komitmen yang matang, tekadnya yang bulat, pemahaman yang kuat akan panggilanNya, serta kasih yang mendalam  semata, yang telah membuat Yesus Kristus sampai pada ketaatan yang sangat menakjubkan itu!

Murid atau hamba Tuhan dalam Yesaya 50 terwujud dalam sikap Yesus Kristus. Dengan lidah seorang murid atau hamba Tuhan (ayat 4), Yesus Kristus selalu siap meluncurkan kata-kata indah yang dapat memberi semangat baru kepada yang sedang letih lesu. Meskipun kini Yesus sudah naik ke sorga, tetapi firman Tuhan dalam Alkitab merupakan karunia terbesar yang diwariskan kepada kita. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun ” Ibrani 4:12. Ada kisah menarik tentang kuasa Firman Allah, sebagai berikut: Ketika Jacob de Shazer pergi ke Jepang sebagai anak buah Jimmy Doolittle ( Ialah pilot Amerika yang melakukan pemboman Tokyo dan kota-kota lain di Jepang, April 1942). Jakob de Shazer dipenjarakan, waktu itu dia masih atheis, tapi di dalam penjara itu suatu hari timbul keinginan yang besar untuk membaca Alkitab, maka berulang kali iapun  meminta kepada petugas penjara agar dicarikan sebuah Alkitab. Akhirnya, oleh petugas penjara dipinjami sebuah Alkitab hanya untuk tiga minggu lamanya. Melalui pembacaan Firman Tuhan setiap hari, dan oleh pekerjaan Roh Kudus ia mengalami pertobatan. Sesudah dibebaskan, maka suatu hari pada tahun 1948, Jakob de Shazer mengajak isteri dan bayi laki-lakinya kembali ke Jepang sebagai seorang misionaris! (Dari The Teacher}. Siapa sangka orang seperti itu diam-diam juga dipersiapkan oleh Tuhan menjadi hamba bagi sesamanya.  ”Alkitab adalah mata air semua kebenaran yang tidak pernah habis. Keberadaan Alkitab merupakan berkat terbesar yang pernah dialami manusia.” Immanuel Kant.

Mendengar seperti seorang murid,  dengan pendengaran yang tajam sebab Allah telah membuka  telingaNya. Hal itu membuat kita untuk berani mengungkap isi hati kita, tapi di dalam perkembangannya juga membuat kita untuk semakin bisa berserah kepadaNya! Saya baru saja membaca dari Majalah Reflecta dengan judul Papa Sedang Mengemudi. Pengalaman Dr Wan sekeluarga yang tinggal di Eropa, suatu hari mengadakan perjalanan tiga hari lamanya dengan mobil ke Jerman. Anak perempuannya yang berusia tiga tahun,  banyak bertanya kepada ayahnya tentang macam-macam hal pada hari yang pertama dan kedua. Agaknya dia merasa takut, sebab itulah perjalanan pertamanya yang menempuh jarak sangat jauh. Tapi pada hari ketiga gadis cilik itu tidak lagi bertanya-tanya, bahkan cenderung tutup mulut. Ketika ditanya oleh ayahnya mengapa sekarang dia diam saja, jawabnya sebab Papa sedang mengemudi. Jawaban dari anaknya ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanan hidupnya bersama Tuhan. Dalam pergaulan dengan Tuhan, kita tentu saja boleh mempergumulkan banyak hal mengenai macam-macam kemungkinan yang bisa menimpa diri kita. Namun sebagai anak yang memiliki iman dewasa,  kita akan mempercayai Tuhan yang  pendengaranNya tajam, sehingga dapat memahami segala kebutuhan, dan sekaligus akan menolong kita!

Memberi punggung supaya dipukul, memberi pipi supaya dicabuti  janggutnya (ayat 6). Semua itu bicara tentang kesediaan Tuhan menanggung derita dan penghinaan hebat di seluruh hidupNya demi keselamatan kita. Semua ini merupakan bagian yang paling pahit bagi setiap orang, yang bersedia menjadi pelayan bagi sesamanya. Mungkinkah itu? Mungkinkah hal serendah itu kita lakukan? Hanya Yesus Kristus yang dapat melakukan dengan kesadaran penuh, dan dengan hati yang tetap mengasihi! Kita patut berbangga  sebab memiliki Yesus Kristus yang hatiNya mulia. Bapa Sorgawi juga berbangga telah mengutus AnakNya yang berhati mulia. Maka kita membaca di Lukas 19 bahwa sebagai utusan yang akan dikorbankan, Ia patut dan harus dimuliakan sebagai seorang raja! Lihatlah bahwa tanpa halangan bagi Yesus Kristus untuk memperoleh seekor keledai muda, sebab sesungguhNya segala sesuatu adalah milikNya. Lihatlah betapa secara spontan mereka telah membantu Yesus untuk mengendarai keledai itu, dan mereka semua menghamparkan pakaian di jalan, kemudian berteriak: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” Semua yang diucapkan tentang Dia sungguh sangat indah penuh kebenaran, yaitu: Yesus Kristus yang diberkati, adalah Raja karena Tuhan yang mengangkatNya, bukan karena dunia, Raja yang membawa damai sejahtera dari sorga, keberadaanNya hanya bagi kemuliaan Bapa yang mahatinggi! Semua itu terjadi, karena  kedatanganNya ke dalam dunia ini hanya untuk menjadi hamba bagi sesama!

Dalam Kristus dan karena Kristus, kita bersyukur terus! Bahwa Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selamanya. Dari zaman purbakala hingga sekarang, dan masih akan berlanjut terus sampai generasi mendatang. Bersyukur untuk pintu gerbang kebenaran, yang terbuka lebar. Jiwa kita tidak perlu mengembara dalam pencarian yang sia-sia, tapi dengan kelegaan telah dirangkul oleh Tangan KasihNya yang menyelamatkan (Mazmur 118), Tangan yang pernah melekat di kayu salib itu, adalah tangan yang teruji dan terpuji.

The cross is a way of life; the way of love meeting all hate with love,

all evil with good all negatives with positives. Rufus Moseley.

ANAK SULUNG’ PUN SEHARUSNYA DAPAT IKUT BERGEMBIRA

0

Posted on : 27-02-2010 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Yosua 5:9-12  Mazmur 32  II Korintus 5:16-21  Lukas 15:1-3,11b-32

Prodigal Son

Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana  di penjara-penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak satu pun dari mereka yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka. Jawaban klasik yang mereka berikan adalah bahwa mereka  berada pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan bertemu dengan orang yang salah. Akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa  sekumpulan terbesar  orang yang tidak bersalah akan Anda temukan di dalam penjara. Memang sangat ironis, mengingat tempat yang menampung orang bersalah terbanyak di dunia ini adalah penjara.

Seorang tua berjalan dalam kegelapan malam dan berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Ia terlihat serius mencari-cari sesuatu yang hilang, namun belum juga berhasil  menemukan apa yang dicarinya. Kemudian, datang seorang pemuda yang menanyakan, “Apa yang sedang Bapak cari?”  Jawab si bapak, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.”  Anak muda itu langsung menawarkan bantuannya untuk mencari kunci tersebut. Setelah satu jam mencari, akhirnya si anak muda pun menyerah. Dengan putus asa ia berkata kepada bapak tua, “Kita telah mencari di semua tempat sekitar sini dan belum juga menemukannya. Apakah Bapak yakin kehilangan kunci itu di sekitar tempat ini?”  Orang tua itu menjawab dengan malu, “Oh tidak, kunci itu hilang di rumah, tapi rumah saya tidak memiliki penerangan yang cukup sedangkan tempat ini kelihatannya lebih terang daripada rumah saya.”  ( Dari Buku Champion }

Dalam hidup ini kita tentu mempunyai kesalahan, bahkan mungkin kesalahan atau dosa kita itu sangat banyak dan besar. Hanya saja kadang kita tidak menyadari atau sengaja tidak mau memikirkan, apalagi mengakui bahwa bersalah. Sikap itu tentu menimbulkan masalah dalam pergaulan kita dengan sesama dan Tuhan tentunya. Para narapidana di Amerika Serikat itu misalnya. Kesalahan kita juga kadang sudah berubah menjadi suatu kebodohan, sebab sangat keterlaluan. Terlebih lagi jika ditambah  dengan tindak-lanjut yang tidak masuk akal dan jauh dari sikap bijaksana. Seperti yang dilakukan oleh pak tua yang kehilangan kunci tadi.

Mari bercermin dari perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 15:2 kita membaca: Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:”Ia (Yesus) menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa mereka itu bukanlah orang-orang  suci, malah kejahatannya bisa lebih besar dari pemungut cukai dan anggota masyarakat  yang dipandang berdosa. Menanggapi  orang-orang yang merasa sok suci, maka Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini yang terkenal sampai di seluruh dunia. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaanNya, yaitu: ayah, si bungsu dan si sulung. Lebih dulu akan kita kritik sikap mereka itu, supaya jangan sampai menular dalam hidup kita sekarang.

Si bungsu yang cari perkara. Kita mulai dengan si bungsu yang diam-diam selalu memikirkan warisan orang tuanya, padahal sang ayah masih hidup. Mungkin saja dia mengharapkan ayahnya lekas mampus, tapi karena tak kunjung mati juga maka ia memberanikan diri meminta bagiannya. Terpaksa sang ayah melakukan pembagian warisan di antara mereka berdua. Dalam waktu singkat si bungsu mencairkan warisannya untuk menjadi bekal petualangannya. Bukan untuk berumah tangga atau membuka suatu usaha, tapi hanya untuk pergi ke tempat yang jauh mengejar kesenangan semata.  Harta miliknya diboroskan, untuk hal-hal yang  tidak perlu, bahkan untuk berfoya-foya dan sangat mungkin berhubungan dengan kehidupan yang kotor. Sesudah terlepas dari pengawasan orang tua, seharusnya dia bisa berhemat demi masa depannya. Pengeluaran tanpa pemasukan pasti berakhir dengan kebangkrutan, apalagi jika terjadi musibah, dalam hal ini bencana kelaparan. Alkitab menyatakan bahwa si bungsu pun mulai melarat! Kita bisa melihat  bahwa dosa tidak harus ditandai dengan perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri atau berbuat zinah. Di tempat yang jauh dan asing itu si bungsu mungkin saja dikenal sebagai seorang  “dermawan” dan baik hati, tapi prilakunya itu tidak bertanggung jawab, bahkan menjurus kepada kebodohan dan dosa! Uang dalam kantongnya itu adalah satu-satunya peninggalan atau warisan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya. Di sini seharusnya ada tanggungjawab moral, ada ikatan batiniah yang mendalam antara anak dan ayah. Tapi si bungsu tidak mengasihi ayahnya, dan tidak dapat menghargai pemberiannya. Dengan demikian dia juga telah berdosa kepada Tuhan. Maka dalam penyesalannya ia pun berkata: “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Percayalah bahwa Tuhan selalu membuka tangan dan hatiNya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” Mazmur 32:1    Kita dapat memetik beberapa  pelajaran dari pengalaman si bungsu. Pertama, Dalam hidup ini kita memang boleh  mengadakan “langkah besar” demi idealisme, impian serta cita-cita Tapi kita tidak boleh gegabah! Jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk dan melukai hati orang-orang dekat. It’s better to lose your pride, than to lose the one you love. Lebih baik jika kehilangan sesuatu yang kita banggakan, dari pada kehilangan seseorang yang kita cintai. Kedua, Tuhan memang  memelihara dan memimpin perjalanan hidup kita, tapi kita harus mau berjuang dan bertahan dalam segala situasi yang terburuk sekali pun. Ketiga, Jika sampai mengalami kegagalan dan penderitaan, pandanglah Tuhan dan bangkitlah! Sebab kita adalah anak yang sangat dikasihi oleh Bapa sorgawi, dan setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita pasti ada hikmatnya. When something happen to you, good or bad, consider what it means.

Seorang ayah yang merugi, karena kesalahannya sendiri! Jelas bahwa dia kurang menyiapkan anak-anaknya, untuk menjadi orang dewasa yang utuh. Dalam hal ini dia tidak dapat menggambarkan Bapa- sorgawi.Tugas orang tua di mana pun adalah mendidik anaknya menjadi dewasa, yang utuh! Kedua anaknya hanya dewasa secara fisik, kiprah dan sikap mereka mengecewakan! Pendidikan rohaniah untuk anak harus diutama, tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa ditunda atau diambil oper orang lain. Sebenarnya sang ayah tadi sangat mengasihi kedua anaknya, tapi dengan mengabaikan yang satu ini, pendidikan rohaniah, berarti dia sudah mencoret kasihnya itu. Mewariskan harta kepada anak-anaknya bukanlah merupakan prestasi yang membanggakan, sebab masih ada warisan lain yang lebih bernilai tinggi!

Anak sulung yang masgul. Bisa juga: Anak sulung yang kebakaran jenggot! Masgul atau merasa sedih membayangkan adiknya yang bisa hidup bebas dan senang di luar negeri, sedangkan dia terbelenggu oleh pekerjaan rutin yang membosankan. Juga sedih ketika melihat adiknya masih juga disambut dengan hangat, meskipun pulang membawa aib bagi keluarga. Kebakaran jenggot atau kebingungan ketika menyadari bahwa ayahnya dan orang-orang lain dalam rumahnya melimpahi begitu banyak perhatian, kekaguman serta cinta kasih kepada seorang pecundang yang lebih pantas dicaci maki dan diusir! Anak sulung itu seharusnya bisa ikut bergembira ria, sekiranya dia memiliki hati seperti ayahnya. Hati yang selalu merindukan kepulangan si bungsu. Hati yang tersentak girang tatkala mendapati kenyataan bahwa yang sudah dianggap mati,  tiba-tiba hidup kembali. Hati yang penuh persediaan maaf dan ampun, hati yang berbelas kasih, tanpa niat sedikit pun untuk menggugat, mengusir apalagi menghukum. Tapi hati yang seperti itu tidak dimiliki sang kakak, sebab dia cuma merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Anak sulung merasa tidak nyaman, karena dikerumuni rasa iri, gemas dan geram yang menari-nari seperti pemain cadangan yang minta segera di luncurkan ke tengah lapangan bola! Dalam hidup ini saudara kandung bisa lebih jahat dari seorang musuh, dan seorang teman bisa lebih baik dari saudara kandung. Di dalam gereja Tuhan kita telah sepakat untuk menerima setiap orang sebagai saudara kita. Kesepakatan kita jangan cuma di bibir saja, tapi dalam ikatan kasih Kristus mari kita wujud nyatakan terus dari waktu ke waktu. Kalau itu yang terjadi maka kita telah memperoleh keuntungan besar, mempunyai banyak saudara dan saudari seiman dalam keluarga besar Yesus Kristus!

Persaudaraan umat Allah sejak zaman Yosua. Sehubungan dengan ‘cela Mesir’ yaitu dosa para prajurit tatkala keluar dari Mesir, maka lalu diadakan penyunatan massal. Ciri fisik yang menandai sunat itu bersifat permanen, menunjukkan betapa mantapnya perjanjian dengan Tuhan dan persaudaraan umat Tuhan. Dalam Kristus sunat sudah disempurnakan menjadi Baptis Kudus, baik untuk pria maupun wanita. Kolose 2:11,12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.”  Setelah sunat massal, umat Tuhan juga merayakan  Paskah, ditandai dengan makan roti tak beragi. Semua itu mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang suka mengampuni dosa, dan mempersekutukan kita dalam kasih persaudaraan, yang pada saat mengalami kesakitan dan kepahitan justeru semakin dapat bergandeng tangan.

Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru! Dalam seluruh Alkitab sebenarnya sudah tersurat dan tersirat, kerinduan Tuhan untuk membarui hidup kita. Itu sebabnya maka Kristus telah berjuang dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh, ketika Dia menjadi pendamai di antara kita dengan Allah dan sesama. Dengan demikian di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan baru, yang tidak lagi berorientasi kepada yang lapuk. Perumpamaan anak yang hilang juga menyimpan pesan agar setiap orang bersedia menjadi bagian dari ciptaan baru. Bukan hanya ayah dan si bungsu saja yang dapat bergembira, anak sulung pun seharusnya dapat ikut bergembira, sebab ciptaan baru harus ditandai dengan hidup sukacita, di tengah keluarga, di dalam jemaat Tuhan, di tempat kerja dan di mana pun!

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 14 Maret 2010
Pra –Paska IV

MEMBANGUN IMAN MENJALANKAN PELAYANAN

0

Posted on : 02-02-2010 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Ulangan 26:1-11  Mazmur 91:1-2,9-16  Roma 10:8b-13  Lukas 4:1-13

PaganiniPiccolo Paganini adalah salah seorang pemain biola terbesar yang pernah hidup di muka bumi ini. Pada suati hari, Paganini mengadakan sebuah konser di gedung opera dengan tiket terjual habis. Ketika acara yang dinanti-nantikan tiba, Paganini disambut dengan tepuk tangan yang meriah saat akan memulai pertunjukannya. Namun, betapa kagetnya Paganini ketika akan mulai memainkan biola, ia mendapati bahwa biola yang akan dimainkannya bukanlah biola yang biasa ia pakai. Paganini memang sempat panik, namun ia berusaha untuk tetap profesional melanjutkan permainannya sampai selesai. Pertunjukan hari itu adalah pertunjukan terhebat yang disajikan oleh Paganini. Seorang wartawan bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi? Mengapa pertunjukan hari ini begitu spesial?” Paganini pun menceritakan, “Sebelum pertunjukan hari ini, saya selalu merasa bahwa kemahiran saya bermain biola sangatlah bergantung pada biola yang saya pakai. Saya selalu berpikir bahwa dari biola itulah keluar musik yang indah; namun hari ini saya belajar, bahwa sebenarnya musik yang indah itu keluar dari diri saya.” (Buku Champion).

Paganini mendapat pelajaran penting hari itu, bahwa musik yang indah tidak bergantung dari biola atau alat yang ia miliki, tapi musik yang indah keluar dari dirinya! Hal ini saya hubungkan dengan tema khotbah kita hari ini, bahwa pelayanan kita yang indah tidak ditentukan oleh fasilitas, atau peralatan, instrumen apapun, bahkan yang mahal-mahal itu, tetapi keluar dari iman kita! Belakangan ada kecenderungan membangun gereja yang sangat indah, memiliki peralatan serta mobil yang bagus-bagus, tetapi pelayanan yang dijalankan masih perlu dipertanyakan. Tentu saja kita setuju bahwa zaman sudah banyak berubah, kita tidak bisa bergereja seperti pada zaman rasul Paulus, apalagi zaman Tuhan Yesus! Itu benar sekali, tapi apakah kita masih mengutamakan mutu dari iman saat mengharapkan pelayanan yang berhasil?

Pemahaman terbesar dalam hidup ini. Dalam kebersamaan maupun secara pribadi, kita perlu memiliki satu pemahaman yang terbesar dalam hidup ini. Umat Tuhan waktu itu perlu memahami, siapakah mereka itu? Apakah yang pernah mereka alami? Siapakah yang menjadi penolong mereka? Apakah hasil dari pertolongan kepada mereka itu? Dari Ulangan 26 yang kita baca tadi semua pertanyaan ini dapat terjawab, itupun baru secara umum sebagai suatu bangsa, belum sebagai keluarga dan pribadi seorang demi seorang. Timbul pertanyaan yang mengelitik, mengapa Tuhan harus memberitahu semuanya itu kepada mereka, seolah Tuhan itu “gila hormat” atau menuntut agar mereka menghormati Tuhan. Jika sampai timbul kesan seperti itu, bahwa Tuhan terkesan “gila hormat” gara-gara telah memberi penjelasan mengenai campur tanganNya, jasa-jasaNya pada masa lampau, lalu kewajiban umatNya sesudah menerima segala kebaikan Tuhan, maka di sini ada beberapa hal yang dapat kita pelajari bersama, yaitu:

Pertama, Tuhan menghendaki agar umatNya memiliki satu pemahaman terbesar yang tergores di hati mereka, bahwa mereka sudah diselamatkan oleh Tuhan! Pemahaman ini haruslah mendarah daging sebab bukan sebuah teori atau indoktrinasi semata, tetapi sebuah kenyataan yang senyata-nyatanya! Sudah “ditanda-tangani” oleh Tuhan sendiri dengan mujizat-mujizatNya yang unik dan tidak bisa ditiru oleh siapapun! Maka semua karya Tuhan di dalam sejarah bangsa itu patut dipahami dan bahkan diyakini dan diimani, yang pada gilirannya akan membuahkan hidup ibadah dan pelayanan. Hidup ibadah, tadi sudah kita baca dalam Ulangan 26:1-11, sedangkan pelayanan secara spesifik dapat kita baca dalam ayat 12B, demikian:” Maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda, supaya mereka dapat makan di dalam tempatmu dan menjadi kenyang.”

Kedua, Jika Firman Tuhan tadi, baik bunyi maupun isinya dapat merugikan pihak Tuhan sebab menimbulkan kesan bahwa Tuhan itu Allah yang “gila hormat” di sini kita justeru sedang melihat korban perasaan Bapa demi kepentingan anak-anakNya. Bagi Tuhan yang terpenting adalah kejelasan yang bisa dimengerti oleh semua orang, dan semua tingkatan, sebab Tuhan sedang bertindak sebagai seorang guru yang mengajar dan mendidik agar seluruh umatNya memiliki pengertian yang benar dan tahu berterima kasih kepada sang pemelihara yang sesungguhnya dalam hidup ini. Jika untuk itu Ia lalu akan dipandang sebagai Allah yang mencari nama Ia tidak peduli, sebab di dalam kenyataan Tuhan mempunyai Nama di atas segala nama dan kemuliaan serta kehormatanNya tidak bergantung dari siapapun juga! Dari dulu dan selama-lamanya Tuhan selalu berdaulat penuh!

Ketiga, Apakah relevansi Firman Tuhan tadi untuk kita semua saat ini? Kita juga sudah menerima berkat yang  berbobot dalam Kristus. Jika kita mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan (Roma 10:9). Itulah anugerah Allah semata. Maka pelayanan yang kita lakukan sekarang merupakan respon, ungkapan syukur sambil bersaksi!

Sebuah awal yang menegangkan. Ketika dicobai oleh iblis, apakah Yesus juga bisa  mengalami kegagalan? Pertanyaan seperti ini seolah sedang meragukan “iman” Yesus sebagai seorang manusia. Tapi bisa juga justeru sedang menghargai Yesus, yang berhasil lulus dari  pencobaan yang maha berat, penuh kesungguhan, bukan hanya basa-basi atau sandiwara semata! Sebagai orang yang sudah melihat keseluruhan hidup Yesus Kristus,  tidak seharusnya kita berpikir mengenai kegagalan Yesus dalam pencobaan itu. Sebab Yesus sempurna adanya, dan pencobaan itu merupakan pembuktian yang akurat! Bagaimanapun  kita melihat pentingnya pencobaai iblis itu sebagai: 1.Pintu Masuk bagi Yesus ke dalam tugas besarNya sebagai Juru Selamat dunia. 2. Pengesahan Bapa  yang diberikan kepada Yesus sebagai wakil manusia. 3. Keberanian dan kesungguhan Yesus menghadapi musuh besarNya. 4. Dan nanti kemenanganNya “yang sementara” sebab iblis tak kunjung menyerah.

Pencobaan pertama: “Jika Engkau Anak Allah suruhlah batu itu menjadi roti.”

Yang membuat pencobaan ini menjadi berat adalah:

  1. Yesus memang adalah Anak Allah; kelak iblis juga sering mengungkap kebenaran itu! Tapi sekarang dengan kelicikannya iblis minta pembuktian menurut caranya.
  2. Batu diubah menjadi roti adalah masalah yang sebetulnya kecil  bagi Yesus, maka permintaan iblis potensial memancing keinginan untuk dipenuhi.
  3. Walau oleh dukungan kuasa ilahi dalam diriNya, Yesus mampu bertahan tidak makan dan minum selama 40 hari, namun sebagai seorang manusia  setelah  puasa tentulah Ia sangat lapar dan ingin lekas makan.

Tapi jika menuruti perkataan iblis, berarti: 1.Yesus hanya memikirkan diriNya sendiri, padahal Ia menyadari sebagai wakil manusia di dunia ini.

2. Mengenai masalah makanan, sebagai wakil manusia jika berada dalam situasi terjepit seperti itu, seharusnya Ia bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana umat Allah di padang gurun, bersandar kepada kemurahan Allah yang mengaruniai manna.

Jadi  iblis menyerang, dan mau menggoyahkan kepercayaan Yesus kepada BapaNya. Apakah Yesus tetap teguh pada komitmenNya, datang ke dunia bukan untuk dilayani tapi  melayani? Menangkis serangan itu, Ia mengutip Firman Tuhan dari Ulangan 8:3. Bahwa manusia hidup bukan dari roti saja!( Iblis pasti sudah tahu kelanjutannya, yaitu: “Tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan”).

Pencobaan kedua: Yesus akan diberi segala kuasa dan kemuliaan dunia, jika Ia mau menyembah iblis.

Beratnya pencobaan ini,Yesus mengetahui harapan orang-orang Yahudi bahwa Mesias akan mendirikan kerajaan dunia yang termegah di seluruh dunia. Tapi Tuhan Yesus juga menyadari bahwa Ia datang untuk menjadi Hamba yang setia dan menderita. Pencobaan kedua dari iblis ini menyerang ketaatan Yesus. Dalam menghadapi segala glamor serta godaan duniawi yang menggiurkan ini, apakah Ia tetap setia kepada panggilan Bapa-Nya? Yesus tidak sudi menyembah iblis, karena orang hanya boleh menyembah dan berbakti kepada Allah saja (Ulangan 6:13). Sesungguhnya serangan iblis yang dipatahkan oleh Yesus ini masih selalu didengungkan dalam hati setiap pengikutNya, sehingga jika tidak bersandar kepadaNya tahu-tahu kita bisa menjadi koruptor atau pencuri! Juga hidup ibadah kita tercemar oleh sikap jatuh cinta kepada kekayaan dunia, yang ditandai dengan penyimpangan iman dan hidup bertentangan dengan Firman Tuhan.

Pencobaan ketiga: Menyerang kesalehan, supaya berubah menjadi kesombongan dan senang pamer! Iblis membawa Yesus ke Yerusalem,dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepadaNya:”Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu dari sini ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau, Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk melindungi Engkau, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kakiMu jangan terantuk kepada batu.”

Menurut kepercayaan masyarakat Yahudi Mesias akan menampakkan kemuliaanNya dengan cara seperti itu di halaman Bait Allah. Di samping itu serangan iblis menjadi sangat mengerikan, sebab iblis mengutip Firman Tuhan sehingga Yesus seolah sedang mendengar perkataan Bapa, hanya saja tidak disertai pemahaman yang benar!  Memang Allah Bapa akan menunjukkan perlindungan yang sempurna seperti yang dikatakan iblis, tapi kita harus lebih dulu menunjukkan sikap berserah dan beriman  yang diperkenan olehNya. Andai Yesus meloncat dari loteng Bait Allah hanya karena bujukan iblis, maka pasti akan sangat mengecewakan hati BapaNya .Tapi kembali Dia menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan iblis, “Jangan engkau mencobai Tuhan Allahmu .” Dengan keteguhan hati, secara konsisten Yesus menghadapi segala serangan si jahat. Semua itu dilakukan  dengan satu kerinduan yang tak pernah padam, yaitu memberikan pelayanan kasih yang hebat dan kuat untuk mengubah hidup manusia!

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Minggu, 21 Pebruari 2010

Pra-Paska I

KETAATAN MEMBAWA SUKACITA

0

Posted on : 09-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mikha 5:2-5a  Lukas 1:47-55  Ibrani 10:5-10   Lukas 1:39-45

Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu  dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:

Tinggal sertaku, hari t’lah senja,

G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!

Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )

Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.

Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu,  Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:

Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.

Kedua : Karena  keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita  seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !

Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.

Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”  Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah  menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja  berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!”  Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah  sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya.  Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!

Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri  tanpa menunggu perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan.  Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan  kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20  ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena  kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang  mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu.  Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!

Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang  dikatakan  sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang  perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan  dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah  Raja eschatologis, dan Raja damai.

Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!

Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

MENGAPA BERTENGKAR?

0

Posted on : 14-08-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 20 September 2009

Minggu Biasa XX

Yeremia 11:18-20 Mazmur 54 Yakobus 3:13-4:3,7-8a Markus 9:30-37

PertengkaranKonon ada kakak beradik yang bertengkar hebat gara-gara pembagian harta peninggalan orang tua mereka. Pertengkaran meningkat menjadi permusuhan, bahkan meluas kepada keluarga mereka masing-masing. Padahal mereka itu merupakan warga gereja yang terpandang. Karena sangat sulit didamaikan, akhirnya Pak Pendeta menempuh satu jurus penyelesaian yang sangat unik, sebagai berikut: Kedua belah pihak keluarga yang bertengkar diundang untuk berkumpul di Rumah Tuhan, tentu bukan pada hari minggu. Sengaja mereka dipisahkan menjadi dua kubu yang diberi kesempatan yang luas untuk menuliskan segala kedongkolan, uneg-uneg, kemarahan bahkan kebencian yang satu terhadap yang lain. Setelah puas mengungkap segala yang negatip tentang lawannya, maka Pak Pendeta mulai menyampaikan kotbah singkatnya, membakar kertas-kertas itu sambil berkata:” Dalam Nama Yesus Kristus sekarang saya bakar habis segala sakit hati kalian, maka mulai hari ini tidak ada pertengkaran dan permusuhan, sebab kalian sudah dipersatukan kembali oleh Tuhan Sang Raja Damai!” Menyaksikan semua itu dan mendengar kata-kata yang berwibawa dari sang Hamba Tuhan maka merekapun saling berpandangan, saling mendekat dan akhirnya berpelukan sambil menangis histeris! Sejak hari itu mereka memulai lembar hidup baru sebagai keluarga besar yang hidup saling mengasihi. Dari menjadi batu sandungan, kini mereka berubah dapat memuliakan Nama Tuhan di tengah masyarakat! ( Kisah nyata djadoel yang dituturkan dosen saya }.

Kristus yang bisa menghindar. Dalam Markus 9:30 dikatakan bahwa ketika melewati Galilea bersama para muridNya, Tuhan Yesus tidak mau diketahui orang , karena Ia mau mengajar murid-muridNya tentang kematian dan kebangkitanNya. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sangat mementingkan tujuan utamaNya datang ke dalam dunia ini, serta rencana mempersiapkan para saksi mata, jauh-jauh hari sebelum Ia meninggalkan dunia ini. Tuhan Yesus tidak mengutamakan popularitas. Pada dasarnya Tuhan Yesus tidak suka menonjolkan diri; Ia dapat “menyembunyikan diri” selama tigapuluh tahun, sebelum memulai tugas besarNya. Segala sesuatu dilakukanNya sesuai rencana bapaNya, sehingga tatkala ibuNya berkata tentang pesta kawin di Kana yang kehabisan anggur, maka jawab Tuhan Yesus:”Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Yesus juga pernah menyingkir seorang diri ke gunung ketika orang banyak akan memaksaNya menjadi raja mereka (Yohanes 6:15). Jika dihubungkan dengan masalah pertengkaran, maka seni menghindar termasuk pelajaran yang sangat penting. Dari pada menimbulkan rasa tidak puas dari orang banyak, lebih baik menghindar saja. Kita diajari Kristus agar pandai-pandai membaca situasi, menimbang dan memahami kecenderungan orang. Dalam hidup ini banyak pertengkaran dan salah paham terjadi gara-gara kita tidak pandai membawa diri, menempatkan diri dan menghindarkan diri. Ikut mencampuri urusan orang lain juga potensial menghadirkan pertengkaran. Kita sudah dilengkapi Allah sejak bayi dengan kepekaan dan hikmat. Dalam Yakobus 3:17 dikatakan: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Read the rest of this entry »

MENGERJAKAN PEKERJAAN YANG DIKEHENDAKI ALLAH

1

Posted on : 08-07-2009 | By : GKI | In : khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 02 Agustus 2009

Minggu Biasa XIII

Keluaran 16: 2-4, 6-15  Mazmur 78: 23-29  Efesus 4: 1-16  Yohanes 6: 24-35

PengemisSuatu hari ada seorang pengemis yang mengumpulkan kaleng dan botol kosong yang berserakan di pantai Florida. Ketika ditanya oleh seseorang, jawabnya adalah demi uang. Ia  bisa menukar kaleng dan botol kosong itu dengan sedikit uang. Selanjutnya juga ada  seorang pemuda yang melakukan hal yang sama sebagai hukuman, sebab ia tertangkap basah ketika mencuri barang di sebuah supermarket.Maka baginya itulah pekerjaan sosial yang sangat menyebalkan! Akhirnya, ada seorang bapak yang melakukan pengumpulan kaleng dan botol kosong demi kebersihan dan kelestarian pantai, dan semua itu dilakukan olehnya dengan kesadaran, ikhlas dan sukacita!  Martin Luther King, Jr menyampaikan demikian:” Jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang penyapu jalan, hendaknya ia menyapu jalan seperti bagaimana Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven menyusun karya musiknya atau seperti Shakespeare mencipta puisi. Ia hendaknya menyapu jalan sedemikian baik dan bersih sehingga seluruh isi langit dan bumi ini berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa seorang penyapu jalan telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.” ( Dari Buku Champion ). Jika mengumpulkan kaleng dan botol kosong, serta menyapu jalan saja bisa mendatangkan kekaguman bagi yang melihat, dan kepuasan batiniah bagi yang  melakukannya, terlebih lagi: Melakukan pekerjaan yang menyangkut keselamatan umat manusia seperti yang dilakukan oleh Kristus. Apakah selaku anak-anakNya kita juga telah diajari untuk melakukan pekerjaan yang mulia, yang mempunyai nilai kekal?

Tuhan adalah Pekerja yang agung, kalau tidak begitu maka  kita  pasti tidak pernah ada,  atau sudah mati semua. Tuhanlah sang Pencipta dan Pemelihara  alam semesta,  teristimewa umat manusia di dunia ini. Sejak manusia jatuh dosa, kita melihat perhatian Tuhan langsung tertuju kepada pemulihan hidup kita yang sudah dirusak oleh dosa. Setiap rencana dan langkah yang diambil oleh Tuhan, setindak demi setindak menuju kepada pemulihan hidup kita, yaitu supaya bisa menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Kita lihat Tuhan bagai Pekerja yang giat dan tekun, bahkan berjerih payah dalam memperjuangkan keselamatan umat manusia, karena Ia mengasihi dunia ini.

Jika Tuhan adalah Pekerja yang agung, Kreator yang kreatif  maka sebagai anak-anakNya kita menjadi Pekerja kecil yang melakukan tugas sesuai dengan kadar pekerjaan masing-masing, hal itu  kita baca  tadi di Efesus 6:16. Pekerjaan apa pun yang kita yakini berasal dari Tuhan kita syukuri sebagai berkat, kemalasan kita lawan,  etos kerja kita tingkatkan!  Dengan demikian kita dapat memancarkan keindahan Tuhan.

Tuhan mengerjakan pembebasan umat-Nya, dari kekuasaan bangsa Mesir. Maka dalam Keluaran 16 tadi kita membaca betapa Tuhan berhasil mengeluarkan mereka dari Mesir. Tuhan tidak rela jika umatnya ditawan,  ditekan, dicederai dan diperbudak. Di sini Tuhan melihat perlakuan  kejam orang-orang Mesir sebagai bukti dosa di hati manusia. Maka Tuhan  peduli dan mendengarkan teriak umatNya minta tolong, lalu Ia pun bertindak dalam rangka pemulihan yang sangat significant! Tuhan mau  menegakkan kembali harkat dan martabat umatNya di antara bangsa-bangsa di dunia, sebab Tuhan mempunyai rencana besar atas umatNya. Ketika Tuhan mengerjakan pembebasan umatNya, ada dua hal yang dilakukan Tuhan, yaitu: Pertama, mengikut- sertakan Musa dan Harun. Kedua hamba Tuhan itu dipersiapan  untuk memimpin perjalanan panjang dan sulit, yang bakal di hadapi seluruh umat  menuju ke Tanah Perjanjian. Juga agar di hadapan Firaun serta umat Israel,  mereka berdua dapat diterima sebagai wakil dan pemimpin yang resmi. Dan yang terpenting, sejak awal mereka berdua sudah diyakinkan melakukan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Keyakinan seperti itu sangat dibutuhkan sebab di depan sana  sudah menghadang sejumlah besar problema, yang berpotensi menggrogoti semangat juang mereka selaku pemimpin bangsa. Kedua, kadang Tuhan juga berperan tunggal, tanpa mengikut- sertakan siapa pun juga, yaitu ketika Tuhan melakukan berbagai mujizat di hadapan Firaun (Sepuluh tulah} maupun seluruh umat (Manna dan burung puyuh dll). Di sini kita disadarkan, bahwa sebenarnya Tuhan tidak bergantung dari siapa pun. Jika sampai mengikut sertakan kita juga, adalah suatu kehormatan dan anugerah yang sangat besar bagi kita! Read the rest of this entry »

DAHULU JAUH, SEKARANG MENJADI DEKAT

0

Posted on : 30-06-2009 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt. Em. Daud Adiprasetya

Renungan Minggu, 19 Juli 2009

Minggu Biasa XI

2 Samuel 7:1-14a  Mazmur 89:20-37  Efesus 2:11-22  Markus 6:30-34, 53-56

DaudBaru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang  pendeta,  berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua,  rame-rame  makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang  ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu,  Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan  mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan.  Tiba-tiba  salah seorang pengunjung baru  restoran itu  dengan nada memerintah berkata kepada  Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja  kotor yang baru saja  ditinggalkan oleh  pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!”  Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.”  Tetapi Joas tidak  segera pergi sebab harus menjawab  panggilan   telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan  Jemaat GKI  Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT  Jakarta  supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya  sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka   hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera  minta maaf  dan   mau berkenalan, serta  ngobrol  dengan Joas,  maka dengan begitu  yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!

Dalam 2 Samuel 7  kita menyaksikan Daud seperti sedang tersentak, menyadari sikapnya yang tidak pantas terhadap Tuhan! Padahal Tuhan itu Maha Raja yang mulia, sehingga meskipun Daud seorang raja namun  tetap disebut sebagai hamba-Nya (2Sam 7:5).  Keberadaan Daud sebagai raja  hanyalah karena kemurahan Tuhan, begitu pula dengan segala kenikmatan serta segala keberhasilannya. Manusia pada umumnya mempunyai kesalahan yang sama yaitu lupa diri, akibatnya lalu lupa Tuhan. Yang menyebabkan kita bisa lupa adalah  rutinitas, tapi kadang juga macam-macam “banjir” yang menyerang bangunan-hidup kita (Mat7:27). Banjir yang dimaksud adalah keadaan yang serba kliwat, yang tidak normal, yang ekstrim.  Kliwat sedih, kliwat senang, kliwat memikat hati, kliwat sepi, kliwat sibuk, kliwat sukses dan seterusnya. Ketika Ayub berada di dalam kesusahan yang kliwat besar apa yang dikatakan oleh isterinya? “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” ( Ayb2:9 ). Di sini kita bisa melihat bahwa justeru nyonya Ayublah yang gerogi dan runtuh, sedangkan Ayub masih bertahan karena memiliki dasar hidup yang kokoh kuat.   Bagaimana dengan iman Daud?  Tiba-tiba saja dia merasa bersalah  bahwa kurang menghargai Tuhan, mengapa membiarkan tabut Tuhan hanya berada di dalam sebuah tenda, mengapa tidak dibuatkan sebuah Rumah yang memadai, padahal istananya sendiri dibuat dari kayu aras. Semua itu menunjukkan dua hal, yang tidak baik dan yang  baik dari sikap Daud terhadap Tuhan.

Read the rest of this entry »

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!