
Oleh: Pdt.Em Daud AdiprasetyaMinggu 28 Maret 1020Pra- Paska VIYesaya 50:4-9a Mazmur 118:1-2, 19-29 Filipi 2: 5-11 Lukas 19:28-40
Pada suatu hari, Konfusius, seorang filsuf yang terkenal, menempuh perjalanan jauh menyeberangi padang gurun bersama beberapa muridnya. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari akhirnya persediaan air minum habis, mereka semua berjalan dengan lemah dan gontai. Suatu ketika salah seorang dari muridnya, menemukan ceruk kecil di bawah batu-batuan yang berisi genangan air yang dangkal. Dengan segera murid itu mengambil mangkuk nasinya, dan dengan susah payah hanya mampu menyedok sebanyak setengah mangkuk saja.Ia mengantarkan air dalam mangkuk itu kepada gurunya. Ketika Konfusius menempelkan mangkuk itu ke bibirnya, ia merasa semua mata muridnya memandangnya. Ia tidak jadi meminum isi mangkuk itu, malahan menuangnya ke pasir gurun yang panas sambil berkata, “Air ini terlalu sedikit untuk kita semua, dan terlalu banyak untuk satu orang saja. Mari kita lanjutkan perjalanan ini.” (Dari Buku Champion).
Keputusan yang diambil oleh Konfusius tadi sangat mengesankan, yaitu bahwa lebih baik mengabaikan air minum yang berharga demi kepeduliannya kepada orang banyak. Di sini kita melihat keterbatasan manusiawi dari Konfusius, bahwa ia tidak mampu menyediakan air minum untuk murid-muridnya. Saat itu terpaksa Konfusius tidak bisa menjadi hamba bagi sesama, walaupun ia sudah berhasil menampilkan satu contoh kepemimpinan yang sejati. Untuk bisa menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus dengan leluasa, tanpa keterbatasan dapat melimpahkan berkat-berkatNya. Dalam pesta kawin di Kana Ia pernah memberikan minuman dari anggur nomer satu, ketika waktu itu persediaan anggur sudah hampir habis. Kristus juga mengadakan roti dan ikan untuk 5000 orang lebih, yang memerlukan makan malam sesudah mendengarkan khotbahNya. Tapi sebaliknya dari segala peristiwa yang mulia itu, supaya dapat menjadi hamba bagi sesama, Yesus Kristus juga telah bersedia menempuh jalan hidup yang hina dan sengsara bahkan menuju kematian yang terkutuk! Kalau begitu Kristus memiliki kelenturan hidup yang menyebabkan Dia dapat melayani kita dalam segala situasi.
Ada seorang ayah, ketika anaknya sedang menghadapi masalah yang berat, telah memberi nasehat dan dorongan demikian, “Bertahanlah dan atasi masalahmu itu sampai tuntas. Dengan demikian nanti kau akan berhasil pula menyelesaikan masalah-masalah lain, yang lebih ringan!” Bertindak sebagai wakil kita, Yesus Kristus dengan tekad yang bulat telah memasuki suatu lorong kehidupan yang sangat kelam untuk menghadapi satu tugas yang maha berat! Untuk itu, terlebih dahulu Ia justeru melepaskan kesetaraanNya dengan Allah. Sebab Dia tahu bahwa tidak mungkin bagiNya untuk berpegang terus pada identitas ilahi yang mulia, jika ingin menjadi wakil manusia seutuhnya. Ketika rencana mengosongkan diriNya telah menjadi fakta, maka Anak Allah benar-benar telah inkarnasi menjadi manusia seperti kita, bahkan menjadi seorang hamba. Dengan memilih identitas seorang hamba itulah maka Yesus Kristus justru semakin bisa meraih semua pihak, termasuk lapisan masyarakat yang paling bawah, tapi tetap dekat pula dengan Tuan yang tak lain adalah BapaNya sendiri!
Yesus yang merendahkan diri, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib! Ketika Yesus merendahkan diri, sikap hidupNya itu seperti seekor unta yang tinggi besar tetapi bersedia menekukkan kedua lututnya, pada saat ada orang akan mengendarainya. Jika kita melihat proses tersebut, tahulah kita bahwa untuk itu sang unta harus bersedia
untuk bersusah payah, sebab sebenarnya cukup sulit baginya untuk berlutut kemudian bangkit kembali, dengan menanggung beban. Unta yang sudah “merendahkan diri” itu tidak mengeluh, sebab biasanya tidak menunjukkan sikap penolakan atau memberontak. John Bunyan (1628-1688) berkata, “Orang yang berada di bawah tidak perlu merasa takut terjatuh. Orang yang rendah hati tidak takabur atau arogan. Jika orang merendahkan diri, maka ia akan memperoleh Tuhan sebagai penuntun hidupnya!”
Ketika Yesus taat, bukan berarti mengalir begitu saja dengan mudah, akan tetapi disertai pergumulan batiniah yang sangat hebat, baik di Taman Getsemani, selama terjadi proses pengadilan, saat memikul salib di sepanjang jalan yang disebut via dolorosa, begitu pula ketika berjam-jam tubuhNya tergantung pada tiang salib dengan tangan dan kaki yang terpaku sambil menanggung rasa lapar, haus, terik matahari dan pedihnya luka-luka di sekujur tubuh. Tak ada rasa sesal bahwa telah terlanjur menyanggupi satu tugas berat, apa lagi terpikir untuk membalas perlakuan tidak adil dari banyak pihak.Bukankah Dia justru mendoakan mereka yang telah menyalibkan Dia? Bagi kita sekarang yang berada dalam kondisi baik-baik saja, sebenarnya adalah mustahil untuk dapat membayangkan betapa beratnya perasaan Yesus saat itu. Dia yang pada dasarnya tidak menyukai segala bentuk kekerasan, tetapi harus menjalani hukuman sekasar itu. Dia yang sebenarnya setiap saat memiliki peluang untuk melepaskan diri dari hukuman, kalau mau, amatlah sulit bagiNya untuk bisa taat sampai akhir. Hanya oleh karena komitmen yang matang, tekadnya yang bulat, pemahaman yang kuat akan panggilanNya, serta kasih yang mendalam semata, yang telah membuat Yesus Kristus sampai pada ketaatan yang sangat menakjubkan itu!
Murid atau hamba Tuhan dalam Yesaya 50 terwujud dalam sikap Yesus Kristus. Dengan lidah seorang murid atau hamba Tuhan (ayat 4), Yesus Kristus selalu siap meluncurkan kata-kata indah yang dapat memberi semangat baru kepada yang sedang letih lesu. Meskipun kini Yesus sudah naik ke sorga, tetapi firman Tuhan dalam Alkitab merupakan karunia terbesar yang diwariskan kepada kita. “Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun ” Ibrani 4:12. Ada kisah menarik tentang kuasa Firman Allah, sebagai berikut: Ketika Jacob de Shazer pergi ke Jepang sebagai anak buah Jimmy Doolittle ( Ialah pilot Amerika yang melakukan pemboman Tokyo dan kota-kota lain di Jepang, April 1942). Jakob de Shazer dipenjarakan, waktu itu dia masih atheis, tapi di dalam penjara itu suatu hari timbul keinginan yang besar untuk membaca Alkitab, maka berulang kali iapun meminta kepada petugas penjara agar dicarikan sebuah Alkitab. Akhirnya, oleh petugas penjara dipinjami sebuah Alkitab hanya untuk tiga minggu lamanya. Melalui pembacaan Firman Tuhan setiap hari, dan oleh pekerjaan Roh Kudus ia mengalami pertobatan. Sesudah dibebaskan, maka suatu hari pada tahun 1948, Jakob de Shazer mengajak isteri dan bayi laki-lakinya kembali ke Jepang sebagai seorang misionaris! (Dari The Teacher}. Siapa sangka orang seperti itu diam-diam juga dipersiapkan oleh Tuhan menjadi hamba bagi sesamanya. ”Alkitab adalah mata air semua kebenaran yang tidak pernah habis. Keberadaan Alkitab merupakan berkat terbesar yang pernah dialami manusia.” Immanuel Kant.
Mendengar seperti seorang murid, dengan pendengaran yang tajam sebab Allah telah membuka telingaNya. Hal itu membuat kita untuk berani mengungkap isi hati kita, tapi di dalam perkembangannya juga membuat kita untuk semakin bisa berserah kepadaNya! Saya baru saja membaca dari Majalah Reflecta dengan judul Papa Sedang Mengemudi. Pengalaman Dr Wan sekeluarga yang tinggal di Eropa, suatu hari mengadakan perjalanan tiga hari lamanya dengan mobil ke Jerman. Anak perempuannya yang berusia tiga tahun, banyak bertanya kepada ayahnya tentang macam-macam hal pada hari yang pertama dan kedua. Agaknya dia merasa takut, sebab itulah perjalanan pertamanya yang menempuh jarak sangat jauh. Tapi pada hari ketiga gadis cilik itu tidak lagi bertanya-tanya, bahkan cenderung tutup mulut. Ketika ditanya oleh ayahnya mengapa sekarang dia diam saja, jawabnya sebab Papa sedang mengemudi. Jawaban dari anaknya ini kemudian menjadi kekuatan dan pertolongan bagi Dr Wan selama bertahun-tahun, ketika dia mempunyai pertanyaan-pertanyaan dan ketakutan-ketakutan dalam perjalanan hidupnya bersama Tuhan. Dalam pergaulan dengan Tuhan, kita tentu saja boleh mempergumulkan banyak hal mengenai macam-macam kemungkinan yang bisa menimpa diri kita. Namun sebagai anak yang memiliki iman dewasa, kita akan mempercayai Tuhan yang pendengaranNya tajam, sehingga dapat memahami segala kebutuhan, dan sekaligus akan menolong kita!
Memberi punggung supaya dipukul, memberi pipi supaya dicabuti janggutnya (ayat 6). Semua itu bicara tentang kesediaan Tuhan menanggung derita dan penghinaan hebat di seluruh hidupNya demi keselamatan kita. Semua ini merupakan bagian yang paling pahit bagi setiap orang, yang bersedia menjadi pelayan bagi sesamanya. Mungkinkah itu? Mungkinkah hal serendah itu kita lakukan? Hanya Yesus Kristus yang dapat melakukan dengan kesadaran penuh, dan dengan hati yang tetap mengasihi! Kita patut berbangga sebab memiliki Yesus Kristus yang hatiNya mulia. Bapa Sorgawi juga berbangga telah mengutus AnakNya yang berhati mulia. Maka kita membaca di Lukas 19 bahwa sebagai utusan yang akan dikorbankan, Ia patut dan harus dimuliakan sebagai seorang raja! Lihatlah bahwa tanpa halangan bagi Yesus Kristus untuk memperoleh seekor keledai muda, sebab sesungguhNya segala sesuatu adalah milikNya. Lihatlah betapa secara spontan mereka telah membantu Yesus untuk mengendarai keledai itu, dan mereka semua menghamparkan pakaian di jalan, kemudian berteriak: “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” Semua yang diucapkan tentang Dia sungguh sangat indah penuh kebenaran, yaitu: Yesus Kristus yang diberkati, adalah Raja karena Tuhan yang mengangkatNya, bukan karena dunia, Raja yang membawa damai sejahtera dari sorga, keberadaanNya hanya bagi kemuliaan Bapa yang mahatinggi! Semua itu terjadi, karena kedatanganNya ke dalam dunia ini hanya untuk menjadi hamba bagi sesama!
Dalam Kristus dan karena Kristus, kita bersyukur terus! Bahwa Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selamanya. Dari zaman purbakala hingga sekarang, dan masih akan berlanjut terus sampai generasi mendatang. Bersyukur untuk pintu gerbang kebenaran, yang terbuka lebar. Jiwa kita tidak perlu mengembara dalam pencarian yang sia-sia, tapi dengan kelegaan telah dirangkul oleh Tangan KasihNya yang menyelamatkan (Mazmur 118), Tangan yang pernah melekat di kayu salib itu, adalah tangan yang teruji dan terpuji.
The cross is a way of life; the way of love meeting all hate with love,
all evil with good all negatives with positives. Rufus Moseley.



Piccolo Paganini adalah salah seorang pemain biola terbesar yang pernah hidup di muka bumi ini. Pada suati hari, Paganini mengadakan sebuah konser di gedung opera dengan tiket terjual habis. Ketika acara yang dinanti-nantikan tiba, Paganini disambut dengan tepuk tangan yang meriah saat akan memulai pertunjukannya. Namun, betapa kagetnya Paganini ketika akan mulai memainkan biola, ia mendapati bahwa biola yang akan dimainkannya bukanlah biola yang biasa ia pakai. Paganini memang sempat panik, namun ia berusaha untuk tetap profesional melanjutkan permainannya sampai selesai. Pertunjukan hari itu adalah pertunjukan terhebat yang disajikan oleh Paganini. Seorang wartawan bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi? Mengapa pertunjukan hari ini begitu spesial?” Paganini pun menceritakan, “Sebelum pertunjukan hari ini, saya selalu merasa bahwa kemahiran saya bermain biola sangatlah bergantung pada biola yang saya pakai. Saya selalu berpikir bahwa dari biola itulah keluar musik yang indah; namun hari ini saya belajar, bahwa sebenarnya musik yang indah itu keluar dari diri saya.” (Buku Champion).
perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan. Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20 ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Konon ada kakak beradik yang bertengkar hebat gara-gara pembagian harta peninggalan orang tua mereka. Pertengkaran meningkat menjadi permusuhan, bahkan meluas kepada keluarga mereka masing-masing. Padahal mereka itu merupakan warga gereja yang terpandang. Karena sangat sulit didamaikan, akhirnya Pak Pendeta menempuh satu jurus penyelesaian yang sangat unik, sebagai berikut: Kedua belah pihak keluarga yang bertengkar diundang untuk berkumpul di Rumah Tuhan, tentu bukan pada hari minggu. Sengaja mereka dipisahkan menjadi dua kubu yang diberi kesempatan yang luas untuk menuliskan segala kedongkolan, uneg-uneg, kemarahan bahkan kebencian yang satu terhadap yang lain. Setelah puas mengungkap segala yang negatip tentang lawannya, maka Pak Pendeta mulai menyampaikan kotbah singkatnya, membakar kertas-kertas itu sambil berkata:” Dalam Nama Yesus Kristus sekarang saya bakar habis segala sakit hati kalian, maka mulai hari ini tidak ada pertengkaran dan permusuhan, sebab kalian sudah dipersatukan kembali oleh Tuhan Sang Raja Damai!” Menyaksikan semua itu dan mendengar kata-kata yang berwibawa dari sang Hamba Tuhan maka merekapun saling berpandangan, saling mendekat dan akhirnya berpelukan sambil menangis histeris! Sejak hari itu mereka memulai lembar hidup baru sebagai keluarga besar yang hidup saling mengasihi. Dari menjadi batu sandungan, kini mereka berubah dapat memuliakan Nama Tuhan di tengah masyarakat! ( Kisah nyata djadoel yang dituturkan dosen saya }.
Suatu hari ada seorang pengemis yang mengumpulkan kaleng dan botol kosong yang berserakan di pantai Florida. Ketika ditanya oleh seseorang, jawabnya adalah demi uang. Ia bisa menukar kaleng dan botol kosong itu dengan sedikit uang. Selanjutnya juga ada seorang pemuda yang melakukan hal yang sama sebagai hukuman, sebab ia tertangkap basah ketika mencuri barang di sebuah supermarket.Maka baginya itulah pekerjaan sosial yang sangat menyebalkan! Akhirnya, ada seorang bapak yang melakukan pengumpulan kaleng dan botol kosong demi kebersihan dan kelestarian pantai, dan semua itu dilakukan olehnya dengan kesadaran, ikhlas dan sukacita! Martin Luther King, Jr menyampaikan demikian:” Jika seseorang ditakdirkan untuk menjadi seorang penyapu jalan, hendaknya ia menyapu jalan seperti bagaimana Michelangelo melukis, atau seperti Beethoven menyusun karya musiknya atau seperti Shakespeare mencipta puisi. Ia hendaknya menyapu jalan sedemikian baik dan bersih sehingga seluruh isi langit dan bumi ini berhenti sejenak untuk mengatakan bahwa seorang penyapu jalan telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik.” ( Dari Buku Champion ). Jika mengumpulkan kaleng dan botol kosong, serta menyapu jalan saja bisa mendatangkan kekaguman bagi yang melihat, dan kepuasan batiniah bagi yang melakukannya, terlebih lagi: Melakukan pekerjaan yang menyangkut keselamatan umat manusia seperti yang dilakukan oleh Kristus. Apakah selaku anak-anakNya kita juga telah diajari untuk melakukan pekerjaan yang mulia, yang mempunyai nilai kekal?
Baru-baru ini putera bungsu kami, Joas yang juga seorang pendeta, berlibur bersama keluarganya di kota Solo. Malam itu bersama kami berdua, rame-rame makan bebek goreng “Pak Slamet” yang terkenal itu. Selaku seorang ayah yang harus memperhatikan anak-anaknya di tengah tamu yang padat itu, Joas kadang harus berdiri dari kursinya dan mendekati anak-anaknya yang mondar- mandir kegirangan. Tiba-tiba salah seorang pengunjung baru restoran itu dengan nada memerintah berkata kepada Joas:”Mas, mas, tolong bersihkan meja ini!” sambil menunjuk meja kotor yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung terdahulu. Dengan kalemnya Joas menanggapi:”Ya, baik!” sambil mulai mengambil piring-piring kotor di atas meja yang ditunjuk oleh tamu yang masih tergolong pemuda itu. Tapi teman pemudinya yang lebih peka menegur: “Hus! Itu bukan pelayan!” Joas lalu berkata:”Baiklah kalau begitu saya panggilkan pelayan, ya.” Tetapi Joas tidak segera pergi sebab harus menjawab panggilan telpun di HP Black Berry , pemberian seorang mantan Jemaat GKI Pondok Indah. Sang pemuda yang baru saja menyuruh seorang dosen STT Jakarta supaya membersihkan meja itu, mungkin merasa begitu menyesalnya sehingga ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya. Maka hubungannya dengan Joas langsung menjadi sangat jauh! Andai dia segera minta maaf dan mau berkenalan, serta ngobrol dengan Joas, maka dengan begitu yang dulunya jauh dapat berubah jadi dekat!
















0