Archive for the ‘Renungan’ Category
RENDAHKAN HATI RENDAHKAN DIRI
Oleh: Pdt Em. Daud Adiprasetya
Minggu -29 Agustus 2019 (Minggu Biasa).
Amsal 25:6-7 Mazmur 112 Ibrani 13:1-8, 15-16 Lukas 14:1, 7-14
Pada suatu saat seorang CEO (Chief Executive Officer} atau Pejabat Executive Tertinggi perusahaan besar yang sangat sukses bepergian bersama isterinya dengan mengendarai sebuah mobil mewah. Biasanya ia menggunakan supir, tapi kali ini tidak, karena ia ingin menikmati perjalanan bersama isterinya. Di tengah perjalanan, parameter bahan bakar menunjukkan bahwa persediaan bahan bakar menipis, maka ia segera masuk ke salah satu SPBU yang ditemuinya dan kemudian memesan kepada petugas untuk diisikan bahan bakar. Sambil menunggu tangki bahan bakarnya diisi, CEO sukses ini berjalan-jalan sejenak menuju taman di tengah SPBU tersebut. Ketika kembali dari taman menuju mobilnya, ia melihat sang istri sedang asyiknya berbicara dengan petugas SPBU, dan ketika melihatnya datang, mereka langsung berhenti. Sambil melanjutkan perjalanan, CEO sukses ini bertanya kepada istrinya, “ Kelihatannya, kamu tadi asyik sekali bicaranya dengan petugas SPBU? Bicara apa sih?” Sang istri menjawab, “ Oh, orang itu adalah mantan pacarku waktu di SMU. Kami pernah pacaran selama satu tahun.”
Kemudian CEO itu dengan bangga mengatakan, “ Untung kamu menikah dengan aku, sehingga sekarang kamu menjadi istri seorang CEO hebat dan sukses, coba kalau kamu menikah dengannya, mungkin sekarang kau telah menjadi istri seorang petugas SPBU.” Sang istri lantas menimpali, “ Oh sayang, jika saya menikah dengannya maka ia akan menjadi CEO hebat dan sukses, sedangkan kamu akan menjadi petugas SPBU!” ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion }.
Cukupkanlah Apa yang Ada Padamu
(Ibrani 13;5-8)
Sebagian besar kita pasti pernah makan ayam goreng, makanan favorit sebagian besar rakyat Indonesia. Suatu saat saya dikejutkan oleh suatu fenomena realita kehidupan yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televise. Dikisahkan seorang pemulung makanan restoran cepat saji. Pemulung itu mengambil sampah makanan yang terdapat di tong sampah di restoran cepat saji itu. Dia membawanya ke rumah, sebagian diberikan kepada tetangganya dan sebagian diberikan kepada keluarganya. Hal yang mengharukan ketika sebelum makan makanan sisa tersebut, mereka berdoa terlebih dahulu.
Bagaimana perasaan kita jika melihat fenomena kehidupan seperti ini? Terkadang kita makan dengan menyisakan makanan dan membuangnya dengan sia-sia. Kisah ini tadi tentunya mengetuk hati kita. Namun sadarkah kita bahwa ditengah-tengah keberuntungan yang kita miliki terkadang kita tidak puas dengan apa yang ada di depan kita.
Marta adalah Korban Relasi Timpang
Kira-kira dua ribu tahun yang lalu, di tanah Palestina, seorang Guru dan para murid mengadakan perjalanan menuju Yerusalem. Di tengah perjalanan rombongan ini mampir di rumah karibnya: Marta, Maria dan Lazarus.
Mendapat kunjungan tamu agung, Marta tergopoh-gopoh menyiapkan penyambutan. Ini adalah kunjungan dari orang yang sangat dihormatin
ya. Maka dia ingin memberikan sambutan yang terbaik. Marta begitu sibuk menyiapkan hidangan di dapur sehingga hampir tidak menyadari kalau dia hanya bekerja sendirian. Setelah celingak-celinguk kesana-sini, Marta mendapati saudarinya itu sedang duduk manis di dekat kaki sang Guru. Kontan Marta menjadi kesal. Maria nampakmya tidak menyadari tugasnya sebagai perempuan, yaitu bekerja di dapur. Maka Marta lalu memprotes sang Guru: “Apakah Guru tidak melihat kalau Maria tidak membantu aku,” seru Marta sengit, “suruhlah dia menolong saya!”
“Marta, Marta!” jawab sang Guru. “Engkau demikian khawatir dan sibuk memikirkan ini dan itu, padahal yang penting hanya satu. Dan Maria sudah memilih yang baik, yang tidak akan diambil dari dia.”
***
Nasib yang dialami oleh Marta sering digunakan untuk menyindir aktivis gereja yang terlalu sibuk melayani sehingga tidak sempat punya waktu mendengarkan sabda. Namun ketika mengulang perikop ini dalam bacaan leksionary, tiba-tiba saya mendapat perspektif baru: Marta adalah korban dari relasi gender yang timpang. Read the rest of this entry »
PELAYANAN YANG DISERTAI PENDERITAAN
(2 Korintus 4:1-15)
Pengantar
Kata ‘pelayan’ (diakonos) di dalam gereja mengalami perubahan makna secara ameliorasi, dari makna yang negative; pembantu, jongos menjadi makna yang positif; pelayan Tuhan, hamba Tuhan, majelis, pelayanan. Oleh sebab itu jemaat-jemaat yang terlibat dalam berbagai pelayanan gereja merasa dirinya dihargai. Tak jarang ketika ditanya rekan kerja, “Baru dimana nih?” “Di gereja baru pelayanan nih.” orang dapat menjawab dengan mantap. Namun di sisi lain banyak diantara para pelayan Tuhan ini tidak lagi memaknai arti sebuah pelayan yang resikonya tidak jauh berbeda dengan arti pelayan yang ada di luar gereja. Bahwa sesungguhnya terjun ke dalam pelayanan berarti siap untuk merendahkan diri dan menerima tantangan.
MELAYANI DENGAN SUKACITA DAN SUKARELA
Oleh: Pdt. Em Daud Adiprasetya
Minggu, 18 Juli 2010 (Minggu Biasa).
Kejadian 18:1-10a Mazmur 15 Kolose 1:15-28 Lukas 10:38-42

Seorang petani Skotlandia miskin pada suatu hari mendengar tangisan seorang anak kecil yang terperosok ke dalam lumpur yang dalam. Petani yang bernama Fleming itu dengan cepat membantu si anak kecil keluar dari lumpur yang mematikan tersebut. Keesokan harinya, ajah dari anak itu datang untuk berterima kasih kepada Fleming. Orang kaya itu menawarkan apa saja yang diinginkan oleh Fleming, namun petani itu menolaknya. Melihat anak Fleming keluar dari rumah mereka yang sederhana, si orang kaya menawarkan akan membiayai sekolah anak itu dan memberikan fasilitas sekolah yang sama dengan anaknya sendiri. Anak petani itu dimasukkan ke universitas terbaik pada saat itu, yaitu St. Mary’s Hospital Medical School di London, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Anak itu akhirnya menjadi sangat terkenal karena berhasil menemukan obat Penisilin, dan ia bernama Sir Alexander Fleming. Bertahun-tahun kemudian, anak si orang kaya terserang pneumonia dan tahukah obat apa yang mampu menyelamatkannya? Tepat sekali, Penicilin. Nama anak yang diselamatkan itu adalah Sir Winston Churchill. Ingatlah selalu bahwa setiap perbuatan baik, akan mengembalikan perbuatan baik yang lebih besar kepada Anda. ( Dari Buku Fight Like A Tiger Win Like A Champion).
Berbahagia Karena Berbuat
Yakobus 1:21-25
Sahabat saya berasal dari Palangkaraya, setiap liburan sekolah di waktu SMA dia senantiasa pulang ke Palangkaraya karena kedua orang tuanya bekerja disana. Ayahnya bekerja sebagai pengacara gubernur Kalimantan Tengah dan ibunya bekerja di dinas informasi dan komunikasi Palangkaraya. Dia pulang ke Palangkaraya dengan menggunakan pesawat. Suatu saat kita pergi ke Jogjakarta dan singgah ke Bandara Adi Sucipto sekedar melihat naik-turun pesawat. Saya yang belum pernah naik pesawat ya tergagum-kagum melihat kendaraan super besar itu. Saya minta sahabat saya menceritakan bagaimana rasanya naik pesawat, panjang-lebar di bercerita namun saya tidak bisa merasakan hal yang sama seperti yang dia alami; perasaan tegang waktu take off, berada di atas udara, naik pesawat sendirian. Saya hanya bisa mendengar tapi tidak bisa merasakan. Karena penasaran saya spontan berkata, “Wah kapan ya bisa naik pesawat?”. Nah pertanyaan itu terjawab ketika tahun lalu sepulang dari GKI Maleo Raya saya iseng-iseng mencoba bagaimana rasanya naik pesawat. Akhirnya kesampaian juga bagaimana rasanya naik pesawat, sendiri dan pertama kalinya. “Oh,…ternyata seperti ini naik pesawat itu”. Sekarang saya tidak hanya mendengar tetapi merasakan sendiri bagaimana rasanya naik pesawat.
JANGAN SIMPAN DOSAMU
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Minggu- 13 Juni 2010 (Minggu Biasa)
II Samuel 11:26-12:10, 13-15 Mazmur 32 Galatia 2:15-21 Lukas 7:36-8:3
Dari Buku Litani Serba Salah Pastor, ada judul: Semua Berdosa.
Dahulu ada seorang miskin yang karena tidak tahan lapar ia mencuri sepotong kue. Tapi malang baginya, ia tertangkap dan dimasukkan dalam penjara. Ia beberapa kali berusaha untuk melarikan diri tapi selalu mengalami kegagalan. Kemudian, dia mendapat akal. Pada suatu hari ia berkata kepada kepala penjara, “Pak, saya mempunyai sebuah benda berharga yang akan saya persembahkan kepada raja.” Pada mulanya kepala penjara tidak menghiraukan perkataannya, tapi setelah dijanjikan sejumlah uang dari hasil hadiah raja, barulah kepala penjara tersebut membawanya menghadap raja. Di hadapan raja, ia mempersembahkan sebutir kacang dengan mengatakan,”Paduka Raja, biji kacang ini sangat ajaib. Jika biji kacang ini ditanam, akan menghasilkan kacang mas.” Setelah oleh raja ditanyakan mengapa ia tidak menanam untuk dirinya sendiri maka jawabnya, ”Ampun Tuanku, hamba tidak layak untuk menanam biji tersebut, sebab hanya orang yang tidak pernah melakukan kesalahan yang layak menanam dan beroleh kacang mas.” Raja, Permaisuri, perdana menteri dan panglima perang yang mendengarkan penjelasan dari orang miskin itu, tak seorang pun yang berani menanam biji kacang ajaib tersebut sebab mereka masing-masing menyadari bahwa dalam hidup mereka ada banyak kesalahan dan dosa yang mereka lalukan. Setelah melihat kenyataan itu maka si miskin memberanikan diri untuk mohon pengampunan Raja karena telah mencuri kue ketika ia tak dapat menahan rasa laparnya. Raja pun mengabulkan permohonannya, karena merasa bahwa dalam hidupnya juga mempunyai banyak kesalahan dan dosa.
BERDOALAH SENANTIASA
2 RAJA-RAJA 19:9-19
Ada sebuah kisah menarik tentang seorang anak sekolah minggu yang sedang pergi ke pasar hewan bersama ibunya. Di pasar itu dijual bermacam-macam jenis hewan peliharaan dan ibunya ingin membelikan dia seekor anak anjing. Namun suasana pasar itu berubah ketika seekor kerbau mengamuk dan berlari ke tengah tengah pasar. Semua orang kebingungan termasuk orang tua dan si anak sekolah minggu ini. Kekacauan ditengah pasar itu membuat sang anak terpisah dari ibunya. Tanpa terprediksi kerbau itu ternyata berlari menuju si anak sekolah minggu, karena ketakutan anak ini tak dapat bergerak. Dalam kondisi segenting itu tiba-tiba dia ingat perkataan guru sekolah minggunya yang berkata bahwa dalam kesulitan apapun berdoalah kepada Tuhan Yesus maka Tuhan akan menolongmu. Karena anak sekolah minggu ini belum pandai berdoa dan hanya doa makan saja yang dihafal maka dia berdoa, “Tuhan berkatilah makanan ini. Amin!” Dan kejadian aneh mencengangkan banyak orang, kerbau itu melompati si anak tanpa melukainya. Tuhan tahu apa yang harus Dia lakukan untuk menolong setiap anak-anakNya.
Hizkia adalah raja Yehuda, anak dari raja Ahaz. Pada pasal18 diceritakan bahwa raja Hizkia ini adalah seorang raja yang percaya pada TUHAN Allah Israel bahkan tidak ada seorang raja pun yang sebelum atau sesudahnya yang seperti dia. Hatinya berpaut kepada Tuhan, hidupnya tidak menyimpang dari jalan Tuhan dan dia berpegang pada perintah-perintah Tuhan.
SANG GEMBALA MENYERAHKAN NYAWA UNTUK MENYELAMATKAN UMATNYA
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Minggu 25 April 2010
Kisah Para Rasul 9:36-43 Mazmur 23 Wahyu 7:9-17 Yohanes 10:22-30

Seorang ibu ketika melihat anak laki-lakinya berenang di kolam dekat rumahnya, menjadi kaget luar biasa sebab ada seekor buaya mendekati anaknya itu. Sambil berteriak-teriak ketakutan ibu itu lari mendekati anaknya, yang sepintas juga mendengar teriakan ibunya. Begitu mengetahui bahwa jiwanya terancam, maka anak itu berusaha sekuat tenaga menepi mendekati ibunya.
Namun malang baginya, sebab pada saat kedua tangan anak itu sudah berhasil ditarik oleh ibunya, pada saat yang sama sang buaya juga berhasil menerkam kedua kakinya. Dalam sekejap terjadilah tarik- menarik diantara sang ibu yang dengan gigih mempertahankan anaknya, dengan buaya yang merasa senang memperoleh sarapan paginya.
ANAK SULUNG’ PUN SEHARUSNYA DAPAT IKUT BERGEMBIRA
Yosua 5:9-12 Mazmur 32 II Korintus 5:16-21 Lukas 15:1-3,11b-32

Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana di penjara-penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak satu pun dari mereka yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka. Jawaban klasik yang mereka berikan adalah bahwa mereka berada pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan bertemu dengan orang yang salah. Akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa sekumpulan terbesar orang yang tidak bersalah akan Anda temukan di dalam penjara. Memang sangat ironis, mengingat tempat yang menampung orang bersalah terbanyak di dunia ini adalah penjara.
Seorang tua berjalan dalam kegelapan malam dan berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Ia terlihat serius mencari-cari sesuatu yang hilang, namun belum juga berhasil menemukan apa yang dicarinya. Kemudian, datang seorang pemuda yang menanyakan, “Apa yang sedang Bapak cari?” Jawab si bapak, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.” Anak muda itu langsung menawarkan bantuannya untuk mencari kunci tersebut. Setelah satu jam mencari, akhirnya si anak muda pun menyerah. Dengan putus asa ia berkata kepada bapak tua, “Kita telah mencari di semua tempat sekitar sini dan belum juga menemukannya. Apakah Bapak yakin kehilangan kunci itu di sekitar tempat ini?” Orang tua itu menjawab dengan malu, “Oh tidak, kunci itu hilang di rumah, tapi rumah saya tidak memiliki penerangan yang cukup sedangkan tempat ini kelihatannya lebih terang daripada rumah saya.” ( Dari Buku Champion }
Dalam hidup ini kita tentu mempunyai kesalahan, bahkan mungkin kesalahan atau dosa kita itu sangat banyak dan besar. Hanya saja kadang kita tidak menyadari atau sengaja tidak mau memikirkan, apalagi mengakui bahwa bersalah. Sikap itu tentu menimbulkan masalah dalam pergaulan kita dengan sesama dan Tuhan tentunya. Para narapidana di Amerika Serikat itu misalnya. Kesalahan kita juga kadang sudah berubah menjadi suatu kebodohan, sebab sangat keterlaluan. Terlebih lagi jika ditambah dengan tindak-lanjut yang tidak masuk akal dan jauh dari sikap bijaksana. Seperti yang dilakukan oleh pak tua yang kehilangan kunci tadi.
Mari bercermin dari perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 15:2 kita membaca: Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:”Ia (Yesus) menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa mereka itu bukanlah orang-orang suci, malah kejahatannya bisa lebih besar dari pemungut cukai dan anggota masyarakat yang dipandang berdosa. Menanggapi orang-orang yang merasa sok suci, maka Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini yang terkenal sampai di seluruh dunia. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaanNya, yaitu: ayah, si bungsu dan si sulung. Lebih dulu akan kita kritik sikap mereka itu, supaya jangan sampai menular dalam hidup kita sekarang.
Si bungsu yang cari perkara. Kita mulai dengan si bungsu yang diam-diam selalu memikirkan warisan orang tuanya, padahal sang ayah masih hidup. Mungkin saja dia mengharapkan ayahnya lekas mampus, tapi karena tak kunjung mati juga maka ia memberanikan diri meminta bagiannya. Terpaksa sang ayah melakukan pembagian warisan di antara mereka berdua. Dalam waktu singkat si bungsu mencairkan warisannya untuk menjadi bekal petualangannya. Bukan untuk berumah tangga atau membuka suatu usaha, tapi hanya untuk pergi ke tempat yang jauh mengejar kesenangan semata. Harta miliknya diboroskan, untuk hal-hal yang tidak perlu, bahkan untuk berfoya-foya dan sangat mungkin berhubungan dengan kehidupan yang kotor. Sesudah terlepas dari pengawasan orang tua, seharusnya dia bisa berhemat demi masa depannya. Pengeluaran tanpa pemasukan pasti berakhir dengan kebangkrutan, apalagi jika terjadi musibah, dalam hal ini bencana kelaparan. Alkitab menyatakan bahwa si bungsu pun mulai melarat! Kita bisa melihat bahwa dosa tidak harus ditandai dengan perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri atau berbuat zinah. Di tempat yang jauh dan asing itu si bungsu mungkin saja dikenal sebagai seorang “dermawan” dan baik hati, tapi prilakunya itu tidak bertanggung jawab, bahkan menjurus kepada kebodohan dan dosa! Uang dalam kantongnya itu adalah satu-satunya peninggalan atau warisan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya. Di sini seharusnya ada tanggungjawab moral, ada ikatan batiniah yang mendalam antara anak dan ayah. Tapi si bungsu tidak mengasihi ayahnya, dan tidak dapat menghargai pemberiannya. Dengan demikian dia juga telah berdosa kepada Tuhan. Maka dalam penyesalannya ia pun berkata: “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Percayalah bahwa Tuhan selalu membuka tangan dan hatiNya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” Mazmur 32:1 Kita dapat memetik beberapa pelajaran dari pengalaman si bungsu. Pertama, Dalam hidup ini kita memang boleh mengadakan “langkah besar” demi idealisme, impian serta cita-cita Tapi kita tidak boleh gegabah! Jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk dan melukai hati orang-orang dekat. It’s better to lose your pride, than to lose the one you love. Lebih baik jika kehilangan sesuatu yang kita banggakan, dari pada kehilangan seseorang yang kita cintai. Kedua, Tuhan memang memelihara dan memimpin perjalanan hidup kita, tapi kita harus mau berjuang dan bertahan dalam segala situasi yang terburuk sekali pun. Ketiga, Jika sampai mengalami kegagalan dan penderitaan, pandanglah Tuhan dan bangkitlah! Sebab kita adalah anak yang sangat dikasihi oleh Bapa sorgawi, dan setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita pasti ada hikmatnya. When something happen to you, good or bad, consider what it means.
Seorang ayah yang merugi, karena kesalahannya sendiri! Jelas bahwa dia kurang menyiapkan anak-anaknya, untuk menjadi orang dewasa yang utuh. Dalam hal ini dia tidak dapat menggambarkan Bapa- sorgawi.Tugas orang tua di mana pun adalah mendidik anaknya menjadi dewasa, yang utuh! Kedua anaknya hanya dewasa secara fisik, kiprah dan sikap mereka mengecewakan! Pendidikan rohaniah untuk anak harus diutama, tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa ditunda atau diambil oper orang lain. Sebenarnya sang ayah tadi sangat mengasihi kedua anaknya, tapi dengan mengabaikan yang satu ini, pendidikan rohaniah, berarti dia sudah mencoret kasihnya itu. Mewariskan harta kepada anak-anaknya bukanlah merupakan prestasi yang membanggakan, sebab masih ada warisan lain yang lebih bernilai tinggi!
Anak sulung yang masgul. Bisa juga: Anak sulung yang kebakaran jenggot! Masgul atau merasa sedih membayangkan adiknya yang bisa hidup bebas dan senang di luar negeri, sedangkan dia terbelenggu oleh pekerjaan rutin yang membosankan. Juga sedih ketika melihat adiknya masih juga disambut dengan hangat, meskipun pulang membawa aib bagi keluarga. Kebakaran jenggot atau kebingungan ketika menyadari bahwa ayahnya dan orang-orang lain dalam rumahnya melimpahi begitu banyak perhatian, kekaguman serta cinta kasih kepada seorang pecundang yang lebih pantas dicaci maki dan diusir! Anak sulung itu seharusnya bisa ikut bergembira ria, sekiranya dia memiliki hati seperti ayahnya. Hati yang selalu merindukan kepulangan si bungsu. Hati yang tersentak girang tatkala mendapati kenyataan bahwa yang sudah dianggap mati, tiba-tiba hidup kembali. Hati yang penuh persediaan maaf dan ampun, hati yang berbelas kasih, tanpa niat sedikit pun untuk menggugat, mengusir apalagi menghukum. Tapi hati yang seperti itu tidak dimiliki sang kakak, sebab dia cuma merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Anak sulung merasa tidak nyaman, karena dikerumuni rasa iri, gemas dan geram yang menari-nari seperti pemain cadangan yang minta segera di luncurkan ke tengah lapangan bola! Dalam hidup ini saudara kandung bisa lebih jahat dari seorang musuh, dan seorang teman bisa lebih baik dari saudara kandung. Di dalam gereja Tuhan kita telah sepakat untuk menerima setiap orang sebagai saudara kita. Kesepakatan kita jangan cuma di bibir saja, tapi dalam ikatan kasih Kristus mari kita wujud nyatakan terus dari waktu ke waktu. Kalau itu yang terjadi maka kita telah memperoleh keuntungan besar, mempunyai banyak saudara dan saudari seiman dalam keluarga besar Yesus Kristus!
Persaudaraan umat Allah sejak zaman Yosua. Sehubungan dengan ‘cela Mesir’ yaitu dosa para prajurit tatkala keluar dari Mesir, maka lalu diadakan penyunatan massal. Ciri fisik yang menandai sunat itu bersifat permanen, menunjukkan betapa mantapnya perjanjian dengan Tuhan dan persaudaraan umat Tuhan. Dalam Kristus sunat sudah disempurnakan menjadi Baptis Kudus, baik untuk pria maupun wanita. Kolose 2:11,12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” Setelah sunat massal, umat Tuhan juga merayakan Paskah, ditandai dengan makan roti tak beragi. Semua itu mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang suka mengampuni dosa, dan mempersekutukan kita dalam kasih persaudaraan, yang pada saat mengalami kesakitan dan kepahitan justeru semakin dapat bergandeng tangan.
Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru! Dalam seluruh Alkitab sebenarnya sudah tersurat dan tersirat, kerinduan Tuhan untuk membarui hidup kita. Itu sebabnya maka Kristus telah berjuang dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh, ketika Dia menjadi pendamai di antara kita dengan Allah dan sesama. Dengan demikian di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan baru, yang tidak lagi berorientasi kepada yang lapuk. Perumpamaan anak yang hilang juga menyimpan pesan agar setiap orang bersedia menjadi bagian dari ciptaan baru. Bukan hanya ayah dan si bungsu saja yang dapat bergembira, anak sulung pun seharusnya dapat ikut bergembira, sebab ciptaan baru harus ditandai dengan hidup sukacita, di tengah keluarga, di dalam jemaat Tuhan, di tempat kerja dan di mana pun!
Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 14 Maret 2010
Pra –Paska IV
ALLAH DATANG MEMULIHKAN HIDUP MANUSIA
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Minggu- 03 Januari 2010
Hari Minggu Kedua setelah Natal
Yeremia 31:7-14 Mazmur 147:12-20 Efesus 1:3-14 Yohanes 1:1-9, 10-18
Pernahkah Anda melihat seekor elang perkasa meliuk-liuk di atas udara? Apa yang Anda pikirkan mengenai binatang yang satu ini? Tentu terlintas di pikiran bahwa sang elang adalah penguasa langit yang diberi kodrat dari Sang Pencipta untuk menjadi “raja” di udara; terbukti elang dikaruniai umur yang paling panjang jika dibandingkan saudara – saudara unggas lainnya. Seekor elang dewasa mampu bertahan hidup sampai umur 70 tahun. Namun, tahukah Anda bahwa setiap elang dewasa ketika memasuki usia ke-40 tahun harus membuat keputusan yang berat dalam hidupnya? Suatu perubahan besar menanti dan keputusan yang besar harus mampu diputuskan. Hal ini terjadi karena paruhnya tidak mampu lagi menangkap mangsa karena kepanjangan dan bengkok ke dalam hingga hampir menyentuh dada. Demikian juga dengan cakarnya yang menua, mengakibatkan sulit mencengkeram mangsanya. Hal lain yang terjadi dengan berjalannya usia adalah bertambah lebat dan berat bulu sayapnya yang mengakibatkan sang elang sulit terbang tinggi. Hanya ada dua pilihan berat yang harus dipilihnya, mati kelaparan atau menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Proses ini mengharuskan ia terbang ke atas puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan. Pertama-tama, elang harus menghantamkan paruhnya berkali-kali pada batu sampai terlepas dari mulutnya. Setelah paruh terlepas, sang elang harus menunggu sampai paruh barunya tumbuh kembali. Proses kedua, sang elang juga harus mencabut cakarnya yang menua untuk membiarkan tumbuhnya cakar yang baru. Proses terakhir adalah mencabut satu per satu bulu di sekujur tubuhnya. Inilah proses yang panjang dan menyakitkan yang harus dijalani selama lima bulan. Bagaimanapun, berkat proses inilah si elang mampu hidup 30 tahun lebih lama. ( Dari Buku Champion ).
Pertama-tama perlu kita ketahui, bahwa karya pemeliharaan yang dilakukan Tuhan atas binatang adalah melalui naluri mereka. Berbeda dengan kita, sebagai ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya di muka bumi ini. Sebab aspek kehidupan kita sangat luas sampai menyentuh bidang rohaniah, maka kita melihat hebatnya karya pemeliharaan dan pemulihan yang dilakukan oleh Tuhan. FirmanNya yang kita baca hari ini menunjukkan bagaimana Allah datang memulihkan hidup kita. Tadi kita membaca bahwa Tuhan sudah memulihkan si elang melalui nalurinya, sekarang kita juga mau melihat betapa Tuhan memulihkan kita melalui cara yang lain!
Mengapa hidup manusia perlu dipulihkan? Dari Injil Yohanes yang kita baca tadi tertulis dan tersirat lima hal yang menyebabkan mengapa manusia perlu dipulihkan.
Pertama, sebab manusia tidak percaya kepada Yesus (Yohanes 1:7b). Padahal dalam ayat yang sangat terkenal , yaitu Yohanes 3:16, dikatakan bahwa yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Bisa ditarik kesimpulan, jika manusia tidak mau mempercayaiNya maka akan binasa dan tidak memperoleh hidup yang kekal. Kita dapat membayangkan betapa hancur hati Allah melihat begitu banyak manusia yang akan mengalami kebinasaan serta tidak beroleh hidup yang kekal. Lalu, inilah yang dilakukan oleh Allah, Ia mengutus AnakNya yang tunggal Yesus Kristus sang Firman itu untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dibayang-bayangi kebinasaan!
Kedua, sebab manusia tidak mengenal Yesus (Yohanes 1:10). Dapat juga dikatakan bahwa manusia tidak mau mengenalNya. Dalam kurun waktu yang cukup, banyak orang sudah diberi kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus, tapi tetap saja tidak bersedia! Belum lagi mengenal dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus sebagai Sahabat dan Juruselamat.
Ketiga, sebab manusia tidak mau menerima Yesus (Yohanes 1:11). Padahal Yesus sudah memberikan diriNya supaya Ia menjadi milik kita! Jika manusia memiliki Yesus Kristus secara pribadi dalam hidupnya, alangkah bahagianya sebab Yesus adalah segala-galanya bagi kita. Karena tidak percaya, tidak mau mengenal, maka tidak mau menerima Yesus dan akhirnya tidak memiliki yang paling berharga dalam hidup ini. Itulah nasib buruk yang sangat menyedihkan. Supaya manusia terhindar dari keterlanjuran ini, maka Allah bermurah hati mau datang untuk memulihkan hidup manusia.
Keempat, sebab manusia tidak hidup dalam kasih (Yohanes 1:17). Hanya kasih yang dari Allah saja yang murni dan sejati, maka sangat dibutuhkan oleh semua manusia di dunia. Tapi manusia yang tidak mengutamakan persekutuan dengan Allah semakin kehilangan kasih, seperti pelita yang kehabisan minyak. Maka berangkat dari kasihNya, Yesus sang Firman yang hidup itu datang mewakili Allah untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dicabik-cabik oleh kebencian, dendam, iri, dengki dan egoisme.
Kelima, sebab manusia tidak hidup dalam kebenaran (Yohanes 1:17). Manusia lebih menyukai dosa, penyelewengan, kejahatan sehingga tidak bisa bergaul dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah sudah retak, sehingga hanya bisa diperbaiki oleh Allah. Yesus Kristus adalah sang Kebenaran (Yohanes 14:6) yang selain dapat mengajarkan kebenaran Allah juga dapat membenarkan manusia di hadapan Allah. Kita yang salah di hadapan Allah akan dianggap benar, karena Allah yang Maha Adil mau memandang Yesus sebagai wakil kita, dan menerima karyaNya untuk menebus kita.
Mengapa Yesus mempunyai kedudukan sentral dalam hidup kita? Hal itu dijelaskan dalam ayat ke-18 dengan sangat indahnya: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”
Maha Tinggi Allah menyebabkan kita tidak dapat menghampiriNya. Juga karena Allah itu Roh, maka kita tidak dapat melihatNya. Keadaan kita yang hina dina karena dosa, menyebabkan kita tidak mungkin dapat bergaul dan diperkenan oleh Allah. Tapi , tiba-tiba saja manusia tersentak oleh kejutan besar bahwa Allah sudah keluar dari “tempat persembunyianNya”. Kini Allah dapat dilihat dan diraba ( IYohanes 1:1) Yesus Sang Anak Tunggal yang berada dalam jalinan kasih kekal dengan BapaNya itu, sudah datang memperkenalkan Allah kepada kita. Di dalam Yesus maka Allah menjadi sangat dekat dengan kita, karena Ia mau memakai kemanusiaan kita. Di sini ada satu cerita mengenai Kerajaan Inggris. Konon pernah terjadi peristiwa yang sangat unik sebagai berikut: Suatu hari bertemulah Edwart putera mahkota yang masih belia waktu itu, dengan Tom Canty seorang remaja yang berasal dari keluarga miskin. Perawakan dan wajah mereka ternyata sama persis seperti pinang dibelah dua. Lalu tercetus ide gila yang disepakati oleh mereka berdua, yaitu mulai hari itu mereka bertukar pakaian dan peran. Dapat kita bayangkan alangkah nyaman hidup Tom Canty, tetapi sebaliknya Edwart sangat menderita sebab mempunyai orang tua miskin yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan yang kasar! Kebenaran dari kisah ini boleh saja meragukan, tapi jangan sekali-kali meragukan kisah lain yang tercantum di dalam Alkitab kita tentang Anak raja diatas segala raja, bahkan Anak Allah di sorga yang telah bersedia menjadi manusia biasa. Anak Allah bersedia mengenakan kemanusiaan kita, agar dapat mewakili kita dan mengangkat harkat dan status kita menjadi anak-anak Bapa yang di sorga (Matius 5:45). Dengan demikian Allah di dalam Yesus Kristus sudah melakukan pengorbanan besar untuk memulihkan hidup kita, yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu sepanjang hayat dikandung badan!
Allah Bapa ada di balik semua ini! Dalam Efesus 1:3,4 kita diajak untuk memuji-muji Allah, sebab Ia sudah merencanakan, dan mewujud nyatakan, satu berkat rohani yang sorgawi, ketika Ia mengutus Kristus Yesus kepada kita. Selanjutnya dikatakan bahwa di dalam Yesus itu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus tak bercacat di hadapanNya. Dari sini kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sangat mengasihi kita, dan merencanakan untuk selalu bersekutu dengan Dia baik di dunia maupun di sorga. Kerinduan Allah yang sangat kuat inilah yang menyebabkan Allah dalam kasihNya rela mengutus AnakNya ke dunia. Oleh korban Kristus diharapkan kita menjadi tahir, menjadi kudus tak bercacat sehingga dimungkinkan atau dipulihkan untuk bisa bergaul dengan Allah dalam sukacita sorgawi.
Roh Kudus tidak tertinggal. Ketika rencana Allah dilaksanakan oleh Kristus, maka injil keselamatan segera menjadi sangat penting untuk ditanggapi oleh umat manusia. Kalau sudah begitu karya Roh Kudus tidak boleh dilupakan oleh setiap orang (Efesus 1:13-14).
Tidak ada seorang berdosa yang bisa bertobat tanpa karya Roh Kudus. Hati kita bisa percaya kepada isi Injil hanya kalau digerakkan oleh Roh Kudus. Itu berarti Roh Kudus yang mempertemukan kita kepada Yesus Kristus. Kita tahu sekarang mengapa Roh Kudus merupakan jaminan keselamatan kita, sebab iman kita dikerjakan olehNya dan barang siapa beriman maka pasti diselamatkan.
Keberadaan sebagai umat Tuhan juga penting! Kecenderungan kita yang pantas adalah memandang Tuhan sebagai yang terpenting dan terutama, tapi jangan sampai lalu mengabaikan keberadaan kita sebagai umat Tuhan! Sebab Tuhan dari dulu sampai sekarang juga memandang kita sebagai umatNya yang penting, sampai hidup kita yang sudah rusak dipulihkanNya. Dan itu dikerjakan melalui pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. Dalam Yermia 31 tadi kita dapat merasakan betapa besar perhatian Tuhan terhadap umatNya. Tuhanlah yang berinisiatif untuk membebaskan umatNya dari tanah pembuangan, karena mau memulihkan hidup mereka. Tuhan bersedia hadir di Sion, supaya umatnya bersorak-sorai dan berseri-seri karena kebajikanNya. Tuhan berjanji akan melimpahkan berkat-berkat gandum, anggur, minyak serta mengubah perkabungan menjadi kegirangan. Dari dulu dan selalu Allah memikirkan kebaikan untuk kita, sampai kita bisa merasa sangat terharu jika melihat hidup kita selama ini yang dilimpahi kasih sayang. Maka berdosa besar jika kita sampai berani menghina Tuhan dengan pikiran kita bahwa kuasaNya terbatas, kasihNya merosot, keadilanNya tidak terbukti, kesetiaanNya diragukan. Bersama Pemazmur 147:5,6 mari kita mengakui kebesaran , kekuatan, dan kebijaksanaanNya, serta menegakkan kembali orang-orang yang tertindas!
KETAATAN MEMBAWA SUKACITA
Mikha 5:2-5a Lukas 1:47-55 Ibrani 10:5-10 Lukas 1:39-45
Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:
Tinggal sertaku, hari t’lah senja,
G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!
Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )
Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.
Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu, Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:
Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.
Kedua : Karena keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !
Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.
Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.” Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!” Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya. Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!
Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri tanpa menunggu
perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan. Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20 ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu. Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!
Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang dikatakan sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah Raja eschatologis, dan Raja damai.
Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!
Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!
Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya
Jawaban Doa
“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)
Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.
Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.
Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.
Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]
SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.
Ketaatan Maria
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)
Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.
Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”
Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]
SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.
Persembahan Raja
“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)
Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.
Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.
Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.
Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]
SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.
Jangan Menahan Kebaikan
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)
Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.
Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?
Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!
Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].
SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.
Biasa, Diubah Jadi Luarbiasa
“Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” (Matius 2:6)
Phillips Brooks, adalah seorang pengkhotbah ngetop di Amerika. Dia mendapat kesan yang sangat mendalam ketika merayakan Natal di gereja kelahiran Kristus di Betlehem, tahun 1865. Tiga tahun kemudian, saat menjadi pendeta di gereja Holly Trinity, Philadelphia, Brooks mencari lagu Natal baru untuk dipentaskan dalam perayaan Natal Sekolah Minggu. Dia lalu teringat pengalamannya di Betlehem itu dan menuangkannya dalam bentuk syair lagu.
Brooks lalu minta tolong Lewis H. Redner, pemain organ gereja dan pemimpin Sekolah Minggu untuk dibuatkan melodinya. Selama beberapa hari Redner bekerja keras mencari nada-nada yang cocok, tapi tidak menemukan nada yang pas. Sore hari sebelum malam Natal, tiba-tiba Redner terbangun dari tidurnya. Telinganya terngiang-ngiang sebuah musik yang kemudian digunakan untuk mengiringi syair “Hai Kota Mungil Betlehem”.
Dalam syair itu dikatakan bahwa Betlehem adalah kota yang senyap. Hal itu beralasan, karena Betlehem adalah kota yang kecil. Dia kalah gemerlap dengan kota Yerusalem. Meski begitu, Allah lebih memilih “kota mungil” ini sebagai kelahiran Juruselamat.
Apakah Anda merasa seperti kota Betlehem? Kecil, sepi, tidak gemerlap dan tidak banyak orang yang memperhatikan. Ketahuilah, Allah tidak memedulikan penampilan dan kemampuan kita. Allah hanya menghendaki kemauan kita untuk dipakai-Nya. Bukanlah Allah itu Mahakuasa? Dia mampu mengubah orang-orang biasa seperti Petrus dkk menjadi rasul yang luarbiasa. Dia pun sanggup memerlengkapi kita sesuai dengan kebutuhan panggilan pelayanan-Nya [Purnawan].
SMS from God: Kecil bukan berarti tidak berharga. Allah mampu mengubah kita menjadi besar asalkan kita memberikan diri secara total.
BELAJAR DARI SI BUTA
Markus 8:22-25
Oleh Adi Netto Kristanto
Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia.
Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.”
Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
Di dunia Timur dari dulu sampai sekarang, kebutaan dianggap sebagai kutukan yang hebat. Padahal kebutaan itu dikarenakan kurangnya kebersihan badan dan perawatan mata. Merupakan hal yang lumrah melihat orang-orang dengan mata berkerak keras dan lalat-lalat hinggap di atasnya.
- Yesus memiliki tenggang rasa yang unik terhadap orang buta ini, yakni membawa orang buta ini keluar kampung. Mengapa demikian? Maksud Yeus adalah supaya orang buta ini tidak kaget dengan hal-hal baru yang akan dilihatnya nanti setelah matanya celik. “Seorang dokter yang baik mau menyelami akal dan hati pasiennya”, itu yang Yesus coba lakukan terhadap orang buta tadi.
- Masyarakat kuno percaya bahwa air ludah mempunyai khasiat menyembuhkan. Kita ingat, kalau jari kita terluka maka secara spontan kita memasukkannya ke dalam mulut sebagai pertolongan pertama. Oleh karena itu Yesus menggunakan media ludah untuk melakukan mukjizatNya.
- Mukjizat yang dilakukan Yesus adalah mukjizat yang sangat unik, mengapa? Biasanya mukjizat Yesus dilakukan sekali dan langsung selesai. Namun kali ini mukjizat Yesus terjadi secara bertahap. Pertama orang buta itu melihat orang-orang yang berjalan seperti pohon-pohon dan kedua barulah orang buta itu dapat melihat dengan jelas.
Kita dapat belajar dua hal dari Perikop ini:
Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai
Oleh: Pdt.Em. Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 27 September 2009
Minggu Biasa XXI
SIAPA MENABUR ANGIN AKAN MENUAI BADAI
Ester 7:1-6; 9-10; 9:20-22 Mazmur 124 Yakobus 5:13-20 Markus 9:38-50
Konon di Yunani ada seorang pahlawan olahraga yang sangat dicinta dan dihormati oleh warga kota, mereka lalu mendirikan patungnya yang megah dan indah. Tapi diam-diam ada seorang olahragawan lain, pesaingnya yang iri hati dan sangat membencinya. Pada malam hari ia datang dengan alat di tangannya, untuk merusak dengan maksud akan merobohkan patung itu.Akhirnya, ia berhasil juga merobohkan patung besar itu, tetapi malang baginya sebab ia kejatuhan patung yang berat itu sehingga mati seketika! Keesokan paginya masyarakat yang melihat kejahatan dan pelakunya itu, hanya dapat menggelengkan kepala penuh keperihatinan. Begitulah jika orang menabur iri dan benci, maka kematianlah yang dituainya. Adam dan Hawa menabur pelanggaran, menuai badai dosa dan derita yang berkepanjangan, sampai keturunannya juga harus ikut merasakan Kain anak mereka sama saja, menabur iri hati yang dilampiaskan melalui pembunuhan yang sadis, maka untuk semua itu ia harus melakoni pengembaraan panjang yang menakutkan. Jika kita cermati, sesungguhnya firman Tuhan banyak mengisahkan dan menasehati kita, tapi mengapa kita jadi pelupa kalau sudah berurusan sama Tuhan? Mungkin karena Tuhan itu terlalu baik, lalu kita pandang enteng. Kalau memang begitu, berarti kita ini kurang bijak. Kepada yang sangat baik seharusnya kita lebih bersungguh hati memberi perhatian, bukan sebaliknya. Read the rest of this entry »
Kisah Karpet
Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.
Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.
Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.
Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:
"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan"
Ibu itu kemudian menutup matanya.
"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"
Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.
Virginia Satir melanjutkan; "Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”
“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".
Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.
"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu".
Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.
"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya
"Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?"
Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".
Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.
Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut
pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif,
salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.
Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :
Saya BERSYUKUR;
1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,
karena itu
artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain
2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV,
karena itu
artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.
3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal,
karena itu
artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan
4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar,
karena itu
artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan
5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,
karena itu
artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman
6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan,
karena itu
artinya saya cukup makan
7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,
karena itu
artinya saya masih mampu bekerja keras
8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,
karena itu
artinya masih ada kebebasan berpendapat
9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,
karena itu
artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup
10. Untuk dst…
___________________________________________________________________












