ANAK SULUNG’ PUN SEHARUSNYA DAPAT IKUT BERGEMBIRA

0

Posted on : 27-02-2010 | By : GKI | In : Renungan, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 2.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Yosua 5:9-12  Mazmur 32  II Korintus 5:16-21  Lukas 15:1-3,11b-32

Prodigal Son

Seorang psikolog melaporkan sebuah penemuan yang mencengangkan atas hasil surveinya. Ia melakukan interview dengan para narapidana  di penjara-penjara Amerika Serikat. Hasilnya, tidak satu pun dari mereka yang mengaku bersalah atas tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka. Jawaban klasik yang mereka berikan adalah bahwa mereka  berada pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan bertemu dengan orang yang salah. Akhir dari penelitian itu menyimpulkan bahwa  sekumpulan terbesar  orang yang tidak bersalah akan Anda temukan di dalam penjara. Memang sangat ironis, mengingat tempat yang menampung orang bersalah terbanyak di dunia ini adalah penjara.

Seorang tua berjalan dalam kegelapan malam dan berhenti di bawah sebuah lampu jalanan. Ia terlihat serius mencari-cari sesuatu yang hilang, namun belum juga berhasil  menemukan apa yang dicarinya. Kemudian, datang seorang pemuda yang menanyakan, “Apa yang sedang Bapak cari?”  Jawab si bapak, “Saya sedang mencari kunci saya yang hilang.”  Anak muda itu langsung menawarkan bantuannya untuk mencari kunci tersebut. Setelah satu jam mencari, akhirnya si anak muda pun menyerah. Dengan putus asa ia berkata kepada bapak tua, “Kita telah mencari di semua tempat sekitar sini dan belum juga menemukannya. Apakah Bapak yakin kehilangan kunci itu di sekitar tempat ini?”  Orang tua itu menjawab dengan malu, “Oh tidak, kunci itu hilang di rumah, tapi rumah saya tidak memiliki penerangan yang cukup sedangkan tempat ini kelihatannya lebih terang daripada rumah saya.”  ( Dari Buku Champion }

Dalam hidup ini kita tentu mempunyai kesalahan, bahkan mungkin kesalahan atau dosa kita itu sangat banyak dan besar. Hanya saja kadang kita tidak menyadari atau sengaja tidak mau memikirkan, apalagi mengakui bahwa bersalah. Sikap itu tentu menimbulkan masalah dalam pergaulan kita dengan sesama dan Tuhan tentunya. Para narapidana di Amerika Serikat itu misalnya. Kesalahan kita juga kadang sudah berubah menjadi suatu kebodohan, sebab sangat keterlaluan. Terlebih lagi jika ditambah  dengan tindak-lanjut yang tidak masuk akal dan jauh dari sikap bijaksana. Seperti yang dilakukan oleh pak tua yang kehilangan kunci tadi.

Mari bercermin dari perumpamaan Tuhan Yesus. Dalam Lukas 15:2 kita membaca: Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya:”Ia (Yesus) menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu lupa bahwa mereka itu bukanlah orang-orang  suci, malah kejahatannya bisa lebih besar dari pemungut cukai dan anggota masyarakat  yang dipandang berdosa. Menanggapi  orang-orang yang merasa sok suci, maka Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan ini yang terkenal sampai di seluruh dunia. Ada tiga tokoh penting dalam perumpamaanNya, yaitu: ayah, si bungsu dan si sulung. Lebih dulu akan kita kritik sikap mereka itu, supaya jangan sampai menular dalam hidup kita sekarang.

Si bungsu yang cari perkara. Kita mulai dengan si bungsu yang diam-diam selalu memikirkan warisan orang tuanya, padahal sang ayah masih hidup. Mungkin saja dia mengharapkan ayahnya lekas mampus, tapi karena tak kunjung mati juga maka ia memberanikan diri meminta bagiannya. Terpaksa sang ayah melakukan pembagian warisan di antara mereka berdua. Dalam waktu singkat si bungsu mencairkan warisannya untuk menjadi bekal petualangannya. Bukan untuk berumah tangga atau membuka suatu usaha, tapi hanya untuk pergi ke tempat yang jauh mengejar kesenangan semata.  Harta miliknya diboroskan, untuk hal-hal yang  tidak perlu, bahkan untuk berfoya-foya dan sangat mungkin berhubungan dengan kehidupan yang kotor. Sesudah terlepas dari pengawasan orang tua, seharusnya dia bisa berhemat demi masa depannya. Pengeluaran tanpa pemasukan pasti berakhir dengan kebangkrutan, apalagi jika terjadi musibah, dalam hal ini bencana kelaparan. Alkitab menyatakan bahwa si bungsu pun mulai melarat! Kita bisa melihat  bahwa dosa tidak harus ditandai dengan perbuatan jahat seperti membunuh, mencuri atau berbuat zinah. Di tempat yang jauh dan asing itu si bungsu mungkin saja dikenal sebagai seorang  “dermawan” dan baik hati, tapi prilakunya itu tidak bertanggung jawab, bahkan menjurus kepada kebodohan dan dosa! Uang dalam kantongnya itu adalah satu-satunya peninggalan atau warisan dari seorang ayah yang sangat mengasihinya. Di sini seharusnya ada tanggungjawab moral, ada ikatan batiniah yang mendalam antara anak dan ayah. Tapi si bungsu tidak mengasihi ayahnya, dan tidak dapat menghargai pemberiannya. Dengan demikian dia juga telah berdosa kepada Tuhan. Maka dalam penyesalannya ia pun berkata: “Aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.” Percayalah bahwa Tuhan selalu membuka tangan dan hatiNya. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi” Mazmur 32:1    Kita dapat memetik beberapa  pelajaran dari pengalaman si bungsu. Pertama, Dalam hidup ini kita memang boleh  mengadakan “langkah besar” demi idealisme, impian serta cita-cita Tapi kita tidak boleh gegabah! Jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk dan melukai hati orang-orang dekat. It’s better to lose your pride, than to lose the one you love. Lebih baik jika kehilangan sesuatu yang kita banggakan, dari pada kehilangan seseorang yang kita cintai. Kedua, Tuhan memang  memelihara dan memimpin perjalanan hidup kita, tapi kita harus mau berjuang dan bertahan dalam segala situasi yang terburuk sekali pun. Ketiga, Jika sampai mengalami kegagalan dan penderitaan, pandanglah Tuhan dan bangkitlah! Sebab kita adalah anak yang sangat dikasihi oleh Bapa sorgawi, dan setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita pasti ada hikmatnya. When something happen to you, good or bad, consider what it means.

Seorang ayah yang merugi, karena kesalahannya sendiri! Jelas bahwa dia kurang menyiapkan anak-anaknya, untuk menjadi orang dewasa yang utuh. Dalam hal ini dia tidak dapat menggambarkan Bapa- sorgawi.Tugas orang tua di mana pun adalah mendidik anaknya menjadi dewasa, yang utuh! Kedua anaknya hanya dewasa secara fisik, kiprah dan sikap mereka mengecewakan! Pendidikan rohaniah untuk anak harus diutama, tidak bisa ditawar-tawar lagi dan tidak bisa ditunda atau diambil oper orang lain. Sebenarnya sang ayah tadi sangat mengasihi kedua anaknya, tapi dengan mengabaikan yang satu ini, pendidikan rohaniah, berarti dia sudah mencoret kasihnya itu. Mewariskan harta kepada anak-anaknya bukanlah merupakan prestasi yang membanggakan, sebab masih ada warisan lain yang lebih bernilai tinggi!

Anak sulung yang masgul. Bisa juga: Anak sulung yang kebakaran jenggot! Masgul atau merasa sedih membayangkan adiknya yang bisa hidup bebas dan senang di luar negeri, sedangkan dia terbelenggu oleh pekerjaan rutin yang membosankan. Juga sedih ketika melihat adiknya masih juga disambut dengan hangat, meskipun pulang membawa aib bagi keluarga. Kebakaran jenggot atau kebingungan ketika menyadari bahwa ayahnya dan orang-orang lain dalam rumahnya melimpahi begitu banyak perhatian, kekaguman serta cinta kasih kepada seorang pecundang yang lebih pantas dicaci maki dan diusir! Anak sulung itu seharusnya bisa ikut bergembira ria, sekiranya dia memiliki hati seperti ayahnya. Hati yang selalu merindukan kepulangan si bungsu. Hati yang tersentak girang tatkala mendapati kenyataan bahwa yang sudah dianggap mati,  tiba-tiba hidup kembali. Hati yang penuh persediaan maaf dan ampun, hati yang berbelas kasih, tanpa niat sedikit pun untuk menggugat, mengusir apalagi menghukum. Tapi hati yang seperti itu tidak dimiliki sang kakak, sebab dia cuma merasakan kejanggalan pada sikap ayahnya. Anak sulung merasa tidak nyaman, karena dikerumuni rasa iri, gemas dan geram yang menari-nari seperti pemain cadangan yang minta segera di luncurkan ke tengah lapangan bola! Dalam hidup ini saudara kandung bisa lebih jahat dari seorang musuh, dan seorang teman bisa lebih baik dari saudara kandung. Di dalam gereja Tuhan kita telah sepakat untuk menerima setiap orang sebagai saudara kita. Kesepakatan kita jangan cuma di bibir saja, tapi dalam ikatan kasih Kristus mari kita wujud nyatakan terus dari waktu ke waktu. Kalau itu yang terjadi maka kita telah memperoleh keuntungan besar, mempunyai banyak saudara dan saudari seiman dalam keluarga besar Yesus Kristus!

Persaudaraan umat Allah sejak zaman Yosua. Sehubungan dengan ‘cela Mesir’ yaitu dosa para prajurit tatkala keluar dari Mesir, maka lalu diadakan penyunatan massal. Ciri fisik yang menandai sunat itu bersifat permanen, menunjukkan betapa mantapnya perjanjian dengan Tuhan dan persaudaraan umat Tuhan. Dalam Kristus sunat sudah disempurnakan menjadi Baptis Kudus, baik untuk pria maupun wanita. Kolose 2:11,12 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.”  Setelah sunat massal, umat Tuhan juga merayakan  Paskah, ditandai dengan makan roti tak beragi. Semua itu mengingatkan bahwa kita mempunyai Tuhan yang suka mengampuni dosa, dan mempersekutukan kita dalam kasih persaudaraan, yang pada saat mengalami kesakitan dan kepahitan justeru semakin dapat bergandeng tangan.

Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru! Dalam seluruh Alkitab sebenarnya sudah tersurat dan tersirat, kerinduan Tuhan untuk membarui hidup kita. Itu sebabnya maka Kristus telah berjuang dan berhasil meletakkan dasar yang kokoh, ketika Dia menjadi pendamai di antara kita dengan Allah dan sesama. Dengan demikian di dalam Kristus kita bisa menjadi ciptaan baru, yang tidak lagi berorientasi kepada yang lapuk. Perumpamaan anak yang hilang juga menyimpan pesan agar setiap orang bersedia menjadi bagian dari ciptaan baru. Bukan hanya ayah dan si bungsu saja yang dapat bergembira, anak sulung pun seharusnya dapat ikut bergembira, sebab ciptaan baru harus ditandai dengan hidup sukacita, di tengah keluarga, di dalam jemaat Tuhan, di tempat kerja dan di mana pun!

Oleh: Pdt.Em Daud Adiprasetya
Renungan Minggu, 14 Maret 2010
Pra –Paska IV

ALLAH DATANG MEMULIHKAN HIDUP MANUSIA

0

Posted on : 29-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Minggu- 03 Januari 2010

Hari Minggu Kedua setelah Natal

Yeremia 31:7-14 Mazmur 147:12-20 Efesus 1:3-14 Yohanes 1:1-9, 10-18

ElangPernahkah Anda melihat seekor elang perkasa meliuk-liuk di atas udara? Apa yang Anda pikirkan mengenai binatang yang satu ini? Tentu terlintas di pikiran bahwa sang elang adalah penguasa langit yang diberi kodrat dari Sang Pencipta untuk menjadi “raja” di udara; terbukti elang dikaruniai umur yang paling panjang jika dibandingkan saudara – saudara unggas lainnya. Seekor elang dewasa mampu bertahan hidup sampai umur 70 tahun. Namun, tahukah Anda bahwa setiap elang dewasa ketika memasuki usia ke-40 tahun harus membuat keputusan yang berat dalam hidupnya? Suatu perubahan besar menanti dan keputusan yang besar harus mampu diputuskan. Hal ini terjadi karena paruhnya tidak mampu lagi menangkap mangsa karena kepanjangan dan bengkok ke dalam hingga hampir menyentuh dada. Demikian juga dengan cakarnya yang menua, mengakibatkan sulit mencengkeram mangsanya. Hal lain yang terjadi dengan berjalannya usia adalah bertambah lebat dan berat bulu sayapnya yang mengakibatkan sang elang sulit terbang tinggi. Hanya ada dua pilihan berat yang harus dipilihnya, mati kelaparan atau menjalani proses perubahan yang sangat menyakitkan selama 150 hari. Proses ini mengharuskan ia terbang ke atas puncak gunung yang tinggi untuk memulai proses perubahan. Pertama-tama, elang harus menghantamkan paruhnya berkali-kali pada batu sampai terlepas dari mulutnya. Setelah paruh terlepas, sang elang harus menunggu sampai paruh barunya tumbuh kembali. Proses kedua, sang elang juga harus mencabut cakarnya yang menua untuk membiarkan tumbuhnya cakar yang baru. Proses terakhir adalah mencabut satu per satu bulu di sekujur tubuhnya. Inilah proses yang panjang dan menyakitkan yang harus dijalani selama lima bulan. Bagaimanapun, berkat proses inilah si elang mampu hidup 30 tahun lebih lama. ( Dari Buku Champion ).

Pertama-tama perlu kita ketahui, bahwa karya pemeliharaan yang dilakukan Tuhan atas binatang adalah melalui naluri mereka. Berbeda dengan kita, sebagai ciptaan Tuhan yang paling tinggi derajatnya di muka bumi ini. Sebab aspek kehidupan kita sangat luas sampai menyentuh bidang rohaniah, maka kita melihat hebatnya karya pemeliharaan dan pemulihan yang dilakukan oleh Tuhan. FirmanNya yang kita baca hari ini menunjukkan bagaimana Allah datang memulihkan hidup kita. Tadi kita membaca bahwa Tuhan sudah memulihkan si elang melalui nalurinya, sekarang kita juga mau melihat betapa Tuhan memulihkan kita melalui cara yang lain!

Mengapa hidup manusia perlu dipulihkan? Dari Injil Yohanes yang kita baca tadi tertulis dan tersirat lima hal yang menyebabkan mengapa manusia perlu dipulihkan.

Pertama, sebab manusia tidak percaya kepada Yesus (Yohanes 1:7b). Padahal dalam ayat yang sangat terkenal , yaitu Yohanes 3:16, dikatakan bahwa yang percaya kepada Yesus tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Bisa ditarik kesimpulan, jika manusia tidak mau mempercayaiNya maka akan binasa dan tidak memperoleh hidup yang kekal. Kita dapat membayangkan betapa hancur hati Allah melihat begitu banyak manusia yang akan mengalami kebinasaan serta tidak beroleh hidup yang kekal. Lalu, inilah yang dilakukan oleh Allah, Ia mengutus AnakNya yang tunggal Yesus Kristus sang Firman itu untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dibayang-bayangi kebinasaan!

Kedua, sebab manusia tidak mengenal Yesus (Yohanes 1:10). Dapat juga dikatakan bahwa manusia tidak mau mengenalNya. Dalam kurun waktu yang cukup, banyak orang sudah diberi kesempatan untuk mengenal Yesus Kristus, tapi tetap saja tidak bersedia! Belum lagi mengenal dalam arti yang sesungguhnya, yaitu menjalin hubungan secara pribadi dengan Yesus sebagai Sahabat dan Juruselamat.

Ketiga, sebab manusia tidak mau menerima Yesus (Yohanes 1:11). Padahal Yesus sudah memberikan diriNya supaya Ia menjadi milik kita! Jika manusia memiliki Yesus Kristus secara pribadi dalam hidupnya, alangkah bahagianya sebab Yesus adalah segala-galanya bagi kita. Karena tidak percaya, tidak mau mengenal, maka tidak mau menerima Yesus dan akhirnya tidak memiliki yang paling berharga dalam hidup ini. Itulah nasib buruk yang sangat menyedihkan. Supaya manusia terhindar dari keterlanjuran ini, maka Allah bermurah hati mau datang untuk memulihkan hidup manusia.

Keempat, sebab manusia tidak hidup dalam kasih (Yohanes 1:17). Hanya kasih yang dari Allah saja yang murni dan sejati, maka sangat dibutuhkan oleh semua manusia di dunia. Tapi manusia yang tidak mengutamakan persekutuan dengan Allah semakin kehilangan kasih, seperti pelita yang kehabisan minyak. Maka berangkat dari kasihNya, Yesus sang Firman yang hidup itu datang mewakili Allah untuk memulihkan hidup manusia yang sudah dicabik-cabik oleh kebencian, dendam, iri, dengki dan egoisme.

Kelima, sebab manusia tidak hidup dalam kebenaran (Yohanes 1:17). Manusia lebih menyukai dosa, penyelewengan, kejahatan sehingga tidak bisa bergaul dengan Allah. Hubungan manusia dengan Allah sudah retak, sehingga hanya bisa diperbaiki oleh Allah. Yesus Kristus adalah sang Kebenaran (Yohanes 14:6) yang selain dapat mengajarkan kebenaran Allah juga dapat membenarkan manusia di hadapan Allah. Kita yang salah di hadapan Allah akan dianggap benar, karena Allah yang Maha Adil mau memandang Yesus sebagai wakil kita, dan menerima karyaNya untuk menebus kita.

Mengapa Yesus mempunyai kedudukan sentral dalam hidup kita? Hal itu dijelaskan dalam ayat ke-18 dengan sangat indahnya: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya.”

Maha Tinggi Allah menyebabkan kita tidak dapat menghampiriNya. Juga karena Allah itu Roh, maka kita tidak dapat melihatNya. Keadaan kita yang hina dina karena dosa, menyebabkan kita tidak mungkin dapat bergaul dan diperkenan oleh Allah. Tapi , tiba-tiba saja manusia tersentak oleh kejutan besar bahwa Allah sudah keluar dari “tempat persembunyianNya”. Kini Allah dapat dilihat dan diraba ( IYohanes 1:1) Yesus Sang Anak Tunggal yang berada dalam jalinan kasih kekal dengan BapaNya itu, sudah datang memperkenalkan Allah kepada kita. Di dalam Yesus maka Allah menjadi sangat dekat dengan kita, karena Ia mau memakai kemanusiaan kita. Di sini ada satu cerita mengenai Kerajaan Inggris. Konon pernah terjadi peristiwa yang sangat unik sebagai berikut: Suatu hari bertemulah Edwart putera mahkota yang masih belia waktu itu, dengan Tom Canty seorang remaja yang berasal dari keluarga miskin. Perawakan dan wajah mereka ternyata sama persis seperti pinang dibelah dua. Lalu tercetus ide gila yang disepakati oleh mereka berdua, yaitu mulai hari itu mereka bertukar pakaian dan peran. Dapat kita bayangkan alangkah nyaman hidup Tom Canty, tetapi sebaliknya Edwart sangat menderita sebab mempunyai orang tua miskin yang memaksanya untuk melakukan pekerjaan yang kasar! Kebenaran dari kisah ini boleh saja meragukan, tapi jangan sekali-kali meragukan kisah lain yang tercantum di dalam Alkitab kita tentang Anak raja diatas segala raja, bahkan Anak Allah di sorga yang telah bersedia menjadi manusia biasa. Anak Allah bersedia mengenakan kemanusiaan kita, agar dapat mewakili kita dan mengangkat harkat dan status kita menjadi anak-anak Bapa yang di sorga (Matius 5:45). Dengan demikian Allah di dalam Yesus Kristus sudah melakukan pengorbanan besar untuk memulihkan hidup kita, yang patut kita syukuri dari waktu ke waktu sepanjang hayat dikandung badan!

Allah Bapa ada di balik semua ini! Dalam Efesus 1:3,4 kita diajak untuk memuji-muji Allah, sebab Ia sudah merencanakan, dan mewujud nyatakan, satu berkat rohani yang sorgawi, ketika Ia mengutus Kristus Yesus kepada kita. Selanjutnya dikatakan bahwa di dalam Yesus itu Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus tak bercacat di hadapanNya. Dari sini kita mengetahui bahwa sesungguhnya Allah sangat mengasihi kita, dan merencanakan untuk selalu bersekutu dengan Dia baik di dunia maupun di sorga. Kerinduan Allah yang sangat kuat inilah yang menyebabkan Allah dalam kasihNya rela mengutus AnakNya ke dunia. Oleh korban Kristus diharapkan kita menjadi tahir, menjadi kudus tak bercacat sehingga dimungkinkan atau dipulihkan untuk bisa bergaul dengan Allah dalam sukacita sorgawi.

Roh Kudus tidak tertinggal. Ketika rencana Allah dilaksanakan oleh Kristus, maka injil keselamatan segera menjadi sangat penting untuk ditanggapi oleh umat manusia. Kalau sudah begitu karya Roh Kudus tidak boleh dilupakan oleh setiap orang (Efesus 1:13-14).

Tidak ada seorang berdosa yang bisa bertobat tanpa karya Roh Kudus. Hati kita bisa percaya kepada isi Injil hanya kalau digerakkan oleh Roh Kudus. Itu berarti Roh Kudus yang mempertemukan kita kepada Yesus Kristus. Kita tahu sekarang mengapa Roh Kudus merupakan jaminan keselamatan kita, sebab iman kita dikerjakan olehNya dan barang siapa beriman maka pasti diselamatkan.

Keberadaan sebagai umat Tuhan juga penting! Kecenderungan kita yang pantas adalah memandang Tuhan sebagai yang terpenting dan terutama, tapi jangan sampai lalu mengabaikan keberadaan kita sebagai umat Tuhan! Sebab Tuhan dari dulu sampai sekarang juga memandang kita sebagai umatNya yang penting, sampai hidup kita yang sudah rusak dipulihkanNya. Dan itu dikerjakan melalui pengorbanan dan perjuangan yang tidak mudah. Dalam Yermia 31 tadi kita dapat merasakan betapa besar perhatian Tuhan terhadap umatNya. Tuhanlah yang berinisiatif untuk membebaskan umatNya dari tanah pembuangan, karena mau memulihkan hidup mereka. Tuhan bersedia hadir di Sion, supaya umatnya bersorak-sorai dan berseri-seri karena kebajikanNya. Tuhan berjanji akan melimpahkan berkat-berkat gandum, anggur, minyak serta mengubah perkabungan menjadi kegirangan. Dari dulu dan selalu Allah memikirkan kebaikan untuk kita, sampai kita bisa merasa sangat terharu jika melihat hidup kita selama ini yang dilimpahi kasih sayang. Maka berdosa besar jika kita sampai berani menghina Tuhan dengan pikiran kita bahwa kuasaNya terbatas, kasihNya merosot, keadilanNya tidak terbukti, kesetiaanNya diragukan. Bersama Pemazmur 147:5,6 mari kita mengakui kebesaran , kekuatan, dan kebijaksanaanNya, serta menegakkan kembali orang-orang yang tertindas!

KETAATAN MEMBAWA SUKACITA

0

Posted on : 09-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal, khotbah
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mikha 5:2-5a  Lukas 1:47-55  Ibrani 10:5-10   Lukas 1:39-45

Dalam sebuah rumah sakit, di kota yang kecil berbaring seorang ibu yang sedang menantikan ajalnya. Sebenarnya dia sedang menghadapi situasi yang sangat sulit dan menyedihkan sebab di rumah sakit itu ia hanya didampingi oleh seorang juru rawat. Saat itu  dia sedang terpisah jauh dari suami, anak-anak dan kerabatnya yang lain.Meskipun demikian dalam iman kepada Kristus ada damai sejahtera di hatinya, dan dengan tubuh yang lemah itu ia mulai mengalunkan sebagian dari lagu yang sudah kita kenal ini:

Tinggal sertaku, hari t’lah senja,

G’lap makin turun, Tuhan, tinggallah!

Sakitnya bertambah parah dan wajahnya semakin pucat, tetapi berkatalah ia dengan penuh sukacita: “Saya melihat sebuah cahaya terang! Oh betapa cemerlangnya disana itu, di balik kegelapan …. kemuliaan fajar telah merekah.” ( John Ritchie )

Bagi ibu ini kemuliaan fajar adalah sukacita surgawi yang diyakini sudah menantinya, sebagai kelanjutan dari kegelapan hidup dosa yang ditandai penderitaan dan kematiannya sebentar lagi. Dalam Mazmur 116:15 tertulis: “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Pastilah kematian orang beriman yang mengasihi dan taat kepada Tuhan. Sekarang ini kita bisa mengatakan bahwa kematian kita dihargai Tuhan, sebab sudah ditebus oleh Kristus yang taat sampai hembusan nafasNya yang terakhir.

Segalanya serba Roh Kudus! Demi Allah menghadirkan dan kita menyongsong Kristus, maka terlihatlah segalanya serba Roh Kudus. Sejak dalam rahim ibu,  Yohanes Pembaptis sudah penuh dengan Roh Kudus (Lukas 1:15 ). Maria dan Bayinya juga dipenuhi Roh Kudus (Lukas 1:35), begitu pula dengan Elisabet (Lukas 1:41). Mengetahui semua ini apakah yang dapat kita katakan? Ada beberapa hal yang patut kita catat:

Pertama : Keselamatan kita sungguh hanya dari dan oleh Tuhan. Untuk menolong umat manusia dari jurang dosa yang sangat dalam, Tuhan tidak melihat jalan lain kecuali hanya melalui mujizat illahi semata.

Kedua : Karena  keselamatan adalah karunia Tuhan yang sangat besar, maka patutlah kita sambut dengan penuh sukacita. Semua aspek kehidupan kita  seharusnya diwarnai oleh sukacita, sehingga kita bisa bersukacita senantiasa !

Ketiga : Sebagaimana Yesus Kristus dalam karyaNya menghadapi banyak tantangan sehingga Ia harus tekun dan taat sampai mati tersalib, begitu pula seharusnya kita menunjukkan ketaatan dalam iman kita kepadaNya.

Gerakan Roh Kudus. Gerakan Roh Kudus yang paling besar dalam hidup Maria adalah tatkala ia menanggapi panggilan Tuhan lewat malaikatNya. Saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati Maria untuk berkata kepada Malaikat Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”  Kemudian diakhiri dengan informasi yang menarik, yaitu: “Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”  Hal itu memberi kesan bahwa malaikat Tuhan menganggap tujuan dari kunjungannya sudah tercapai sepenuhnya, maka dengan bergegas penuh sukacita ia ingin melapor kepada Tuhan yang mengutusnya. Bisa ditambahkan, supaya Tuhan tidak perlu memikirkan siapa pengganti Maria, sebab perawan satu ini sudah  menyatakan kesediaannya untuk melakukan kehendak Tuhan yang maha penting itu! Sejak saat itu Maria fokus kepada tugas kudus yang diembannya. Maka di ayat 39 kita melihat langkah pertama sang calon ibu Mesias itu, mengadakan perjalanan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda untuk menemui keluarga Zakharia. Diperkirakan perjalanan itu harus ditempuhnya beberapa hari; maka jika hanya seorang diri saja berarti ada resiko keamanan yang harus dihadapinya. Dalam pergaulan di lingkungan gereja, saya pernah merasa kagum melihat ada yang seorang diri saja  berani mengadakan perjalanan yang begitu jauh dan sulit. “Saya tidak sendirian Pak, ditemani Tuhan!”  Penjelasan seperti itu sangat Alkitabiah  sebab dialami oleh banyak tokoh dalam Alkitab, termasuk Maria tentunya.  Jika Maria melakukan kegiatan yang berhubungan dengan panggilannya, maka tentulah digerakkan, dilindungi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Memang tidaklah sepi tantangan dan halangan, tapi jika disertai Roh Kudus pasti akan membawa hasil yang terbaik!

Roh Kudus tidak membuat manusia menjadi robot! Maria berinisiatif sendiri  tanpa menunggu perintah khusus dari Tuhan, memberanikan diri berangkat ke tempat yang jauh dan penuh tantangan. Mengapa ia mengunjungi Elisabet? Mungkin mau melihat sejauh apa “keterlibatan” Elisabet dalam rencana Allah, atau mau mengadakan tukar informasi dan pengalaman yang dapat saling menguatkan.  Sejak kunjungan Malaikat itu, sejak bersedia menjadi alat Tuhan yang kecil tapi hidup, maka Maria menyerahkan seluruh hidupnya dalam pimpinan Roh Kudus! Tidak berarti lalu menjadi robot dari Roh Kudus, sebab Maria tetap boleh menggunakan nalar, pertimbangan, fasilitas dan seterusnya, dengan catatan tetap sebagai orang beriman yang taat dan mengutamakan hubungan batiniah dengan Tuhan. Kita lalu diingatkan  kepada ucapan rasul Paulus dalam Galatia 2:20  ” namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Semua bersukacita! Sang tamu dan pihak tuan rumah, bahkan sang jabang bayi dalam kandungan ibu! Suatu perjumpaan yang menyenangkan, tak ada yang merasa sedih atau tertekan. Pasti bukan hanya basa-basi ketika Elisabet bertutur tentang lonjakan dari bayi dalam kandungannya karena  kegirangan, sesudah Maria mengucapkan salamnya. Sebetulnya apakah yang menjadi inti dari sukacita mereka itu? Bukan karena ada kunjungan seorang Maria dari tempat yang jauh. Juga bukan karena kedua wanita itu sama-sama beroleh mujizat kehamilan. Tetapi inti dari sukacita mereka, yang harus pula menjadi inti dari sukacita seluruh umat manusia adalah bahwa Sang Juruselamat sudah datang! Cara yang ditempuh dan orang yang dipilih memang serba mengherankan, tapi kesediaanNya untuk hadir adalah yang paling mengherankan dan membuat kita semua bersukacita! Coba kita renungkan dengan sungguh-sungguh, jika karena kasihNya kepada kita maka Allah sampai mengutus Putera tunggalNya, supaya mati tersalib ganti kita, hal itu sungguhlah sangat mengherankan dan mendatangkan sukacita yang sebesar-besarnya! Disini ada sedikit cerita yang dapat menyentuh hati kita: Ada sepasang suami isteri yang sangat miskin, sampai mau menjual salah seorang anaknya untuk kelangsungan hidup mereka sekeluarga. Maka pada malam hari mereka berdua merundingkan dari empat anak mereka itu, siapakah yang paling cocok untuk dijual. Mulai dari si sulung, langsung dicoret namanya sebab sudah besar, sayang seribu sayang, bisa bantu-bantu orang tua. Nomer dua, juga dicoret sebab mempunyai watak yang baik seperti ayahnya. Nomer tiga juga dicoret sebab memiliki wajah yang  mirip dengan ibunya. Kini tinggal yang nomer empat, si bungsu satu-satunya wanita, tubuhnya kurus sangat membutuhkan asi dari ibu.  Sepanjang malam dan malam-malam berikutnya “rapat orang tua” selalu berakhir dengan keputusan yang sama: Rencana dibatalkan sebab tidak sampai hati! Tapi bagaimanakah dengan putusan “Rapat illahi”? Rencana memberikan Anak tunggal untuk disalibkan disetujui demi kasih kepada dunia! Rasa tidak sampai hati harus diabaikan, dan ketaatan sang Anak untuk diutuspun diperhitungkan agar dapat mendatangkan sukacita yang besar bagi dunia!

Raja Mesias sudah dipersiapkan secara mantap! Nabi Mikha menyebut tempat yang kecil, Betlehem Efrata (Mikha 5:1). Sebagai orang yang sudah mengenal Tuhan Yesus, langsung kita meyakini bahwa itulah nubuat tentang tempat kelahiran Kristus. Walaupun Ia itu disebut Raja Mesias tetapi kerendahan hatiNya memilih tempat yang kecil, bahkan ditandai dengan kesederhanaan. Walau Ia ada di dalam kekekalan, yang  dikatakan  sejak dahulu kala namun telah menyejarah melalui suatu kelahiran oleh seorang  perempuan. Selanjutnya menggembalakan dalam kekuatan Tuhan, menjadi besar sampai ke ujung bumi. Serta menjadi damai sejahtera. Umat Tuhan pada zaman nabi Mikha pasti hanya mengharapkan perubahan  dalam jangka pendek, padahal Tuhan sedang memandang jauh ke depan, dan bagi kepentingan seluruh umat manusia di dunia. Raja Mesias adalah  Raja eschatologis, dan Raja damai.

Yesus Kristus menjadi korban damai yang besar! Membuat Allah tidak berkenan kepada segala korban yang lain, juga meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat. Sebab semua korban yang dipersembahkan hanya menjadi gambar dari yang satu ini, korban Anak Domba Allah, yang diakui sebagai satu-satunya yang sah dan sempurna, satu kali untuk selamanya (Ibrani 10:5-10). Anda merasa berdosa kepada Allah? Punya ganjalan di hati dengan Allah? Jangan coba-coba menyuap Allah dengan memberi persembahan dalam bentuk apa pun, kecuali hanya melalui satu jalan yang sudah disediakan oleh Allah, yaitu datang kepada Yesus Kristus. Allah berkenan kepada Yesus karena ketaatanNya, sekarang Yesus juga berkenan kepada kita jika kita taat kepadaNya. Maka semua ini akan membawa sukacita yang besar dalam hidup kita turun- temurun!

Dendangkanlah nyanyian pujian Maria! Itulah nyanyian dari jiwa kita untuk Tuhan. Dari hati yang dipuaskan oleh rahmatNya, karena merasa diperhatikan oleh Yang Mahatinggi. Meskipun sebenarnya Maria telah “dipermalukan” oleh Tuhan. Sangat besar bedanya dengan Elisabet yang telah diangkat dari kemandulannya, Maria justeru mesti mengandung sebelum menikah. Namun! Walaupun demikian dia tetap dapat memuji Tuhan, bahkan dengan tulus hati. Maria patut dipuji, meskipun tidak akan kita sembah. Dia memandang pekerjaan Tuhan melalui dirinya dengan penuh penghayatan , keharuan dan kebahagiaan!

Oleh: Pdt.Em.Daud Adiprasetya

Jawaban Doa

1

Posted on : 05-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.”” (Ulangan 15:11)

Dalam sebuah acara Bakti Sosial, kami mengunjungi sebuah panti asuhan kecil di lereng gunung Merapi. Di rumah yang selalu berhawa sejuk itu ada lebih dari 30 anak yang diasuh dengan kasih sayang oleh sebuah Yayasan Kristen. Mereka menyambut rombongan kami dengan sukacita. Setelah itu membagikan bingkisan kepada setiap anak di sana.

Kami juga memberi bingkisan sprei tempat tidur kepada pengasuh panti itu. Suami-isteri itu menerima bingkisan dengan sukacita. Sang isteri lalu bercerita, bahwa beberapa hari sebelumnya mereka berdoa kepada Tuhan bahwa panti ini membutuhkan sprei. “Bingkisan ini adalah jawaban dari doa kami,” lanjut isteri pengasuh panti.

Pengasuh panti asuhan Kristen di tempat lain menceritakan pengalaman yang serupa. Suatu kali, dia berdoa kepada Tuhan karena persediaan bawang putih di dapur panti telah habis. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang mengirimkan satu karung besar yang berisi bawang putih. Dia juga pernah berdoa bahwa panti itu membutuhkan sebuah sepeda untuk sarana transportasi. Tuhan pun menjawab doanya.

Bagaimana perasaan Anda saat mendengar kesaksian orang lain bahwa Allah telah menjawab doanya? Tentu saja kita turut merasakan sukacita orang itu. Tapi bagaimana kalau keluarga Anda diberi kesempatan untuk dipakai Allah dalam menjawab doa orang lain? Anda pasti akan merasakan sukacita yang lebih besar. Pada perayaan Natal ini Anda dapat menjadi jawaban dari doa-doa orang lain. [Purnawan]

SMS from God: Orang kaya sejati adalah orang yang bersedia berbagi dengan orang lain.

Ketaatan Maria

0

Posted on : 04-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)

Pada saat yang tak diduga ada malaikat yang menemui Maria. Dia membawa kabar yang tidak masuk akal, yaitu bahwa Maria yang masih perawan ini akan mengandung bayi laki-laki. Meskipun belum sepenuhnya mengerti rencana Tuhan, namun Maria dengan penuh kerendahan hati menaati perintah Tuhan.

Di kalangan pemeluk Katolik, Maria memiliki tempat yang khusus. Ada tiga keteladanan yang patut kita tiru dari Maria. Pertama: Taat pada perintah-Nya. Suara Tuhan sering berbicara di dalam hati kita. Meski begitu, kita harus menguji, apakah suara tersebut berasal dari Tuhan atau tidak. Caranya: (1). Mencocokannya dengan firman Tuhan dalam Alkitab; (2). Melihat situasi di luar diri kita; (3). Mendengar nasihat sesama orang Kristen. Jika kita yakin, bahwa itu berasal dari Tuhan, hendaknya kita menanggapi perintah-Nya itu dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Kedua: Menerima tanggungjawab. Ada bermacam-macam pelayanan yang mungkin dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, tanggungjawab mengajar Sekolah Minggu, menghibur orang sakit, menolong korban bencana, memimpin organisasi dsb. Apapun beban tanggungjawab yang kita pikul, hendaknya dengan penuh ketaatan kita berkata: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Ketiga: Menanggung penderitaan dengan tabah. Apakah Anda mengalami penyakit selama bertahun-tahun? Apakah Anda berkali-kali harus menerima penderitaan hidup? Jika ya, maka Allah memberi tanggungjawab kepada Anda, supaya dengan penyakit dan penderitaan itu kuasa dan kemuliaan dapat terpancar dengan sempurna. “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.” [purnawan]

SMS from God: Allah hanya membutuhkan ketaatan kita. Selanjutnya Dia akan memberi tanggung jawab dan kemampuan untuk melaksanakannya.

Persembahan Raja

0

Posted on : 03-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” (Matius 2:11)

Jauh hari sebelum Kristus lahir, ada nubuatan tentang diri-Nya bahwa raja-raja akan membawa persembahan emas Syeba kepada-Nya (Mzm.72:10). Nubuatan itu digenapi ketika raja-raja dari Timur, datang ke kandang Betlehem untuk menyembah bayi Yesus. Kedatangan mereka juga membawa persembahan persembahan emas, kemenyan dan umur.

Hadiah dari raja-raja ini tentunya bernilai sangat tinggi ini karena benda-benda itu pasti berasal dari bahan dan karya terbaik di seluruh negeri. Jika dijual, maka uangnya dapat digunakan oleh Yusuf untuk membiayai ongkos perjalanan ke Mesir. Di sini, kita melihat Allah Bapa sudah mengetahui apa yang akan dibutuhkan oleh Yusuf . Itu sebabnya, Dia telah menyiapkan segala yang diperlukan oleh keluarga baru itu.

Allah telah memenuhi kebutuhan Yusuf dan Maria, karena mereka telah memutuskan untuk taat pada rencana Tuhan. Pada saat menerima panggilan Tuhan, dengan penuh ketaatan Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk.1:38). Demikian juga Yusuf. Semula dia ingin meninggalkan Maria, tunangannya. Tapi setelah utusan Tuhan berbicara kepadanya, dia bersedia mengubah pikirannya dan memutuskan taat pada rencana Tuhan.

Jika Anda ingin Allah memelihara hidup Anda, maka Anda harus mempercayakan masa depan Anda kepada Allah. Biarkanlah Allah merencanakan hidup Anda dan ikutilah kehendak-Nya. Selanjutnya, buktikan sendiri bagaimana Allah akan memenuhi segala kebutuhan Anda. [Purnawan]

SMS from God: Ketika Allah membuat rencana atas hidup kita, Dia juga membuat rencana anggarannya.

Jangan Menahan Kebaikan

0

Posted on : 02-12-2009 | By : GKI | In : Renungan, Renungan Natal
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27)

Majalah TIME memuat cerita tentang paket yang dikirimkan kepada Michael Achorn di Michigan, A.S. Kantor pos menelepon Margaret,–isteri Achorn–, supaya mengambil kiriman paket Natal. Dalam perjalanan dari kantor pos, Margaret merasa was-was karena tidak mengenal pengirim paket tersebut. Namanya memang mirip dengan nama belakang suaminya,–Edward Achorn–, tapi dia dan suaminya tidak mengenal siapa orang ini.

Bagaimana jika paket ini berisi bom? Margaret lalu menelepon kantor pos. Tak berapa lama, datanglah pasukan Gegana dengan peralatan lengkap. Menggunakan robot kendali jarak jauh, pasukan penjinal bom memeriksa bungkusan yang mencurigakan itu. Setelah dibuka, ternyata paket itu berisi radio AM/FM dan tape recorder. Teka-teki tentang isi paket ini terjawab sudah. Namun yang masih menjadi misteri adalah siapa Edward Achorn itu? Mengapa dia mengirimkan hadiah Natal kepada Michael dan Margaret?

Kita hidup di zaman yang serba sinis dan penuh kecurigaan. Kita selalu mewaspadai motivasi yang tersembunyi di balik perilaku seseorang. Bahkan perilaku baik pun, masih dicurigai. Mengapa dia berbuat baik padaku? Jangan-jangan dia punya maksud tertentu? Tumben dia berbuat baik, pasti ada maunya deh!

Ketika gereja kami menawarkan bantuan pembangunan rumah kembali kepada korban gempa, ada beberapa orang yang menolak. Mereka curiga, jangan-jangan akan “di-kristen-kan” jika menerima bantuan itu. Tapi kita tidak menyerah. Setelah melihat bukti ketulusan bantuan kita, akhirnya mereka juga meminta bantuan itu. [Purnawan].

SMS from God: Jangan menahan kebaikan. Tapi jangan menyerah kalau kebaikan kita ditolak.

SEO Powered by SEO Boost from PcDrome.

GKI Klaten is Digg proof thanks to caching by WP Super Cache!